03 Desember 2015

Filsafat itu Dialog

| |
Filsafat sebetulnya adalah dialog. Jadi bukan sekadar aktifitas monologis untuk merenungkan suatu segala, tapi peristiwa dua arah untuk mempercakapkan segala ihwal. Filsafat sebagai dialog bekerja di dua lapisan sekaligus; intrapersonal dan interpersonal. Di tingkatan pertama, filsafat bergelut dengan "aku yang berkesadaran" di dalam kesadaran itu sendiri, sementara di tingkatan kedua, "aku yang berkesadaran" dengan aku yang lain di luar dirinya.

Tingkatan pertama, filsafat dimulai dari permenungan mendalam, sedangkan di lapisan kedua, filsafat bekerja dengan percakapan antara dua subjek.

Itulah mengapa, philia yang berarti cinta, membutuhkan dua subjek yang hadir bersamasama. Karena cinta hanya bekerja apabila diandaikan pada dua orang yang saling berdialog. Di saat dialog, dua subjek memiliki posisi yang setara tanpa yang satu memonopoli percakapan. Hanya dengan itulah percakapan bisa berlangsung tanpa menjadi khotbah, seimbang tanpa diskriminasi. Melalui dialog cinta menjadi penyetara antar dua subjek.

Cinta yang tanpa dua subjek untuk saling mempercakapkan, adalah narsisme, tindakan menyenangi diri sendiri. Sementara cinta antara dua subjek adalah persahabatan (philia). Fisafat sebagai dialog, dengan begitu berwatak sosial. Tiada filsafat yang berwatak antisosial. Jika semenjak mula, filsafat tidak dibangun dengan cara dialog, maka filsafat tidak mungkin berkembang dalam sejarah.

Socrates memulai filsafatnya dengan cara bercakapcakap. Dia berdialog dengan banyak orang. Membangun gugus percakapan dengan cara mempertemukan pendapatnya dengan pendapat khalayak tentang hal ihwal. Kelak, cara ini disebut dengan dialektika, yakni memperhadapkan dua asumsi untuk mengambil titik temu (sintesa) antara keduanya. Model seperti ini akan berkembang sebagai  salah satu mekanisme filsafat untuk menemukan kebenaran.

Platon, murid Socrates, juga menempuh cara dialog untuk memulai aktifitas filsafatnya. Bahkan, salah satu karyanya berjudul Dialogue. Melalui buku itu, Platon pelanpelan memperkenalkan filsafat melalui hasil percakapannya dengan gurunya. Bahkan pada titik tertentu, kitab yang merekam dialog Socrates dengan muridmuridnya itu, adalah reportase pertama di dalam sejarah manusia yang memperlihatkan bagaimana suatu peristiwa dapat direkam untuk dikabarkan kepada khalayak.

Syahdan, Socrates dan Platon mengajarkan dua hal, yakni filsafat harus dikerjakan secara bersamasama antara dua sahabat yang bercakapcakap, dan dengan cara reportase Platon, filsafat diperkenalkan sebagai informasi yang bisa dikonsumsi banyak orang. Dengan alasan ini, tidak bisa tidak, filsafat harus disebut sebagai pekerjaan sosial.

Dunia sosial adalah dunia yang jamak. Begitu banyak ragam manusia memberlangsungkan kehidupannya. Dimulai dari lahir, manusia sudah membawa sidik jari yang berbeda, hingga model bahasa, agama, dan kebudayaan yang juga berbeda. Melalui perbedaan itu, manusia bertukartangkap saling memahami. Dengan purnaragam perbedaan, manusia dituntut saling menghargai perbedaan.

Filsafat yang berarti pekerjaan sosial, dengan sendirinya memungkinkan filsafat sebagai medium untuk menjadi bijaksana. Sophia, yang berarti kebijaksanaan, tidak dengan sendirinya hanya berhubungan dengan aspek semantik bahasa belaka, melainkan bagaimana kebijaksanaan hanya berarti apabila itu diberlakukan kepada dua orang atau bahkan lebih.  Sama seperti predikat ayah hanya berlaku bagi seorang suami ketika memiliki anak, bijaksana hanya bernilai apabila ia diterapkan di dalam hubungan perbedaan antara dua ragam obyek atau bahkan lebih.

