catatan kelas menulis PI pekan 4

16 Februari 2016 Comments Off

Bisa dibilang tak ada yang problematis di kelas menulis PI. Pun kalau ada hanya soal beda cerpen dan esai. Itu juga sudah terang. Cuman beberapa tulisan punya kesan ambigu. Entah esai entah cerpen. Tapi Muchniart bilang, esai punya dua ragam; esai deskriptif dan esai tajuk. Esai deskriptif tulisan yang bergerak dengan narasi, menggambarkan suatu keadaan, bendabenda, peristiwa, atau kondisi kejiwaan. Esai tajuk, tulisan yang memuat sudut pandang penulisnya atas suatu topik soal. Sedang cerpen jelas, tulisan yang memuat keberadaan tokoh, plot, sudut pandang dsb.

Pengetahuan di atas penting. Terutama bagi penulis pemula.

Selain itu ada soal teknis yang mulai harus dipertimbangkan. Hubungannya dengan jumlah kawankawan yang terlibat. Dua mekanisme forum yang sering dijalankan; menarasikan karya tulis dan kritik karya tulis. Cara bekerjanya di forum, yang pertama kawankawan akan diberikan kesempatan mendeskripsikan tulisannya, mulai dari motivasi dasar menulis sampai isi tulisan. Kritik karya tulis, sesi yang dipakai untuk mengintrogasi tulisan kawankawan secara bergilir.

Masalahnya, dua mekanisme ini tak efektif seiring dengan bertambahnya jumlah anggota. Terutama mekanisme yang kedua. Waktu tak lagi memadai untuk memberikan kesempatan kawankawan dapat berbicara atas tulisan yang dikritik. Apalagi yang akan jadi objek tulisan yang sekira 20 jumlahnya. Hitunghitungannya; dua jam diskusi dibagi dua sesi, dan sesi terakhir harus saling mengintrogasi tulisan, rasarasanya tak cukup.

Problem ini jadi agak genting dua pekan belakangan. Banyak tulisan yang tak sempat diulas. Di sisi lain, saya pribadi ingin menaruh perhatian lebih kepada kawankawan yang masih baru. Bukan soal tulisan saja, melainkan perhatian yang bisa mendongkrak semangat mereka agar terus menulis. Saya pribadi berkeinginan peserta yang terlibat punya tradisi menulis yang baik, intens, dan kontinyu. Tiga hal ini saya kira harus jadi targer terutama anggota baru.

Makanya, mulai pekan sebelumnya, tulisan yang ingin diintrogasi sudah harus diupload minimal sehari sebelum kelas dibuka. Aturan ini disepakati untuk meminimalisir kekurangan mekanisme yang dipakai selama ini. Juga, dengan cara dipublish di media sosial, kritik dapat berlangsung lama dan terbuka bagi siapa pun yang membacanya. Sekopnya yang lebih luas inilah yang diharapkan dapat merangsang perbaikan demi perbaikan tulisan yang masuk.

Ada saran dari Sulhan Yusuf, lebih efektif kalau tulisan dipublish saja di grup Paradigma Institute. Tujuannya agar lebih mudah mengidentifikasi tulisantulisan yang masuk. Juga agar kawankawan tidak ribet mondarmandir dari wall satu ke wall lainnya. Saya kira ini harus segera dilakukan.

Kala, mini buletin kelas menulis PI sudah sebulan terbit. Empat pekan tanpa jeda. Ini bukan prestasi. Agaknya sudah mulai menemukan sejumlah tantangan. Pertama dimulai dari alat produksi yang masih belum jelas, sampai soal penulis yang mau menghibahkan tulisannya. Selama ini Kala masih khusyuk saya tekuni. Tiap akhir pekan harus mengumpulkan dan mengedit tulisan. Tapi, tantangannya tulisan minim masuk. Kecuali sejumlah karya sastra yang dikirim oleh beberapa penulis (bahkan ada penulis dari Jeneponto yang mengirim langsung), esai yang jadi tulisan halaman pertama dan kedua jadi minim.

Pekan keempat, selain Ishak, tak ada yang mau mengirim tulisan. Untung ada sejumlah esai Muhajir yang mau disumbangkan. Akhirnya masalah sedikit beres dengan menyisakan satu kolom lowong. Ini celah kritisnya, tulisan macam apa yang panjangnya pas dimuat di situ. Sampai siang kolom itu tidak terisi. Masalah belum selesai betul.

Waktu hampir pukul tigabelas, kolom yang kosong masih terpampang. Tidak mungkin Kala terbit dengan menyisakan satu kolom yang bolong. Berharap tulisan dari kawankawan tidak mungkin. Lagian ini hanya satu kolom kecil dari setengah halaman yang belum terisi. Toh kalau diminta jangan sampai kepanjangan. Tanpa pikir lama, saya ambil sikap. Saya tulis sebisanya. Esai pendek yang mencukupi kolom yang tersisa. Tak banyak selang waktu jadilah tulisan bertajuk Pentingnya Kesadaran Berbahasa. Kala siap cetak. Masalah Beres.

Selama empat pekan Kala dicetak pakai print dan beberapa lembar kertas panjang. Setiba di lokasi percetakan (sebenarnya sekretariat L****) print kurang maksimal. Kertas pun ternyata tak ada. Karena kepepet karton pun dipakai sebagai bahan cetakan. Tak ada rotan akar pun jadi. Tak jadi soal, sebentar juga akan digandakan lewat mesin foto kopi. Makanya hasil cetakan Kala pekan ini di bawah standar. Copyannya juga kurang maksimal.

Yang juga mesti diperhatikan kembali, ihwal pertofolio kawankawan. Sampai saat ini hanya baru Ali dan Ari yang punya. Kawankawan yang lain barangkali lupa. Jangan sampai abai. Ada niat, kumpulan tulisan yang dipertofoliokan menjadi bahan penilaian sejauh mana kemampuan menulis berkembang. Bukan dibandingkan dengan tulisan sesama peserta, melainkan tulisan kawankawan sendiri di tiap minggunya. Ini cukup adil. Lawan kawankawan adalah kawankawan sendiri. Di tiap tulisannya.

Terakhir, kelas diumumkan kembali gelar di sekretariat PI. Seperti biasa kelas dibuka jam tiga siang.

Sore datang dan lalu jelang. Kala jalan padat, mukamuka tirus lenggang dan pulang. Sepersekian malam datang. Langit jadi gelap. Di masingmasing bilik, tinta masih basah. Jangan hilang asa, tilik satusatu. Tulis jangan siasia…


Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca catatan kelas menulis PI pekan 4 di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel