16 Mei 2016

takhayul dan komunisme

Comte menandai masa teologik-metafisik sebagai rentang sejarah manusia yang bergerak oleh kekuatan mitos dan takhayul. Dua kekuatan ini adalah cara manusia bertahan hidup dari semesta alam yang asing. Di masa ini, keyakinan jika manusia menghadapi hambatanhambatan dalam kehidupan, mampu diselesaikan dewadewi seperti yang diyakini dalam mitos. Bagi masyarakat prarasional, mitos dan takhayul dipakai sebagai perangkat pengetahuan untuk menjadi pegangan hidupnya.

Tapi, kesadaran berkembang. Mitos dan takhayul akhirnya digantikan dengan ilmu pengetahuan. August Comte menyebut masa ini zaman keemasan. Ilmu pengetahuan menjadi ratu peradaban. Berbeda dari dua masa sebelumnya, hal ihwal yang belum terjelaskan selama manusia hidup ternyata bisa dipecahkan oleh sains. Akibatnya, kata Comte, di zaman ini segala hal berbau teologis dan metafisis akan dihapus ilmu pengetahuan. Sainslah keyakinan baru masyarakat positivis.

Prediksi Bapak Sosiologi Barat itu bisa benar bisa tidak. Masyarakat memang telah maju oleh kesadaran rasional. Namun, keyakinan terhadap takhayul tidak sepenuhnya bisa hilang begitu saja. Terutama apa yang terjadi akhirakhir ini, soal ketakutan kepada entah apa. Walaupun begitu, siapapun yang mengikuti perkembangan berita akhirakhir ini tahu, beberapa elemen pemerintah khawatir terhadap satu mitos; komunisme.

Komunisme memang dibilangkan Marx dan Engels sebagai hantu yang bergentayangan di langitlangit Eropa kala itu. Di Manifesto Komunis secara eksplisit tujuan Marx dan Engels memakai metafora hantu sebagai penanda terhadap keyakinan baru yang bakal merinsek keyakinan dogmatis masyarakat Eropa. Sebagaimana mahluk halus, keberadaan komunisme akan membuat gentar pendirian masyarakat yang digerakkan filsafat kelas borjuis saat itu. Dan, filsafat kelas borjuis saat itu tiada lain adalah filsafat idealisme Hegel.

Sulit memprediksi apa dasar utama beberapa perangkat negara dan ormas akhirakhir ini getol mengkampanyekan anti komunisme dengan tindakan mutakhir sweeping karya intelektual berbau komunisme. Cuman satu hal yang pasti, mereka khawatiir hantu yang diistilahkan Marx dan Engels bakal seperti kejadian sejarah 65 silam. Padahal alasan ini tidak cukup kuat jika mau melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di tengah masyarakat.

Artinya bisa dibilang ketakutan negara dan beberapa ormas hanyalah ketakutan kepada hantu yang sebenarnya, yakni suatu keberadaan yang tidak memiliki wujud; pikirannya sendiri. Dengan kata lain, marxisme dan komunisme adalah hantu yang diciptakan sendiri di dalam imajinasi pemerintah. Suatu takhayul yang tidak terbukti kebenarannya.

Lantas bagaimana dengan kegandrungan kelompok mahasiswa atupun komunitas yang getol mengunyah pemikiran marxisme dan seluruh yang berbau kiri? Di sinilah letak soal suatu kebudayaan ditakar. Apakah untuk memecahkan soal itu harus menggunakan cara primitif atau cara yang lebih intelektuil. Cara fisik atau cara pikir.

Cara yang pertama, seperti marak di pemberitaan, menyita bukubuku kiri, adalah cara yang digolongkan seperti masa yang disebut Comte sebagai masa teologik-metafisik, yakni tindakan yang digerakkan ketakutan akibat takhayul. Akibat kesadaran takhayul macam demikian, tindakannya tergolong primitif, tidak ada tanda kebudayaan sama sekali. Ini mirip Nazi yang membumihanguskan seluruh karya intelektuil yang berbau Yahudi. Betulbetul fasis.

Seharusnya pemerintah menempuh cara yang lebih akademis, yakni pemikiran dilawan dengan pemikiran. Cara ini adalah caranya kaum intelek, lewat diskursus.

Nampaknya, takhayul belum juga hilang dari ruang kebudayaan masyarakat modern. Parahnya lagi itu terjadi di antara orangorang yang secara sosial hidup di tengahtengah zaman yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Ini ambivalensi yang tentu konyol. Tapi apa boleh dikata, itulah yang terjadi belakangan ini.

06 Mei 2016

Pramoedya Ananta Toer dan Kaum Pelajar

Ada perkataan Pramoedya Ananta Toer yang masyhur jadi kutipan: “seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”.  Perkataan ini kalau tidak salah muncul di Bumi Manusia, sekuel pertama dari empat novel yang akbar disebut Tetralogi Buru. Sulit menduga apa motif Pram mengucapkan demikian, tapi memang tanpa pikiran yang adil, suatu kehidupan justru bisa berubah semenamena.

