12 Oktober 2013

Antara Jurnalisme dan Filsafat

Konon sikap jurnalis dan filsuf cenderung berbeda terutama memperlakukan kebenaran.

Di tangan  jurnalis kebenaran menjadi pesan informatif. Bagi filsuf kebenaran diberlakukan lebih reflektif. Jurnalis sigap terhadap kenyataan, sementara seorang filsuf justru tenang di hadapan kenyataan.

Seorang jurnalis, menjadikan dunia faktual sebagai titik tolak pena dan kertasnya. Sementara bagi seorang filsuf, dunia faktual tidak lebih penting dibanding dunia abstrak-teoritik sebagai dunia kerjanya.

Dengan kata lain, kesigapan wartawan menjadikan kenyataan luar (fakta) sebagai sumber berita. Sedangkan dunia dalam (makna) merupakan medan “kabar” bagi pikiran reflektif seorang filsuf.

Tetapi apa sesungguhnya hubungan di antara keduanya? Apa sebenarnya sumbangsih keduanya terhadap kehidupan manusia di saat seperti ini?

Sikap filsuf dan seorang jurnalis boleh jadi berbeda menghadapi kebenaran. Namun ada kenyataan yang tidak bisa disanksikan: keduanya didorong hasrat yang sama untuk mengungkap kebenaran.

Dengan kata lain, keduanya sama-sama bekerja dalam perkara yang sama. Seorang filsuf sudah tentu mendedah dan mendaur kebenaran, maka seorang jurnalis, seperti kata Bill Kovach, seorang veteran jurnalis Amerika Serikat, bertugas melayani kepentingan publik dengan melaporkan kebenaran.

Imbas tuntutan yang berbeda, sangat sedikit nama-nama, taruhlah seorang filsuf atau sebaliknya, seorang jurnalis, yang bergerak di antara irisan dunia filsafat dan jurnalisme.

Filsafat kadang menilai realitas sebagai medan kompleks di balik kenyataan yang sederhana. Atau sebaliknya, di balik kenyataan sederhana tersembunyi fenomena kompleks.

Sedangkan di mata seorang  jurnalis, entah berupa kenyataan sederhana atau kompleks, jika itu adalah kebenaran, keduanya mau tidak mau mesti dikabarkan.

Barangkali hanya Jean Paul Sartre atau Albert Camus, yang berani mengabdi di dalam dunia yang berbeda itu.

Keduanya di masa pasca Perang Dunia ke-2, kerap menulis di media massa Perancis. Sartre maupun Camus memperagakan praktik jurnalisme sebagai medium manyatakan gagasan filosofisnya. Atau, Hannah Arendt melaporkan hasil reportasenya menyangkut kekejaman Nazi melalui wawancaranya terhadap Adolf Eichmann, sekitar 1960-an. Selebihnya tak banyak nama filsuf yang mau melibatkan diri pada kegiatan jurnalisme, atau sebaliknya.

Tetapi apakah keduanya tak bisa didamaikan di mana keduanya justru bisa saling memberikan arti satu sama lain? Mengingat praktik jurnalisme sudah dicontohkan Plato dari 2500 tahun yang lalu?
Karangan Platon, Dialog¸ sadar tidak sadar adalah hasil reportase. Ia merekam detik-detik terakhir Socrates menjelang kematian. Dari reportase Platon itu, yang mewakili suara Socrates, dunia bisa paham tentang risiko kebenaran: kematian.

Selain kematian, apa sesungguhnya risiko jurnalisme dan filsafat yang lain? Apa maksud kejujuran bagi keduanya. Apa pesan bisa kita peroleh dari kematian seorang Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, misalnya, setelah nyawanya direnggut orang-orang tidak dikenal? Apakah kita harus bersedih hati dari kematian seorang jurnalis ataukah seorang filsuf? Ketika kebenaran pada akhirnya tak pernah sampai kepada khalayak?




JURNALISME dunia yang memperjuangkan kebenaran adalah dunia yang mengedepankan akurasi atas fakta-fakta temuan. Sebuah informasi harus bernilai objektif seperti terjadi di lapangan. Demikan karena jurnalisme mengharamkan interest pribadi. Opini adalah barang haram yang merusak nilai sebuah informasi. Maka dari itu seorang jurnalis harus mengerti tentang batas antara kepentingan pribadi dengan objektifitas suatu temuan lapangan.

Sementara filsafat tidak berhenti sampai batas dunia faktual kegiatan jurnalistik. Sang filsuf tidak ingin begitu saja menerima kenyataan apa adanya seperti di mata seorang jurnalis. Pekerjaan filsuf justru masuk di balik penampakan fenomena.

Artinya, seorang filsuf akan menimbang fenomena dari sudut pandang tertentu. Ia bekerja berdasarkan kategori-kategori logis yang bisa saja berbeda dari fenomena di hadapannya. Dari pengertian inilah barangkali Marx berangkat: tugas seorang filsuf bukan sekedar menangkap kenyataan, melainkan turut mengubahnya.




AWALNYA melalui tulisan ini saya ingin menulis sesuatu berkaitan dengan media massa. Tentang posisi media massa di keberbagaian kepentingan politik dan pasar. Namun, apalah dikata, terkadang sulit mengapresiasi ide-ide ke dalam lembaran bahasa yang layak. Apalagi, belakangan muncul kekhawatiran terhadap kekuatan kata. Kata-kata di era deru deras revolusi komunikasi, malah acapkali sulit dipertanggungjawabkan.

Maka saya akhiri saja tulisan ini walaupun nawaitu tulisan ini belum dapat terealisasi.

01 Oktober 2013

Di Ambang Kenyataan; Beban atau Peluang?

