07 April 2013

Chavez

| |
Chavez kritis, pernapasannya meradang. Kemudian, di pembaringannya ia tanggal, diusia 58. Sebelumnya ia harus melawan kanker; sakit yang ia bawa di akhir umurnya. Beberapa kali operasi dijalani, dokter terbaik dikerahkan, Kuba, tempat di mana sekutunya domisili, Castro, menjadi tempat terakhir sebelum akhirnya dipulangkan ke negarannya; Venezuela.

Dari pembaringannya, pada bilik rumah sakit militer ia mengatur rakyatnya. Instruksiinstruksi; bagaimanapun pemerintahan harus tetap berjalanan. Negara, monumen sosial yang ia tata tak mengenal siapa derita. Negara di atas segalanya.

Namun, selasa di suatu sore, 16.25., waktu menjadi mapat. Ada yang mesti dikabarkan; selang kemudian Maduro mengungumkan: “Kami telah menerima sebuah informasi yang paling tragis dan memilukan. Hari ini, pukul 04.25 sore, Presiden Hugo Chavez Frias meninggal dunia.” Suaranya tersedak, wakil presiden itu menangis. Selang detik kemudian, Venezuela berkabung.

Chavez telah tiada. Namun kepergiannya tiada meninggalkan sesuatu selain dua hal; sosialisme dan negara.

Venezuela, seperti halnya negerinegeri yang mewarisi sosialisme; rakyat yang setia, pemerintahan yang demokratis, dan tanah yang harus dijaga betul, mau tak mau memiliki agenda yang total. Maka, ketika Chavez membangun tanahnya, sosialisme harus sampai ke rumahrumah warganya. Tiada lagi yang akan melarat, bagaimanapun sosialisme harus menjadi adab kolektif.

Syahdan, kolektifisme bukanlah prinsip yang nihil. Sebab Chavez tahu, belajar dari pengalaman masa lalunya, kolektifitas adalah sisi terang yang mengatasi kemiskinan. Gagasan yang ia rawat semenjak masa militer, bahwa baginya, militer bukan garis diametral yang menjauh di mana dia harus mengabdi; rakyat. Militer barangkali dipahami sebagai sosialisme yang mengacungkan popor senapan kepada sesiapa yang menjarah tanah air. Militer sesungguhnya mekanisme internal negara dalam ancaman apapun. Termasuk jenderaljenderal sayap kanan yang berpolah korup. Dan Chavez meyakini militer yang korup adalah musuh kemanusiaan.

Dan dari sosialisme yang ia semai semasa karir militer, gagasannya hendak menata kembali Venezuela. Kemudian; kudeta militer dikerahkan. Walau akhirnya kita tahu ia harus mengumumkan;

"Kamerad, sayang
sekali untuk saat ini misi yang kami
rancang gagal dijalankan di ibu kota.
Beberapa di antara kita yang berada
di Caracas tidak merebut kekuasaan.
Di manapun kalian berada, kalian
telah melakukan hal terbaik, tetapi
sekarang adalah masa untuk
merenung. Kesempatan baru akan
muncul dan negara ini harus
diarahkan ke masa depan yang lebih
baik."

Ia gagal. Namun menunggu bukanlah masamasa yang kosong dari rencana politik. Venezuela sedang habis dikeruk aksi pemerintahan korup. Oligarkhi menjadi petanda yang harus mangkir. Agenagen Neolibbercokol di pemerintahan.Sebab minyak begitu melimpah, namun kemiskinan menjadi epidemik yang akut. Sehingga revolusi adalah tradisi yang menyulut untuk digaungi.

Dan kini, permasalahannya barangkali menjadi berbeda. Sosialisme bukanlah hanya sematamata rumusan untuk bagaimana negara harus dikelola, pun juga tidak merupakan jargon yang harus dikhatamkan begitu rupa. Sebab sosialisme tidak tumbuh pada tanah yang kering. Sosialisme tidak mesti dijiplak. Maka tidak seperti bangsa yang telah phobia, revolusi harus berangkat dari ingatan terdalam sejarahnya sendiri. Dan sosialisme, pada tafsirnya yang lain, di mana Chavez telah gagal memiliki isyarat; marxisme sudah uzur.

Sehingga sosialisme dibersihkan dari kekolotan Leninisme. Di sana, pada apa yang menjadi aturan pakai, revolusi Venezuela kembali dengan tema besar; Revolusi Bolivarian. Dan akhirnya, dari partai, serempak sosialisme menjadi pekerjaan 24 jam. Kemudian dimulailah agenda besar itu; penyejahteraan berkala.

Namun, pasca pengumuman itu, 4000 lebih dewandewan komunal mendapati kenyataan, dan bisa jadi masalah; Chavez betulbetul mati. 

Spekulasi di balik kematian bermunculan; Chavez diracun. Agen CIA dalangnya. Itu asumsi yang terbangun dikalangan internal pemerintahan Venezuela. Walau demikian, umur Chavez tak sepanjang sosialismenya yang menggaunggaung panjang di linimasa Venezuela. Akibatnya, Revolusi Bolivarian mendapati ujian terberatnya.

Revolusi di manapun adalah batas antara yang konservatif dengan yang revolusioner. Revolusi bagai gerbong yang membutuhkan masinisnya. Apapun ceritanya meski ada seseorang di depan yang mengambil kuasa penuh. Dan semuanya harus percaya. Tetapi kepercayaan bukanlah mudah sebab kisruh terkadang datang di masa peralihan seperti pemerintahan yang kehilangan pemimpinnya.

Walaupun demikian, sedianya pemimpin telah tiada, negerinegeri sosialis punya keyakinannya sendiri; sosialisme sepanjang apapun umurnya bersisian langsung dengan sesiapa yang membangkitkannya. Maka di mana ketika yang mati terkuburkan- berbeda dari itu, pemimpin yang menghidupkan tradisi sosialisme harus abadi di tengahtengah, saat sosialisme masih diperjuangkan. Saat ketika pihak opisisi tengah mencari cela. Sehingga dari sejarah kita tahu, suatu ajaran ketika ingin kedap sejarah, ia harus memiliki person yang kongkrit, dengan tujuan sebagai materialisasi penanda ingatan. Seperti jenazah Lenin maupun Mao, di Venezuela, sosialisme mau tak mau harus menjadi tubuh yang awet. Tujuannya barangkali agar kelak ingatan tak mudah disalib lupa. Sebagai simbol. Sebab sejadinya negara yang diurusi oleh sosialisme, punya pemimpin seumur hidup.