Hampir seluruh hidup Pram sesungguhnya "tumbal" dari tatanan yang tidak adil. Indonesia yang disebutnya suatu bangsa yang telah ia sumbangkan segalanya, tak seperti yang dia harapkan dari kaum yang ia sebut “seorang terpelajar”. Pengalamannya selama hidup di bawah kolong Indonesia, yang bertindak semenaena terhadap dirinya –juga orangorang sepertinya, menganggap bahwa negara bisa menjadi medium jahat kalau keadilan tidak bekerja sebaikbaiknya. Dan memang negara seperti yang ia alami adalah suatu simpul yang  memangkas habis keadilan. Lantas siapakah yang harus memulai keadilan , jika negara hanya jadi alat yang semenamena? Pram sudah bilang: “seorang terpelajar.”

Seorang terpelajar memiliki dua hal: pikiran dan perbuatan. Pikiran dan perbuatan bagi seorang terpelajar adalah modal utama. Berbeda dari pengusaha, seorang terpelajar tak memiliki modal. Berbeda dari seorang raja, seorang terpelajar tak memiliki trah kekuasaan, berbeda dari tentara, seorang pelajar hanya memiliki pikiran dan perbuatannya sebagai senjatanya. Itulah sebabnya, keadilan harus ada di dalam pikiran dan perbuatan terpelajar. Hanya di dalam pikiran dan perbuatan adil seorang terpelajarlah senjatanya satusatunya.

Lantas apakah itu keadilan? Keadilan dalam kenyataan sosial-historis adalah keseimbangan tatanan pemerintahan. Pemerintah harus menyeimbangkan kekuasaannya tanpa memilihmilah kelompok. Dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik , dan agama, pemerintah harus menyeimbangkan distribusi kekuasaannya. Keseimbangan sosial-historis mensyaratkan perlunya perhatian terhadap neraca kebutuhan.  Pemerintah, di hadapan masyarakat yang menjalani kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan agama,  harus menyeimbangkan sumber dayanya secara proporsional. Keadilan dalam tatanan sosial-historis hanya berbicara satu hal: kemaslahatan. Dengan kata lain, keadilan dalam makna ini harus terus mendorong kemaslahatan berdasarkan tujuantujuan umum yang harus dicapai.

Namun, keadilan yang esensil merupakan suatu pikiran yang menempatkan hak kepada pihak yang berhak. Keadilan macam inilah yang barangkali Pram kehendaki.  Yang artinya tempatkanlah sesuatu pada tempatnya yang layak. Prinsip keadilan macam ini mengandaikan prioritas sebagai ukurannya. Misalnya, apabila ada warga negara yang berlaku melenceng, maka tempatkanlah ia sebagai orang yang harus mendapatkan kepastian hukum. Di sini, seorang yang salah punya prioritas sebagai orang yang harus mendapatkan pembelaan, dan pengawalan perlindungan hukum. Dalam kacamata prioritas, tidak soal dia seorang pencuri ataupun bupati, keduaduanya berhak mendapatkan pembelaan dan perlakuan yang seharusnya sama di mata hukum.

Keadilan dengan sendirinya mengandaikan kebenaran. Ini lapisan kedua dari perkataan Pram soal keadilan. Dengan kata lain, jika pikiran adil maka keadilan di situ secara esensil mengandung kebenaran. Sulit rasanya jika mengucapkan keadilan tanpa mengikutkan kebenaran sekaligus, karena jika menempatkan sesuatu pada pasaknya maka itulah yang disebut kebenaran.  Dengan kata lain, keadilan adalah wajah pertama kebenaran. Atau sebaliknya, paras kebenaran yang pertama adalah keadilan. Artinya mengandaikan keadilan tanpa kebenaran sebenarnya adalah ihwal yang musykil.

Itulah akibatnya, hanya seorang terpelajarlah yang ditamsilkan Pram.  Sebab di sepanjang kenyataan sejarah, atau bahkan memang merupakan tugasnya, kaum terpelajar adalah kaum yang identik dengan keadilan dan kebenaran. Hanya dipikiran kaum terpelajarlah keadilan itu mampu diimajinasikan, dan hanya di tangan seorang terpelajarlah kebenaran itu diperbuatkan.

Makanya, di pikiran pejabat kekuasaan, perbuatan kaum hartawan, keadilan dan kebenaran adalah tamsil yang sulit ditemukan.  Di dua profesi ini, keadilan dan kebenaran bukan “raison d’etre”, yang ditemukan di dalamnya. Akibatnya keadilan hanya jadi terma yang asing di seputar kekuasaan. Itulah kenapa keadilan dan kebenaran adalah dua prinsip yang terus harus dipaksakan di dalam tatatanan kekuasaan melalui segala kekuatan yang bisa diberikan. Dan kaum yang sering menyodorkan itu tiada lain tiada bukan hanyalah kaum terpelajar.

Artinya sudah wajar  perkataan Pram bukan menyebut kaum lain selain kaum terpelajar, sebab di sepanjang hidupnya, kekuasaan yang mewujud dalam negara hanya selalu menjadi momok yang membelah keadilan. Dan, seperti yang sering disebutkan, negara kadang memang jadi alat kekuasaan untuk menilap hakhak warganya yang seharusnya mendapatkan haknya sebagai warga negara. Negara memang suatu sumber yang jarang dan bahkan susah berbicara soal keadilan. Negara di konteks ini memang hanya menjadi alat yang seperti Marx nyatakan: alat penguasa. Lantas siapakah yang harus berbicara keadilan. Pram sudah bilang, dan kita tahu siapa itu.

02 Mei 2016

waktu dan pram

Sudah semenjak terakhir kali membaca Cantik Itu Luka, saya agak ragu mau membaca novel yang bejibun pagina. Agaknya, kekhawatiran ini ditenggarai ketidaksanggupan melumat habis bacaan. Ini makin krusial, karena di situ soalnya ada yang genting: waktu akhirnya jadi medan yang tak lagi bulat. Waktu jadi semacam garis putusputus, tak lengkap.

Saya selalu meyakini, membaca bukan saja peristiwa kesadaran yang mau masuk terlibat dalam dunia teks dengan segala kemungkinannya, melainkan di situ ada medan waktu yang jadi ukuran panjang pendeknya kesadaran yang ikut di dalamnya. Membaca dengan arti ini sederhana, suatu keadaan yang mau membangun pemahaman dengan teks sekaligus juga ingin bersetia di dalam bulatan waktu.

Karena itulah kalau melihat buku yang tebaltebal, suatu kesadaran bakal menjadi ciut. Kiwari, di dalam kesadaran saya, waktu bukan lagi pengalaman semacam garis lengkung lingkaran, suatu horison yang tanpa pangkal dan ujung. Waktu yang bulat adalah waktu yang tidak ditandai titik permulaan dan akhiran. Yang ada hanya suatu peristiwa totalitas. Suatu keutuhan.

Sementara jika mau membaca suatu novel,  itu berarti mau sabar mengakrabi lintasan waktu kehidupan tokohtokohnya.. Mau ikut di dalam keseluruhan kehidupan yang dikisahkan cerita di dalamnya. Novel dalam pengertian saya ini adalah rangkaian cerita yang terjalin atas ikatan totalitas. Hanya dalam novel-lah kita menemukan tokohtokohnya tampil lengkap seperti manusia nyata: ia lahir dengan tangisan, hidup dengan beragam pengalaman, dan akhirnya mati meninggalkan banyak orang. Membaca novel akhirnya sama dengan membaca kehidupan itu sendiri.

Itulah sebabnya, membaca novel perlu waktu yang bulat. Waktu yang tak putus. Namun, apa boleh buat, kehidupan sekarang adalah suatu aktifitas yang ditentukan waktu yang terbelahbelah, putusputus tanpa meninggalkan ikatan dengan totalitas. Sekarang, karena seluruh pengalaman manusia adalah pengalaman yang tak lagi disertai kesadaran yang padu, aktivitas yang berbeda di tiap waktunya, akhirnya membikin manusia tidak akrab dengan kesetiaan. Sehingga bagi pegiat bacaan, waktu harus kembali dinetralisir. Jadi kalau mau membaca buku, maka waktu harus betulbetul bebas dari perbudakan. Setiap pembaca harus setia dengan dan di dalam waktu.

Omongomong setia dalam waktu, saya mau sebut Pram. Orang yang pernah dikirimi mesin tik oleh Jean Paul Sartre kala menjalanai masa tahanan di Pulau Buru. Di masa tahanannya, waktu bagi Pram adalah media tukar untuk bertahan lama. Masa tahanan sepuluh tahun dipertukarkannya dengan wujud yang bakal sulit di hapus: berjilidjilid kisah Minke dan Indonesia.

Sulit rasanya mau bilang bahwa tanpa kesetiaan terhadap waktu, karyakarya Pram bakal lahir. Pram sebagai seorang pengarang cerita tentu bakal menggunakan waktunya bukan dalam pengertian yang terputus, sebab jika membangun suatu cerita mirip Tetralogi Buru misalnya, mustahil tanpa ingatan yang mencakup keseluruhan bulatan peristiwa yang sudah ditulisnya.

Kesadaran Pram adalah kesadaran yang bulat, sekaligus bukan dibangun di atas waktu yang putusputus. Dalam seluruh kehidupan Pram, waktu akhirnya suatu bulatan yang diniatkan hanya untuk menulis. Sebab itulah dia bilang, menulis adalah keabadian. Tak ada ujung tak ada permulaan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...