Martin Heidegger, dengan pemikiran ontologinya yang rumit, pernah memaktubkan gejala mendasar dan problematis, pada metafisika Barat- dengan seluruh totalitasnya sudah lupa- terhadap Ada. Di suatu waktu ia berkata, kita lupa terhadap sesuatu yang sederhana namum begitu fundamental; Ada. Yang terlupakan adalah entitas yang mendasari adaan yang lain. Sesuatu yang mengendap pada dasar kenyataan yang nampak, metafisika Barat dengan seluruh tradisinya terjangkiti penyakit yang segera harus dibersihkan dari kategorikategori yang dianggap gagal membaca kenyataan. Demikian sehingga telah membawa manusia melupakan dasar keberadaannya.

Semenjak Parmenides sampai Sokrates, Platon hingga Kant; metafisika sebagai filsafat awal, tengah mengalami kecemasan. Filsafat guyah dari sendisendinya. Yang dahulu deskripsi tentang Ada menjadi anasir utama akhirnya harus terpinggirkan. Kemungkinan manusia untuk mendapati dan menggapai Ada; kenyataan sublim, akhirnya mengalami jalan yang buntu. Manusia akhirnya tergugat, bahwa manusia bukanlah mahluk yang mampu mengatasi kenyataan.

Namun apa yang sebenarnya diyakini sebagai kenyataan yang sublim; ihwal segala yang mendasar, sesuatu yang bagianbagian turut di dalamnya, yang sebenarnya dipahami sebagai ia yang sesungguhnya tak telibat dalam sesuatu. Soal yang tak berubahubah diantara nampakannampakan yang silih berganti. Atau sesuatu yang lain di mana semua bergantung padanya, dan tiada perubahan mensifatinya, sesuatu yang dibilangkan sebagai pusat,  subtansi. Lantas apakah kenyataan yang guyah ini, tak pejal adalah kenyataan yang satusatunya,  sehingga daripadanya bersandar seluruh totalitas keberadaan lainnya dan akhirnya menampik perihal yang tetap, universal, sehingga kita harus beralih pada situasi yang tak menentu.

Dimulai dari Kant, di tanganya semuanya berbalik. Kenyataan; realitas hakiki, sebagai yang tak berubah harus ditinggalkan sebagai bentuk keterbatasan manusia. Oleh sebab, ihwal yang subtantif hanyalah kesan yang berada diseberang kesadaran, sesuatu yang tak menampil kejelasan. Selubung adaan yang tak mengenal identitas, yang di balik kenyataan, semesta yang tak dikenali oleh apa yang ia terakan sebagai noumena. Sehingga mulailah batas dipancangkan oleh kesan yang diwartakan; manusia dengan  cogitonya tak mampu menyeberangi lebih jauh, fasih untuk memberikan prediksi pada sesuatu yang tak dikenali. Manusia, dengan akalnya punya batasan.

Sebelumnya, Immanuel Kant, seorang filsuf rasionalis yang saleh, yang taat dalam soal waktu itu, ternyata dibangunkan dari tidurnya yang berkepanjangan. Oleh Hume, filsuf empirisme Inggris menghentak kesadaran rasionalis Kant. Dia dibangunkan pada kenyaataan yang berbeda, tentang asumsi yang lain daripada sebelumnya, bahwa tiada keberadaan yang universal, sesuatu inti yang tetap dan absolut, suatu subtansi, oleh sebab kenyataan adalah suatu yang mengalir tak tetap. Bahwa apa yang disebut dasar kenyaatan, yang prime adalah pengetahuan yang tak bisa dilacak muasal keberadaannya. Dan seperti apa yang pernah diwartakan berabadabad yang lalu, oleh Heraklitos, di mana kita tak bisa melangkahkan kaki untuk kedua kalinya pada aliran sungai yang sama.

I freely admit that remembrance of David Hume was the very thing that many years first interrupted my dogmatic slumber and gave a completely different direction to my researches in the field of speculative philosophy ((prolegomena, 1997;10), Donny Gahral Adian)   
     
David Hume, dengan prinsipnya nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu, memanglah seperti sebilah godam. Ia menghantam tepat dijantung seluruh asumsi filosofis yang menetapkan keyakinan terhadap subtansi, yang universal, bahkan yang ilahi dengan mengembalikannya pada kesan yang primer yakni sensibility. Sensibility adalah fakultas yang utama dalam mencandra kenyataan, berupa bendabenda, hubunganhubungan, kualitas, kuantitas, modalitas dsb, sebab sensibilitylah kesan yang paling kuat menangkap objekobjek. Dengan keyakinannya demikian, daripadanya ia menolak bayangbayang yang bernaung di dalam benak imaji manusia. Dengan tegas prinsip tiada kesan sesuatu pun dalam pikiran yang tiada berawal dahulu pada penampakan inderawi akhirnya ditotalitaskan.

Darimana akhirnya permulaan itu? Tentang padanan kenyataan adalah apa yang terinderai. Mengenai perihal yang menolak ideide platonian itu? Atau kategori yang dianggap nyata adalah apa yang dipersentuhi oleh kesan indrawi kita? Sesungguhnya asumsiasumsi demikian adalah bentuk yang tak jauh dari apa yang dibilangkan oleh Aristoteles. Di umur 18 ia menjadi murid Plato, belajar giat di Academia dan setelahnya menjadi orang yang menolak apa yang pernah diterimanya. Aristoteles merombak gagasan Platon tentang subtansi yang bersemayam di alam Archetype, alam bentukbentuk; alam yang di luar alam indrawi. Sebab Platon memiliki iman terhadap dua dunia, yakni dunia yang diendapi ketakmenentuan, cenderung berubahubah, dan akhirnya semata semu, dan yang ideal, immortalitas bentukbentuk, dunia idea, tempat jiwa pada waktu ia total mengetahui. Darinya Platon, menolak yang semu dan menerima subtansi yang sesungguhnya adalah apa yang ada di luar sana, dunia idea.

