madah duapuluhdua

11 Februari 2015 Comments Off

Tahun 1998 Indonesia kritis. Krisis moneter membikin negara guyah. Pemerintah bingung oleh keadaan ekonomi yang tak kunjung membaik. Harga barangbarang naik. Politik akhirnya jadi ribut. Rakyat pun mengamuk ke jalanjalan. Demonstrasi di manamana, dan akhirnya mei, sang rejim turun tahta.

Sementara jauh di daratan eropa, sebuah buku terbit dan menimbulkan gempar. The Third Way, The Renewal of Social Democracy. Giddens, sosiolog Inggris itu sumber kegemparannya. Bukunya, yang berisi tentang argumenargumen pembaruan demokrasi, sepertinya terbit di saat yang tepat. Eropa dan Amerika, yang saat itu sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi zaman milenium baru seperti menemukan obat mujarabnya.

Maka sontak Giddens diundang. Seminarseminar mengulas isi bukunya. Ada kasakkusuk Tony Blair, perdana menteri Inggris saat itu, mempertemukannya sampai ke hadapan presiden Clinton. Dan pertemuan itu punya maksud mengulas isi buku yang gempar itu. Dan pasca itu, Stryker Mcguire mengungkapkan, bukan saja Bill Clinton, berkat bukunya, Giddens bisa masuk ke kantorkantor presiden hampir di seluruh dunia.

Tapi kita tak tahu, apakah ia juga datang ke Indonesia di saat pasca krisis. Masuk di istana negara sampai bercengkrama sebentar dengan tuan presiden beserta jajaran menterinya. Dan dimulailah perbincangan serius antara elit kekuasaan dan seorang sosiolog untuk membincang bukunya. Sebab buku yang disinyalir banyak mengubah wajah eropa juga amerika itu, bisa saja, juga dapat mengubah jalan sejarah indonesia. Namun itu hanya andaiandai.

Tapi sebelumnya, di pekan yang sama, saat "jalan ketiga" terbit, sebuah majalah Inggris mengeluarkan ulasannya. Dalam alinea pembukanya: "This book is aswesomely magisterial and in some way disturbingly vacuous." Dalam kalimat itu nampaknya ada yang mengagumkan juga sekaligus kosong. Selanjutnya, sontak tak ada pujipujian atas buku itu. Tak ada yang dirasa spesial. Buku itu hanya vacuous; kosong.

The Ekonomist nampaknya tak puas, sebab memang dalam buku itu tak ada resep yang pasti tentang apa yang disebut "jalan ketiga." Dan memang Giddens tak menyebut jalan pasti diantara pasca jatuhnya sosialisme dan berbahayanya pasar bebas. Dalam buku itu Giddens hanya mengulas bagaimana perlunya jalan baru atas kemajuan yang semakin berisiko.  Ia hanya memberikan anjuran bagaimana seharusnya pemerintahan sebuah negara bersikap atas perubahan tatanan ekonomi dunia yang cepat berubah. Toh jika perlu resep pasti, ia hanya sampai pada sebuah kalimat yang semacam ini; kita hanya perlu mengarahkan juggernaut yang larinya sudah tak terkontrol itu.

Bukan kapitalisme apalagi sosialisme. Lantas? Itulah masalahnya. Giddens nampak mengambang diantara dua model ideologi dunia itu. Sebab tak ada harapan dari jatuhnya sosialisme Soviet. Juga liberalisme pasar tak sepenuhnya bisa diandalkan. Maka itu dia diundang untuk memperkenalkan jalan pikiran yang berkelit antara kebebasan pasar dan intervensi negara. Dan dari bukunya yang tak menyebut apa yang pasti dari jalan ketiga itu, nampaknya berhasil mengubah wajah Eropa dan Amerika. 

Banyak tafsir dan kritik pasca buku itu terbit. Tapi akhirnya Giddens membalasnya dengan mengeluarkan buku untuk menjawab kritikan yang ditujukan kepadanya. Artinya “jalan ketiga” yang ia perkenalkan masih ambigu di mata dunia, juga pengkritiknya. Namun kita mesti mengingat, “jalan ketiga” Giddens sesungguhnya bukan menawarkan alternatif diantara sosialisme dan kapitalisme. Sebab di mata Giddens, dua ide besar itu, adalah hasil pencerahan yang tak sepenuhnya bisa membikin sejarah sebuah negara membaik. Eksperimen sosialisme justru runtuh, dan ini berarti tak ada harapan di dalamnya. Kapitalisme? Malah mengabaikan kolektifisme yang dimakan pasar bebas.

Dalam konteks inilah sepertinya kita harus berhatihati membaca “jalan ketiga.” Karena didalamnya, asumsiasumsi yang dituliskannya sungguh seperti tak memiliki dasar teoritis di mana ia berdiri. Bukan sosialisme?, bukan kapitalisme? Ataukah ini yang dimaksud Pos? sebuah bentuk pemikiran baru atas masyarakat yang keluar dari logika antara individualisme dan kolektivisme? Nampaknya kita hanya bisa menafsir. Nampaknya memang butuh kejelasan. Sebab barangkali isi bukunya bisa memberikan arah baru tentang konsep seperti apakah yang konteks dengan keadaan masyarakat seperti negeri ini. 

Untuk itulah kita seperti Bill Clinton yang saat itu, juga harus mengundangnya, agar ia bicara langsung apa sebenarnya “jalan ketiga” itu. Tapi sudah terlambat. Itu lima belas tahun yang lalu, saat negeri ini mengalami kritis dipersimpangan jalan.


Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca madah duapuluhdua di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel