10 April 2017

Empat Penjara Ali Syariati

Ali Syariati membilangkan, manusia dalam masyarakat selalu dirundung soal. Terutama bagi yang disebutnya empat penjara manusia. Bagai katak dalam tempurung, bagi yang tidak mampu mengenali empat penjara, dan berusaha untuk keluar membebaskan diri, maka secara eksistensial manusia hanya menjadi benda-benda yang tergeletak begitu saja di hamparan realitas.

Itulah sebabnya, manusia mesti “menjadi”. Human is becoming. Begitu pendakuan Ali Syariati. Kemampuan “menjadi” ini sekaligus menjadi dasar penjelasan filsafat gerak Ali Syariati. Manusia, bukan benda-benda yang kehabisan ruang, berhenti dalam satu akhir. Dengan kata lain, manusia mesti melampaui perbatasan materialnya, menjangkau ruang di balik “ruang”; alam potensial yang mengandung beragam kemungkinan.

Alam material manusia dalam peradaban manusia senantiasa membentuk konfigurasi dan dimensi dari ikatan-ikatan sosialnya. Hubungan manusia dengan sesamanya dalam kurun waktu tertentu akan membentuk kebiasaan-kebiasaan, tradisi, kemudian menjadi budaya. Selama kurun waktu itu pula manusia beserta masyarakatnya mengalami ruang dan beragam waktu, dan pada akhirnya menemukan dirinya sebagai mahluk yang mengalami sejarah. Alam tempat manusia hidup, memiliki hukum-hukum kausalistik yang sering disalahartikan manusia. Akibat manusia tidak mampu “memanfaatkan” hukum-hukum alam, manusia bisa terjebak di dalam silih bergantinya situasi alam. Ego, sebagai hasrat bawaan manusia, ibarat kuda liar yang mesti diarahkan jika ingin melihatnya berkembang secara normal.

Empat penjara ini (alam, sejarah, masyarakat dan ego) sebagaimana yang disebutkan Ali Syariati hanya bisa dilampaui dengan tiga potensialitas yang dikandung manusia. Empat potensialitas ini sekaligus menjadi “energi positif” bagi gerak maju manusia sebagai mahluk yang “menjadi”.

Pertama adalah potensi manusia dalam wujud kesadaran. Filsuf-filsuf membilangkan kesadaran yang paling fundamental adalah kesadaran manusia atas dirinya. Melalui kesadaran ini, manusia “memperluas” kesadarannya dalam mempersepsi dunia dan hubungan kesadarannya dengan dunianya. Kesadaran diri, dengan kata lain adalah “kesadaran pertama” yang menjadi dasar manusia ketika membangun pemahamannya terhadap realitas apa saja yang dipersepsi dan dipikirkannya.

Kedua yakni potensialitas kehendak bebas. Sebagaimana kesadaran, kehendak bebas adalah potensi yang hanya dimiliki manusia. Tiada mahluk selain manusia yang memilikinya. Kehendak bebas memberikan peluang manusia untuk berkemampuan dalam menentukan pilihannya. Letak keistimewaan kehendak bebas adalah kemampuannya dalam menentukan pilihan yang berbeda dan mampu melawan dari kecenderungan-kecenderungan bilologis, alam, masyarakat, maupun dorongan psikologisnya. Dengan kemampuan yang dimiliki dari kehendak bebaslah yang ketika digunakan akan mampu mentransformasikan manusia tidak sekadar benda-benda, melainkan mampu melewati kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi kecenderungannya.

Potensialitas yang ketiga adalah daya kreasi. Dengan potensi ini, manusia bisa menciptakan apa saja: mulai dari hal-hal sederhana sampai teknologi canggih masa kini. Peradaban bisa sampai pada wujudnya sekarang akibat dari daya kreatif manusia dalam mengeksplorasi temuan-temuannya dan mengembangkannya sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Pencapaian-pencapaian yang sudah dimiliki manusia melalui seni dan kebudayaan, misalnya, tidak lain merupakan cipta karsa daya cipta yang bertujuan memenuhi kebutuhan spiritual manusia.

Ketiga potensi yang dimiliki manusia, disebut Ali Syariati sebagai atribut ketuhanan yang diberikan Tuhan sebagai modal penting dalam mengembangkan dirinya serta kehidupannya. Melalui tiga potensi inilah manusia dituntut untuk mengembangkan cara beradanya demi keluar dari empat penjara manusia.

Dengan kesadarannya  manusia mampu membebaskan diri dari alam dengan kemampuan berpikirnya dengan cara mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengembangkannya dengan maksud memanfaatkan dan menjaga kehidupan beserta segala isinya. Dengan itu manusia juga harus membebaskan diri dari kecenderungan masyarakatnya yang deterministik dengan mendalami ilmu-ilmu sosial dan hukum-hukum perkembangan masyarakat agar tidak terjebak dari bayang-bayang sejarah. Melalui itu pula manusia menjadi mahluk yang mampu memproyeksikan sejarah masa depannya berdasarkan ukuran-ukuran yang dianggap ideal.

Manusia juga mesti melepaskan dirinya dari ego sebagai penjara yang paling inheren dalam eksistensi manusia. Melalui kesadaran dan kehendak bebas manusia bisa saja melampaui tiga penjara yang berada di luar wujudnya, tapi bagi penjara ego, menurut Ali Syariati tiada lain hanya dengan cinta sebagai kekuatan pembebasnya.

Cinta yang dimaksudkan Ali Syariati adalah cinta yang mampu membawa manusia kepada nilai pengorbanan untuk memajukan diri dan peradabannya. Tidak sekadar cinta Platonik maupun mistikus yang tenggelam dalam kefanaan tanpa memiliki kehendak untuk melihat realitas kehidupan tempat di mana dia hidup. Cinta, dalam pengertian Ali Syariati, singkatnya adalah cinta yang aktif menyongsong kehidupan dan mau masuk terlibat di dalamnya sebagai manusia seutuhnya.