Minggu, 22 Oktober 2017

Trinitrotoluena

Belakangan eike sulit mengucapkan kata “sensitif”, apalagi kalau itu ditambahi imbuhan dan akhiran seperti menjadi “ke-sensitiv-an”. Lidah eike sulit mendesiskan bunyi “e” kemudian “i” di waktu yang hampir bersamaan, sekaligus bunyi “a” di akhir katanya. Peralihan bunyi itulah yang membuat lidah eike sulit mengejanya. Tidak mulus, tidak lincah, bahkan.

Hal yang sama apabila eike mengucapkan kata “kreatifitas” menjadi “ke-kreatif-an”. Lidah eike seperti sulit diajak “bergoyang” dari bunyi “e”, “a”, “i”yang berubah seketika.

Akhirnya eike mencari kata-kata yang mirip gejalanya dari dua kata di atas semisal kata “pemimpin” menjadi sulit ketika diubah ke bentuk “ke-pemimpin-an”, kata “aktif” menjadi “ke-aktiv-an”, atau terma “kritis” berganti menjadi “ke-kritis-an”, atau yang paling sulit eike katakan: “eike cinta je!”

Baiklah, yang terakhir itu bukan sulit diucapkan, tapi ah, puki mak! Betapa kompleks sekaligus rumitnya konsekuensi dan arti dari kalimat yang terakhir itu. Apalagi itu terjadi pada hubungan Je dengan doi yang sampai sekarang tidak sensitif menangkap gelagat perasaan Je terhadapnya.

Tapi, lupakan soal perasaan, apalagi perasaan yang mudah sensitif belakangan ini.

Kembali ke soal utamanya. Bagi eike, nampaknya ini bukan soal tongue twister belaka, melainkan kebiasaan.

Bekangan eike sering menyaksikan terutama mahasiswa ketika bersusah payah mengucapkan kata ilmiah nan asing. Kadang juga mereka sampai harus menekuk leher hanya untuk mengucapkan satu dua nama tokoh asing yang baru pertama kali mereka ucapkan dengan benar. Bagi eike ini tanda-tanda bagaimana pengalaman terhadap bahasa tidak terbangun dengan baik. Memang, kemampuan mengucapkan kata dengan baik berbanding lurus dengan sejauh apa mereka akrab dengan budaya literasi.

Membaca adalah kunci. Eike kira itu asal usul persoalannya. Tradisi membaca akan membuat kita akrab dengan dunia kata-kata. Semakin luas dan dalam bacaan kita, semakin banyak dan ahli kita dalam suatu tema. Dengan kata lain, semakin banyak kita bertemu-kenal kata melalui membaca, semakin familiar dan mudah kata itu diucapkan.

Tapi, eike pikir ini bukan hanya soal semakin fasih tidaknya kata itu diucapkan, namun juga seberapa pahamkah kata itu dalam pemahaman seseorang. Kadang, dua hal ini tidak langsung beririsan, walaupun dalam kasus-kasus tertentu dua hal ini sangat sulit dipisahkan.

Artinya tradisi bertutur itu ikut berperan penting. Budaya menyatakan pendapat yang tidak berkembang baik dengan kata lain adalah salah satu faktor yang menyebabkan mengapa masih sering ditemukan kegagapan pengucapan kata-kata atau kalimat asing. Namun, ini bukan sekadar kata-kata itu memang asing secara literer, atau diserap dari bahasa asing, melainkan lagi-lagi seberapa akrabkah kita kepada istilah-istilah itu sendiri melalui tradisi ilmu pengetahuan.

Memang sulit ditampik, banyak kata-kata kita yang diserap melalui pelbagai bahasa asing. Arab, Portugis, Belanda, Inggris, dan bahkan Cina adalah beberapa bangsa yang dari sana ada banyak kata kita berasal.

Kalau ditelisik, bahasa Cina misalnya, banyak perbendaharaan katanya dapat dilacak sampai ke bidang kuliner, terutama yang berkaitan dengan dapur dan makanan. Kata “sate”, “bakmi”, “bakpia”, dan “pangsit”, misalnya, adalah beberapa di antaranya yang hari ini masih dipakai sebagai bahasa sehari-hari yang berasal dari negeri Tiongkok.

