03 October 2014

The Violences of Everyday Life

Sejarah dunia, bila meminjam analisis Marxian adalah persitegangan tiada henti. Dunia adalah medan pertarungan dari kepentingan atas dasar kekuasaan. Melalui mekanisme yang antagonistik, dunia banyak disuguhi hororisme, ketakutan, penghancuran, perang, perbudakan, genosida, serta penghisapan. 

Awal sejarah, tindak penghancuran seperti juga diakui dalam kitab suci, sejatinya sudah dimulai oleh nenek moyang manusia beberapa milenium sebelumnya. Melalui kisah Qabil dan Habil, agama hendak mengingatkan sebenarnya kekerasan dan penghancuran merupakan tindak manusia yang inheren dan paling purba dalam diri manusia. Dalam abad modern, ingatan umat manusia tertuju pada pembersihan ras oleh Nazi atas dasar pemurnian etnis, perang yang dialami rakyat Bosnia, pendudukan etnis Yahudi di tanah Palestina serta menguatnya tindakan terorisme internasional akhir-akhir ini.

Nampaknya tatanan dunia belakangan ini tengah diuji. Aksi-aksi kekerasan yang kerap menelan korban banyak, mau tak mau menyimpan duka mendalam bagi korban pasca peristiwa. Baik global maupun nasional, kekerasan sudah menjadi peristiwa integral dalam kehidupan manusia. Betapa mudahnya dunia menyuguhkan aksi-aksi brutal yang begitu transparan ditengah-tengah kita, seakan kekerasan adalah hukum natural yang sedang memperbaiki dirinya. Ataukah boleh jadi, kekerasan sebenarnya adalah hasil kreasi manusia yang mengambil peran untuk meneguhkan eksitensi kekuasaannya. Ini berarti kekerasan-entah peperangan, pembunuhan, kemiskinan struktural sampai manipulasi tindakan-adalah sistem yang tidak lahir dengan alamiah dengan mengacu pada bentuk-bentuk yang terpola berdasarkan tingkatan dan kedalamannya.

Menanggapi itu, dalam ulasan ini kami berusaha untuk menyoroti beberapa kasus-kasus semisal kekerasan yang terintitusionalkan melalui kepentingan politikal dan ekonomikal terhadap pengidap hemofilia dan AIDS di kawasan Amerika Utara, dampak lokal dari kepenguasaan totaliter pemerintahan Mao Zhe Dong terhadap masyarakat Cina, kekerasan struktural pada tatanan kelas menengah masyarakat Amerika dan apropriasi kekerasan kultural dalam image media. Melalui pembacaan demikian, sekiranya akan memberikan gambaran terang melalui taxonomi kekerasan yang inheren dalam wajah sehari-hari. Dengan cara demikian, setidaknya dampak kekerasan yang muncul dari beragam bentuk, dengan implikatif mampu dilihat seberapa jauh dan besar kekerasan terbentuk pada tatanan individual maupun kolektif di dalam tubuh masyarakat.

Sejauh ini, sebagai kerangka pengertian, studi kami menyangkut kekerasan tidak keluar dari pemahaman yang melibatkan bentuk-bentuk hubungan antara negara dan masyarakat sipil dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ini berarti dari kasus-kasus yang kami eksplore, masih dalam rangka mengikuti kerangka pengertian yang dimaksud. Namun bukan berarti melalui kasus-kasus yang ada, secara monolog hanya memberikan pengertian yang seragam, tetapi juga turut mengembangkan pengertian yang lebih purnaragam.

Kasus pertama. Varietas Borjuis. Kekerasan struktural dalam kelas menengah masyarakat Amerika Utara. Jane Huffberg seorang perempuan pekerja dari Amerika Utara yang hidup di bawah garis kemiskinan. Berdasarkan bedah anatomi masyarakat Amerika Utara, keadaan sosial ekonomi lebih banyak mengalami keadaan alienatif dari sistem ekonomi kapitalisme. Masyarakat yang tumbuh dari mekanisme ekonomi yang kapitalistik turut mengkofigurasi kelompok masyarakat berdasarkan kepemilikan ekonomi. Dengan konteks yang demikian akses-akses terhadap hak-hak publik hanya dapat dimanfaatkan oleh golongan masyarakat atas. Sementara minimnya akses yang dimiliki oleh kalangan marginal, justru menciptakan golongan yang berkubang pada kemiskinan yang akut.

