20 September 2016

Review Kajian Fenomenologi: Jean Paul Sartre (1905-1980)

(Dosen pengampu: Muhammad Ashar, Pengasuh Lembaga Kajian Filsafat Lentera Makassar)

Filsafat Jean Paul Sartre bukan sekadar pemikiran yang berkelit di antara asumsiasumsi teoritik belaka. Sartre, sejauh dikenal sebagai  filsuf eksistensialis, merupakan pemikir yang menganjurkan barangsiapa berfilsafat, maka pertamatama yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara manusia bertindak.

Lantas bagaimanakah cara menusia berada dengan tindakannya? Sartre mengemukakan bahwa manusia harus senantiasa mendahului esensinya. Maksudnya, manusia harus senantiasa berada tanpa ditundukkan situasi apa pun yang melingkupinya. Itu artinya, situasi yang dihadapi manusia merupakan tiang jeruji kebebasan yang mesti dijebol dan dilampaui.

Akibatnya, manusia adalah mahluk yang memiliki rongga untuk dapat bertindak, bergerak, dan menentukan keberadaannya tanpa kehilangan otentitas yang menjadi khas bagi dirinya. Otentitas yang diandaikan Sartre, hanya bisa dimungkinkan ketika manusia mampu membangun jarak kesadaran antara aku yang bertindak dengan tindakannya itu sendiri dengan tujuan menundukkan hambatanhambatan yang melingkupinya.

Dari pengandaian seperti di atas, maka Sartre juga mendudukkan filsafatnya bukan sekadar pemikiran yang ditilik dari asumsiasumsi filosofis, atau hanya argumenargumen rasional yang dikemukakan secara teoritik belaka, melainkan diturunkannya sampai ke dimensi yang paling fundamen: praktik.

Itulah sebabnya, Sartre bukan saja seorang filsuf. Sartre juga seorang novelis, penulis drama, dan seorang aktifis hak asasi. Yang terakhir ini, sering membuat Sartre terlibat aksiaksi politik selama masa hidupnya. Bahkan bersama Bertrand Russell —filsuf analatik abad 20, menginisiasi berdirinya Mahkamah Internasional yang didirikan untuk memberikan sanksi kepada orangorang yang melakukan kejahatan perang tingkat tinggi.

***

Kesadaran bagi Sartre bukan terisolir sebagaimana yang ditunjukkan Husserl. Walaupun, secara fenomenologi, Husserl berhasil membangun tipologi kesadaran yang terarah terhadap objek, tetapi di dalam konsep kesadaran Husserl, asumsiasumsi idealistik masih begitu kental mengemuka di dalam subjek sebagai satusatunya agen yang mampu membentuk pemahaman.

Pendakuan ini didasarkan atas objek faktual yang tidak diterima sebagai bagian dari fenomena di saat kesadaran membangun pemahamannya. Penolakkan terhadap objek faktual inilah, yang dianggap Sartre, kesadaran intensionalitas Husserl dengan sendirinya mengulang tradisi filsafat yang semula ditampik filsafat fenomenologi.

Dengan kata lain, selain terjebak di dalam solipisme idealistik, penempatan satusatunya subjek sebagai elemen pembangun kesadaran, juga dianggap Sartre masih mengukuhkan kesadaran versi Cartesian. Artinya, dambaan Husserl untuk mau membangun kesadaran yang terlibat dan terarah kepada objek kesadaran, justru di saat yang bersamaan malah mengembalikan pembelahan dualisme subjek-objek yang sebenarnya tidak disadari Husserl.

Sementara Sartre mengandaikan kesadaran sebagai pemahaman yang lahir dari dunia seharihari. Pengertian ini sekaligus menandai kesepakatannya dengan Husserl berkenaan dengan lebenswelt sebagai pijakan fenomenologinya. Walaupun begitu, Sartre memiliki persepsi yang berbeda tentang bagaimana hubungan subjek objek yang diperantarai oleh kesadaran di saat pemahaman itu terbangun.