Kata-kata Arab, Potugis, bahkan dua negara terakhir, Belanda dan Inggris, juga dapat kita temui kata serapannya dalam bidang pendidikan, perdagangan, pemerintahan, dan politik yang mencerminkan betapa pengalaman hidup kita sebagai manusia Indonesia sangat lekat dengan kata asing dari pelbagai latar belakang kebangsaan.

Itu artinya, sudah sejak awal kita akrab dan bahkan menggunakan pelbagai bahasa asing sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Nampaknya pengamatan eike yang berkaitan dengan tidak akrabnya kaum terpelajar terhadap istilah maupun kata teknis asing yang sering dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan, adalah sesuatu yang mesti kita waspadai. Bisa jadi itu adalah gejala kaum terpelajar era kekinian yang semakin jauh dari tradisi ilmiah.

Padahal, melalui dunia semacam itu, artikulasi dan penafsiran tentang kenyataan akan menjadi semakin beragam dan berbeda-beda. Tidak bisa dimungkiri, melalui beragam bahasa asing dan istilah teknis, banyak fenomena yang secara gamblang terjelaskan melalui kata bersangkutan ketika dipakai. Juga banyak pengalaman-pengalaman yang tidak bisa ditemukan pemaknaannya lewat bahasa nasional, atau bahkan daerah, yang hanya bisa diwakili melalui bahasa asing.

Fenomena ini eike kira adalah akibat dari dunia yang semakin hari semakin “ter-modern-kan”. Suatu pengalaman hidup manusia yang tidak lagi sesederhana seperti ungkapan kata-kata dalam bahasa daerah, misalnya, yang berasal dari pengalaman masyarakat silam.

Dunia pengalaman manusia hari ini, yang semakin kompleks dan berkembang, mau tidak mau –tanpa mengkerdilkan peran bahasa lokal—sedikit banyaknya hanya bisa tersampaikan secara global melalui bahasa ilmu pengetahuan yang hari ini didominasi oleh kata-kata asing.

Tapi ada satu fenomena menarik berkaitan dengan penggunaan bahasa asing dalam dunia komunikasi sehari-hari. Banyak ditemukan anak-anak muda kelas menengah yang sehari-harinya mencampuradukkan dua bahasa dalam satu pengucapan ketika berbicara. Dengan maksud sebagai penanda “intelek” dan “meng-global”,  fenomena ini disebut Joss Wibisono sebagai keminggris-minggrisan. Fenomena ini seperti dinyatakan Joss Wibisono adalah gejala melemahnya nasionalisme bahasa. Dengan kata lain,  ini sebenarnya adalah suatu petunjuk bahwa kita tidak lagi pede ketika menggunakan bahasa Indonesia sebagai penghargaan terhadap nasionalisme.

Eike kira dari fenomena ini bukan berarti bahwa kaum terpelajar tidak mesti mengakrabkan diri dengan bahasa asing, namun sebenarnya dari itu adalah bagaimana pengalaman atas bahasa melalui mengenal dan akrab kepada kata-kata asing menjadi medan pembelajaran untuk memperluas pemahaman dan wawasan berpikir. Di titik ini, luasnya bahasa sama luasnya dengan cara berpikir seseorang.

Sampai di sini eike berandai-andai, kalau ada penelitian mutakhir yang melihat perubahan bentuk panjang-tebalnya lidah masyarakat Indonesia berdasarkan generasi, eike mengira lidah manusia Indonesia dari masa ke masa mengalami evolusi panjang akibat sering banyaknya menggunakan kata-kata (istilah) asing (sulit) dalam percakapan sehari-hari. Semua itu tergantung sulit dan terbiasanya kita menggunakan bahasa dan kata asing, tentunya. 

Baiklah, sulitkah lidah Je mengucapkan kata “trinitrotoluena”?

2 komentar:

aam ahmad arham persepsi mengatakan...

Tulisan di blog ini sayang kalau tidak dibukukan 😁

bahrul amsal mengatakan...

Mudah-mudahan :)