Berdasarkan pendekatan teologi pembebasan, kekerasan sehari-sehari dalam tingkatan tertentu justru analog dan inklud dalam tatanan sosial masyarakat. Gambaran demikian diwakili dalam kasus Jane yang mengalami tekanan psikis dan fisik dari keluarganya yang hidup di dalam mata rantai kemiskinan. Dampak yang dialami Jane sebenarnya adalah konstruksi realitas sosial yang timpang dari struktur kemasyarakatan kapitalistik. Dari pengamatan yang diamati, tatanan yang timpang demikian mengharuskan Jane mengalami pengalaman waktu yang berlipat. Ia harus bekerja siang dan malam untuk mencari nafkah, terutama menutupi kekuarangan dalam keluarganya.  Dalam pengakuannya ia bertindak juga seperti bapak; “saya seperti kuda” katanya.

“I don’t show my anger. I let people get angry at me. But really, you know, I think I’m angry all the time. I’m angry at life, I think. Really, I’m. it gets to you. It’s too much, really-life is!”

Dari analisis semantik terhadap pernyataan Jane, dapat disimpulkan bahwa betapa besar tekanan psikis akibat tatanan sosial yang timpang. Secara sosiomatic, besarnya eksternalitas yang mendistorsi pemanfaatan waktu yang dialami, mengakibatkan rusaknya tatanan mental dari keadaan psikodinamik secara kesuluruhan tatanan. Dari kasus Jane Huffberg, dan juga masyarakat kelas menengah yang hidup dalam kemiskinan, hipotesa yang bisa kita berikan adalah kemiskinan dan kekerasan adalah dua mata rantai yang mengikut dan kerap menjadi symptom sosial dalam tatanan sistem yang kapitalistik.

Kasus kedua. Kekerasan dalam gambar. Bentuk kedua dari kekerasan dalam kehidupan sehari-sehari adalah kekerasan dalam gambar. Kasus ini berangkat dari publikasi Joan Kleinman yang mengeksplor gambar-gambar kekerasan dalam surat kabar yang apropriatif mempengaruhi mental order dan sosiokultural sebagai salah satu causal dalam mencipta bentuk kekerasan- moral, keindahan dan sikap. 

Kasus yang ada mengambil sampel dari koran New York Times bertanggal 18 Juli 1995. Dalam edaran bertanggal 18 juli itu, terpampang gambar yang mengandung isu global pembersihan etnis masyarakat Yahudi yang diwakili dari icon tentara, perang sipil masyarakat Bosnia; seorang perempuan separuh baya dengan anak muda yang tertangkap kamera saat masa perang berlangsung.dan seruan International Rescue Committee (IRC) yang sedang menggalang permohonan dana.

Apa yang tertangkap dari kamera jurnalis NYT, mengandung isu yang problematis. Dengan jeli gambar yang ada sebenarnya adalah suara yang bungkam oleh kekuasaan yang melampaui wewenang sehari-hari. Pada kasus perang Bosnia, di sana merupakan impac dari konstalasi politik merebut kawasan jajahan. Betapa besar pengaruh traumatik dari konflik yang berkepanjangan. Dari ilustrasi gambar yang ada, kekerasan akibat konflik berkepanjangan juga dapat ditangkap sebagai kekerasan sistematis untuk mengontrol keberlangsungan hidup suatu kawasan.

Sementara dalam icon tentara Nazi, konteks penangkapan kita tidak akan jauh dari peristiwa holocaust yang dialami masyarakat Yahudi. Dari keterangan gambar yang diterangkan pada gambar tentara Nazi, mendeskripsikan perhatian kita menyangkut peristiwa pembersihan etnis yang pernah terjadi di awal abad dua puluh.


Pada kasus ini, yang menarik dari dua gambar beserta gambar seorang perempuan separuh baya dalam satu halaman koran, berdasarkan penjelasan Klienman adalah pembentukan makna umum untuk publik berkenaan dengan interes kemanusiaan. Walaupun dari peristiwa konflik tak memiliki hubungan sama sekali, karena tak memiliki background sejarah yang sama, tetapi dari cara penyajian gambar yang sedemikian rupa, dapat memberikan kejelasan mengenai kedudukan moral yang sama dari dua peristiwa yang berbeda. Atau dengan kata lain, melalui logika tertentu pemahaman yang tumbuh dari model gambar yang demikian dapat membentuk cara pikir yang analog; horor masyarakat Bosnia adalah horor holocaust.

Selain itu juga merupakan bagian yang menarik adalah di saat koran merekam gambar kekerasan untuk memodifikasi rasa kemanusiaan pembaca lewat mekanisme hiperealitas,IRC sebagai lembaga bantuan kemanusiaan yang didirikan Albert Einstein, tampil sebagai mediator dalam hal menjadi penyalur bantuan kemanusiaan. Melalui mekanisme membangun rasa kemanusiaan yang diapropriasi, tayangan gambar dimaksudkan untuk dikonsumsi dan direkayasa untuk masuk dalam mentality system pembaca.  

