Sabtu, 05 November 2016

Kiat Menjadi Aktivis Setengah Hati

Jika kamu mahasiswa atau pernah menjadi mahasiswa, “aktivis” merupakan kata yang sedap-sedap geli di telinga. Kedengarannya bikin keder. Aktivis jika dilihat, bikin orang jadi was-was. Perkataannya banyak mengandung ilmu-ilmu, tindakannya, masya Allah, dahsyat betul. Ucapannya kritis, tapi kadang tidak untuk sikapnya. Nah, ini yang bikin geli.

Di kampus, aktivis tidak seperti kutukan Ibunda Malin Kundang, bisa jadi batu sekedipan mata. Jika ditelusuri, aktivis hakikatnya rangkaian proses panjang mahasiswa unyu-unyu menjadi mahasiswa serba tanggung. Mulai dari nilai akademik pas-pasan sampai urusan percintaan yang ditinggal selingkuhan. Semuanya bagai kue cucur dibelah dua. Setengah-setengah.

Aktivis mahasiswa tidak semuanya idealis. Ada juga yang sok-sok jadi pahlawan. Kadang mulutnya serba hakiki, tapi di kantor-kantor pemerintahan, hatinya berubah hello kitty. Kadang di ruang kuliah dosen jadi bulan-bulanan teori yang njelimet-njelimet, namun sayang di jalan raya tahunya hanya minta-minta sumbangan.

Bisa dibilang di zaman sekarang aktivis tulen bin idealis hanya bisa dihitung jari. Ibaratnya bagai mencari perawan di rumah-rumah bordir. Dapat satu hilang seribu orang.

Baiklah. Jika kamu sekarang masih lalu-lalang di koridor kampus, pulang pergi dari kos-kosan menuju rumah dosen mengurus nilai susulan. Masih dipusingkan tugas tanpa tahu apa artinya? Berikut sejarah singkat bagaimana rangkaian proses mahasiswa yang baru lepas masa puber bisa menjadi aktivis mahasiswa harapan bapak-bapak di parlemen itu.

Pertama, kampus adalah tempat berlangsungnya diskursus. Segala macam cabang keilmuan diolah di dalamnya. Mulai dari ilmu copet hingga ilmu teologi. Semuanya ada. Nah, bagai lampu neon buat laron-laron di musim hujan, dinamika keilmuan macam demikian bikin mahasiswa-mahasiswa haus ilmu langsung menemukan sumber mata airnya. Bagai oase di tengah gurun sahara. Mereka berkumpul dan bepikir. Mereka kemudian berdiskusi dengan seorang super senior sebagai pusat diskusinya.

Aktivis, biasanya muncul dari proses seperti ini. Dia sejatinya bukan orang yang paling getol mencari ilmu. Sebenarnya dia ikut berdiskusi hanya karena ingin menemani sahabatnya yang memang senang ikut diskusi kelompok. Hitung-hitung karena tidak ada kerjaan sekalian dia ikut nimbrung. Mumpung ada rokok gratis.

Kedua, semakin dia menemani sahabatnya mengikuti kajian, sang calon aktivis ini mulai mengenal istilah-istilah asing. Suatu waktu dia mendengar nama-nama asing yang sering disebut-sebut melebihi dari nama presidennya sendiri. Bahkan nama yang kerap disebut bikin dosen bingung tujuh keliling. Tak tahu dari bangsa mana nama-nama yang seringkali disebutnya.

Semakin lama banyak forum diskusi yang dia jumpai. Makin tahu pula sang calon aktivis mengetahui kampus bukan sekadar tempat kuliah belaka. Ternyata di kampus, isi kepala bukan hak birokrasi semata, namun juga tugas diri pribadi untuk mau membuatnya makin cemerlang.

Setelah itu di waktu lain, kalau lagi kongkow dengan teman-temannya, terutama ketika dengan cewek-cewek kece saat menunggu antrian di studio film, dari mulutnya sambil ngobrol diselipkan istilah ilmiah dari buku-buku yang tak pernah ditemui dosen yang bikin jidat berkerut. Semula, ngerumpi asyik masyuk soal artis-artis yang ditinggal pergi idola, tetiba berubah jadi khotbah kuliah enam es ka es.

Dari seringnya calon aktivis ikut diskusi, dia mulai mengenal orang-orang “besar” yang sering nongkrong di kampusnya. Seringkali kalau lagi asyik bolos kuliah, dia malah ditemukan di kantin bersama orang-orang “besar” pura-pura berdiskusi sambil menyeruput kopi gratis. Tentu kali ini masih ikut-ikutan.