Itu artinya, tiada kesadaran tanpa dunia. Yakni, setiap kesadaran mengharuskan keberadaan dunia sebagai fondasi epistemiknya. Begitu pula sebaliknya, dunia tidak serta merta tiada jika tiada kesadaran memahaminya. Dengan maksud tanpa terjebak di dalam primasi ego idealistik idealisme dan subjek Cartesian, baik kesadaran dan objek kesadaran adalah satu kesatuan relasional yang tidak terelakkan di dalam pemahaman.

Kritisisme Sartre juga ditunjukan dengan penolakannya terhadap konsep epoche yang didakukan Husserl. Sartre berkeyakinan, dengan pengertian kesadaran melalui caranya bekerja, tidak terlepas dari dunia yang menjadi situasi latar belakang pemahaman manusia dibentuk. Itu artinya, di mana pun kesadaran dibangun, manusia senantiasa melibat dan terlibat oleh keadaan yang ikut membentuk ruang sadarnya.

Kesadaran yang senantiasa terbentuk melalui keterlibatannya di dalam dunia, dinyatakan Sartre sebagai kondisi yang tidak terelakkan bagi manusia. Melalui cara ini, pemahaman yang diklaim bersih dari pengaruh eksternalitas dari luar kesadaran, tidak dapat dimungkinkan akibat asumsi ini bertolak belakang dari conditio humana di mana manusia adalah mahluk yang dibentuk kehidupannya sendiri.

Berdasarkan asumsi di atas, bersamaan dengan Heidegger, Sartre hendak mengatakan dengan sifat khas yang dimiliki, mustahil manusia dapat melangsungkan epoche di saat mempersepsi sesuatu. Manusia, dengan begitu mau tak mau di saat menilai sesuatu, tidak dapat keluar dari sifat alaminya dengan mengajukan prasangkaprasangka yang turut terlibat di dalam kesadarannya.

Di sisi lain, manusia juga bukan mahluk pasif yang terombangambing di tengah arus chaotik kegelisahannya. Manusia, bukan bendabenda yang tertimpa keberadaan tanpa memiliki maksud apaapa. Manusia, sepanjang memiliki hasrat dan kehendak, merupakan agen aktif yang mampu membangun kehidupannya lebih berarti. Manusia sepanjang mengartikan kebebasannya sebagai modalitas utama, dengan tujuan mendamba satu kemungkinan dari seribu ketidakpastian, adalah mahluk khas yang berjalan tertatih namun pasti menuju ke pusat eksistensinya sebagai manusia yang otentik.

***

Pemahaman atas kesadaran yang dimiliki manusia, diletakkan Sartre berdasarkan sejauh apa manusia mampu membenakkan ruang reflektif ketika mengalami kesadaran itu sendiri. Kategorisasi kesadaran yang dibuatnya ini, merupakan upaya Sartre dalam mendudukkan filsafat fenomenologinya yang berkaitan langsung dengan upaya manusia untuk menemukan otentitas di saat menginsafi kebebasannya.

Yang pertama, adalah kesadaran prareflektif. Pemahaman ini diandaikan sebagai kesadaran yang mengarah langsung kepada objekobjek pemahaman. Pengertian ini dapat dipahami ketika manusia menyadari sesuatu, maka yang terjadi adalah kesadarannya hanya tertuju kepada objek yang dia insafi.  Sebagai misal, ketika seseorang membaca buku, maka kosentrasinya hanya  senantiasa tertuju kepada isi buku yang dibacanya. Dengan kata lain, kesadaran sang subjek tidak keluar dari isi buku yang menjadi objek perhatiannya.

Menurut Sartre, kesadaran prareflektif adalah kesadaran yang senantiasa dialami manusia ketika melalukan seluruh aktifitasnya. Manusia tanpa kesadaran prareflektif, tidak mungkin mampu membangun pengertian atas objekobjek yang disadarinya. Melalui kesadaran prareflektif ini, pengalaman manusia berjalan tanpa ada hambatan sama sekali, sebab secara fungisional, kesadaran prereflektif membantu memperantai manusia ketika mengelola objekobjek yang  menjadi bagian hidupnya.