Dalam kasus ini apa yang ditampilkan oleh media dapat pula dikatakan kekerasan sebab penggalangan rasa kemanusiaan melalui citra kekerasan tak selamanya mewakili kenyataan yang sebenarnya. Artinya sejauh terjadi distorsi pemberitan menyangkut kenyataan yang sebenarnya, itu juga merupakan maksud lain dari kekerasan.

Kasus ketiga. Ketakutan dan Kebencian. Kekerasan dalam negara totaliter. Dari tahun 1949 hingga sekarang, Cina diatur oleh Partai Komunis Cina (CCP). Kasus ketiga ini akan memberikan perhatian pada masa kepemimpinan Mao dengan model pemerintahannya yang totaliter.

Partai Komunis Cina adalah partai yang memiliki wewenang besar dalam menentukan orientasi kenegaraan berdasarkan garis politik yang dianut. Partai ini memiliki cara-cara kepemimpinan yang sentralistik untuk mengatur keberlangsungan 1,2 miliar masyarakatnya. Dengan cara memobilisasi massa petani, agenda pembebasan lahan pertanian menjadi agenda besar untuk mensejahterakan masyarakatnya. Namun sisi lain yang ditimbulkan dari model pemerintahan Mao adalah pemerintahan yang tidak menghendaki kebebasan pendapat untuk bersuara. Seluruhnya adalah hasil intrepetasi keinginan partai. Juga pada waktu-waktu tertentu teror menjadi iklim di dalam masyarakat untuk membungkam pendapat-pendapat berbeda dari partai. Dengan model kekuasaan totaliter, masyarakat hidup di bawah tekanan pemerintahan dengan suara yang dibungkam.

Pemerintahan Mao juga menciptakan sentimen-sentimen ideologi untuk mengklasifikasi golongan pengikut dengan pengikut yang memiliki perbedaan paham. Perbedaan golongan yang sering kali muncul justru diberlakukan berdasarkan sikap arogan dengan cara politik alienasi.
Dari tahun 1979 sampai sekarang, Klienman melakukan pembacaan dari penelitian yang dilakukannya, ia menggambarkan dari catatannya berkenaan dengan kekerasaan sehari-hari dalam pemerintahan Mao yang menimbulkan trauma mendalam akibat sistem politik totalitarian. Penelitiannya juga didasarkan pada pengakuan  temannya selama 19 tahun.

Pasca revolusi komunisme Mao, moral Cina ditata mengikuti pemahaman yang dikandung dalam komunisme. Hingga sekarang sistem moral yang diacu dari nilai-nilai yang diaplikasikan dari pemerintahan masa lalu masih tercermin dari sikap masyarakat Cina. Ketakutan dan kebencian masih mengendap di dalam struktur alam bawah sadar masyarakat Cina. Semisal saat masa kini selalu ditafsirkan berdasarkan pijakan moral masa lalu yang melihat egalitarianism sebagai moral bersama dan kekayaan adalah musuh bersama untuk dihilangkan.

Dari sikap demikian, tergambar dari pernyataan-pernyataan membenci kelas ningrat atau borjuis yang dinilai tidak adil. Kebencian ini sebenarnya adalah olah rasa pemerintah Mao terhadap hypper class dalam hal menjaga keberlangsungan pemerintahan komunismenya. Terhadap gambaran ini, dapat dimengerti bahwa ketakutan dan kebencian adalah hal yang dapat diolah mengingat itu sebagai tindak manipulatif terhadap asasi manusia.

Dari sisi yang lain, dampak traumatis maupun kebencian juga berlaku terhadap masyarakat yang tak menginginkan pemerintahan yang totaliter. Masa lalu Cina dengan gaya pemerintahan tertutup adalah momok berbahaya bagi keberlangsungan keanekaragaman kehidupan sosial. Totalitarian dengan kontrol yang berlebihan sama halnya menempatkan kesadaran manusia sebagai zero line. Motivasi kehidupan dengan bentuk negara yang seperti itu, seperti dibahasakan teman Klienman menjadi orang yang bisu dan bodoh. Perbedaan pendapat ditiadakan. Hak bersuara menjadi larangan.

Sama halnya seperti negeri totaliter manapun, kekerasan yang disalurkan dari ketakutan-ketakutan massal adalah bentuk lain dari cara kekerasan masuk dalam dasar hidup masyarakat. Seperti kasus Cina, masa-masa 50an adalah masa kekerasan yang dibalut oleh sistem pemerintahan yang massif menebar ketakutan secara ideologis.

Kasus keempatKesaksian penderita AIDS di Amerika Serikat yang mengalami kekerasan sosial yang ekstrim. Dalam chapter yang diberikan, berdasarkan kesaksian penderita hemofilia dan AIDS, kekerasan bisa mewujud di dalam sistem komunikasi yang timpang. Di jelaskan di sana, bahwasannya.selama beberapa lama, penderita hemofilia dan AIDS tidak diberikan informasi yang cukup menyangkut produk-produk kesehatan dalam hal tranfusi darah. Akibatnya dari pengalaman bertahun-tahun penderita AIDS dan Hemofilia bertambah dan sulit dibendung penyebarannya. Sementara pemerintah yang memiliki wewenang justru abai terhadap keadaan yang dialami oleh para penderita.

Dari pengakuan saksi yang diterima, juga ditemukan kecenderungan kesengajaan dari perusahan kesehatan untuk membiarkan keadaan dari penderita atas motif ekonomi. Malangnya lagi dari kesaksian penderita, ditemukan indikasi bahwa pemerintah turut bekerja sama dengan perusahan obat-obatan untuk meminimalisir dampak kerugian yang diakibatkan permasalahan yang terjadi.

Dari peristiwa yang diceritakan tidak seperti pengalaman mereka yang telah mengalami kekerasan etnis, perang dan kekejaman. Dalam rangka memperingati peristiwa tersebut mereka mengadakan aksi sosial, untuk menuntut kompensasi atas mereka yang telah menjadi korban dan untuk melindungi orang lain di masa depan.

Hal ini adalah kenyataan dan kesaksian yang harus dipahami dalam konteks AIDS di Amerika serikat, dimana para penderita hemofilia dan AIDS belum benar-benar mendapat perhatian yang layak. Apa yang dialami oleh penderita ini akibat kekerasan sosial yang ekstrim dan tersistematis yang dilakukan oleh pihak dalam tatanan ekonomi dan politik  di Amerika. Hukum dan moral menjadi tumbal atas kekuasaan politik. Penderita hemofilia dan AIDS menjadi orang-orang yang tidak dilindungi oleh pihak yang berkuasa.

Orientasi diskusi. Maka dari itu, dari hubungan-hubungan yang dianalisis dalam kasus-kasus di atas, ada beberapa poin yang menjadi bahan dasar untuk menempatkan makna kekerasan pada diskusi kita bersama. Beberapa yakni;

Pertama. Kekerasan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari ia hadir seperti dalam keadaaan yang normal-normal saja. Baik dalam bentuk aturan, hasil dari perubahan interaksi, representasi budaya, pengalaman sosial dan subjektivitas individu.

Kedua. Pembahasan fenomenologis sebagai bentuk pengalaman kehidupan sehari-hari, dimana kehadiran kekuasaan juga berorientasi pada praktek-praktek kekerasan.

Ketiga. Kekerasan menyebabkan bencana mulai dari hadirnya rasa takut, marah dan kehilangan. Hal ini disebut dengan emosi intrapolitical. Kekerasan dalam perspektif ini faktor dari proses budaya yang bekerja melalui penonjolan gambar, struktur dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat. Kekerasan menjadi rutinisasi, legitimasi, esensialisme, normalisasi dan penyederhanaan di dunia sosial.

Kelima. Kekerasan dalam bentuk gambar, dalam kehidupan kelas menengah dan bawah tak luput dari rezim kapitalisme yang menimbulkan kekacauan, praktek kekerasan dalam kelembagaan sosial, seperti yang dialami oleh komunitas hemofilia dan AIDS setiap waktu.

Keenam. Kekerasan dalam struktur politik yang dilakukan demi ekonomi setempat, kekerasan sosial dan budaya.

Ketujuh. Kekerasan juga terjadi akibat ketidakstabilan kondisi manusia dalam dunia moral setempat.

Dari catatan-catatan yang diangkat, kekerasan memiliki banyak ragam dan bentuk. Mengingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, potensialitas kekerasan bisa muncul dari mana saja. Kemiskinan, teror, stress massal, pembunuhan, penculikan hingga peperangan merupakan derivasi langsung berkat ketimpangan politik maupun ekonomi. Penyelenggaraan pemerintahan oleh negara harus mengingat bahwa kekerasan tidak muncul dari konteks diluar kekuasaan, melainkan bisa tumbuh dan berkembang di dalam kekuasaan itu sendiri. Kekerasan semacam ini bisa menjelma menjadi jalinan yang sulit teridentifikasi, sebab akses publik yang terkadang terhalangi oleh ketiadaan wewenang untuk mengidentifikasi penyalahgunaan kekuasaan. Maka dari itu beragam bentuk kekerasan dari beberapa kasus di atas bisa memberikan gambaran yang beragam untuk meminimalisir proses terjadinya dalam kehidupan sehari-hari.