Artinya tiada kebijaksanaan yang lahir dari keseragaman. Dengan cara itu pula, kebenaran di dalam filsafat diberlangsungkan melalui beragam perbedaan perspektif. Sebagaimana hukum dialektika, kebenaran hanya lahir ketika perbedaanperbedaan diperhadapkan untuk dipercakapkan.

Percakapan sebagai metode menemukan kebenaran, nampaknya juga adalah sifat sejarah filsafat. Yunani pra sokratik menuju pasca sokratik, ditengahi oleh dialog tematema kosmologi antara Thales hingga Aristoteles. Dari masa Hellenis hingga Abad pertengahan, dihubungkan dengan percakapan antara filsuffilsuf Stoa sampai Thomas Aquinas. Dan dari masa modern hingga postmodern, filsafat selalu diucapkan dengan cara dialogis melalui Machiavelli hingga Slavoj Zizek. Dengan begitu kebenaran dari masa ke masa senantiasa berkembang melalui percakapan dengan zaman sebelumnya, membentuk pola kebudayaan seiring perkembangan masyarakat.

Berdasarkan perkembangan masyarakat, maka filsafat dengan cara dialog dan sifat sejarahnya, adalah suatu pekerjaan terbuka. Berbeda dengan agama misalnya, kebenaran yang diberlakukan secara terbuka, harus menanggung resiko untuk selalu mengalami perubahan, karena dengan cara itulah kebenaran filsafat memurnikan dirinya. Berbeda dengan agama, filsafat harus selalu membuka diri untuk senantiasa memperbaharui kebenaran yang dikandungnya.

Bisa jadi, karena itulah nampak perbedaan mencolok antara seorang agamawan dengan seorang filsuf memberlakukan kebenaran. Seorang agamawan dalam memberlakukan kebenaran selalu dengan fixed minded, sementara seorang filsuf mengakrabi kebenaran dengan cara open minded. Itulah mengapa kebenaran seorang filsuf, dipandang tidak sebagaimana wahyu di dalam agama, karena kebenaran adalah ihwal yang manusiawi; bisa berubah kapankapan saja.


Kebenaran yang bersifat manusiawi dengan sendirinya berdimensi sosiologis lebih ketimbang teologis. Kebenaran yang berwatak sosiologis berarti kebenaran yang muncul dari ragam orang yang berbedabeda, lahir dari orang banyak dan dipercakapkan melalui banyak mulut. Berbeda dengan agama yang bermula dari satu persona tertentu, walaupun akhirnya diperuntukan untuk banyak orang. Perbedaan paling mendasarnya adalah, filsafat bisa datang dari bibir banyak orang, sementara agama hanya bermula dari bibir satu nabi.

Filsafat juga memungkinkan lahirnya lingkungan percakapan yang lebih demokratis, disebabkan karena kebenarannya dapat dipercakapkan oleh banyak orang. Berbeda dari agama yang memiliki kecenderungan suatu hierarki  ketika menyelengarakan suatu kebenaran. Dari sudut pandang ini maka, kebenaran di dalam filsafat membangun pola yang melingkar ke luar, sementara agama justru masuk bergerak ke dalam pada suatu poros yang menjadi pusat. Kecenderungan ini dapat disaksikan jika suatu wacana berkembang di dalam suatu tindak verbal, maka agama akan berpulang kepada suatu titik legitimated, sementara filsafat justru berkembang dengan mendelegitimade suatu keputusan yang telah tetap sebelumnya.

By the way
, filsafat adalah cara manusia menjaga agar pikiran tetap bekerja, dengan cara dialog, melalui omongomong sederhana dengan cara yang hikmat. Dengan begitu filsafat bukan ilmu yang penuh dengan perbincangan yang berat. Apalagi sangkaan yang angker.