You Are At The Archives for May 2013

Monday, May 27, 2013 in

Zola, Germinal

Saya  rindu Buku ini

in

Dua Cerita Dari Negeri Slavia


Seperti biasa di tiap mengunjungi toko buku, pasti akan lama. Dengan alasan; keliling di tiap sudut rak. Dan alhamdulillah, hari ini satu buku berhasil menarik perhatian saya. Dua Cerita Dari Negeri; Slavia judulnya. Buku ini disadur oleh Soebagijo I N dari cerita bersambung yang pernah dimuat di harian Kompas selama 1971. Entah siapa penulis pastinya, namun dilihat dari alur ceritanya lumayan menarik untuk dibaca. 


Saturday, May 25, 2013 in

Banalitas Politik dan Postspiritualitas Partai Agama

Pada dua puluh Mei kemarin, bangsa Indonesia baru saja memperingati hari kebangkitan nasional. Momen yang merefleksikan sikap bangsa atas sejarah hari lahirnya Boedi Utomo dan Sumpah Pemuda. Sikap kebangkitan atas keterjajahan yang dialami Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah terdahlu.

Jika ditilik dari sejarah, bangsa Indonesia telah memperingatinya selang selama seratus lima puluh tahun. Dimana bukan waktu yang singkat dalam proses pendewasaannya. Artinya bangsa Indonesia bukan lagi bangsa yang kerdil dan kecil, melainkan bangsa yang selalu tumbuh besar dan  memetik pelajaran ditiap tahunnya untuk menampil perbaikan dari waktu kewaktu. Namun jika kita melihat kenyataan bangsa Indonesia di waktu sekarang, rasa-rasanya bangsa Indonesia banyak mengalami cobaan yang menghambatnya untuk menjadi bangsa yang digdaya. Banyak hal yang membuat kita miris. Salah satunya adalah bidang perpolitikan.

Politik sejatinya adalah penyelenggraan kekuasaan Negara dalam rangka untuk menetapkan tujuan dari suatu kebijakan. Dengan tujuan untuk mengikat kepentingan bersama dalam rangka pemenuhan hak-hak dari seluruh masyarakat. Dalam hal ini selama politik dijalankan atas etika pemenuhan hak-hak rakyatnya, maka suatu bangsa telah menyelenggarakan kekuasaannya dengan baik atas dasar kepentingan bersama.

Tetapi apa yang banyak kita simak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun apa yang diberitakan oleh media-media massa justru sebaliknya. Peragaan parlemen yang sering kita saksikan adalah ilustrasi perpolitikan yang banal dan dangkal. Dalam pengertian ini, anggota-anggota dewan sebagai the second hand Politic menampilkan perayaan akan matinya nalar etis berpolitik.

Politik;Banalitas Kekerasan

Banalitas kekerasan pertama kalinya dibilangkan oleh seorang filsuf politik kontemporer Hanna Arend dalam mengkonseptualisasikan situasi pelaku kekerasan yang tak memiliki tanda-tanda pernah berbuat tindak kekerasan. Hal demikian dilihatnya bahwa seorang pelaku kekerasan merasa wajar berbuat demikian (kekerasan) karena mendapatkan legal prosedural dari sistem yang menyituasikannya. Atau dengan kata lain suatu mekanisme kekerasan dapat terjadi berkat adanya dukungan kekuasaan yang membenarkannya.

Apa yang menghebohkan kita dari penyelenggaraan politik tanah air, dengan banyaknya kasus yang menjerat para pelaksana mandat politik rakyat, mendapatkan ilustrasinya dari apa yang dinyatakan oleh Hanna Arendt di waktu yang lain sebagai thoughtlessness (ketiadaan Pikiran).  Thoughtlessness adalah keadaan dimana penyelenggaraan kekerasaan atau kejahatan yang oleh pelaku dilakukan dengan kondisi psikis dan pikiran yang tampak biasa-biasa saja. Dimana kejahatan yang terjadi, dilakukan pada saat normal seperti manusia biasa pada umumnya, tanpa menyadari bahwa apa yang sebenarnya sedang dilakukan adalah sebuah tindak kejahatan.  Bisa kita bayangkan, di saat sedang menjalankan tugas sebagai seorang wakil rakyat yang notabene adalah warga pilihan, seorang koruptor dengan leluasanya menjalankan aksi kejahatannya tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang yang akan di alami oleh Negara dan keberlangsungan hajat orang banyak. Lebih mengecewakan lagi, ketika diproses dan diberikan tindak hukum, dijalani dengan berpenampilan seperti orang yang normal dan tampak lugu