Di kantin, akibat sering ngopi bersama senior-senior aktivis, pengetahuan sang calon aktivis mulai terbuka. Wawasannya melebar, pengetahuannya sedikit demi sedikit semakin dalam. Dia mulai tahu kalau dunia ternyata tidak seperti yang dia saksikan.

Tak disangka, dunia tempat dia hidup, atau bahkan kampus tempat dia belajar, tanpa disadarinya penuh dengan benang kusut. Segalanya dibuat berdasarkan kepentingan segolongan orang atau apalah-apalah. Yang dia tahu dunia sekarang harus diselamatkan dari entah apa dan siapa. Pokoknya harus diselamatkan lahir batin.

Tak disadari, dari proses yang dilaluinya sang calon aktivis akan merasa terjadi perubahan mendasar dari caranya berpikir. Dia mulai kritis. Omongannya makin ideologis. Sikapnya, nanti dulu, masih seperti biasanya, tanggung. Tapi, seperti keyakinan aktivis umumnya, dirinya sedang memasuki tahap-tahap yang genting maupun penting. Akibatnya, dunia dihadapannya tiada lain merupakan medan perjuangan tanpa ujung.

Dengan keyakinan seperti itu, maka tiada cara lain calon aktivis menjadi sang juru selamat. Dia mulai merasa menjadi satu-satunya orang yang diberikan amanah untuk menyelamatkan dunia. Di pundaknya serasa seperti ada tugas berat untuk menyelamatkan umat manusia. Akibatnya, setiap yang dia omongkan, di manapun itu, hanya ada satu cara menyelamatkan dunia: revolusi.

Maka dari kelas kuliah, calon aktivis ini mulai menyampaikan kabar gembira, dunia orang-orang harus diselamatkan sesegera mungkin. Dan, semuanya harus ikut bersama bahu-membahu membawa dunia menemukan kembali kehormatannya. Di ruang kuliah, apapun mata kuliahnya, apapun bahan diskusinya, semuanya harus ditujukan buat perubahan dunia. Ini genting katanya.

Aksinya dengan demikian bikin teman-temannya berdecak kagum. Tapi, sebagian yang lain malah risih: “kalau mau jual obat, di sebelah masjid saja”. Dosennya apa lagi: “ini mata kuliah kewirausahaan, tidak ada sangkut pautnya dengan revolusi”. “Dasar, anti perubahan!” hardiknya membalas.

Mulai saat itu, kuliah adalah dosa sosial. Sang calon aktivis ini sudah meyakinkan diri, semenjak dianggap salah tempat di ruang kuliah, dia mulai membulatkan diri menjadi aktivis yang sesungguhnya. “Saat ini bicara perubahan harus total, kuliah hanya menghambat perubahan. Dasar dosen goblok!”

Ketika menasbihkan diri sebagai aktivis, dia mulai berkeliling dari satu jurusan ke jurusan lain, dari satu fakultas ke fakultas lain. Agendanya mencari pengikut-pengikut yang sevisi dan sepaham. Tujuannya kalau perlu seperti calon pemimpin seantero jagad, membikin organisasi yang total dan radikal.

Dari pengalaman ini, yang ketiga, aktivis mahasiswa harus dan wajib memiliki organisasi. Tujuan ini bisa dilalui berbagai cara. Pertama bisa ikut melalui proses perkaderan organisasi paling ekstrim, atau membuat sendiri organisasi berdasarkan apa yang menjadi tujuannya sendiri.

Tapi, kebanyakan aktivis kampus dalam membina karirnya, dia mulai dari pilihan yang pertama. Mengikuti proses kaderisasi, pelan-pelan berproses menjadi anggota di dalamnya, dan kalau sempat dan mau, dia bisa mencalonkan diri menjadi ketua umum kelak kalau sudah merasa cukup.

Demikianlah, saat berorganisasi inilah insting politiknya diasah. Mula-mula dia diajarkan bagaimana menyebarluaskan gagasan-gagasannya sejauh-jauhnya. Seperti apa cara merekrut anggota-anggota baru. Bagaimana metode menjaga kesetiaan kader organisasi. Bahkan juga, bagaimana cara praktis merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Melalui cara seperti ini, proses selanjutnya, aktivis kampus semakin menemukan jati dirinya. Bersamaan dengan itu dia juga diajarkan memimpin barisan demonstrasi. Pertama-tama dari isu internal kampus berupa turunkan harga rokok di kantin-kantin, sampai tunjangan dosen yang tidak jelas kerjanya. Hingga pelan-pelan mulai menyisir isu-isu berat semisal penurunan biaya perkuliahan dan pemakzulan rektor baru.

