09 September 2017

Menjadi Pembaca Berkesadaran

| |
Tinimbang menulis, membaca merupakan pekerjaan purba. Umurnya hampir setua manusia. Tiada perlu tulisan jika hanya untuk memaknai sesuatu. Peristiwa alam dengan tanda angin, perubahan suhu, bunyi kicauan burung, pasang surut air laut, konstelasi bintang dlsb., ialah isyarat alamiah memulai ikhtiar pemaknaan. 

Membaca tanpa disadari ialah aktivitas di luar kesadaran manusia. Seperti bernapas belaka. Membaca tiada perlu kontrol kesadaran bekerja. Dengan kata lain, membaca merupakan gejala otomatis benak manusia. Mau tidak mau, manusia pasti melakukannya.

Sementara tulisan membutuhkan suatu kecakapan. Suatu kesadaran. Berbeda dengan membaca yang dekat daripada alam bawah sadar manusia, menulis mesti dikontrol, dilatih, dan dibiasakan. Di bawah kesadaran manusia, menulis bisa disebut pekerjaan yang diteknologisasi.

Syahdan, membaca ialah peristiwa yang diarahkan tanpa sadar. Dilakukan dengan cara bebas, otomatis, dan polos belaka. Sementara menulis adalah aktivitas yang diatur sistem sadar manusia, terarah, terkontrol, dan bertujuan.

Membaca membuat manusia lebih intens mencerap apa-apa yang datang daripadanya, masuk melalui internalisasi. Di hadapan saf-saf teks, membaca sepenuhnya pasrah seperti yang apa sudah dituliskan. Diarahkan dan dituntun oleh teks, dan kemudian tujuan akhir daripadanya ialah memaknai, bukan sebaliknya.

Sementara menulis jauh lebih teknis. Menulis selalu membutuhkan pikiran. Kesadaranlah yang mengarahkan teks. Teks sudah selalu dikontrol dan ditata. Dan tujuan akhir daripada menulis bukan pemahaman, melainkan ilmu itu sendiri.

Di zaman sekarang, membaca menjadi lebih krusial akibat berjuta-juta informasi datang silih berganti. Proggresnya kemajuan teknologi informasi mendorong aktifitas membaca bukan lagi sekadar pekerjaan alamiah dan sederhana, melainkan membutuhkan perangkat logis untuk menemukan kebenaran dari segala jenis informasi yang beredar pesat.

Artinya, sebagaimana menulis, membaca juga akhirnya harus dikontrol oleh kesadaran. Membaca juga membutuhkan keteraturan dan keterarahan. Dengan kata lain, membaca bukan lagi aktifitas yang bebas dan otomatis. Membaca sudah harus melibatkan kesadaran yang jauh lebih mawas.

Hal ini perlu dilakukan karena tidak semua informasi yang diterima patut dipercayai. Jika suatu informasi mesti dipercayai, maka disitu mesti ada indikator yang mesti dipakai. Artinya, untuk suatu informasi, dibutuhkan prinsip-prinsip berpikir logis hanya untuk menyatakannya sebagai informasi yang benar.

Kadang, membaca menjadi tindakan yang pilih-pilih. Sebelum seseorang membaca buku misalnya, dia punya kehendak dan pertimbangan sendiri mengapa harus membaca buku bersangkutan, mengapa bukan buku lain? Itu artinya, di balik tindakan membaca, seseorang sudah lebih dulu memiliki kewenangan dalam menentukan bacaannya.

Artinya, jauh lebih utama dan fundamental kesadaran di balik aktifitas membaca oleh karena sebelumnya tindakan berkesadaran itulah yang bakal mempengaruhi konten apa saja yang akan kita terima dari membaca suatu teks.

Namun akan menjadi lain jika dalam tindakan membaca, seseorang tidak melalui momen berkesadaran dalam menentukan teks-teks yang dipilihnya. Akibat ketiadaan “momen kritis” dalam menentukan selera bacaannya, maka seseorang akan dengan mudah digiring oleh apa yang tidak ia pahami dari teks yang dihadapinya.

Kasus merebaknya hoax dan informasi berbau radikalisme merupakan salah satu contoh minus kesadaran masyarakat dalam menjadikannya filter sebelum berhadapan dengan teks. Pasifnya masyarakat ketika menggunakan pemahaman kritisnya inilah sehingga hoax begitu gampang dipercayai dan diyakini. Malangnya, pasca itu, apa yang diyakininya dari informasi hoax dituliskan tanpa memahami dampak sosial yang akan ditimbulkannya.

Hatta, di era kemajuan informasi, saat seluruh informasi gampang digenggam dan berpindah tangan, pemahaman dan kehendak sadar dalam memilih teks yang bernilai akan sangat berpengaruh dalam mengubah kebiasan membaca dan berbagi informasi yang saat ini menjadi “tindakan tanpa sadar” masyarakat saat menggunakan kemajuan media informasi.

Almanak