Namun, di saat yang bersamaan, kesadaran prareflektif sekaligus berdampak negatif membuat manusia berjalan tanpa ada sikap mawas yang memberikan semacam jeda reflektif untuk menyadari kesadarannya itu sendiri. Ketiadaan sikap mawas ini, secara akumulatif akan menjadikan manusia sebagai mahluk ceroboh yang tidak mampu menilai kesadarannya. Proses hilangnya justifikasi terhadap kesadaran itu sendiri, yang di dalam pemikiran Sartre disebut sebagai kesadaran inotentik.

Kesadaran inontentik, hanya bisa teratasi ketika manusia mampu membangun jarak atas kesadarannya. Maksudnya, dalam contoh seseorang yang membaca buku, disebut otentik ketika dia mampu mereflesikan tindakan membaca bukunya sebagai objek pemahamannya.

Kesadaran yang mengarah kepada tindakan  (membaca buku, bukan isi buku) itu sendiri disebut Sartre sebagai sesadaran reflektif.  Dengan begitu kesadaran reflektif adalah kesadaran atas kesadaran itu sendiri. Pengertian ini berarti kesadaran sang subjek bukan lagi tertuju kepada objek pemahaman di luar dari kesadaran, melainkan kepada kesadaran atas kesadaran terhadap objek itu sendiri. Penjarakan atas kesadaran itu sendirilah, yang merupakan cara manusia untuk menemukan kepribadian yang khas ketika mengafirmasi kehidupannya. Di dalam mekanisme ini, maka di dalam kesadaran atas kesadaran, manusia menemukan keotentikan dirinya.

Kesadaran reflektif diajukan Sartre juga sebagai kritik langsung kepada Rene Descartes dan gurunya, Edmund Husserl. Asumsinya, bahwa di dalam kesadaran prareflektif belum ditemukan “diri” yang menyadari tindakannya sendiri. “Diri” atau ego sang aku, menurut Sartre hanya dimungkinkan di dalam kesadaran reflektif di saat menyadari tindakannya.

Artinya, di dalam pengalaman yang didasarkan atas kesadaran prareflektif, “diri” menjadi tidak mengemuka akibat kesadarannya masih tertuju kepada bukan tindakannya itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan Sartre bahwa di dalam pengalaman atas objekobjek, tidak ada “diri” yang melampaui. “Diri” yang melampaui pengalaman hanya mungkin ketika “diri” itu sendiri mengambil jarak untuk menyadari keberadaannya sendiri.

Pemahaman di atas dengan sendirinya menghapus pengandaian Edmund Husserl bahwa ego transendental senantiasa terlibat di dalam tindak pengalaman manusia. Sedangkan menurut Sartre, ego transendental, atau “diri”, tidak akan pernah ditemukan di dalam pengalaman akibat dirinya senantiasa mengelak dari kesadaran.

Misalnya, di dalam pengalaman “itu aku yang sedang mengetik karya tulis”, sang “aku”, “diri” menjadi satu kesatuan di dalam pengalaman langsung manusia. Lantas di manakah “sang aku” atau ego transendental Edmund Husserl yang  menyadari “itu aku yang sedang mengetik karya tulis?”  Menurut Sartre, Ego transendental atau “sang diri” tidak dapat dirumuskan dan dipikirkan di dalam kesadaran , “sang diri” senantiasa mengelak dan berkelit atau bahkan melampui pengalaman itu sendiri.

***

Sartre ketika membangun filsafat fenomenologinya, turut mengajukan sejumlah kritik terhadap paham substansialis yang dimiliki filsafat Barat umumnya. Menurut Sartre, paham subtansialis justru membangun ilusi yang menjerumuskan manusia sebagai mahluk yang statik.

