26 December 2017

JURUSELAMAT. Seperti yang dituliskan Eka Kurniawan melalui esai terakhirnya, dalam sejarah, manusia mengenal dua sosok tragis: Socrates dan Yesus Kristus. Socrates dikekalkan Platon sebagai orang yang rela memanggul kematian demi mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran, dan Yesus dalam sejarah Kekristenan adalah sang juru selamat yang mengorbankan dirinya demi menjamin keselamatan umatnya.

Dua sosok tragis ini, baik melalui fiktif atau juga dalam sejarah, adalah dua narasi yang mengidealisasi suatu model kehidupan yang kontradiktif.

Socrates pertama-tama mati demi kehidupan yang tak ia temukan di tengah kiprah masyarakatnya, sedangkan Yesus, seperti diketahui, sosok yang mati memanggul salib sebagai protes terhadap dekadensi yang ia temui.

Kelak nampaknya seorang Socrates berkebalikan dari seorang Yesus yang lahir dalam keadaan yatim tanpa seorang bapak. Socrates bisa dibilang adalah figur bapak yang mati melahirkan kebenaran tanpa kehadiran figur seorang ibu, bersedia meminum racun. Sementara Yesus, di kisah tragedinya, menampilkan seorang figur ibu yang mengikutinya dari belakang melihat sang anak berjalan ditawan pasukan romawi memanggul beban seluruh umat manusia.

Betapa pedihnya hati seorang perempuan, betapa sakitnya tragedi.

Tapi, apakah hanya itu, atau juga kematian yang tragis? Kematian, dalam hal ini tidak saja meninggalkan luka, namun juga sejarah.

Dengan kata lain, sejarah adalah apa yang kita dudukkan sebagai kisah: suatu yang disebut Clarissa Pinkola Estes –seorang scholar psikologi— sebagai cerita bagi jiwa.

Itulah sebabnya, setiap cerita di sekitar sosok-sosok yang memainkan peran tragedi dalam sejarah, juga sebenarnya simbol yang sangat manusiawi.

Bagiamana itu mungkin? Bukankah dalam sejarah, yang manusiawi justru kadang kalah. Bahkan nyaris tidak memiliki harapan. Hidup digilas kekuatan tiranik dan despotik.

Namun di situlah letak perhatiannya. Yang manusiawi berarti hidup dalam keadaan yang sebenarnya. Merasakan getirnya dilecehkan, juga direndahkan. Merasai bahwa kenyataan bukanlah fantasi dunia tanpa cacat. Di situlah juga berarti yang manusiawi adalah mahluk yang mampu membumbungkan harapan, melalui kematian sekalipun.

Di titik itulah saya kira, sosok tragis melampaui idealisasi tindakan heroisme. Dia bukanlah sosok-sosok yang mewakili manusia tanpa harapan. Melainkan manusia yang mewakili bagaimana Tuhan memerhatikan kepedihan manusia.

Di kehidupan kini yang tragis tidak lebih dari pada orang-orang kalah tanpa kekuatan kisah di belakangnya. Bahkan sosok yang tragis nyaris hilang dalam imajinasi masyarakat hari ini.

Tentu yang tragis di sini bukan arti selain daripada kisah yang menyentuh. Kisah yang menyayat sekaligus menggetarkan jiwa. Menggugat tapi juga menggugah.

Kehidupan kiwari, nampaknya harus banyak belajar dari sosok yang dibesarkan tragedi dalam sejarah. Di situ tidak sekedar bagaimana sosok semisal Yesus, harus berjalan panjang memanggul kayu salib, melainkan rela berkorban demi menanggung penderitaan umat manusia.

Kayu salib dalam ungkapan lain tidak sekadar simbol penderitaan, melainkan tanggung jawab rela mengambil alih peran bagi orang-orang yang tersisihkan. Suatu suara mewakili umat yang mengalami pahitnya dikucilkan.

Juga sosok tragis Socrates, dikekalkan tidak saja menjadi sosok sentral dalam arti figur seorang guru. Tapi, siapa pun harus tahu, di balik kebenaran yang dinyatakan ada risiko yang mesti ditanggung.

Kisah orang-orang modern adalah kisah tanpa kayu salib. Kisah tanpa mau mengambil risiko pencarian. Dua ciri yang alih-alih mesti dipahami sebagai kisah universal jiwa yang bersetia dalam kebenaran dan rela berkorban. Tapi, malah orang-orang yang kehilangan pesona terhadap kekuatan persona.

Kuatnya individualisme naif merupakan anomali sejarah yang jauh dari sosok-sosok seperti Yesus juru selamat. Dengan kata lain, nyaris di masa sekarang masyarakat adalah satuan atomik tanpa sosial relationship. Masyarakat malah hilang dan nyaris tidak bisa menjadi peristiwa interaktif: suatu pengertian yang mencerminkan karakter masyarakat yang saling mengandaikan.

Di sisi lain, tidak seperti Yesus atau bahkan Socrates, pemahaman hari ini justru adalah pengertian yang sulit dikatakan sebagai pengetahuan yang memiliki dasar. Kemampuan epistemologi masyarakat kiwari justru adalah model pengetahuan yang khawatir mau mengambil risiko pencarian.

Itulah mengapa, fenomena- fenomena seperti yang ditunjukkan oleh radikalisme dan fundamentalisme orang-orang beragama, adalah jenis pengetahuan tanpa dasar pencarian yang mendalam. Nyaris tanpa mau melatih kesabaran, dan juga tanpa tradisi panjang melalui dialog ilmu pengetahuan.

Itulah juga mengapa, iman akhir-akhir ini adalah jenis keyakinan yang mudah menghardik akibat rapuhnya suatu dasar, iman yang takut mendapatkan ujian-ujian sebagaimana persona sejarah dalam tragedi yang mereka alami.

Kemampuan berinteraksi manusia tanpa kekuatan persona pada akhirnya akan berakhir menjadi nihilisme. Hilangnya pegangan. Mustahilnya suatu pencarian.

Malam ini, seperti juga perayaan Maulid Nabi, seorang sosok lahir ke dunia dengan tanggung jawab besar di pundaknya. Tanggung jawab yang kelak akan dipanggulnya dengan menukarnya melalui kematian.

Seperti Muhammad, kelahirannya bukan sebatas peristiwa biologis belaka. Namun adalah peristiwa ideologis pula. Dengan kata lain, kelahirannya mesti didudukkan sebagai lahirnya tanggung jawab di setiap hati umatnya, untuk mengambil alih dan melanjutkan kayu salib yang dipikulnya: suatu risiko yang mesti diemban dengan semangat kasihnya.

Kini, dia datang melalui perut seorang ibu perawan dan tanpa bapak, lagi-lagi dengan kisah di seputar tragedi yang bakal menyertainya kelak. Seperti Muhammad sang nabi terakhir, kelahiran sang anak yatim sesungguhnya adalah peristiwa yang revolusioner.

Selamat Natal.