Rabu, 14 Desember 2016

Muhammad bin Abdullah

Ketika menyampaikan materi di pelatihan menulis, di hadapan mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM, saya katakan menulis adalah peristiwa dahsyat yang pernah ada dalam sejarah manusia. Menulis hakikatnya tindakan revolusioner.

Bagaimana itu dijelaskan? Saya menganggap peralihan ide menjadi aksara tinanda peristiwa maha dahsyat. Ide, yang kesannya abstrak, juga dikenal sebagai gagasan, ketika berubah wujud kongkrit, ialah aktivitas melintas batas.

Dari ide yang abstrak itu, menjelma karya tulis, hanya bisa dilakukan dari tindakan revolusioner. Menulis, itu berarti menjebol batas dunia, dimulai dari gagasan menjadi tindakan manusiawi.

Saya kira tidak ada peristiwa paling menggemparkan ketika Muhammad menyebut satu ucapan: iqra. Melalui peristiwa historik itu, ada dunia dijebol, ada batas diseberangi. Dihinggapi rasa takjub, lisan Muhammad menyebut kalimah Tuhan itu: iqra, iqra, iqra...

Hingga akhirnya, hanya di bibir Muhammadlah, yang ilahiat bertransformasi. Dari lisannya yang pertama, Muhammad membaca alam ketuhanan, suatu alam ilahiat. Di titik ini yang ada hanyalah kefanaan, dan Muhammad hanyalah noktah kecil yang mencandrai alam maha dahsyat yang diliputi cahaya spiritual tak terbatas. 

Iqra kedua, dari mata batinnya, Rasulullah membaca jagad alam raya, masayarakat, dan sejarahnya. Membaca hukum-hukum perkembangannya. Sebab-sebab perubahannya, dan bagamaina alam semesta dibentuk dan berkembang dalam titimangsa sejarah.

Di lisan yang ketiga, iqra membawa Rasulullah menukik berbalik membaca dirinya. Semesta yang disebut alam micro cosmos.

Itulah sebabnya, tiada peristiwa paling agung melebihi Rasullullah ketika dihinggapi anugerah pencerahan yang melibatkan tiga lapis dunia sekaligus.

Saya kira, kurang lebih tindakan demikianlah dialami setiap orang-orang yang menulis. Dia menjadi seperti Muhammad kala mendapatkan wahyu. Menembusi tiga alam sekaligus, dan kemudian dari hati yang takjub menulis apa yang dia pikir, lihat, dan rasakan.

Saya menganggap tiga aktivitas manusiawi itu sebenarnya mewakili tiga alam kenyataan. Yang dipikirkan menandai "aku membaca" alam-alam abstrak, sebagaimana Muhammad melintasi alam ketuhanan-mistikal. Yang dilihat, itu berarti cara manusia menggunakan inderanya mencandrai alam pengalamannya, dunia sekitarnya. Terakhir, yang dirasakan, merupakan refleksi manusia membaca kenyataan dirinya.

Dalam sejarah, pasca Rasulullah dihinggapi ketakjuban atas anugerah yang diberikan kepadanya, sejarah akhirnya mulai dibangun.

Tak bisa ditampik, iqra yang dilisankan Muhammad menjadi sokongan pergerakannya. Di bawah naungan cahaya ilahiat, mata Rasulullah berusaha menyasar yang jahil. Jika penyimpangan itu gelap di hadapannya, Rasulullah bersuara.

Karena itulah kita mengenal al Qur'an dan hadis. Ucapan-ucapan Rasulullah ketika meluruskan peristiwa yang melenceng. Atau memberikan jalan keluar dari kejumudan umat saat itu.

Dan, dari situ, apa tindakan luar biasa yang menyokong wahyu dan hadis Nabi? Rasulullah menggenapkan wahyu dengan tradisi literasi.

