Wednesday, April 5, 2017 in

Kebangkitan Masyarakat Sontoloyo

Kata sontoloyo pernah populer di tahun 1940-an. Orang yang mengangkatnya menjadi bahasa publik tiada lain adalah presiden pertama Indonesia. Bahkan, Soekarno memadankannya dengan kata Islam dalam artikel yang ditulisnya. Di bawah judul Islam Sontolojo, Soekarno banyak menyitir perilaku ulama dan agamawan yang terlalu fiqih oriented, literer, dan bahkan sempit dalam berwawasan.

Menurut catatan sejarah, Islam Sontoloyo Bung Karno saat itu, juga “diusik” akibat ulah seorang guru agama yang dibui akibat memerkosa murid perempuannya. Kejadian itu dimuat dalam surat kabar Pemandangan 8 April 1940.

Sontoloyo juga punya sejarah unik. Konon sontoloyo adalah nama profesi bagi masyarakat Jawa yang sehari-hari menggembalakan itik atau bebek. Tapi, ada juga yang berpendapat, huruf “s” dalam sontoloyo merupakan plesetan dari kata yang merujuk kepada kelamin laki-laki.  Berdasarkan pengertian ini, sontoloyo sering dipakai untuk merendahkan seseorang yang memiliki “kelaki-lakian” yang lemah (loyo).

Tertanggal 30 Juli 2008 Media Indonesia menurunkan tulisan berjudul Menteri Sontoloyo dalam tajuknya. Tajuk itu membabar sifat plin-plan dan mencla-mencle pejabat negara akibat beragam kepentingan yang memang saat itu adalah tahun politik. Di bulan selanjutnya terbit opini di harian Kompas: Republik Sontoloyo. Tulisan itu jelas sekali meresahkan keadaan negara yang mencemaskan dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi setelah naiknya harga BBM saat itu.

Konyol, tidak beres, bodoh. Begitu arti sontoloyo dalam KBBI. Sebagai bahasa percakapan, sontoloyo dipakai untuk menyebut perilaku yang kurang logis (konyol), tidak etik (tidak beres), dan kurang cerdas (bodoh).

Apabila sontoloyo diperluas menjadi metafora ataupun istilah yang merujuk kepada anomali masyarakat era kiwari, maka banyak gejala yang mencerminkan kebodohan dan kekonyolan.

Pertama, maraknya kelompok masyarakat yang senang dan menyebarluaskan kebodohan dan kekonyolan melalui hoax. Fenomena ini disebut kekonyolan bukan karena ditemukan dalam lapisan masyarakat tidak terdidik, melainkan kelas menengah terdidik yang justru banyak mengalaminya. Anomalinya adalah ambivalensinya kelas menengah sebagai kalangan terdidik dan sikapnya yang menyukai dan menyebarkan hoax.

Kedua, kemunculan generasi mutakhir yang terancam dari segi identitas kebangsaan. Akibat globalisasi dan kemajuan dunia teknologi informasi, identitas kebangsaan mengalami guncangan ketika diterpa berbagai macam nilai kebudayaan luar. Belakangan, munculnya isu warga pribumisasi vs. pendatang ikut turut memperkeruh suasana. Imbas dari krisis identitas, generasi mutakhir lebih banyak menyukai kebudayaan yang berbau kebarat-baratan karena menganggap budaya sendiri sebagai budaya yang kolot dan tradisional.

Ketiga, dampak dari masalah sebelumnya, ikut membentuk ciri masyarakat baru yang bercorak konsumtif. Masyarakat yang dalam kajian sosiologi disebut masyarakat posindustrial ini memiliki ciri-ciri masyarakat yang gemar berbelanja, suka berjalan-jalan ke luar negeri, dan menyenangi waktu senggang dengan menghabiskannya di mal-mal atau café-café.

Keempat, semakin naifnya masyarakat dalam mengekspresikan pilihan politiknya hanya akibat perbedaan-perbedaan kecil dibanding masalah yang sebenarnya. Politik yang sebenarnya harus digerakkan pilihan rasional, gagasan, program kebijakan dsb., malah lebih mudah digerakkan oleh isu-isu rasial dan keagamaan. Model demokrasi yang demikian tidak akan membawa Indonesia ke model masyarakat yang lebih baik akibat cara mengekspresikan pilihan politiknya yang kurang dewasa.

Kelima, merebaknya fundamentalisme keagamaan yang didorong pemahaman keagamaan ekstrim. Kehidupan antara warga yang kuat mengikat dirinya dalam perbedaan dan kemajemukan, akibat pemahaman yang mau benar sendiri secara berangsur-angsur meruntuhkan pilar keutuhan yang selama ini dibangun dengan azas-azas toleransi. Eksklusifitas keagamaan yang demikian, cepat atau lambat akan mengancam keutuhan bangsa dan bernegara dengan cara menghadap-hadapkan isu negara agama versus agama sekuler.

Keenam, masih menguatnya cara berpikir dualistik yang memperhadapkan pilihan-pilihan kepada logika hitam putih. Tradisional-modern, islam-non muslim, barat-timur, rasional-irasional, pribumi-non pribumi dls., adalah beberapa hal yang seringkali dipertentangkan tanpa bisa melihat alternatif lain dengan car berpikir dialektis dan kontekstual.

Ketujuh, kedelapan dst., merupakan persoalan-persoalan yang bisa Anda kembangkan dengan tanpa melepaskan kebodohan dan kekonyolan sebagai indikatornya. Di sekitar Anda pasti banyak masalah-masalah yang bisa disebut cara berpikir, pilihan, perilaku, kebiasaan yang disebut konyol dan bodoh.

Syahdan, jika Anda kesulitan menyebut tiga persoalan yang mencerminkan kebodohan dan kekonyolan, dan tidak beres, maka jangan-jangan Anda bagian dari bangkitnya masyarakat sontoloyo.

---

Nb: Korupsi di kalangan elit ataupun di hampir setiap level instansi salah satu contoh kebodohan dan kekonyolan yang tidak pernah berhenti dibicarakan. Juga, yang paling konyol adalah memori kolektif masyarakat kita yang terbilang pendek, sehingga susah menimba pelajaran dari masa lalunya yang bergelimang persoalan hingga kini.    

---

Sumber rujukan:
1. bumisaloka.wordpress.com
2. nenekmoyang28.blogspot.co.id
3. opini.wordpress.com

Literasi populer