memikirkan kembali yang dasariah

08 Februari 2016 Comments Off

Kelas menulis PI ramai. Seperti biasa. Cuman kali ini tempatnya berbeda. Sekarang di Unhas. Di tepi danau, di pelataran sebuah gedung.

Awalnya agak bingung. Kawankawan repot. Mencari tempat pertemuan. Sebabnya sejak awal hanya disebut danau Unhas.

Tapi yang sms langsung tahu. Di gedung IPTEK tempatnya.

Ini kelas ketiga. Sebahagian sudah dari awal berkumpul. Beberapa malah datang  dari sekretariat di dalam kampus. Mereka anakanak fakultas tehnik. Mereka peserta baru. Yang lain mukamuka lama.

Agak lama kami menunggu yang lain. Maklum ini pertama kalinya di Unhas. Sebelumnya di sekretariat PI. Yang belum tahu, sekretariat PI sebenarnya TB Paradigma Ilmu. Di Alauddin, Pabbentengang.

Di Unhas lumayan bagus. Pemandangannya indah. Sebab di pinggir danau. Cuman agak bising suarasuara yang lain. Banyak kelompok mahasiswa yang juga di situ. Rapat organisasi barangkali, mereka banyak. Syalnya birubiru. Saya duga mereka anak palang merah. Entahlah.

Kelas berjalan alot. Hampir semua membawa tulisan. Hanya saya yang tidak. Sanksinya jelas, bagi yang tidak, minggu depan dua tulisan harus disetor. Saya siap. Lagian saya punya banyak stok tulisan. Jadi minggu depan aman.

Tulisan kawankawan ratarata bagus. Saya pikir semuanya tahu itu. Cuman ada beberapa koreksi yang perlu. Pertama kesalahan ejaan. Ini lumrah. Saya kadang sering. Kawankawan malah lebih sering. Jadi banyak yang salah. Akhirnya mesti diperbaiki.

Kedua hampir sama dengan yang pertama. Kesalahan ketikan. Ini juga lumrah. Ada beberapa tulisan yang salah saya dapati. Akhirnya diperbaiki. Mudahmudahan tidak terulang kembali. Ini masalah dasar. Yang paling elementer.

Kalau dilihat masih banyak yang bingung. Terutama masalah ejaan yang disempurnakan. Ada satu dua peserta yang sulit membedakan bahasa lisan dan tulisan. Dua hal itu sebenarnya berbeda. Bahasa lisan lebih lugas. Bahkan bisa blakblakan. Bahasa tulisan lebih tersirat. Makanya perlu kesabaran.

Itu yang sering banyak lupa. Kesabaran. Menulis berarti mau bersabar. Menahan ego. Mengendapkan emosi. Kadang banyak yang lupa. Emosi jangan sampai bermain. Itu bahaya. Tulisan malah jadi ambisius. Tidak objektif. Justru subjektif.

Makanya perlu mau pelanpelan. Tulisan tak ada yang langsung jadi. Di balik karya tulis ada sabar yang berlipatlipat. Itu rahasianya. Setidaknya menurut saya. Kata lain setiap satu tulisan berarti sepuluh kesabaran. Dua tulisan duapuluh kesabaran. Tiga tulisan tigapuluh kesabaran. Seterusnya begitu.

Bayangkan tulisan yang sabar. Hasilnya pasti jernih. Karena ditunjang dengan berkalikali koreksi. Berkalikali pembacaan ulang. Ini artinya ada evaluasi. Ada editing. Mulai dari kesalahan ketik sampai kesalahan argumen. Kalau sudah begitu insyaallah. Tulisan itu bernas.

Ketiga, argumentasi. Ada tulisan yang saya pikir kurang argumentatif. Ini kadang karena tatanan pikir yang rusak. Argumentasi yang baik pikiran yang lurus. Logis. Rasional. Paragraf yang baik paragraf yang lurus. Runut. Ini karena tatanan pikir beres.

Keempat soal sudut pandang. Ini salah satu yang menentukan. Semua bisa menulis kasus bom jalan Thamrin. Tapi jarang yang punya ceruk landai. Maksudnya ruang kosong yang luput. Carilah itu. Ruang kosong yang banyak orang abaikan. Itulah banyak ulasan tentang sepatu polisi. Pakaian polisi yang mahal. Ledakan bom sudah biasa. Life style  polisi di lapangan yang jarang. Itu sudut pandang. Dari mana matamu melihat.

Tapi yang membuat tersentak K Niart. Dia guru saya. Diamdiam dia tidak tahu. Dulu dia sering mengoreksi tulisan saya. Itu dulu. Bahkan sampai sekarang. Di forum dia mengoreksi beberapa tulisan. Dia banyak ulas soal aturan menulis. Terutama yang elementer; penggunaan imbuhan dan awalan.

Dia bilang dia pending mengirim tulisan di media. Dia ingin kembali ke dasar. Itu yang membuat saya tersentak. Yang lain tak menyangka, di situ ada yang kritis. Bahwa perlu evaluasi. Mari menengok kembali. Yang dasar, yang kadang lupa.