Tetapi bukankah, yang subtansi adalah apa yang nyata di hadapan mata. Dan bukankah ia adalah perihal yang tak jauh dari tangkapan retina kita. Subtansi adalah apa yang menyatu pada tampilan kongkrit bendabenda, bukan pula seperti apa yang ada di dunia idea. Melainkan merupakan adalah apa yang menampakkan benda itu dapat dimungkinkan, yakni subtansi sebagai bagian dari morph dan hyle  yang berpeluang untuk diaktuskan, yakni berupa potensi. Daripanyalah subtansi akhirnya bukanlah esensi yang berada di langitlangit Platonian, melainkan padu rapat pada bendabenda.  

Akhirnya dengan cara pandang demikian, kita menerima kenyataan berdasarkan kategorikategori yang menyelubungi kenyataan. Dengan merangkak naik ke atas dan mengukurnya dengan prediksiprdiksi yang terukur. Oleh aturanaturan subtansi, universal, tak berubahubah dan pejal. Dengan penalaran yang rigoris; sebuah cara pikir yang sistematis dan tertata. Tetapi apa hak kita dari kenyataan yang kita berikat predikasi, mengenai ukuranukuran yang sebenarnya tak mampu ditinjau secara total? Dan itulah yang disebut dengan kenyataan Ada? Bukankah itu adalah konstruksi metafisika yang tergenang di dalam anti metafisika? Dan di sinilah Heidegger membawa pikirannya menjauh dari selubung yang belum keluar dari dikotomi terhadap kenyataan.

Bahwa kenyataan adalah dunia alam beserta dengan seluruh isinya, seluruh peristiwa yang di alami. Sesuatu yang tunggal dan tak terbelahbelah, yang dialami, kemudian digeluti dan dihayati. Yang oleh ia disebut dengan lebenswelt, kehidupan yang dikesani tanpa tedeng alingaling pretensi susun yang mengkontruksi kenyataan. Sebuah kenyataan yang present dan bukan representasi pikiran. Dari padanya kemudian kenyataan adalah bukan yang berdiri di atas konstruksi bangunan pemikiran yang penuh dengan indikatorindikator, melainkan hidup yang teralami, ada di dalam dunia.

Maka lupa itu dipecahkan dengan Dasein ( da: di sana, sein: ada) keberadaan satusatunya yang mampu mempertanyakan kembali Ada. Dengan cara  menjadikannya sebagai bentuk penyingkapan terhadap Ada. Sebab hanya manusialah yang memiliki kesadaran untuk menggugat fenomena dengan cara menyikapinya; sebuah sikap yang dan dalam dunia, dengan cara bertanya di hadapan Ada. Namun kesadaran seperti apakah, yang tidak tercemari dikotomi yang memilahmilah? Bukankah sebelumnya kesadaran adalah hal yang menegasikan kenyataan di bawah superioritas ego yang berpikir? Dengan membelahnya menjadi kenyataan yang dipikirkan dengan Aku yang berpikir? Sebab kenyataan di mata Dasein adalah aku yang di tengah dan dalam dunia. Yang mafhum bahwa tiada objek selama tak berintensi dengan kesadaran dan sebaliknya tiada kesadaran yang terpaut dengan objek, atau dengan kata lain kesadaran adalah keterjalinan yang intensif.

Dalam totalitas kesadaran yang terpaut dengan bendabendalah manusia akhirnya menemu kenali kembali kenyataan yang sebelumnya tunduk di bawah hukum kategorikategori. Hingga akhirnya keberadaan dapat terjangkau dengan  cara menyertakan kesadaran yang mendistingsi adaanadaan yang terberi. Karena Dasein sebagai faktisitasi dari Ada adalah ego yang mampu memberikan dasar bagi keberadaannya. Sebab bukan apa sesungguhnya Ada itu (what is being) yang mendasari, melainkan apa makna ber-Ada sesungguhnya (What it means to be).To be continue…

18 September 2013

Budaya dan Bahasa Kita

Beberapa waktu yang lalu kita di hebohkan oleh hiruk pikuk pemberitaan media massa dari tayangan yang tak biasa. Tayangan yang dapat di unduh di youtube ini memutar rekaman video Vicky terkait dengan pertunangannya dengan artis papan atas Zaskia Gotik, penyanyi dangdut yang dikenal dengan goyang itiknya. Dalam video yang berdurasi hampir satu menit itu memuat bahasa Vicky yang  terdengar janggal dan aneh.

Video yang banyak menyedot perhatian masyarakat itu, nampak Vicky mencampuradukkan kosa kata inggris dan Indonesia tanpa memperhatikan struktur atau kaidah bahasa formal yang sering di gunakan. Dalam video itu kata-kata semisal kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisisasi, statusisasi kemakmuran, dan labil ekonomi digunakan Vicky tanpa di dahului mengenal konteks pembicaraannya. Bahasa-bahasa demikian dicampur adukkan begitu saja sehingga terkesan intelektual dan cerdas.

Goenawan Mohammad, seorang budayawan, menyebutkan dalam akun twitternya bahwa gejala bahasa yang tampak dari video Vicky dan Zaskia gotik adalah gumpalan gunung es yang mengendap dari faktor kemalasan bahasa dalam menelaah dan menerjemahkan kata asing. Sehingga dari apa yang di katakan oleh GM membukakan sebuah fenomena kebudayaan yang hari ini sering menjadi mode kehidupan masyarakat kita; budaya latah. Namun dalam apa yang di maktubkan oleh Deleuze dan Guattari, filsuf kontemporer Prancis, dalam fenomena seperti yang ditampilkan dalam video Vicky disebut dengan gejala skizofrenia. Gejala kebudayaan yang kehilangan penandaan dan simpang siurnya makna untuk terpahami dikarenakan abnormalitas dan pelanggaran terhadap apa yang menjadi aturannya terutama pemutarbalikan bahasa.