Berdasarkan paham cogito Cartesian, sang subjek dinyatakan telah penuh oleh kesadaran sebelum keberadaan ditetapkan. Maksudnya, ide manusia sebagai subtansi yang berpikir, dengan sendirinya menyituasikan manusia sebagai mahluk yang lengkap dengan kesadarannya sebagai satusatunya totalitas yang dimilikinya

Ilusi subtansialis juga mempengaruhi manusia sebagai objek yang dilingkupi ketetapanketetapan sebagai akibat piranti kesadarannya. Pengandaian ketetapanketetapan yang dimiliki manusia, ditunjukkan ketika  kesadaran manusia menjadi syarat utama dalam  mendeterminasi pilihanpilihan rasionalnya. Itu artinya melalui kesadaran rasionalnya, secara konsekuensional manusia tidak akan keluar dari ketetapan hukumhukum berupa baik-buruk, benar-salah, indah-tidak indah, besar-kecil dsb., yang menyituasikan kesadaran secara otomatis.

Kritik atas ilusi subtansialis, juga diajukan Sartre terhadap konsep Dasein Heidegger. Menurut Sartre, manusia sebagai Dasein secara esensialis harus menanggung karakteristik yang dimilikinya berupa kecemasannya dalam menghadapi masa depan. Situasi yang mengkondisikan Dasein atas pemahamannya terhadap masa depan sebagai acuan perilakunnya, dianggapkan Sartre sebagai keterpenuhan yang seharusnya tidak dimiliki manusia.

Di dalam Being and Nothingness (Ada dan kekosongan), Sartre mengemukakan dua kategorisasi keberadaan yang membedakan manusia dari keberadaan lainnya. Pendasaran kategoris ini ditentukan Sartre dari kesadaran yang dimiliki manusia dan bendabenda yang menjadi batasan dan keterlampauannya itu sendiri. Kategorisasi ini juga sekaligus menandai watak humanisme  filsafat Sartre dalam mengidealisasi manusia sebagai mahluk bebas.

Kategori yang pertama, didasarkan Sartre atas cara berada dengan prinsip keterpenuhan, yakni suatu pemahaman bahwa keberadaan selain manusia sudah de fakto ditetapkan dan tertetapkan begitu saja tanpa mampu mengubah dirinya. Artinya, bendabenda atau adaan selain manusia mengalami dirinya dengan begitu saja tanpa memiliki potensi untuk mengembangkan dirinya. Dengan kata lain, bendabenda telah ada begitu saja yang sudah berisi, padat, dan penuh tanpa memiliki rongga untuk meruangkan dirinya.

Kategori keberadaan di atas dikemukakan Sartre sebagai L etre  en soi, ada-pada-dirinya. Keberadaan ini juga dapat dipahami sebagai keberadaan yang bukan aktif sekaligus bukan pasif, tidak afirmatif sekaligus bukan negatif, yakni prinsipprinsip yang tidak bisa diafirmasi kepada selain dari manusia itu sendiri. Atas dasar ini, maka eksistensi l etre en soi, tidak mempunyai sejarah masa silam, tidak mempunyai kemungkinan masa depan, sekaligus tidak memiliki tujuan. Artinya etre en soi adalah keberadaan yang nihil, yakni keberadaan yang ada begitu saja, tanpa dasar, dan tanpa diciptakan.

Kategori yang kedua disebut Sartre sebagai L etre pour soi, ada-bagi-dirinya, yakni cara berada yang dirujuk dari kesadarannya. Kesadaran yang berifat co eksistens dengan begitu memiliki sifat khas, dalam arti mampu mengembangkan dirinya sejauh dunia yang dipikirkannya. Dari kesadaran yang mengembang, maka dengan sendirinya prinsip subjek-objek menjadi mungkin akibat relasi kesadaran dengan objek kesadaran. Dengan kata lain, di dalam kesadaran, subjek menjadi mungkin akibat objektifikasi atas objek kesadaran itu sendiri, dan berbalik menjadi objek kesadaran atas subjek kesadaran itu sendiri.

