Jumat, 25 November 2016

Jalan Raya

Apa jadinya jika jalan raya di suatu pagi bertemu dengan modernitas? Maka yang ada adalah keterburu-buruan. Hidup dalam cara modern adalah bagaimana anda dapat menggunakan waktu seefisien mungkin. Dan jalan raya, di pagi hari adalah centangperenang penandanya.

Di jalan raya, anda tak boleh menengok; kanan dan kiri, apa lagi berbalik ke belakang hendak kembali, karena menengok dan kembali dalam buku besar modernitas berarti kemunduran. Dan, bisa jadi Anda akan menjadi seorang individu yang tertinggal jauh.

Memang modernitas adalah sebuah bus besar yang sedang terburu-buru; bergegas dengan kecepatan yang tinggi, tanpa rem, tanpa rambu jalan dan tanpa terminal pemberhentian. Modernitas adalah bentuk zaman, atau bahkan pikiran baru yang berusaha melupakan ingatan masa lampau; melipat segala sesuatu menjadi sebuntal pakaian yang harus dilipat bahkan diganti, dan memberikan anda sekelumit pakaian dengan cermin yang menaruh visi tentang kemajuan.

Dan di dalam modernitas, waktu menjadi barang yang penting untuk dijaga. Dikemas dalam keadaan yang rapi, dijaga baik-baik dan tak harus dirusaki, sebab waktu tak bisa dipending apalagi terhenti, maka kerja adalah lokomotif yang harus terus didorong.

Kerja, dalam pengertian zaman modern bahkan postmodern, adalah usaha yang memanfaatkan potensi dalam memapatkan waktu dan ruang, yang punya kaitan dengan peran dan fungsi yang terspesialisakan yang digerakan berdasarkan visi yang disublim oleh rasio yang menghendaki capaian tujuan seefesien dan secepat mungkin. Dan rasio seperti ini, merupakan jenis rasio yang dihardik oleh mazhab Frankfurt, oleh mereka, rasio ini adalah rasio yang menampik permenungan. Jenis rasio yang selalu menukik untuk berhadapan langsung pada objek yang ingin kuasai.

Kerja dalam ruang sejarah yang lain bisa berarti laku yang tenang terhadap waktu. Diam dalam senggang yang berbobot. Kerja dalam tradisi Yunani kuno berarti optimalisasi akal; bagaimana anda mendayagunakan potensi akal sejauh mungkin, untuk mendapatkan padanannya, pada keselarasan dengan  nous kosmos.

Jurgen Habermas, sosiolog Jerman generasi keduaFrankfurt School pernah menulis; kerja dalam konteks Yunani kuno berarti upaya theory sekaligus praksis, dan ini berarti kerja. Yang berarti bermaksud menggunakan nous dalam mengikat logos.

Logos dalam akar kata Yunani ditemukan pada kata legein, yang berarti menghimpun. Dari itu kerja berarti penggunaan nous dengan logos untuk menghimpun. Lalu apa yang dihimpun?

Bijak bestari kuno punya cerita segudang tentang apa yang harus dihimpun dengan nous? Kata mereka semuanya harus bermula dan berakhir pada arkhe. Caranya melalui kerja: theoria.

Theoria dalam kamus kehidupan masyarakat Yunani Kuno adalah laku hidup yang mendasarkan diri pada penghayatan terhadap alam, berusaha menyelaraskan diri dengan “aku” alam semesta.

Seorang guru Aleksander Agung bercerita: hidup yang baik adalah hidup yang seimbang, yang seimbang berarti menempuh jalan eudamonia: kebahagiaan. Jalan keselarasan dengan alam semesta, di mana sesuatu ditempatkan pada ruangnya masing-masing. Jika seorang terlalu banyak makan maka perutnya akan sakit, dan itu menyakitkan. Berlebihan memang tak baik. Lantas bagaimana cara sesuatu agar tak berlebihan? Murid Plato menampik bukan dengan cara yang lain, melainkan nous-lah yang menjadi hakimnya.

Memang gerak nous selalu mencari di mana ia harus ditakwil pada akhirnya. Thales menyebutnya Air, Anaximenes menyebutnya uap, Heraklitos menampik dengan  menempatkan sesuatu yang mengalir dalam keabadian. Selanjutnya ada Demokritus, bicara tentang atom, Sesuatu yang tak dapat dibagi-bagi sebagai arkhe. Dan, selanjutnya menjadi deretan panjang tentang apa itu arkhe: unsur dasar yang membentuk apa yang ada.

Kemudian arkhe di tangan Immanuel Kant menjadi semacam terra incognita; Sesuatu  yang tak dapat dijelaskan.

Namun, segalanya berubah, kuasa akal telah padam. Kerja akal mendapatkan jalan yang buntu. Proses “menghimpun” menjadi sesuatu usaha yang sia-sia. “Menghimpun”  tak ubahnya berjalan pada lorong yang gelap tanpa adanya cahaya. Maka zaman berubah, di mana kerja harus bersentuhan langsung dengan yang kongkret, bukan pada yang abstrak.

Syahdan, pada era serba cepat, menjadi modern berarti memenggal memori yang penuh dengan kesia-siaan. Sebab dalam kacamata modern, bicara yang berkaitan dengan nous maka tak punya tempat, karena modern berarti apa yang kongkret dan apa yang dapat diolah untuk bertahan hidup.

Jadi, singkat dibilang modern adalah penghapusan segala bentuk mitos dan logos. Untuk menjadi modern, maka Anda harus menabuh lonceng kerja di saat Anda dapat menikmati secangkir kopi.

Dan, kerja bukan lagi usaha mencari yang absolute, dalam hal ini apa yang disebut arkhe. Sebab kerja sebagai praktik mencari tatanan yang sublim pada alam semesta telah berganti dengan mencari benda-benda yang harus ditata. Gedung-gedung harus berbarengan dengan jalan raya yang padat, mal harus berdekatan dengan pemukiman yang ramai, kantor harus dekat dengan tempat-tempat hiburan, dan begitu seterusnya.

Di saat seperti ini nampaknya kerja menjadi perilaku yang telah tertentukan, terprogram mengenai di mana harus malanjutkan menghabiskan waktu luang, menghabiskan uang, beristirahat dan seterusnya dan seterusnya. Maka, di saat inilah kerja menjadi ibadah akbar dari tuhan yang dicipta modernitas. Perihal yang harus dikejar, diburu, diraih bahkan kalau sempat ditangkap.

Bicara tentang sesuatu yang ditangkap ataukah diburu tak selamanya dapat diraih. Apalagi berusaha untuk menikmati hasil tangkapan. Kita tak lagi memiliki cerita dari apa yang kita miliki, segalanya tiba-tiba menguap tak berbekas. Hasil buruan; jikalau berhasil ditangkap pasti akan sirna pula, seperti tidak ada kata berhenti untuk sejenak.

Memang modernitas; jenjang waktu yang menempatkan segalanya pada kesementaraan, lewat jalan raya ataukah jalan raya pikiran orang-orang banyak- membentang berkelindan tentang cita dan citra, antara harapan dan pesimisme. Maka modernitas pada suatu pagi, di jalan raya, adalah ungkapan yang tak pernah berbohong. Yakni tentang suatu ruang siapa yang telah berlari kencang dan siapa yang masih jauh di belakang.

24 Januari 2012