Cermin Kebudayaan

Ada yang menarik dalam tulisan Marwan Mas Guru Besar Ilmu Hukum 45 beberapa waktu yang lalu yang termuat di harian Tribun Timur Makassar(12 september 2013),. Tulisan yang menyoroti bahasa-bahasa sandi dalam kasus korupsi “dagang sapi” yang sampai hari ini masih dalam tahap penyelidikan. Dan juga beberapa kasus serupa yang kerap kali mendatangkan kesalahan analisis di akibatkan oleh penggunaan bahasa yang simpang siur. Sementara bahasa kita ketahui adalah salah satu matra kebudayaan yang begitu fundamental untuk membentuk struktur pengetahuan. Di mana dalam jaman keterbukaan seperti sekarang penggunaan bahasa demikian menjadi cermin sejauh mana kebudayaan kita bergerak.

Penggunaan bahasa Skizofrenik seperti apa yang di soroti oleh Marwan Mas dimana menggejala pada bidang hukum, juga di alami pada bidang politik. Banyak contoh yang bisa kita angkat dalam fenomena perpolitikan yang mana diketahui bersama sering kali menggunakan teknik pemutarbalikkan bahasa untuk mengangkat citra dari orang-orang yang bergelut dalam dinamika politik. Tetapi sesungguhnya dua elemen kehidupan seperti bidang hukum dan politik sebenaranya adalah tolok ukur kebudayaan kita dalam mengapresiasi bahasa sebagai bahan baku komunikasi yang mengedepankan etika komunikasi.  Pertanyaannya sekarang apakah bahasa yang selama ini kita pakai adalah fenomena kebudayaan yang mencerminkan sejauh mana kita memaknai tingkat penghayatan etika komunikasi ataukah jauh dari itu kita justru terjebak pada gejala kebudayaan skizofrenik yang mengalami pendangkalan makna bahasa.

Gejala seperti ini juga dapat kita temukan pada level grassroot  terutama pada kehidupan anak-anak muda sekarang. Bahasa slang semisal cemungud, kepo, cius dsb, adalah gejala kebudayaan kita yang tengah mengalami proses pendangkalan. Fenomena seperti ini bisa jadi menjadi indikator bahasa Indonesia mengalami kemandegkan dalam merespon kemajuan zaman yang serba cepat dan kompleks. Sehingga bisa saja bahasa seperti demikian mengacaukan konstalasi pengetahuan  yang menjadi isi dalam komunikasi.

Hilangnya Ontentisitas

Apa yang sebenarnya terjadi dalam alam bahasa kita, sebenarnya adalah gejala yang dipengaruhi oleh alam kebudayaan kontemporer seperti sekarang ini. Penggunaan bahasa yang tumpang tindih secara pemaknaan (skizofrenik) merupakan dampak dari budaya populer yang marak kita saksikan.

Budaya populer sederhananya bisa kita maknai dalam pengertian gejala kebudayaan yang menjadikan pasar sebagai ukurannya. Atau kepopuleran sebagai asasnya. Fenomena Miss World yang ditolak oleh sebahagian kalangan bisa jadi karena efek populer yang diberikan oleh penyelenggaraan perempuan sejagad ini. Dengan hadirnya pegelaran seperti Miss Word, maka makna otentik dari sebuah nilai kebudayaan bisa saja akan hilang.

Misalnya makna cantik dimata seorang bisa saja di visualisasikan berdasarkan kecantikan yang disuguhkan oleh apa yang dimunculkan dari pegelaran Miss World. Sementara kecantikan versi budaya lokal tak selama harus dimaknai sebagai orang-orang yang pandai berpose di layar kaca.

Bahasa dan kebudayaan memanglah dua matra yang mencerminkan sejauh mana tingkat otentisitas masyarakat dalam mempertahankan identitas local widom-nya. Yang mana kita ketahui salah satu indikator kebudayaan adalah intelektualitas masyarakatnya dalam penggunaan bahasa sebagai media komunikasinya. Sebab bagaimanapun bahasa adalah cermin dari keseluruhan pengalaman si pemakainya. Sehingga fenomena kebahasaan yang di bahasakan sebelumnya bisa berdampak pada hilangnya budaya lokal yang menjadi identitas sebuah masyarakat. Maka benarlah statement yang sering kita dengarkan bahwa bahasa sebenarnya adalah tolok ukur dunia kebudayaan sebuah masyarakat. Bahwa bahasa sesungguhnya adalah cermin dunia .[]

17 September 2013

Hingar Bingar Politik

Apa yang marak terjadi jika kita berada di tengah-tengah sebuah parade sirkus? Ilustrasi yang dimungkinkan untuk kita bayangkan pada situasi seperti itu adalah pemandangan tentang hewan-hewan yang mangut pada pawang, aktraksi-aktraksi ekstrim, loncatan-loncatan akrobatik, serta polah badut-badut gemuk yang mengundang tawa. Lebih dari padanya kita dibawa pada suasana yang melampaui: decak kagum penonton, kembang api yang semarak serta gemerlap hingar bingar.

Sirkus adalah tontonan yang memang menghibur. Namun apa jadinya jika suasana perpolitikan selayaknya penyelenggaraan sirkus, tetapi bukannya menghibur, melainkan justru  tontonan yang sungguh membosankan. 

Politik sejatinya adalah penyelenggraan kekuasaan publik dalam rangka untuk menetapkan tujuan dari suatu kebijakan. Dengan tujuan untuk mengikat kepentingan bersama untuk memenuhi hak-hak dari seluruh masyarakat. Dalam hal ini, selama politik dijalankan atas etika pemenuhan hak-hak publik, maka suatu pemerintahan telah menyelenggarakan kekuasaannya dengan baik.

Namun kenyataan empirik berkata lain. Apalagi jika kita berada pada momen-momen pilwalkot seperti sekarang ini. Dalam rentang waktu inilah politik menjadi penyelenggaraan yang semarak. Setidaknya itu yang dialami oleh warga Makassar beberapa waktu belakangangan dan yang akan datang. Simbol-simbol politik seakan tampil dengan rakus untuk mengatasi ruang publik yang notabene adalah media yang netral. Simbol-simbol politik telah mengambil alih ruang publik yang bebas, anti hierarkis, anti sistem untuk dijadikan ruang privat yang berbau kepentingan. Seperti sebuah parade sirkus, ada situasi yang dipertontonkan dan diperlihatkan pada konstituen masing-masing.

Sirkus Politik

Secara etimologi sirkus dialihbahasakan dari kata circus yang berarti melingkar. Dalam sejarahnya memang atraksi sirkus selalu diselenggarakan pada ruang yang melingkar. Di masa romawi kuno, sirkus dikenal dengan sebutan circus maximum. Kata maximum di sini berarti ukuran yang hebat dalam pengertian orang-orang yang melakukan atraksi sirkus memiliki keahlian di atas orang kebanyakan. Tujuan dari sirkus setidaknya bisa dimaknai sebagai hiburan semata. Maka dari itu sirkus selalu dinanti-nanti.

Seperti apa yang dibahasakan sebelumnya, di mana penyelenggaraan politik biasanya menggunakan simbol-simbol berupa pamflet undangan untuk mengahadiri sebuah sirkus. Symbol-simbol yang dimaksudkan disini bisa tampil berupa tanda, jargon, tag line, gambar, maupun tulisan, yang mana dalam konsep politik dijadikan sebagai branding untuk menarik simpatisan.

Sebagaimana kita mafhum dalam penyelanggaran politik diperlukan gerak yang dinamis. Untuk itu muncullah jejaring kepentingan yang marak berupa istilah lingkaran inti, ring inti, tim pemenangan, komunitas, simpatisan dan lain sebagainya. Dengan beragam akronim yang gampang dihapal terbentuklah jejaring kepentingan yang melingkar di mana tak jarang saling sikut. Situasi ini tak jarang pula membantai garis-garis kekeluargaan, toleransi, kesukuan maupun agama.

Sementara kita tahu ongkos politik tidaklah sedikit. Semisal penyelenggaran pemilihan pemimpin daerah yang melibatkan sepuluh kandidat. Bisa kita bayangkan betapa besarnya cost yang dikeluarkan dalam rangka pemenangan calon pemimpin. Jika kita perluas pembahasan kita, berapa ongkos yang harus dikeluarkan demi penegakan perpolitkan yang demokratis. Mulai dari perkenalan calon, pengusulan saat kampanye, sampai bagaimana seorang tokoh bisa mendapatkan elektabilitas yang diinginkan.

Apalagi dalam suasana kampanye seperti sekarang ini, atraksi sirkus politik yang paling berbahaya dalam kancah pemilihan adalah money politic. Walaupun belum ada aturan yang jelas untuk mengatur dana-dana kampanye, tetapi trias politik antara pengusaha, elit partai dan birokrasi, bisa memungkinkan kejadian-kejadian yang dikhawatirkan dapat terjadi. Maka dari itu tentang politik yang menjunjung integritas, jujur, dan bersih, seharusnya bukan sekedar ungkapan kosong semata melainkan amanah demokrasi yang harus dijunjung tinggi.

Seperti sulap

Saat seperti ini, di mana kita memasuki masa-masa kampanye pemimpin daerah, banyak program-program yang diperkenalkan dari kandidat untuk menarik konstituen sebanyak-banyaknya. Bila kita merunut semua program yang ada, maka segmentasi yang paling banyak difokuskan oleh para kandidat adalah bagaimana kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan pengelolahan birokrasi yang bersih. Namun term-term yang terpakai semisal pendidikan dan kesehatan gratis, penyediaan dana bergulir, pelayanan publik yang efesien, maupun bantuan-bantuan lainnya, adalah term-term politik yang sudah usang dan ketinggalan. Namun hanya dalam kemasan yang berbeda sehingga nampak merupakan program yang orisinil.


Disintegrasi Umat Beragama di Hadapan Pancasila*

Agama melalui kaca mata Sosiolog Prancis, Emile Durkheim, adalah fakta empiris. Walaupun tidak juga sepenuhnya benar. Namun apa yang dibilangkan Durkheim bisa kita pahami dalam kaca mata seorang pengamat yang memposisikan diri di hadapan dunia empiris. Ini berarti, agama sebagai kenyataan yang diinderai merupakan fakta yang bisa kita amati. Apa yang teramati bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan norma-norma, pranata-pranata, maupun simbol-simbol yang melatarbelakangi sikap hidup maupun perilaku orang-orang beragama.

Secara inheren, agama adalah fitrah. Agama adalah kecenderungan yang dilahirkan dari nilai-nilai fitri. Atau secara filosofis, agama terkandung di dalam setiap hati manusia yang bersih. Dari sana sumber asal perilaku hidup manusia. Bahkan, dari hati yang bersih sumber keutamaan sifat manusia. Perilaku utama inilah yang dalam bahasa agama disebut Ahlak. Dalam kaca mata Durkheim, akhlak dalam situasi seorang sosiolog ditangkap sebagai fakta sosial; sikap hidup orang-orang beragama.

Namun sudahkah sikap kolektif orang-orang beragama saat ini mencerminkan akhlak yang sepadan dalam pengertian keagamaan? Yakni sikap yang mencerminkan saling menghormati perbedaan antara sesama. Sehingga kaitannya terhadap toleransi antara keyakinan umat beragama, di mana kenyataan sosial begitu jamak dan memerlukan pemahaman etis dalam menyikapi perbedaan, bisa saling berdampingan dalam kehidupan bernegara.

Perbincangan ini sangat memerlukan kehati-hatian daripada sikap emoh untuk membuka ruang dialog oleh karena menyangkut keberlangsungan hak-hak berkeyakinan. Maka dari pada itu, apa yang menjadi trending topic beberapa waktu yang lalu mengenai empat pilar kebangsaan adalah keniscayaan untuk memberikan ruang tenggang rasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi di seberang yang lain, munculnya gerakan keagamaan yang mengatasnamakan keyakinan golongan menjadi anomali dalam integrasi masyarakat di hadapan nilai universal Pancasila.