Bisa kita lihat dari banyaknya kasus-kasus korupsi yang menimpa elit-elit parpol di tanah air, yang selama menjalani proses hukum berpenampilan seperti orang yang tak  pernah melakukan kejahatan apapun. Yang mana kesan yang diperankan seperti orang yang tampak religius, bermoral, taat hukum dan lain sebagainya. Dimana salah satu contohnya adalah kasus dagang sapi yang menimpa salah satu kader partai yang berlabelkan agama di tanah air akhir-akhir ini. Kasus yang turut melibatkan perempuan-perempuan cantik, perhiasan, uang dan mobil ini merupakan penanda bahwa kekerasan politik yang dilakukan memiliki spektrum yang luas dengan dukungan kekuasaan di dalamnya. Dimana kekerasan yang berlangsung mendapatkan legitimasinya dari embel-embel agama di belakangnya. Sehingga kekerasan yang ditampilkan adalah kejadian yang tampak normal akibat polesan dari yang berbau agama.

Postspritualisme partai agama

Apa yang dimaksud dengan postspiritualisme adalah keadaan dimana nilai-nilai dari suatu agama baik etis, moral, hukum, dan spritualitas mengalami kelampauan dari agama itu sendiri. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, terbalik dan terjungkirnya sistem tatanan nilai yang dimiliki oleh ajaran yang di anut oleh para penganut suatu agama. Dimana terjadi kekaburan pemaknaan antara yang hak dan yang bathil, yang bermoral dan yang amoral, yang sakral dan yang profane maupun yang halal dan yang haram.

Dari kasus yang menimpa salah satu partai agama di Negara ini, merupakan kondisi yang menjungkirbalikkan seluruh proses edukasi politik dalam era demokrasi sekarang ini. Dalam hal ini partai yang merunut seluruh visi misi politiknya berdasarkan suatu ajaran agama, mendapati dirinya dalam situasi yang tragis. Tentu demikian, karena partai yang bernafaskan agama, notabene adalah partai yang dianggap mengemban amanah politiknya berdasarkan prinsip-prinsip yang berasal dari agama yang bersangkutan. Dimana figur-figur yang ada adalah orang-orang yang dipilih dan dianggap mampu menjalankan amanah berdasarkan prinsip-prisnsip etis agamanya.

Namun apa yang dihadapi sekarang merupakan kenyataan yang sungguh mengenaskan. Oleh sebab terbaliknya apa yang dijargonkan dengan apa yang dilaksanakan. Keadaan ini secara kebudayaan adalah cermin buruk yang mengekspresikan dari apa yang di bilangkan oleh Yasraf Amir Pilliang sebagai dromologi politik. Yang mana penggambarannya dapat kita simak yakni, terjadinya pembalikkan dengan percepatan tiada tara atas nilai-nilai etis dalam dimensi politik. Sehingga nilai-nilai yang dianut dalam penyelenggaraan politik mengalami erosi penandaan dengan terjadinya pendangkalan arti dan kehilangan makna secara cepat.

Sehingga dari apa yang kita saksikan dalam pelaksanaan demokrasi pada perpolitikan kita adalah keadaan yang kehilangan rujukan nilainya. Oleh karena perpolitikan yang dalam mekanisme dan pengaplikasiannya ditampilkan dalam hingar binggar yang sarat kehampaan. Dimana efek dari keadaan demikian adalah degradasi yang membawa masyarakat pada keadaan yang bisa jadi berujung pada sikap apolitis. Hal ini dimungkinkan dengan  sebab maraknya letusan bencana yang menimpa para elit parpol selama ini.

Wednesday, May 22, 2013 in

Anakanak dan Masa yang hilang

Dunia anakanak adalah dunia yang penuh dengan keriangan. Di masa anakanak dunia selalu ditafsirkan sebagai kenyataan yang dinamis. Sebuah kenyataan yang tidak hendak untuk diseriusi. Dimana pada kenyataan demikian, kesadaran anakanak tidak sama dengan logika manusia dewasa yang selalu menganggap dunia sebagai masa yang di amanahi tanggung jawab. Singkat kata, kenyataan di masa anakanak adalah kenyataan yang diterima tanpa ada intrepertasi normative. Dunia anakanak adalah dunia bermain.

Maka tak heran jika dimasa kanakkanak, dalam memperkenalkan kenyataan yang akan di jalani kelak, sedikit banyak bersentuhan dengan dunia permainan.  Anakanak dan permainan merupakan dunia yang memiliki hukum logika tersendiri. 

Tidak seperti dunia orang dewasa yang penuh dengan tanggung jawab, aturan, maupun ikatan imperative yang mengikat, dunia anakanak adalah permainan dengan alam kebebasan. Dalam bermain, anakanak bisa melakukan apa saja, tidak ada jejaring kekuasaan berlaku. Dimana permainan menyituasikan anakanak sebagai subjek yang merdeka, tanpa harus khawatir melakukan sesuatu. Di waktu inilah daya imajinasi mendapatkan posisinya sebagai bahasa anakanak.
Lanjutkan

in

Kaum Muda Menentang Kapitalisme Global

(Tulisan ini merupakan tulisan di sekitar tahun 2006/2007, dengan telah mengalami editan sanasini)

Hati nurani pasti terketuk
pada titik ketertindasan dari hak-hak yang ada
Maka Kaum muda adalah hati nurani
Yang selalu berteriak dengan semangat perlawanan terhadap
Penindasan apapun.

Sistem ekonomi kapitalisme memiliki mekanisme kerja  berdasarkan  tiga komponen utama yakni kaum pemodal, tenaga kerja, dan pasar melalui corak hubungan produksi. Keuntungan kapital kaum pemodal, telah melahirkan banyak implikasi terhadap kondisi masyarakat yang dijadikan sebagai lahan komoditinya. Proses kerja dari tiga komponen basis struktur kemudian mengarahkan kita pada arena pasar bebas, dimana di dalamnya terjadi pembantaian secara massal akan nasib berjuta-juta manusia.

Lahirnya kesenjangan kelas, bertambahnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, banyaknya anak-anak didik yang putus sekolah, berdiri dan bertambahnya gedung-gedung pencakar langit hingga sampai menyituasikan kondisi masyarakat yang berwatak konsumerisme adalah beberapa fenomena yang lahir akibat permainan apik dari sistem kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme dengan perangkat hegemonik melalui mekanisme penghisapan dan penindasan, telah melahirkan penjajahan bergaya baru dengan cara konsep depedensi ekonomi. Dampaknya cukup luar biasa terhadap segala sendi kehidupan umat manusia.
Lanjutkan

in

Madah dan Matinya Carlos de Baldi; Tragedik Moral (part 1)


Sebuah peristiwa adalah keadaan yang menerobos. Menghentak dan menggebrak seketika. Yang melibatkan keterlibatan seorang anak manusia pada situasi yang membebal. Sebuah usaha yang hendak meloncati kejadian yang berulangulang. Seperti situasi yang dialami Madah seketika berjumpa dengan Baldi. Segenap kehidupannya runtuh dan retak sanasini dengan ucapanucapan orang tua yang ditemuinya, yang dirasakan Madah keluar dari perkiraannya. Pada percakapan itu, dengan pertemuan yang tak didugaduga, ada yang menerobos memori kelam Madah; kematian orangorang yang disayanginya.

Namun dari peristiwa yang dialami madah,  jauh di sebelah utara, iringan truk dengan gerombolan bersenjata sedang menuju tempat Madah dan Baldi berada. Pelanpelan menyusuri jalan dengan tujuan yang lurus. Menangkap hiduphidup Baldi. Kalaupun situasi tidak seperti yang diinginkan terjadi, maka hanya ada satu jalan; tembak ditempat.

Nun pada tempat yang mirip barak dengan susun bata yang kering;

‘Begitulah anak muda//  Sejarah bisa datang sebagai hakim yang memvonis//  Mendakwa apakah kita menjadi tersangkanya ataukah kita bebas dari palu masa lalunya//…’ Tak tahu apa yang dimaksudkan baldi. Tak jelas apa yang ia maksudkan. Namun jelas bahwa apa yang ia utarakan bukan berarti ia mengetahui apa yang membebani Madah dengan masa lalunya yang membebani. Tetapi itulah sifat sebuah perungkapan yang sudah terlanjur dikatakan; bebas dimaknai. Dan Madah memaknainya sebagai pendakuan yang begitu pribadi bagi dirinya. Madah merasa perutusan yang diucapkan oleh Baldi adalah ucapan yang berlaku pada dirinya.

‘dan saya kira adalah kita yang digadanggadang menjadi tersangkanya..’ Baldi menyimpulkan. ‘..bukankah begitu anak muda..’ 

Madah tersentak dari dasar memorinya. Tak disangka ia akan ditanyai demikian. Tak jelas apakah itu sebagai pernyataan atau pertanyaan. Namun ia menampik untuk diam. Selama ini ia tak pernah membuka tabir hidup masa lalunya pada orang lain, jadi pikirnya apa salah menjawab ucapan dari orang yang sok filsuf  yang ada di depannya itu. Barangkali ceracaunya bisa membantunya.

‘entahlah pak tua.. barangkali engkau seorang yang tau banyak. Kupikir engkau mirip seorang peramal// tibatiba datang dan bercerita tentang sejarah yang tak tahu dasar sesiapa yang kau maksud// Tetapi jika kata kita yang kau maksudkan adalah saya// maka apa boleh buat..’ Baldi tersenyum mendengarnya. Sepertinya ia benar tentang dugaannya. Bahwa Madah dilihatnya sebagai anak muda yang terbebani masalah. Nampak dari caranya membaca buku dan berbicara. Maka dari itu Baldi terus meracau.

‘kau tau madah//..’ Baru kali ini Baldi memanggil Madah dengan namanya. ‘…ada cerita yang hendak kusampaikan padamu..’ Madah melirik. ‘..teruskan saja apa yang ingin kau katakan pak tua.. oh iya Baldi.’

‘saya merasa tempat ini tak berbeda dengan tempattempat yang pernah kudatangi// Ramai dan mengasingkan, kemudian ada yang datang dan begitu saja pergi// Maka jika kita tak sempat bertemu lagi maka tak salah jika kuberikan engkau sesuatu..’ Baldi memberikan Madah gulungan kertas yang lusuh. Nampak sudah berwarna kecoklatan dan sedikit layu. Tetapi yang pasti kertas itu masih kuat untuk menampung tatapan orang sekalipun. Dan Madah tampak bingung dan kaget, bukan karena model kertasnya, melainkan apa maksud dari semua ini; perjumpaan yang tibatiba, cerita yang tak disangkasangka;  cerita yang menyudutkannya dan maksud dari kertas yang diberikan kepadanya.

‘saya tak bermaksud apaapa Madah// hanya saja kurasa engkau barangkali orang yang tepat// dan aku senang kau memanggilku dengan namaku.’ Baldi tersenym.  Apalagi ini, orang yang tepat? Apanya yang tepat? Kita baru bertemu pak tua pikir Madah.

‘lantas apa yang hendak engkau ceritakan pak tua?’ Madah kemudian menyodorkan kembali kertas Baldi kepadanya. Ia merasa gulungan kertas itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

Sembari Baldi menjulurkan tangannya kembali kepada Madah dengan maksud menyorongkan kembali gulungan kertas kepada Madah, ia tertawa. Tertawa yang memiliki intonasi yang aneh dan meloncatloncat. Sekiranya naif dan polos sekaligus. Tertawa yang menelanjangi dunia beserta kepongahannya. Tertawa yang sebenarnya tak disukai madah.

‘terimalah Madah//aku juga tak akan siasia memberikannya padamu. Logika pemberian selalu mengalahkan tangan yang diberikan. Baldi tertawa lagi kemudian ia bercerita tentang nasib dua burung hutan;

//sudahkah engkau tahu Madah? Tentang nasib dua burung hutan yang  salah satunya mati ditembak pemburu? Baldi memulai ceritanya. //tahukah apa yang membuat burung yang satu mati ditembak? Itu karena kicauannya anak muda..// sedangkan yang satu hanya diam  berdiri pada dahan yang lain, sebab berkicau sama artinya dengan bunuh diri// Burung yang satu tahu bahwa kicauannya yang indah bukan untuk seorang pemburu, makanya ia memilih diam// Burung yang satu ditembak karena kicauannya dan makanya mengundang pendengaran dari pemburunya, sehingga ia diketahui dan mati. Burung yang satu memilih diam, karena kicauannya hanya untuk alam yang bebas.  Baldi menyudahi cerita burungnya dan kembali tertawa. Kali ini ketawanya begitu lepas dan ringan, tanpa beban.

‘lantas apa maksudmu menceritakan cerita itu padaku?// dan apa kaitannya dengan kertas ini? Madah merasa fabel yang disisipkan pada peristiwa ini sudah direncanakan oleh Baldi. Sebab Madah mengyakini betapa rapinya Baldi menceritakannya. Sepertinya kisah itu sudah disiapkan Baldi sebelumnya. Dan disisi lain, Madah merasa pasti ada kaitannya antara cerita yang dibilangkan Baldi barusan punya kaitan dengan gulungan kertas yang diberikan kepadanya.

Lanjutkan

Monday, May 20, 2013 in

Zaman

Zaman tak selamanya bisa dilawan. Yang mana di suatu waktu, arti sebuah perlawanan adalah persepsi yang dibangun dari situasi yang melingkupi. Zaman boleh saja meninggalkan halhal yang kita jaga dari percepatan waktu. Tetapi kekuatan sebuah perlawanan selalu bermula dari seberapa besar persepsi yang kita berikan kepada kenyataan. Dimana pada kekuatan persepsi, kenyataan menjadi berbeda dan lain. Barangkali disinilah letak perbedaan orangorang besar, bahwa hakikat kenyataan terkadang membutuhkan pikiran besar.

in

Togel, Urbanisasi dan Kemiskinan

Di suatu pagi, seperti diharihari biasa; kota yang rapat mapat, aktivitas penduduk yang lalu lalang, jalan raya yang padat kendaraan, seperti kotakota besar dengan gerak mobilitas yang tinggi, handphone saya berbunyi. Sebuah pesan singkat, kurang lebih begini yang tertulis;

Dari Udin berhasil sukses menang Togel. Bagi saudara2 kami yang sering kalah dalam permainan angka Togel,, hub Mbah Sugem. 082333854*** dijamin 100% tembus.

Jika mengandalkan ingatan, hampir ditiap hari, sms serupa masuk melalui handphone saya. Dan barangkali pesan yang serupa pun di alami oleh banyak orang. Togel atau kupon putih, atau apapun namanya, telah menjadi massif. Dengan pola random, nomor di acak, bagi pengirimnya di sana ada keuntungan. Dan ini, pada perhelatan dinamika kehidupan kolektiv, pada tingkat yang paling elementer adalah sebuah masalah sosial.
Lanjutkan

Sunday, May 19, 2013 in

Waktu Senggang dan Percepatan Globalisasi

(Tulisan ini masih berbentuk draf dan hanya berupa analisis sederhana sehingga tidak layak untuk di copy)

Dimasa kanakkanak kita pernah dibesarkan dengan cerita; kurakura dan kancil. Kurang lebih seperti ini ceritanya; suatu waktu, di tengah hutan belantara, hiduplah seekor kancil. Hidupnya riang. Ia senang berlari. Hampir setengah hutan telah ia kelilingi. Si Kancil adalah hewan yang gesit, dengan tungkai kaki yang ramping. Dengan kakinya yang cepat membuatnya menjadi hewan yang tiada tara gesitnya. Lebih dari itu, si Kancil adalah hewan yang cerdas. Di hutan, kancil tak sendirian, ada si Kurakura; hewan yang lambat, gemuk dan bercangkang keras. Dengan demikian kurakura menjadi hewan yang paling lambat bergeraknya. Jangankan mengelilingi hutan, setengah dari belantara saja tak pernah ia jelajahi.

Singkat cerita, disuatu waktu, terbilang kancil dan kurakura hendak mengunjuk kebolehannya. Mereka ingin beradu cepat. Dipilihlah suatu tempat disudut hutan. Disaksikan oleh seluruh penghuni hutan untuk dijadikan arena berlari. Dilihat dari fisik tentu si Kurakura akan kalah, tetapi tidak, pemenangnya meleset dari prakiraan seluruh penghuni hutan, termasuk sang raja, singa hutan. Si Kurakura keluar sebagai juaranya.

Zaman Maya

Zaman sekarang adalah zaman yang sedang terengahengah. Kemajuan teknik berkomunikasi membuat konsep jarak dan waktu gagal memberikan pengertian murninya. Media informasi dengan sokongan teknologi yang super canggih, menyituasikan kenyataan kian sempit. Dunia dengan segala isinya telah diredusuir berdasarkan kecepatan bitebite. Dunia sekarang barangkali mendapati ilustrasinya pada pepatah kuno; dunia memanglah tak selebar daun kelor.

Dengan sokongan isu globalisasi dan universalisasi, kita mengenal konsep desa global. Dimana batasbatas geografis telah bergeser tidak saja pada pengertian yang konotatif, melainkan telah menyempitkan makna sejatinya. Batasbatas geografis yang semula diukur berdasarkan ukuran kenyataan, telah diambil alih oleh  medio dunia maya yang mengaburkan makna batasbatas kultural sebuah kawasan. Dampak dari ilustrasi demikian, secara kenyataan dapat kita ukur berdasarkan hilangnya ukuranukuran kultural yang menjadi kulminasi dari sebuah peradaban.

Globalisasi memanglah kenyataan sejarah yang tak bias ditampik. Namun, kemajuan sarana yang begitu pesat, secara kultural memberikan hamparan kenyataan yang begitu pelik. Perjumpaan teknologi yang canggih pada masamasa masyarakat yang digerakan berdasarkan nalar kultural, masih membayangi situasi yang mengisyarakatkan betapa bangunan mentalitas masyarakat dunia ketiga menjadi terbelakang. Perhelatan yang paling sering kita temukan adalah kesenjangan antara kemajuan pengetahuan dengan derasnya alatalat komunikasi yang berbau tekhnologi tinggi. Situasi ini kita sebut saja sebagai cultural leg.

Dalam konsep waktu, kesenjangan kebudayaan bisa kita temukan pada pemaknaan masyarakat berkembang dalam mengartikulasikan dunia kenyataannya berdasarkan ukuran yang termuati pada konsep modernitas. Situasi waktu yang dijalani memungkinkan pemaknaan yang ditempatkan pada mobilisasi waktu yang secara global haruslah bermakna modern. Globalisasi barangkali adalah temuan kasus yang bisa kita angkat sebagai ilustrasi yang dimaksud. Menjadi modern, berarti intrepetasi terhadap kenyataan harus termuati makna waktu yang harus terukur betul. Dimana moda hidup harus tepat dan cepat pada schedule modernitas.  Kenyataan ini dalam persinggungannya dengan kapitalisme, dibilangkan oleh Martin J Lee  sebagai masyarakat pelahap waktu senggang.

Percepatan  Waku dan Filosofi Kura-kura

Keterburuburan adalah terma yang barangkali tepat untuk mengilustrasikan zaman sekarang. Dimana kerja adalah media yang menengahi manusia dalam persentuhannya dengan kenyataan. Kerja menjadi adab kolektiv masyarakat kontemporer dalam menerjemahkan tujuan, harapan, dan citacita dalam menjalani rutinitas yang dilalui. Dimana ketepatan dan kecepatan waktu adalah ukuran efektifitas dan efesiensi dalam menilai keunggulan suatu pekerjaan.

Percepatan yang sama pun tidak saja menjadi moda hidup, melainkan sudah menjadi kebudayaan yang tak terhindarkan. Dimana seluruh level hidup, menjadikan waktu sebagai media pembebasan yang berharga sangat sulit untuk dimaknai. Dampak secara kultural adalah hilangnya esensialitas waktu senggang. Lebih jauh lagi, dari segi pemaknaan, diwaktu sekarang, kepemilikan waktu senggang menjadi hal yang rapatmapat terkait dengan gerak laju kapitalisme.

Keberadaan waktu senggang dalam alam globalisasi selalu dimaknai dengan pemaknaan yang eksterior.  Waktu yang dimiliki diartikulasikan berdasarkan kebutuhan yang konsumtif dan berbau gempita. Hiruk pikuk kota dengan deret ritus ritual kerjanya, paling tidak menggambarkan bagaimana konsumsi waktu senggang menjadi ritual yang berbau capital. Mall, pubpub, rumah bernyanyi dan sederet tempat hiburan adalah ruang eksterior yang mendangkalkan esensialitas waktu senggang yang dimiliki. Fransiskus Simon, paling tidak memberikan penekanan betapa di kotakota besar waktu senggang habis dilahap oleh tampilan eksterioritas urban yang gempita.

Sementara itu, makna waktu senggang yang sudah termuati makna capital, dengan sendirinya menyituasikan keadaan kebudayaan yang kosong. Di dalam situasi kekosongan inilah, masyarakat gampang untuk digerakan oleh prasangkaprasangka kebudayaan luar. Setidaknya alam kehidupan kota, menjadi batu sandaran bagi kita untuk menyimpulkan.

Namun setidaknya filosofi dari  kisah kurakura dan kancil memiliki semangat perbedaan dengan arus mainstream.  Menyelami waktu senggang seperti yang di imani oleh Simon adalah perayaan emansipatoris dan membebasakan. Yang mana gejolak untuk menjadi kekinian bukan berarti berhenti menyelami esensialitas waktu yang dimiliki. Dimana waktu senggang tidak selalu rapat pada dimensi eksterioritas melainkan memasuki dimensi inferioritas yang dimiliki.[]


in

Madah dan Carlos de Baldi; Sebuah Perjumpaan

Di tahun 1956. Di sebuah tempat.

Lelaki itu setinggi tiga jengkal dari punggung keledai yang berdiri tegak, kira-kira setinggi seratus enam puluh sembilan.  Alisnya sedikit tebal dengan kilau mata yang mirip batu zenit. Hidungnya tidaklah mancung namun cukup memiliki ujung yang sedikit bercahaya jika tersentuh sinar matahari. Membuat bayang segitiga jika diterpa dari kanan kiri tubuhnya. Jika para petani hendak memanen padi pada musim petik maka rambutnya menyerupai warna padi yang sedikit gelap kecoklatan. Rambutnya sedikit ikal. Langkahnya jika berjalan akan membentang sejauh satu langkah anak yang berusia dua tahunan, itu jika dimulai dengan kaki kirinya. Beda jika ia melangkahkan kaki dengan kaki kanannya terlebih dahulu, maka akan tampak jika kaki kanannya lebih jauh ditarik dibandingkan dengan kaki kirinya. Ia adalah seorang yang pincang.  Caranya berjalan seperti kereta kuda yang melewati undakan kerikil. Kepalanya menggariskan grafik naik turun. 

Namanya pincang, tidak selamanya bernasib baik. Seperti kepincangan, nasib bisa jadi lebih berat sebelah. Mungkin saja nasib bagi sebahagian orang adalah urusan yang tak mesti dibincangkan. Biarlah itu urusan mahluk  bernaman takdir. Toh takdir adalah sesuatu yang tak terjangkau tangan manusia, bahkan pikiran sekalipun. Tetapi tidak bagi Carlos de Baldi, urusan takdir adalah urusan bagaimana hidup harus terus di ayun. Takdir baginya seperti sesuatu yang disaksikan dengan mata telanjang; ia harus dilihat, luput sedikit pun maka ia akan ghalib ditelan kebutaan. Karena inilah, de Baldi tak mesti berharap pandangan sayu orangorang yang berada disekitarnya, tentu mahluk yang bernama takdir seperti tongkat yang ia miliki, ia seperti sebilah kayu yang harus dipegang. Kemana arah kayu di arahkan, maka itu urusan tangan siapa yang mengayun.

Sore ini de Baldi, berada pada daerah yang asing. Kerumunan orang-orang yang ia temui pun demikian. Dengan wajah asing, melempar senyum petanda seperti melihat tahi dikubangan ujung desa. Tetapi baldi tak menaruh sedikitpun perhatian. Buang-buang waktu jika mengurusi perihal yang tak jelas nasibnya. Apalagi menggerutu, baldi hanya melemparkan asap rokoknya menguap kelangit-langit di atasnya. Ditangannya diselipkan pipa rokok yang telah bertahun-tahun dibawanya. Sama dengan tongkatnya. Tetapi ada yang menarik lebih dari perhatian baldi pada kerumunan orang-orang, pandangannya tiba pada sepetak bangunan yang samar-samar terbuat dari susunan batu merah. Corongnya berasap.

Di dalamnya banyak orang. Berkumpul dan bercerai berai. Bercerita dan mendiami gelasgelas yang melompong. Tempat ini semacam kafe, tetapi tidak ada bartender di dalamnya. Lebih dekat seperti tempat penampungan. Barangkali seperti barak. Setiap mata mengikuti kemana Baldi bergerak. Baldi menggenapi langkahnya dan duduk di sekitar sudut di bawah lampu yang menyala satir. Nyalanya mengejek, bahwa nasib kalian manusia tak beda dengan cahaya remangremang. Dan memang barangkali orangorang yang ada didalamnya mengamini. Bahwa nasib mereka memang tak jelas.

Di samping baldi tampak seorang muda. Keperawakannya tenang dan tak urus dengan kedatangan Baldi. Ternyata dia Madah. Duduk dengan ratapan serius pada buku yang dibacanya. Cara ia membacanya dengan sembunyisembunyi Sepertinya buku madah buku yang dilarang.. De Baldi tersenyum. Senyumnya merendahkan. Kemudian;

‘nampaknya harus sedikit serius’. De Baldi memecah kekosongan.

‘situasi sekarang buku bukan pilihan yang cocok’. Tak jelas kepada siapa baldi berbicara. Namun ia seperti menyitir anak muda di sampingnya. Madah. Madah menggerakan bola matanya. Sudut matanya lancip. Punggungnya bergerak. Masih diam. Madah kembali mengeja.

‘apa urusannmu pak tua?’. Mata madah masih tenggelam pada bukunya.

‘iya.. bukan pilihan yang tepat’. Baldi merasa bahasanya termakan umpan. Sepertinya Baldi senang. Ia bisa bercerita banyak. Dan anak muda ini nampaknya orang yang tepat.

Buku di hadapan Madah masih terbuka. Madah serius. Kepalanya masih mencerna. Berputar dan bahasa pak tua ini tak kala hebatnya. ‘urus saja urusanmu pak tua.. kita tidak saling mengenal’.

‘de Baldi.. namaku Carlos de Baldi’ Baldi menyebut namannya. Orangorang sekitar menengok. Muka mereka tibatiba berubah. Di sekitar mereka suasananya tak jauh dari kesan yang mencekam. Di situasi seperti ini namanama tertentu biasanya menjadi malapetaka bila di ketahui oleh umum.

‘Lantas apa urusanku denganmu?’.. Madah merasa waktunya terusik. Di masukkan bukunya di dalam tasnya. Di jatuhkannya dibawah meja, kemudian di injaknya. ‘kau mendapatkan perhatianku pak tua.

‘panggil aku Baldi dan kurasa aku belum setua perkataanmu’.. ‘kurasa engkau sedang dalam masalah anak muda’. Baldi mengeluarkan pipanya dan mengusapnya pada bajunya yang kusut. Pipanya berkilau. ‘dan bukumu itu, buku yang bisa menyedot sesiapa yang membawanya.. apalagi membacanya’…’dalam masalah tentunya’.

‘Tetap saja engkau tua.. urusan apa lagi yang dikerjaan orang tua jika bukan mengganggu waktu orang’. Baldi tersenyum miring mendengarnya. ‘apa urusanmu denganku’ Madah investigative.