Ali bin Abi thalib, menantu sekaligus murid setianya, serta beberapa sahabat lainnya, mengambil tindakan bersama mengabadikan ucapan-ucapan Rasulullah. Menulis kala itu tidak sekadar pekerjaan sepele, melainkan itu cara ucapan Rasulullah menembus lintasan generasi ke depan.

Tidak bisa dibayangkan apa jadinya era kiwari jika ucapan Rasulullah terhapus lipatan waktu sejarah. Barangkali kekosongan, barangkali kejumudan.

Maka penulisan ucapan (dan tindakan) Rasulullah merupakan peristiwa sejarah yang harus terus dihidupkan. Terutama suatu metode yang ditunjukkannya: menulis yang disokong kerja sama kolektif.

Penulisan hadis Nabi, ibrah tanpa batas. Kita tahu dalam sejarah, proses pengabadian itu ditunjang dari tindakan kolektif. Rasulullah sebagai pipa pertama wahyu, dan sahabat-sahabatnya sebagai kaki-kaki yang menyokong penulisan itu dapat terjadi.

Itu artinya, dimulai dari Rasulullah, tindakan tulis menulis menjadi kolektif di tangan sahabat-sahabatnya. Saya menganggap peristiwa ini bukan berarti Rasulullah tidak bisa menuliskan sendiri ucapan-ucapannya, tapi ini satu usaha memperkenalkan suatu pola kerja sama yang dibina solidaritas yang kuat.

Hingga akhirnya, peristiwa literatif itu menumbuhi kecambah setiap peristiwa sejarah. Melalui al Qur'an dan hadis-hadisnya, perkembangan umat manusia mengambil inspirasinya.

Sampai di sini, ketika saat menyampaikan pelatihan pagi itu, saya berpikir mungkin inilah cara saya menyatakan hari kelahirannya. Melalui maksud demikianlah setidaknya saya menyatakan niat berusaha belajar mencintainya.

Bahkan perasaan saya kala menyatakan cinta kepada Rasululullah, tindakan yang membutuhkan keberanian. Mencintainya berarti berani menyatakan diri untuk mengabdi kepada apa yang telah disabdakannya. Berani mengubah kenyataan seperti yang Rasulullah tunjukkan.

Era sekarang, bagi orang-orang yang ditakdirkan menjadi penulis, berarti harus bersiap-siap hidup dalam keterasingan. Kesepian nasib seorang penulis. Seperti Pramoednya Ananta Toer, misalnya, pribadi yang disingkirkan bangsanya. Menjalani kehidupan soliter hampir sebagian masa hidupnya.

Penulis saya kira mirip kehidupan nabi-nabi, atau mungkin Rasulullah, yang dikucilkan keluarga dan masyarakatnya. Sebagaimana Rasulullah, saya merasa seorang penulis bakal merasakan kesulitan-kesulitan. Sebagaimana Rasulullah, kadang seorang penulis banyak menanggung derita.

Itulah sebabnya, saya menganggap menulis adalah tindakan berani. Sebagaimana mencintai Rasulullah, menulis, di baliknya membawa pesan besar. Suatu ikhtiar menyampaikan maksud kepada entah siapa.

Alkisah, tersebutlah usaha sahabat-sahabat ingin mengetahui siapakah orang yang paling dicintai Rasulullah. "Bukan kalian wahai Fulan bin Fulan," begitu kira-kira ucapan manusia agung itu, "orang-orang yang saya cintai adalah mereka-mereka yang tidak pernah hidup denganku, mendengar suara dan tidak pernah melihatku, tapi karena itu mereka mencintaiku. Kepada merekalah orang-orang itu aku cintai." Begitulah jawaban Rasulullah ketika itu.

Syahdan, saya kira orang paling berani adalah Rasulullah. Tiada ucapan paling berani dan mengharukan selain bertaruh menaruh cinta kepada orang-orang yang belum sempat dikenalnya.

Shalawat kepadamu wahai junjunganku.