Kenyataan Empirik; Maraknya Fundamentalisme Keagamaan

Dalam terminolgi kehidupan berbangsa dan bernegara, fundamentalisme keagamaan dimaknai dalam konotasinya yang hard. Dikatakan demikian dikarenakan sepanjang kehidupan bernegara, dalam caruk kemaruknya situasi masyarakat, maraknya kehadiran gerakan keagamaan yang menghendaki pembaharuan sebahagian besarnya tampil dengan sikap-sikap intoleran dan keras. Sikap demikian tidak saja terjadi pada level sosiologis masyarakat, melainkan jauh lebih berbahaya pada tingkatan pemikiran. Atau secara episteme sikap kemasyarakatan yang intoleran demikian justru berawal dari cara berpikir yang intoleran. 

Ilustrasi cara berpikir intoleran selalu marak dengan sikap tertutup terhadap ruang dialogis maupun sikap kukuh terhadap kebenaran yang beragam. Dalam pengertian ini, cara berpikir demikian adalah cara pandang yang selalu menegasi, atau membenarkan pendapat subjektif tanpa mediasi dialog yang terbuka.

Secara budaya, sikap tertutup dan enggan untuk salah ini pada dasarnya paradoks dengan situasi alam pemikiran di jaman keterbukaan pendapat. Jauh daripada itu, golongan ini bisa berwujud pada pendakuan atas nama suku, ras dan terlebih-lebih agama. Secara psikologis, menurut Komaruddin Hidayat, orang-orang atau kelompok yang enggan untuk mendialogkan keyakinannya adalah orang-orang yang mengalami gangguan psikologis. Dalam bahasa ilmu psikologi modern saat ini, gejala demikian disebut infantile; atau sikap hidup kekanak-kanakan.

Dalam konteks sejarah negara sampai dewasa ini, kita tak perlu segan untuk menyebutkan deret panjang fenomena empirik yang mencerminkan sikap intoleran seperti disebutkan sebelumnya. Yang mana marak diberitakan jejaring media massa sehari-harinya di hadapan kita. Sehingga sudah lumrah di mata kita kelompok yang dalam terminologi pemikiran keagamaan disebut dengan golongan takfiri, adalah pathologi yang harus disembuhkan. Sehingga apa yang menjadi isu-isu disintegrasi di bangsa ini dapat diminimalisir sedemikian rupa. Dan juga Pancasila sebagai pengayom dapat kukuh di tengah-tengah kehidupan kita

Panca Sila sebagai Pengayom Umat Beragama

Saya membayangkan saat ini seperti apa  jika kelompok-kelompok intoleran seperti kelompok takfiri diperhadapkan di hadapan Pancasila sebagai world view bernegara? Hampir merupakaan jawaban apriori bahwasannya keyakinan yang dianut oleh mereka adalah agama harus mengatasi negara. Atau dalam bahasa sederhananya, agamalah satu-satunya keyakinan yang harus dipegang sebagai pedoman hidup, di mana negara harus dibentuk berdasarkan defenisi dari apa yang mereka anut. Barangkali orang-orang demikian lupa, bahwa kita hidup pada sebuah negara dan  situasi masyarakat  yang berwajah jamak; plural. Apalagi Indonesia adalah negara yang di dalamnya banyak heterogenitas nilai, budaya, suku, adat, ras dan agama. Dan juga kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa agama adalah sisi dengan dimensi yang tunggal. Dalam agama apapun sebenar benarnya keyakinan adalah keyakinan yang lahir dari asas kesalingpengertian dan dialog. Di mana keyakinan adalah hikmat keberagaman yang disadur dari saringan banyak pemikiran.

Saya masih ingat betul salah satu bunyi sila dalam Pancasila; Persatuan Indonesia, yang dari padanya terkandung pesan kunci tentang toleransi dalam perbedaan. Sehingga kenapa bukannya kesatuan, melainkan persatuan yang diterakan sebagai redaksinya, sebab kesatuan berarti peleburan dan penghilangan segala pada ketunggalan. Barangkali itu sebab term persatuan  dalam sila ketiga lebih utama dipakai sebagai penanda keutuhan, bukan karena yang lain, setidaknya persatuan tidak mengharuskan penghilangan ataupun pemberangusan. Oleh sebab term persatuan berarti kebijaksanaan perbedaan dalam semarak keragaman. 

---

Pernah dimuat pada harian Fajar kolom Opini, 13 September 2013

Mayangmayang Kenyataan; Sebuah Anamnesia*

I've got a picture in my head (in my head)
It's me and you , we are in bed (we are in bed)
You'll always be there when I call (when I call)
You'll always be there most of all. (all, all, all)
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like….

---(Hollywood, The Cranberries)

Ada yang paradoks tentang dunia pengalaman manusia. Suatu keadaan yang terjungkal dari porosnya, terjadinya pembalikkan secara massif antara yang semu dengan yang nyata, antara penampakan dan kenyataan, antara yang sejati dan palsu, bahwa realitas era sekarang sesuatu yang sulit dipilah berdasarkan intensitas kedalamannya.

Tak bisa akhirnya kita sanksi, dari apa yang kita alami, dunia tindakan kita adalah dunia yang berada pada tepian batasbatas antara yang imagi dan keyataaan. Sehingga dampak daripadanya terlampau sulit untuk kita bedakan dan candrai. Oleh sebab begitu besarnya determinasi kemajuan dunia tekhnologi informasi, yang begitu besar pengaruhnya pada sikapsikap yang akan kita jalani. Di mana era digital tengah melanda dan mengambil alih kenyataan kita yang sebenarnya.

Oleh media massa, dengan seluruh muatan fungsinya, akhirnya menempatkan dunia pada kenyataan yang dikehendakinya. Bahwa kenyataan adalah apa yang dapat dilipat, ditekuk, dan dimapatkan. Sehingga dunia kehilangan ukuran yang sebenarnya, seperti ruang, waktu, kedalaman dan keluasan akhirnya harus mangut pada logika era digital. Yang mana seluruh ukuran mengalami perubahan secara intens, ketika yang “di sana” bisa berarti yang “di sini”, yang “lampau” bisa dimaknai sebagai “kekinian”, yang “permukaan” akhirnya  bermakna “kedalaman” dan yang “tersembunyi” pada kenyataannya diterima sebagai “Kenyataan”.