Bila dilihat lebih detail, pencapaian memimpin massa bagi aktivis kampus tidak diperoleh dengan mudah. Awalnya dia hanya bagian dari barisan massa. Pekerjaannya ikut serta memberikan yel-yel pembangkit semangat. Kadang dengan kerongkongan kering ikut menyanyikan lagu-lagu perjuangan mahasiswa.

Seiring semakin seringnya ikut aksi demonstrasi, si aktivis kampus mulai dipercayakan pimpinan aksi menanggungjawabi mencari ban mobil bekas. Ketika sudah berada di tengah barisan massa, dia pula mahasiswa pertama yang menyalakan api membakar tumpukan ban-ban bekas. Semenit kemudian asap membumbung tinggi seiring dada ikut membusung.

Bosan menjadi jongos di lapangan aksi, aktivis kampus mulai mengambil peran yang lebih gagah: di depan barisan memegang bendera aksi setinggi-tingginya. Kala ini tak ada yang lebih kece karena sesekali mukanya akan lebih sering nongol di layar kaca breaking news.

Telah banyak makan asam garam di lapangan aksi. Semakin lama meninggalkan bangku kuliah, sang aktivis memulai pertama kalinya memegang megaphone sebagai orator. Kala ini teriakannya mencabik-cabik pendengaran. Membuat pengendara di simpang lima geleng-geleng kepala. Tak jelas apa yang disampaikan.

Semakin menghitam kulitnya akibat digasak sinar matahari, semakin tulenlah dia menjadi aktivis. Namun, kali ini juga forum diskusi sudah jarang disambanginya. Semakin hari semakin gusar dia di tengah jalan. Semakin ke sini, semakin setia dia denganmegaphonenya. Di jalan raya, ribuan kali sudah sang presiden dipaksa mangkir.

Tak disangka, akhirnya seantero kampus nama Fulan bin Fulan semakin berkibar-kibar. Apalagi sekarang sang aktivitis sudah jadi ketua organisasi. Anggotanya aduhai, Bung! Lumayan bikin ribut barisan pengamanan kampus.

Akibatnya, sang aktivis sering bikin risih birokrasi kampus. Apalagi pejabat parlemen yang habis citranya dimaki-maki aktivis. Di gedung-gedung dewan, namanya dikenal sebagai aktivis tukang blokade jalan raya. Di mata rektor, namanya urutan pertama mahasiswa abal-abal.

Hingga suatu hari sang aktivis terlibat aksi pendampingan kasus masyarakat. Bersama aktivis dari kampus-kampus lain membuat simpul jaringan. Akibat nama tenarnya di kalangan aktivis, maka sang aktivis kampus dipilih jadi pimpinan kelompok. Tanpa diduga-duga karena perannya sebagai pemimpin, akses ke parlemen semakin mulus.

Mulailah sang aktivis kampus keluar masuk ruangan pejabat. Dengan tujuan melakukan negoisasi hasil rapat pendampingan, siapa menduga isi hatinya pelan-pelan berubah.  Tak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri beserta setan alas di sudut kepalanya.

Jika sudah begitu, berkat kebiasaannya mendampingi kasus-kasus yang melibatkan kepentingan masyarakat dan cukong-cukong pengadilan, si aktivis kampus dengan sendirinya mulai mengenal dan banyak bergaul dengan pengacara, wartawan, pejabat akta notaris, ketua LSM, dan tentu si pejabat-pejabat pemerintahan. Hingga perkenalannya membuat si aktivis kampus memiliki pergaulan yang semakin mendekati pusat-pusat hidup gemerlap.

Yang keenam, siapa menduga cara hidup berbeda membuat cara pandang ikut berubah. Kebutuhan semakin kompleks. Sarana prasarana semakin banyak dibutuhkan. Kepentingan semakin sulit dibendung. Tak disadari, di pusat kekuasaan dengan hati yang disapu bersih selembar cek kosong, sang aktivis berubah haluan. Di atas podium dia menjadi garang, tapi tidak di bawah meja kekuasaan.

Masa lalu tinggallah kenangan, jangan bicara soal idealisme, mari bicara seberapa tebal uang di kantung. Begitu kira-kira sebait lagu Iwan Fals.

Itulah sebab, jika sudah tiba di momen-momen politik semisal pemilu kepada daerah, kawan kita, kakanda kita, yang pernah duduk kere berdiskusi di kantin kampus sembari menghujat pejabat-pejabat negara, kini berdiri rapat tepat di sebelah  calon kepala daerah kala berkampanye. Tentu kini berubah dengan predikat yang lebih keren: staf ahli pejabat.

Demikianlah, jika kamu mahasiswa atau pernah menjadi mahasiswa, “aktivis” memang kata yang sedap-sedap geli di telinga, bukan?

Terbit juga di Kalaliterasi.com