Kemungkinan relasi subjek-objek kesadaran dapat juga diandaikan dari sifat kesadaran yang menyadari dirinya sendiri. Ada yang menyadari berarti memposisikan dirinya sebagai subjek, dan kesadaran yang disadari oleh kesadaran yang menyadari diposisikan sebagai objek. Sifat keduaduanya ini diandaikan hanya dalam satu relasi bagi kesadaran itu sendiri.  Tetapi kesadaran yang menyadari tidak identik dengan kesadaran yang disadari, artinya  subjek hanya menyadari dirinya sendiri sekaligus bukan dirinya yang menjadi objek kesadaran. Sehingga, antara kesadaran yang menyadari dengan kesadaran itu sendiri yang disadari mengandung jarak posisional, jarak antara aku dan diriku yang disadari inilah yang disebut sebagai “ketiadaan.”

Proses “ketiadaan” ini, dalam filsafat eksistensialisme Sartre, dirumuskan sebagai manusia yang sedang menjadi. Menjadi sebagai suatu kaidah, dirumuskan sebagai keberadaan yang belum mewujudkan dirinya tetapi sekaligus sudah lepas dari keberadaannya yang sekarang. Artinya, di dalam proses kemenjadian, manusia melakukan dua mekanisme sekaligus, yang pertama adalah meniadakan keberadaannya yang sekarang, sekaligus menuju suatu wujud yang sedang ingin dicapainya.

Artinya, proses menjadi merupakan suatu rangkaian yang terus menerus dialami manusia. Suatu upaya yang bergerak, beralih, berubah tanpa berhenti, dan tanpa tujuan yang ketika dicapai akan ditinggalkan seketika. Dengan begitu, manusia adalah keberadaan yang tidak pernah mencapai titik kemauannya, titik keinginannya tanpa akhir. Di saat dia menghendaki, maka sesungguhnya itu bukan keberadaan, dan juga apa yang tidak dikehendakinya juga merupakan ketiadaan yang sudah ditanggalkan, maka di dalam persitegangan inilah manusia mengalami ada dan ketiadaan sekaligus. Dari Ada menuju ketiadaan.

***

Pendakuan kebebasan yang diartikan Sartre, walaupun dititiktolakkan dari ketiadaan Tuhan yang  dinegasi, tidak sendirinya bermakna manusia kehilangan daya kehendak yang dipunyainya. Pendasarannya secara teoritik dapat diartikan penolakkan Tuhan yang diparalelkan dengan moralitas manusia, bukan hubungan kausasi yang secara hakiki turut menghapus supremasi manusia atas kehendaknya.  Sehingga secara teoritik, pengandaian ini tidak mengimplikasikan defisitnya seluruh kehendak manusia itu sendiri sebagai dasar fondasional dalam tindakannya.

Itu artinya, kebebasan yang didenotasikan Sartre, tidak serta merta kehilangan dasar fondasionalnya dalam mengafirmasi dari mana nilainilai kemanusian itu didatangkan. Dengan terhapusnya Tuhan sebagai dasar fondasional atas seluruh tatatanan, maka pendasaran yang diajukan Sartre tiada lain hanya bisa dimungkinkan dimulai dari manusia itu sendiri. Pemaknaan ini akhirnya menempatkan manusia sebagai satusatunya pusat yang mengafirmasi dan mengkofirmasi seluruh nilai yang mendasari tindakannya.

Hanya dengan pengertian di ataslah, maka kebebasan dapat dimungkinkan. Dengan maksud ini pula, kebebasan manusia jadi lebih mungkin dan berarti dengan cara membangun pengertianpengertian yang mandiri tanpa intervensi kekuatan eksternalitas di luar manusia itu sendiri.

Lantas, apakah ketika Tuhan tiada, mungkinkah manusia beserta kebebasannya menjadi satuan yang bergerak semenamena? Di sini, penting kiranya, pendasaran Sartre terhadap kekuatan kebebasan  yang dimiliki manusia, harus diparalelkan dengan kesadaran reflektif yang menjadi “alarm” tindakan ketika manusia merenungkan segala apa yang sedang dan akan dilakukannya.

Syahdan, pertanyaan besarnya, apakah ditampiknya Tuhan dalam pandangan kemanusiaan Sartre, juga berarti tidak ada intisari kemandirian yang menjadi hal penting dan genting bagi manusia belakangan ini?

Share: