madah sebelas

29 Januari 2015 Comments Off

Agama adalah usaha manusia dalam membangun suatu kosmos yang keramat. Ini bahasa yang dipakai Berger untuk membangun pengertian agama. Dan nampaknya tidak sepenuhnya salah. Ia melanjutkan, “keramat adalah suatu kualitas misterius dan menakjubkan”. Artinya, agama adalah pengalaman terhadap yang keramat, dan yang disebut pengalaman sepertinya adalah sebuah sikap yang tidak berjarak; menyatu.

Namun sepertinya dalam mengalamatkan yang mana keramat justru kita bisa semenamena. Atau bahkan salah kaprah. Justru yang keramat akhirakhir ini malah  nampak menjadi sebuah sikap yang klenik. Yang keramat bukan lagi sebagai sebuah misterium dan hal yang menakjubkan, tetapi sebaliknya adalah sebuah sikap yang banal.

Ini berarti sepertinya agama yang keramat itu sudah merupakan salah kaprah. Agama yang banal. Agama yang kehilangan semangat dan misterianya. Agama yang bukan pengalaman.

Kosmos yang keramat sebenarnya adalah apa yang ditegakkan dengan cara yang transenden. Sebuah ihwal yang nonmanusiawi. Dengan yang transenden itulah, yang nonmanusiawi mengatasi dan meliputi. Melalui inilah yang keramat tampil dengan bentuknya yang menguasai. Tetapi yang menguasai ini adalah sebuah keadaan yang sarat tekateki; sebuah misterium.

Lantas di manakah yang keramat itu salah kaprah? Sepertinya adalah jika yang transenden sudah selalu kita kaitkan dengan lawan dari yang keramat; profan. Yang profan bisa apa saja dan di mana saja. Tetapi yang profan sekarang bisa mewujud seperti bendabenda yang tidak asing bagi kita, kekuasaan, jabatan, tempattempat atau segala hal yang di sana kita membangun sesuatu yang keramat. Dan di saat inilah kita salah kaprah, yaitu mengindentikkan yang profan sebagai sesuatu yang keramat. Di saat inilah barangkali agama bukan lagi sebagai peristiwa yang membangun sesuatu kosmos yang keramat, melainkan sebaliknya menghablurkan segala yang profan.

Lantas bagaimanakah yang keramat itu dapat kita temu kenali? Sepertinya ini yang sulit, sebab yang keramat bukanlah sesuatu yang massal kita temukan. Ia setidaknya adalah keadaan yang tanpa bahasa dan tak disertai rumusrumus pemikiran. Tanpa bahasa bukan berarti katakata yang tak mampu mengidentifikasi, dan tanpa pikiran bukan berarti sesuatu yang lolos dari pertimbangan. Sepertinya ia lebih mirip sebagai sikap yang mengafirmasi dari pada mengkonfirmasi; sebuah sikap sanepa.


Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca madah sebelas di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel