22 February 2015

madah tigapuluhempat

Media massa banyak mengubah dunia, juga membuat manusia bisa takjub. Tapi sebenarnya dunia tidak berubah sepenuhnya, yang sebenarnya berubah adalah persepsi tentang dunia. Dan ketakjuban atas itu, dari dampak media yang memperpanjang jangkauan manusia, ditunjukkan Luther berabadabad lalu saat pembaharu kristen itu dibincang hampir di sudutsudut Eropa.

Ketakjubannya ia tulis; "Adalah suatu misteri bagiku, bagaimana tesisku...tersebar ke banyak tempat. Padahal semuanya khusus ditujukan bagi kalangan akademik kita di sini.."

Begitulah ia takjub dan barangkali juga heran.

"Di sini" dalam tulisan Luther saat itu adalah sepetak tanah atau ruang tempat lingkungan akademik gereja menghabiskan waktunya,  dan "kita" adalah batas yang ia tujukan kepada kelompok yang akrab dengan debat teologi dan kosmologi. Tapi dalam ungkapan yang sama ada yang melompati batas, ada yang jebol saat itu. Dalam keheranannya itu makna "di sini" juga berarti di manamana. "Di sini" juga bermakna "menyebar ke manamana."

Tulisan itu sebenarnya ia tujukan bagi Paus saat itu. Suatu surat yang tak menyangka dan diduga sebelumnya atas menyebarnya pemikiranpemikirannya. Barangkali ada kekhawatiran dalam benak Luther, sebab karyanya yang merupakan 95 tesis tentang ajaran kristiani, yang ia tulis untuk kalangan terdidik, justru menyebar tanpa bisa dikontrol. 95 tesis yang awalnya digantung di pintu gereja itu tibatiba jadi konsumsi massal. Dari sudut pintu gereja Wittenberg akhirnya menjelma hampir seluruh Eropa.

Kesaksian Luther ini adalah penanda betapa cepatnya penyebaran informasi saat seorang bernama Johannes Gutenberg berhasil menemukan sebuah alat yang disebut mesin cetak saat itu. Δ¶ala itu arti mesin tidak sama jika kita menyebut mesin saat ini, tapi di tahun 1455 Gutenberg sudah mampu menciptakan 42 line bible dengan mesin sederhananya. Sebab itulah, melalui Gutenberg Bible tak lagi berupa kumpulan perkamen yang ditulis tangan. Di tahun yang sama Gutenberg membuat Bible pertama yang dicetak.

Hingga Eropa pelanpelan mulai menemukan keyakinan baru. Gereja sebagai institusi yang hak terhadap ilmu pengetahuan menjadi surut dan luntur. Temboktembok gereja mulai kehilangan arti sebagai batas yang ilahi. Sontak, yang di anggap ilahi bukan saja milik gereja. Yang jebol akhirnya tak dapat dibendung, yang akademik jadi milik umum. Sejak saat itu, saat di mulai dari Jerman hingga ke negerinegeri lainnya, Luther menjadi semacam mentari di ufuk jauh; membawa iman baru di manamana.

Dan dalam sejarah akhirnya kita bisa tahu, sebuah mesin cetak bisa menerbitkan dua hal; kegamangan dan pembaharuan.

Padri agama di saatsaat Eropa beranjak naik, barangkali juga tak menyangka. Seperti Luther, mereka akhirnya harus menerima keadaan yang selama ini dijaga akhirnya harus lancung; merebaknya kontroversi. Saat itu, dari 95 tesis yang ditulis Luther, tradisi kristiani mulai guyah. Banyak iman yang mulai menyelisih seperti perdebatan menyakngkut dosadosa yang bisa ditebus atau tidak. Juga kritikannya terhadap John Tetzel, teolog saat itu yang menghimpun pundipundi melalui surat aflat. Syahdan, sontak kegamangan itu menuai pembaruan disudut lainnya.

Tapi itu di abadabad 16 saat mesin cetak merombak tatanan informatif masyarakat Eropa. Kegamangan padri agama akhirnya berubah menjadi hilangnya kharisma gereja, dan munculnya kaum intelektual baru. Pengetahuan di sini juga ternyata tak selamanya kukuh di atas otoritas teologi. Bukan saja sabda tuhan yang bisa membangun iman yang tanpa cela, mesin cetak justru jauh lebih dahsyat, bukan saja menggetarkan iman yang lama dipugar sejarah, tetapi juga menjadi pemicu suatu gerakan baru saat itu; humanisme.

Humanisme inilah yang sepertinya jadi sesak bagi teolog saat itu. Sebab manusia justru adalah hamba yang harus melayani tuhan dalam kolonikoloni. Sejarawan Swiss, Jacob Burckhard, menukil suatu keadaan sejarah saat itu ketika manusia yang hidup dan mengenali dirinya sebagai ras, rakyat, keluarga atau kolektif. Dan di tengahtengah itulah seraut iman disusun atas sabdasabda yang membangun kehidupan religi. Tapi kemudian humanisme itu datang, individu sebagai segenggam kesadaran beriringan waktu menghancurkan ikatan yang terbina berabadabad lamanya. Dogma terganti rasio dan kolektifisme menjadi individualisme.

Itulah mengapa iman jadi sepi dari kolektifisme, gereja seperti dikata sebelumnya kehilangan pengaruh. Dan merebaklah semangat pencerahan dengan menyisihkan idolaidola. Bacon menyebut idola sebagai pandangan yang salah terhadap kenyataan yang sebenarnya. Terutama idola tribus dan idola cave, yakni keyakinan yang mengaburkan pandangan yang sebenarnya terhadap kenyataan yang objektif sehingga pengetahuan yang didapatkan sebenarnya adalah palsu. Marx menyebutnya ideologi.

Sampai di sini, memang media banyak mengubah dunia, tapi sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Yang berubah adalah persepsi tentang dunia. Seperti padri agama yang gamang dan akhirnya harus mengubah persepsinya bahwa selain tuhan ada yang samasama dahsyat. Luther boleh takjub dan barangkali sampai terheranheran, seperti itu juga kita, atau bahkan sebenarnya saat ini lebih mirip kerisauan.