Media massa memang bukanlah sekedar medio penyampai realitas, atau apa yang kita sebutkan sebagai pesan, makna, pun juga informasi dan berita. Oleh sebab dia juga tak bisa kita katakan sebagai jendela kenyataan, karena media juga dalam makna ideologisnya adalah institusi yang tak sekedar menyembunyikan kenyataan, melainkan jauh daripadanya menciptakan realitas baru. Sehingga dalam sifatnya yang demikian, media massa adalah perpanjangan tangan dari sebuah sistem yang jauh melampaui, keterjalinan yang turut memproduksi kenyataan dalam sebuah konstruksi kepentingan.

Lalu bagaimanakah yang dimaksudkan dari apa yang disebut sebagai konstruksi kepentingan? Sebuah tatanan yang mapan, yang mampu mencipta dan mendaur kenyataan? Sehingga realitas dapat dibentuk berdasarkan apa yang menjadi ukuran mesin hasrat? Lantas apa yang dibilangkan sebagai mesin hasrat? Sistem struktur yang mengambil alih proses penciptaan budaya dari yang adihulung menjadi budaya yang rendahan? Dimana maknamakna kemudian terlucuti dari ihwal yang sakral, yang ideal, menjadi sesuatu yang banal, dangkal dan tak bermakna.

***
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like.

Kenyataan sekarang adalah dunia yang merupakan hasil olahan produksi mesin kapital. Keterjalinan darinya kita anggapkan sebagai momok yang begitu ideologis. Dalam analisa Marxian situasi ideologis ini adalah peralihan dari kesadaran menuju keterselubungan di dalam dunia. Sehingga seakanakan kesadaran yang sering kita terima sebagai kebenaran hanyalah bentuk ilutif dari situasi yang demikian. Lebih daripadanya kita mengimani kebenaran yang kita sadari adalah murni sebagai episteme, yakni kebenaran sejati. Namun sebenarnya dari apa yang kita prediksikan sebagai segenggam kebenaran tak lebih daripada sebuah doxa, ihwal segala yang tak murni, bukan yang sejati; sesuatu yang menipu.

Doxa, atau segala yang bukan sejati, hakiki, bukan saja sejumput istilah perlawanan dari episteme (penegetahuan hakiki) melainkan gejala yang menjangkiti tampakan kebudayaan kita. Oleh media massa, dengan totalitas daya hegemoniknya, juga turut bertanggung jawab dalam membangun realitas kebudayaan dewasa ini. Daya virtual yang super canggih, oleh media massa tengah bekerja merangsek kehidupan kita dengan membangun citra, kesan dan imagi dari yang diproduksinya. Maka daripadanya dunia nyata dan maya adalah dua peririsan yang tak bertepi.

Kebudayaan populer (produser barang, film, musik, fashion, media, tontonan, seni) sebagai residu atau budaya dangkal, sesungguhnya adalah produk orisinal yang didasari olen imagi yang diproduksi oleh mesin hasrat kapital. Kapitalisme kebudayaan (industrialisasi, konsumerisme)  atau suguhan citra yang nampak dari budaya populer, sesungguhnya adalah mode kebudayaan yang mengekstase di atas citra permukaan. Yang mana turut mensituasikan adanya pemujaan terhadap bungkusan daripada isi. Sehingga kita kehilangan pesona kedalaman dibandingkan dari pada perayaan terhadap permukaan.

Tetapi apakah sesuatu yang harus kita tampik, tentang pemujaan terhadap iconicon populer? Terhadap kesan yang terbangun di dalam dunia layar? Oleh sebab disana ada pembebasan hasrat yang terpendam melalui saluransaluran semisal mencintai iconicon K POP? Apakah memuja alatalat canggih semisal I Pad adalah bentuk dari kemunduran kebudayaan? Walaupun sesungguhnya disana ada kiblat yang bergengsi, tentang kehidupan yang glamour dan hingar binggar.

Sesungguhnya adalah situasi yang begitu malang. Hidup diantara batasbatas yang tak jelas antara kehakikian dan kesemuan, oleh karena modernisme adalah kiblat yang dibaliknya membawa pesan kolonialisme. Dimana dari modernisme, semuanya kerap kali berubahubah begitu pesat dan gesit atas nama kemajuan dan kepopuleran. Dimana tak ada yang tetap, dan budaya populer memanglah pemujaan terhadap kegilaan yang akut. Adalah budaya populer merupakan  budaya Skizofrenia dari yang diistilahkan oleh Deluze, yakni situasi kehampaan dari kedalaman makna dari hancur dan kesimpang siuran sistem penandaan. Sehingga kita lebih bersedih hati menyaksikan icon pop kita mengalami gosip yang tak benar muasalnya, dibandingkan dengan hilangnya lokalitas dan keotentikan budaya di tengahtengah kita.

Dan akhirnya adalah masyarakat konsumtif sebagai tatanan dari situasi yang diproduksi oleh konstruksi kepentingan (kapitalisme, Industrialisasi, konsumerisme) untuk dasar akumulatif. Bukan saja akumulasi modal sebagai alas gerak kapitalisme, melainkan juga makna turut diakumulatifkan sebagai cara memproduksi hasrat konsumtif. Kita telah sampai pada masa kegilaan, kata Guattari, sebuah konstruk kehidupan yang timpang, bukan saja masyarakat kapitalis, melainkan juga kehidupan kebudayaan yang simpang siur. Maka, daripadanya kenyataan budaya akhirnya terselubungi dengan cangkang keras fantasi citra imaginer.

Pop Culture; Peluang atau Beban?

