08 Maret 2015

madah empatpuluhenam

| |
Nun jauh di atas langit sana, terbuka kitab lauh mahfus, tempat segala informasi tersimpan. Tapi di sini, ada media massa. Pusat segala informasi menyebar.

Ini abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

Ada penelitian dari antropolog Amerika, Edmund Carpenter namanya. Melaluinya, kita bisa tahu sebuah kebudayaan bisa hilang oleh karena alatalat canggih berupa semisal radio ataupun televisi.

Di Sio, suatu daerah Irian di timut jauh, suatu budaya pelanpelan tersapu. Adat yang dijunjung sebagai simbolsimbol kebudayaan hilang. Carpenter menuli s itu dengan cermat: "Ketika kami kembali ke Sio, aku tidak lagi mengenal tempat itu. Beberapa rumah telah dibangun lain. Mereka sekarang berpakaian seperti orang Eropa dan perilaku mereka juga berubah. Mereka bereaksi lain. Sebagian mereka menghilang, berangkat ke pusat pemerintahan. Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka dan berubah menjadi individu yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dan tidak lagi menjadi bagian dunia mereka sebelumnya. Teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka."

Ada keprihatinan dalam ucapan Carpenter, tapi juga sebenarnya adalah ketakutan atas hilangnya yang primordial. Sebelum laporan itu dapat ia tuliskan, beberapa waktu sebelumnya ia datang memperkenalkan alatalat teknologi yang menghubungkan orangorang dengan perubahan di luar. Tape, camera, proyektor beberapa alat yang dibawanya. Dan selama ia tinggalkan tempat itu, dan kemudian datang kembali, maka tahulah ia betapa berubahnya orangorang dengan alat elektronik yang dipunyai.

Keprihatinannya itu ia tulis dengan katakata "tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuannya," dan barangkali ketakutannya ia ungkapkan dalam katakatanya "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka." Dua hal ini memang perlu dikhawatirkan, sebab di luar sana, kebudayaankebudayaan besar telah banyak menghabisi apa yang kita sebut budaya lokal.

Di Sio itu telah terjadi dan Carpenter menulisnya. Tapi di sekitar kita, tak perlu seorang Carpenter untuk mengatakan bahwa semakin hari ada yang semakin alienatif dari identitas kultural kita.

Marx menyebut alienasi melalui titikkoordinatnya pada produkproduk di dalam sistem ekonomi. Manusia terasing dari ciptaannya sendiri sehingga ia menjadi mahluk yang jauh dari ciptaannya. Begitu juga manusia dapat terasing dari lingkungan sosialnya dengan hilangnya solidarity time yang semakin minim. Sehingga dari produk ciptaannya dan juga dari lingkungan hidupnya, manusia jadi mahluk yang tercerabut dari nilai kemanusiaannya.

Tapi, dari kasus Carpenter sebenarnya berbeda. Juga di sekeliling kita. Tak ada yang berjarak dari produkproduk ciptaan manusia. Teknologi sudah seperti inti dalam setiap aktifitas kita. Alatalat canggih begitu sering kita temui dan akrab dengannya. Juga tak ada yang terasing dari lingkungannya, sebab tak ada ruang sedikit pun yang kosong dari bentuk komunikasi. Media komunikasi justru sudah masuk sampai pada ruang yang privativ dan menghubungkan kesendirian dengan keramaian dunia virtual. Artinya, tak ada yang kosong dari produk ciptaan dan komunikasi. Tak ada yang lepas dari teknologi.

Tapi justru disitulah masalahnya. Carpenter sendiri menulisnya dengan nada yang miris "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan," Yang teralienasi bukan sebab terpaut jarak antara manusia dengan ciptaannya, tetapi keakraban yang intim dengannya justru makin menjadikan kita tersingkirkan dari pusat kemanusiaan. Dengan kata yang lain, keterasingan kita sesungguhnya adalah hilangnya identitas kultural tempat kita menemukan diri yang yang sebenarnya.

Teknologi komunikasi memang sumber soal. Dan informasi yang dikandung di dalamnya bisa berarti dua hal: imprealisme dan kebisuan.

Horkheimer menyebut imperialisme dengan industri budaya. Melalui yang ia sebut kapitalisme kebudayaan itu, suatu agenda massal tengah berjalan membangun suatu sistem tunggal. Yang tunggal itu dalam soal selera kebudayaan adalah jenis selera massal yang membuat modal dapat terus berputar. Di era sekarang, selera sudah tentu bukan lagi urusan pribadi yang terlepas dari bagian informasi massal. Di dalam informasi yang diproduksi, bukan cuma selera, cara berpikir pun sudah jadi cetak biru logika pasar. Dan dari sanalah bermula identitas yang lenyap dibalik tayangan yang dipermak media. Seluruhnya adalah cermin dunia barat.

Sebab itulah Herbert Marcuse  menyebutnya one dimensional man, yakni tipe kepribadian yang tunggal atas kesamaan cara pandang dan selera yang dicipta. Maka, dengan cara itu mekanisme penyegaraman bekerja untuk mengadopsi satu identitas yang dominan. Di saat itulah yang lokal hilang tersapu budayabudaya raksasa. Di saat itulah kebisuan budaya sebenarnya terjadi, sebab lidah kebudayaan kita lebih peka segala yang berbau “luar.”

Maka itulah ada yang mesti prihatin. Kebudayaan memang  suatu yang tak selamanya pejal dan tetap. Juga identitas kultural yang dari sana kita bisa menerka asalusul suatu origin. Sebab kita akhirnya bisa menyesal di saat identitas yang origin justru adalah suatu yang sudah semenjak awal tercuri dari lingkungan kita. Seperti orangorang Sio yang yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dari lingkungan kolektivnya. “Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka,” Sebut Antropolog Amerika itu.

Ini memang abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.