08 Agustus 2016

catatan kelas menulis PI pekan 24

| |
Sesuatu yang mengejutkan. Di pekan ke-24, kelas menulis PI sedang kedatangan enam peserta baru. Lima orang yang, entahlah, belum diketahui apakah mereka memang ingin menggeliati tulis-menulis, ataukah hanya sekadar nongkrong sambil kongkow bersama teman-teman di kelas literasi PI, ataukah coba-coba lihat situasi dulu. Soalnya, dari enam orang itu, hanya satu orang yang membawa tulisan— suatu petanda niatannya untuk mengikuti pembelajaran di kelas.

Tapi kelas literasi Pi sudah selalu kedatangan tamu semacam itu. Ada yang akhirnya bertahan, dan ada yang akhirnya hanya menampakkan batang hidungnya sekali-dua kali belaka. Itu tak masalah. Kelas literasi PI memang bukan ruang di mana orang-orang dipaksa belajar. Bukan seperti itu. Kelas literasi PI hanya membuka ruang belajar mendalami perihal tulis menulis. Selebihnya, pilihan masing-masing. Sukur-sukur mereka mau nimbrung belajar di tempat ini. Artinya ada suatu semangat yang mereka bawa. Suatu gairah belajar yang jarang dimiliki oleh orang banyak.

Ya, kelas menulis PI memang dibuka untuk siapa saja yang mau belajar. Apakah mau belajar menulis, atau hanya mau mendengarkan diskursus yang muncrat di mulut para peserta kelas. Bahkan jin kapere’, genderuwo, parakang, atau babi ngepet sekalipun bisa ikut di kelas menulis PI, sejauh niatannya mau bertobat dan belajar menulis.

Dari enam orang itu, lima di antaranya mahasiswa, dan satu di antaranya tukang bentor (untuk sementara bahasa yang kugunakan seperti itu). Eitss...,tapi, jangan asal ngomong dulu! Ini orang bukan tukang bentor biasa. Dia pembaca buku yang giat. Rajin membeli buku. Dan, Kecerdasannya memang sangat terlihat saat dia mulai berbicara banyak hal di kelas PI. Mulai dari agama, sampai perdebatan klasik antara pendukung teori heliosentris dan geosentris.Jago toh? dan, untuk enam orang itu, selamat datang di kelas PI.

***

Seperti biasa, Muhajir M.A, sosok yang cerdas dan ganteng yang kata orang mirip Ariel itu, membuka kelas menulis PI dengan ucapan pembuka yang bertele-tele. Ishak Boufakar memulai membahas tulisannya. Ia yang ditunjuk pertama. Sebab, cuma ia saja yang baru datang lagi saat sudah begitu lamanya bersemedi dikampungnya.

Ishak membawa tulisan berupa cerita bersambung. Berupa kisah antara ayah dan sang anak. Di mana sang anak memiliki rutinitas yang tak disenangi ayahnya. Sementara Ari membawa dua tulisan. Satunya berupa opini, atau, bisa juga dibilangkan sebagai suatu diskursus, yang satunya berupa esai. Seperti kecenderungan Ari yang biasanya, muatan tulisannya berupa kritik-kritik sosial yang cenderung provokatif. Dan satunya lagi, tulisan berupa cerpen dari peserta baru, Ilyas Ibrahim Husain.

Di antara para peserta, hanya empat orang yang membawa tulisan. Mudah-mudahan minggu depan setiap orang sudah membawa tulisannya masing-masing. Agar kelas literasi PI semakin ribut. Karena pastinya, kita merindukan kelas yang gaduh itu. Sekian dan terima kasih.