Saya tak tahu apa maksud dasar di situ. Dia tak jelaskan panjang. Tapi saya duga, itu penting. Itu genting. Terutama bagi penulis yang lama belajar. Kadang perlu diingatkan. Bahwa menulis sebenarnya menengok terus ke dasar. Melihat kembali dari mana kau berniat. Untuk apa menulis. Dengan apa menulis. Katakata apa yang kau pakai. Ini yang dasar barangkali. Menurut saya dari yang dibilangnya.

Saya kadang jumawa. Itu salah. Itu tidak layak.  Yang dasariah dari itu tak ada penulis yang sempurna. Yang ada penulis yang selalu mencoret kembali katakatanya. Kalimatkalimatnya. Tulisantulisannya. Sewajibnya memperbaiki yang salah. Bukan menguatkan yang baik. Itu dua yang berbeda.

Memperbaiki yang salah berarti mau belajar. Menguatkan yang baik berarti cepat puas. Memperbaiki yang salah berarti mengakui belum sempurna. Menguatkan yang baik belum tentu sempurna. Itulah saya merasa harus memperbaiki yang salah. Jumawa berarti menganggap sudah baik. Seharusnya mengakui yang salah itu yang etis.

Kembali ke dasariah artinya mengingat. Yang kurang. Yang awal. Yang pertama. Tulisan yang pertama pasti jelek. Pasti kacau balau.  Jadi ibarat cermin. Lewat cermin diperhadapkan kembali kepada kesalahan. Agar kita tahu yang mana yang kurang. Yang mana yang salah. Agar ada proses. Ini yang penting.

Yang dasar bukan berarti berbalik kebelakang. Itu berbeda.  Dasariah jauh lebih dari itu. Ini soal kedalaman. Melihat kembali ke bawah. Ibarat sumur. Seberapa dalam lubang yang digali. Seberapa banyak air yang  ditampung. Semakin dalam semakin banyak daya tampung air. Yang dasar artinya melihat ke lubang yang kita bikin. Sudahkah banyak air di sana.

Yang dasar juga masalah etis. Untuk apa menulis. Untuk siapa menulis. Ini pertanyaan yang harus pas jawabannya. Sebab banyak tulisan yang dibentuk karena tujuannya. Yang jadi soal kalau tulisan jadi heroik. Itu berarti karena ingin dipuja. Bisa juga tulisan jadi romantik. Yang ini karena masa lalu. Tujuan itu penting bagi nasib tulisan. Karena itu katakata bisa dipilih. Tidak mungkin memilih kata berat untuk pikiran yang ringan. Intinya lihat konteks.

Banyak yang bisa ditulis dari kelas menulis PI. Tapi saya justru menulis hal yang dibilang K Niart. Bagi saya sikap yang dia ambil adalah sikap pembelajar. Ini yang harus dicontoh. Terutama saya.

Kemudian ada yang lain. Soal bentuk cerpen dan esai. Saya sempat berdiskusi dengan Ecce. Panggilan Andi Reski JN. Saya tak tahu apa itu JN. Bukan itu yang penting. Yang penting obrolan saya. Di situ kami kembali mempersoalkan apa batasan esai dan cerpen. Bagaimanakah kalau ada esai tapi memuat unsur cerpen? Misalkan tulisan saya Malaikat Bukubuku. Saat saya anggap esai. Tapi ketika dibaca, K Niart justru bilang ini bisa juga disebut cerpen. Saya dan Ecce jadi bingung. Ini perlu dibahas kembali. Menurut saya penting.

Juga ada tanggapan dari Jusnawati. Hubungannya kritik saya terhadap cerpen Muhajir. Dia tidak sepakat kalau saya bilang penting arti sebuah nama. Apalagi dalam cerpen. Bagi dia tanpa nama karakter tokoh bisa dengan sendirinya terungkapkan. Jadi Jusna memilih menulis cerpennya dengan kata Aku sebagai tokohnya. Tanpa nama. Hanya Aku saja.

Itu juga bisa disoalkan lagi. Bagaimanakah penting suatu nama dalam cerpen. Apalagi dalam karya sastra. Apakah bisa tanpa nama. Ataukah nama ihwal yang krusial. Tanpa itu tokoh jadi anonim. Entahlah. Ini juga penting. Harus segera dibahas.

Terakhir tentang Kala. Saya mengimbau kepada semua. Kala butuh kontributor tulisan. Awalnya diniatkan menampung tulisan kawankawan. Di satu sisi saya merasa penting kawan memang berniat menulis untuk Kala. Saya punya semangat besar kepada Kala. Walaupun itu selembar kertas sederhana. Besokbesok ini bisa jadi penting. Kalau konsisten. Disiplin.


Sampai hampir magrib diskusi alot.  Kami bertukar pendapat. Saling bertanya. Kemudian dijawab, menjawab. Sore tinggal sebentar. Kami akhiri segera. Kelas literasi ramai. Seperti biasa. Bergegas pulang. Yang beda, minggu depan tempatnya di UNM. Di pelataran gedung Phinisi. Di pinggir jalan A.P Pettarani. 


Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca memikirkan kembali yang dasariah di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel