04 Maret 2012

Pesan Sokrates

| |
Socrates mati dengan meneguk racun cemara. 

Dahulu sebelum dijatuhi hukuman mati, ia memiliki kebiasan mengelilingi keramaian kota Athena. Ia berdiskusi. Menjalani modus hidup dengan bertanya. Socrates memang gemar bertanya, selanjutnya ia berdiskusi. Terkadang jawaban tak lebih eksplosif daripada menghadirkan sebuah pertanyaan. Dan itulah filsafat. Dan tentu itu ada pada benak Socrates.

Socrates tak jauh beda dengan kita, tentu ia seorang manusia. Dan karena manusia berarti peneguhan terhadap akal budi, maka Socrates menempuh cara itu; berpikir benar dan bicara benar. Ada kemungkinan pada sisi ini, kita tak seperti Socrates. Namun Socrates punya pesan bagi sesiapa saja, entah  ia seorang digdaya hingga budak belian; Hidup yang tak di hayati adalah hidup yang tak layak dijalani. Tentu kematian Socrates tak sia-sia, walaupun ia bisa saja mengikuti kehendak hakim dengan meninggalkan yunani sebagai vonis yang harus ia terima. Tetapi Socrates punya kehendak lain. Ia memilih mati dengan mempertahankan azas kebenaran yang ia yakini. Dan dengan cawan racun cemara ia meninggalkan sahabatnya, bahkan kehidupannya sekalipun.

Sekarang bukan zaman dimana Socrates hidup. Bukan lagi medio waktu yang silam berabad-abad lalu. Tetapi kita satu dunia dengan dunia yang pernah dihidupi Socrates. Tentu banyak yang berubah, tentu banyak yang tak lagi memiliki padanannya dengan waktu terdahulu, namun pada sekarang, ada negara, ada pemerintahan, ada kebijakan, ada masyarakat yang hidup dengan kecukupan yang beragam. Hidup seperti ini banyak kebutuhan, banyak pilihan, banyak alternatif.

Socrates tak pernah meminta kita untuk memilih baju apa yang  layak kita pakai, makanan apa yang mampu mengenyangkan kita, rumah apa yang bisa kita gunakan untuk hunian setahun, buku apa yang harus kita baca serta siapa teman diskusi yang bisa kita pilih sekehendak hati kita. Tetapi Socrates tak pernah menyebut dirinya sebagai orang yang benar, seperti orang yang banyak tahu. Ia hanya menampik pilihan untuk menjadi tahu segalanya, ia hanya memilih untuk menyenangi kebijaksanaan.[]

Almanak