11 November 2017

"Adalah kata-kata
yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk
dan keluar dari diri kita.
Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyeberang ke tempat lain
Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian.
Berbicara, kita mengobati rasa sakit.
Berbicara kita membangun persahabatan dengan yang lain.
Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam.
Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita…
Inilah senjata kita saudara-saudaraku."
(Subcomandante Marcos, 12 Oktober 1965)

Eike kira, intelektualisme adalah kata yang hari ini harus terus diperjuangkan. Jika kata adalah senjata, seperti yang dinyatakan Subcomandante Marcos, si pejuang nasional dari Mexico, intelektualisme-lah salah satu senjatanya. Memang agak paradoks, kata sebagai wujud logos disepadankan dengan senjata, alat yang kerap dipakai untuk melukai, atau bahkan membunuh. Tapi, apa boleh buat, yang didakukan Marcos agaknya ada benarnya, walaupun dalam sejarah intelektualisme, di mana-mana tradisi pemikiran seringkali berhadap-hadapan dengan penggunaan senjata sebagai terornya. Kata-kata adalah sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita. Ikut membentuk pemahaman kita terhadap dunia. Kata-kata menjadi jembatan ke tempat lain kata Marcos, ibarat sebuah buku yang menjadi jendela dunia. Bahkan, kata-kata, berbicara untuk memperbarui dunia kita, diri kita. Marcos boleh saja percaya kepada kekuatan kata-kata, sebagai suatu senjata, bahkan. Tapi bagi Platon, filsuf Yunani antik yang dikenal keras kepala itu berkeyakinan sebaliknya. Kata-kata hanya selubung, bahkan bayang-bayang. Dia tidak mewakili kenyataan, dan tidak mampu menggambarkan kenyataan. Itulah sebabnya, Platon menganjurkan berhati-hati dari kata-kata. Kata-kata bisa menipu. Dia gua yang memerangkap pengetahuan. Gegar kebudayaan hari ini seperti fenomena yang dinyatakan seorang sosiolog Amerika, Anthony Giddens: masyarakat sedang berlari tunggang langgang, merupakan masyarakat gegar kata-kata. Narasi kebudayaan hanyalah bunyi-bunyi bahasa tanpa makna, tanpa gagasan. Juggernaut adalah istilah yang dipilih Giddens untuk mengilustrasikan bagaimana kebudayaan masyarakat bergerak melesat tanpa kontrol. Bahasa sebagai matra kebudayaan, ibarat hewan buas yang berlari tanpa sepenuhnya bisa dikendalikan.  Bahasa hanyalah lorong kosong tanpa suatu arah pengertian. Kata-kata akhirnya ibarat jazad bahasa tanpa reaksi. Tergeletak begitus saja tanpa berarti apa-apa. Narasi, lapis dunia simbolik yang memberikan asupan bagi sang manusia, seperti yang didakukan Platon, tidak membuktikan apa-apa. Di titik itulah narasi tidak tampak sebagai senjata. Dia hanyalah desakan tanpa daya. Peluru tanpa efek. Selongsong kosong yang hampa pengertian. Reflektifitas, kemampuan itulah yang belakangan kehilangan kedudukan dalam masyarakat a la juggernaut Giddens.  Masyarakat dikepung kata-kata banal, simbol-simbol, kode-kode yang dekaden membuat setiap orang kehilangan ruang permenungan. Reflektifitas, digantikan oleh -meminjam bahasa Jean Baudrillard- simulakrum: dunia imajinatif yang tidak otentik. Itulah sebabnya, mengapa kita mesti memperjuangkan apa arti intelek itu sebenarnya. Atau, bagaimana menjadi bagian dari kehidupan yang berbau intelektual. Reflektifitas dengan kata lain, setidaknya adalah kemampuan daya intelek manusia mengambil jarak pengetahuan, untuk menimbang-nimbang, menakar kembali atas segala apa yang telah dicapainya. Itu artinya, usaha mendudukkan intelektualisme dalam konteks ini, sama artinya dengan membuka ruang reflektif agar terjadi keadaan pemahaman yang sarat bobot dan bernas. Kadang memang, dari titik itu semuanya mesti mengambil suatu langkah berpulang, melihat kembali dari balik punggung kemajuan, tentang segala hal yang dilakukan secara otentik. Setidaknya, di masa sekarang, daya intelek bukan saja berarti bekerjanya fungsi kritis manusia, atau kemampuan khas manusia  dalam maksimalisasi peran logos, melainkan menjadi instrumen pembebasan martabat manusia. Namun, untuk tidak menjadi logos yang sekadar instrumentalistik, daya intelek mesti bersih dari kepentingan-kepentingan ideologis. Logos pada akhirnya tidak sebagai ekspresi yang hanya menggambarkan tujuan jangka pendek, melainkan juga tujuan jangka panjang. Kehidupan pasca kebenaran seperti yang ditandai dari kacaunya dasar-dasar pemikiran dan betapa longarnya bahasa dalam merujuk kepada suatu pemahaman, membuat relasi pemaknaan terhadap kebenaran terhambat akibat-akibat sentimen-sentimen sempit. Di saat itulah daya intelek manusia harus dimaksimalisasi sampai batas terjauhnya. Intelektualisme dengan begitu tidak saja sepadan dengan logos, tapi juga sebagai dasar pengetahuan yang menjadi kebiasaan etis, atau bahkan politis, karena tanpa itu, belakangan kata-kata hanya menjadi kulit bawang, seperti yang didakukan Platon, tidak ada inti di dalamnya. Makanya, kata-kata tidak mudah untuk dipercaya. Dia bisa menjadi gua yang memerangkap pemahaman, atau sebaliknya, seperti kata Marcos,  “kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita.” Eike kira dalam kalimat terakhir itulah, mengapa intelektualisme mesti diperjuangkan.