Sesungguhnya realitas kebudayaan yang kita hadapi sekarang adalah diskursus yang panjang, tak dan belum sampai pada batasbatasnya yang paling jauh. Sehingga membuka peluang bagi kita untuk dibincang dan dipersoalkan. Sebab kebudayaan adalah entitas yang harus kita maknai sebagai ihwal yang fluid, pembicaraan yang cair serta terbuka. Atau dengan kata lain ada cela yang bisa kita intipkan darinya untuk kita masuki. Sehingga standar antara yang adihulung dan yang dangkal bisa kita batasi dalam batasbatasnya yang moralistis.

Budaya populer sebagai fenomena kebudayaan yang dilahirkan dari industri kebudayaan massal, adalah fenomenon yang memiliki kepentingan ideologi pasar. Cara bekerja dari budaya populer itu sendiri mensyaratkan keabaian kritisisme untuk budaya yang diterima secara massal. Oleh karena budaya populer selalu beroperasi melalui cara berpikir populer, yakni budaya yang dipengaruhi oleh film, musik, tontonan dan seni hiburan sehingga mematikan fungsifungsi asas kebutuhan dibandingkan dengan nalar gengsi.

Betapa di era kemajuan seperti sekarang ini, budaya populer adalah new religion yang tentu memiliki ritual untuk membudidayakan dan memurnikan ajarannya. Selama ia menjadi stimulus dari gejala semisal shopping mall, life style, cara hidup glamour sampai hingar bingar diskotik, maka ia menjadi agama baru yang merebak pesat di dewasa ini. Maka telisik mendalam perlu kita lakukan untuk membersihkan gejala kebudayaan yang berimplikasi kepada hilangnya budaya lokal yang bersifat adihulung.

Namun dari semua itu, pada kenyataannya jika budaya populer adalah hasil dari transpalansi kebudayaan pada masyarakat terjajah, apakah tiadakah konsep dan praktik kebudayaan tandingan sebagai counter hegemony dalam mendeteritorialisasikan kebudayaan budaya populer itu sendiri. Setidaknya pada stadium yang paling minimal, perlu ada usaha kesadaran yang intens dan demokratisasi gerakan kebudayaan yang perlu dipancangkan sebagai usaha emansipasi dan pembebasan untuk keluar dari massifisitas budaya populer sebagai bentuk selubung kolonialisasi baru. Sehingga fantasifantasi kebudayaan massal yang hanya berupa mayangmayang kenyataan bisa ditiadakan. Setidaknya seperti dengan cara penggal lagu diatas, bahwa ini dan di sini bukanlah Hollywood![]

…This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like !, Like !, Like…!

---

Disampaikan pada Intermediate Training BEM FIP UNM, 13-15 September 2013.

29 Agustus 2013

Madah: Mayangmayang Cerita yang Tertunda

Madah oh madah.. Mungkinkah sesuatu itu berasal dari alam yang sebenarnya tiada?

Banyak kisah bermula dari sana, dari apa yang kita sebut legenda ataupun mitos, bahkan Agama sekalipun; awal mula semesta alam adalah sabda. Diyakini bahwa dari sana bermulanya segala sesuatu. Setidaknya harus ada penjelasan yang menetapkan sebab dari awal segala sesuatu. Dimana ketika sebab mulai merunut kejadiankejadian, barangkali pada peritiwa itulah kita mengenal situasi yang menyertakan waktu. Dan di sanalah alaf ruang berima serta waktu dalam membentuk sejarah.

Seperti dirimu, awal mulanya adalah penggalpengal kata. Yang dalam runutannya ada rentang yang mesti kau lewati. Diantara yang silih datang dan pergi. Diantara perulangan putaran waktu, ketika peristiwa kerap kali menjadi suatu yang penting. 

Dan memang sejarah adalah gores panjang yang merunut kejadian dengan toreh pesanpesan pada pinggiran untuk memberikan asumsi dari apa yang bisa kita terima. Engkau kerap muncul diantara peristiwa dari yang datang dan pergi. 

Di tengahtengah itulah engkau muncul untuk kunamai. Engkau ada ditengah titianmangsa yang kerap berlalu begitu saja. Tanpa embelembel, tanpa ada niat, kunamai engkau Madah. Engkau keluar begitu saja. Sebuah nama yang belakangan saya tahu artinya bermakna “pesan”.

Semenjak kemunculanmu, ada kehendak untuk menyempurnakanmu dalam cerita yang kubentuk lengkap menyerupai pahatan patung yang sudah jadi. Setidaknya semenjak kehadiranmu, engkau diniatkan untuk tak berumur panjang. 

Dalam satsra, ceritera yang demikian dikenal dengan akronim cerpen. Sebuah cerita yang tak terbilang untuk panjangpanjang, sebab engkau memang diniatkan demikian. Namun barangkali sebuah ceritera kadangkala menghendaki yang lain, selagi engkau tak pupus dalam ide seorang penulis. Engkau dalam kepalaku menuntut untuk menyusun gugus ceritera. Dan di sinilah masalahnya, engkau menjadi tokoh yang ingin hidup panjang dalam ruang pikiranku. 

Sehingga terbesitlah ide itu. Ide yang mayangmayang tersimpan dalam kehendakku untuk mejadikanmu sebuah cerita yang panjang, sebuah novel. Maka mulailah kutetapkan settingan kehidupan untukmu. Tetapi merunut kejadiankeajadian jauh lebih sulit jika hendak dikalimatisasikan dalam bentuk yang hendak paripurna. Sebab mengkalimatisasi  sebuah peristiwa yang panjang sama halnya memasuki sebuah dunia yang begitu menghendaki konstruksi yang kuat. 

Dan juga menulis  sebuah novel sama halnya membangun dunia yang sungguh berbeda, oleh karena ia berurusan dengan sesuatu yang khayali; imagi. Dan yang khayal adalah seperti benda yang begitu halus, cair dan tak padat; sesuatu yang tak terikat bentuk yang pasti; sesuatu yang kesannya berubahubah.

Tahukah engkau Madah, tentang konstruksi yang berdiri di atas pasir?

Sastra adalah semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona. Setidaknya itu kalimat pengertian yang saya pahami tentang sastra. 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...