‘nampaknya engkau sudah mulai kasihan kepada orang tua ini nak’. Baldi memanasi dengan kalimatnya yang menyitir. Baginya dalam kalimat itu ada penggal nasib yang secara jujur ia ungkapkan. Seperti bahasa alam bawah sadar yang keluar dari fragmen yang terbuka. ‘kupikir rasa kasihanmu itu ungkapan yang  barangkali berangkat dari hilangnya waktu yang engkau miliki…tahukah anak muda?.. begitulah pekerjaan seorang tua.. aktivitasnya hanya dihabiskan untuk mencuri masa yang dipenjara oleh sejarah’

Lanjutkan

Thursday, May 16, 2013 in

Wiji Thukul, Mei 98

Hanya satu kata, lawan. Begitu sajak yang pernah kumandang dengan ritmik, semacam do’a bagi kalangan aktivis-intelektual Indonesia. Sajak yang bukan hasil dari karya ilmiah dengan klasifikasi yang ketat tentang standar mutu menurut logika sains. Sebuah kredo layaknya kitab yang berisikan wahyu langit untuk meneguhkan iman yang dianggap menyimpang bagi sebahagian besar penganut keyakinan mayoritas.

Namun Hanya satu kata, lawan, adalah kalimah yang lahir dari langitlangit yang jauh, langit yang selalu mendung dari seorang Wiji Thukul. Jauh dari kemapanan masyarakat banyak, di mana dalam otoritas tunggal menjadi hal yang dianggap menyimpang dan terlampau meragukan. Pada sajak ini, Wiji Thukul hendak menampik sesuatu yang terlampau mapan, kehidupan yang secara alamiah merupakan produk dari kuasa. Bagaikan godam, Wiji memukulnya dengan sebilah kata. Hanya satu kata, lawan adalah iman bagi seorang Wijhi tukul, iman yang bukan hidup bersemayam dalam ruang dada seseorang melainkan keyakinan yang harus mencari sepetak tanah untuk disemaikan.

Tetapi selayaknya layangan, jika telah diterbangkan maka tak ada batas yang mampu untuk menghalanginya untuk disaksikan. Hanya saja, layangan yang diterbangkan oleh Wiji Thukul, tak mampu menampik batas yang terlampau kokoh dididirikan oleh kuasa, Batas yang menghalangi angin untuk melambungkan layangan yang diterbangkan Thukul.  Batas yang berujung pada kenihilan identitas, Thukul Dihilangkan. Lebih malangnya lagi, hanya sedikit orang yang mau untuk memegang kembali tali kendali layangan Thukul yang sudah lama melayang di angkasa tanpa nahkoda. 
Lanjutkan

Friday, May 3, 2013 in

Huru Hara Kampus; Refleksi Pasca 2 Mei

Kampus tengah tunggang langgang. Kampus mendapati dirinya sedang dalam keadaan terburu-buru. Kebijakan diambil tanpa pikir panjang, tanpa dialog, yang penting bagaimana bisa menang. Gedung dipertinggi otak dijepit diketiak. Didalamnya, formasi budaya pencerahan berlahan-lahan sedang jumpalitan; terguling-guling. Tenaga pengajarnya malas mengembangkan seni kemanusiaan lewat diskursus-diskursus. Mahasiswanya terlebih sedang  dalam demam tinggi; biasanya jika orang sedang terkena demam akut, maka jadinya senang meracau, ngomong sembarangan. Kawan! seisi kampus tengah dalam kondisi bahaya.

Bahaya pertama, mari kita lihat situasinya; ruang budaya kampus atau lingkungan yang paling dekat dari kita; teman-teman kita. Adakah dari mereka yang resah? Jika tidak, maka itu sebuah kesalahan. Sebab seorang mahasiswa harus memiliki ide besar, ide tentang perubahan. Ide besar ini bagi seorang mahasiswa dalam aktivitasnya, selalu dijadikan teropong untuk memandang situasi yang dihadapinya. Jika situasi tidak selaras dengan harapan yang datang dari ide besarnya, maka dari sana datang keresahan. Dari keresahan inilah mahasiswa mengambil jarak dengan situasi untuk merekayasa situasi lingkungannya.

Ide besar dalam pengertian ilmiah sering disinonimkan dengan ideology. ideology ada tiga susun elemen pembentuknya. Salah satu elemen didalamnya adalah unsur yang memberikan pedoman bagaimana cara memberlakukan manusia. Cara pemberlakuan kita terhadap sesama pasti bergantung dari pengetahuan yang kita miliki tentang apa itu manusia. Jika manusia kita pahami dalam batasan seperi benda mati, maka cara kita memberikan pemberlakuan terhadapnya sudah tentu sebagaimana benda mati diperlakukan; seenaknya saja,
Lanjutkan

Literasi populer