Wednesday, March 22, 2017 in , , ,

Memahami Seni Memahami: Pengantar ke Hermeneutika Friedrich Schleiermacher

---catatan singkat atas Seni Memahaminya F. Budi Hardiman

Manusia mahluk simbolik. Begitu pendakuan scholar kebudayaan. Bahkan Clifford Geertz, antropolog abad 20 menyatakan, manusia adalah mahluk yang tidak lepas dari jebakan simbol. Lebih radikal lagi, Gertz mengatakan manusia dalam kehidupannya senantiasa dijerat makna-makna.

Itu artinya secara sosiologis interaksi manusia tidak terlepas dari cara mereka menangkap makna. Bagaimana diartikan dan diaplikasikan melalui hubungan tingkah laku antara sesama. Dengan kata lain, interaksi manusia hanya mampu dimungkinkan jika diperantai makna. Tanpa makna, hampir semua hubungan manusia dalam masyarakat mengalami defisit eksistensi dan tanpa arti.

Makna sebagai satuan pengikat yang memperantai komunikasi antar individu, komunitas, bangsa, agama, ras, kebudayaan dlsb., sangat rentan mengalami bias yang mendatangkan kesalahpemahaman. Disebabkan bentuk, tingkatan, situasi, tradisi, tempat, waktu, dan latar belakang pengetahuan, pemahaman begitu krusial dipertahankan akibat keadaan yang tidak sepadan. Itulah sebabnya, “memahami” sebagai konsep ideal dalam praktik keseharian begitu penting dibutuhkan.

Karena itu, melalui tulisan ini, memahami sebagai diskursus ataupun wacana akan mengambil percik pikiran Schleiermacher tentang hermeneutika demi kebutuhan membangun cara pandang baru dalam memahami kehidupan beserta dinamikanya.

Apa itu hermeneutika?

Secara etimologik, hermeneutika terkait dengan Hermes, tokoh mitologi Yunani yang bertindak sebagai utusan dewa-dewa dalam menyampaikan pesan ilahi kepada manusia. Sebagai perantara pesan bahasa dewa-dewa kepada alam berpikir manusia, Hermes memiliki keahlian memahami bahasa dewa-dewa dan kemudian menerjemahkan maksud yang diinginkan dewa-dewa dengan ungkapan bahasa manusia.

Kemampuan memahami yang dimiliki Hermes dinyatakan F.Budi Hardiman memiliki kerumitan tersendiri. Pertama, pihak yang menyampaikan pesan harus memahami pesan yang dibawanya. Kedua, agar maksud pesan dapat disampaikan, sang pembawa pesan harus membuat artikulasi yang sesuai dengan maksud pemberi pesan. Kesenjangan yang terbentang antara pemberi pesan, penyampai pesan, dan penerima pesan inilah yang nantinya menjadi medan kerja hermeneutika.

Sementara apabila diasalkan kepada arti Yunaninya, hermenueuein, hermeneutika berarti “menerjemahkan” atau “bertindak sebagai penafsir”. Di dalam kegiatan yang bersinggungan dengan teks, hermeneutika berarti kegiatan mengungkap dan menyingkap makna sebuah teks. Sementara yang dipahami teks di sini adalah jejaring makna atau struktur simbol-simbol yang tertuang entah dalam bentuk teks ataupun bentuk lainnya.

Dengan kata lain, sebagai sebuah jejaring makna, teks juga dapat diartikan dalam bentuk sikap, perilaku, tindakan, norma, benda kebudayaan, hukum, ideologi, dlsb.  Sebagai sebuah makna yang ditangkap manusia, semua yang disebutkan sebelumnya, bahkan kebudayaan, agama, politik, masyarakat, dan negara adalah teks itu sendiri.

Biografi singkat

Pendakuan Schleiermacher sebagai filsuf masih agak rentan mengingat tradisi pemikirannya yang dibangun dalam tradisi teologi kristiani. F. Budi Hardiman dalam suatu ceramahnya bahkan menyebut tokoh ini sebagai teolog dibanding filsuf. Tapi, mengingat kiprahnya membangun hermeneutika lepas dari tradisi eksegesis dan filologi, dan membuatnya menjadi pendekatan yang lebih univesal, belakangan akan banyak mempengaruhi filsuf-filsuf abad 20.

Schleiermacher adalah anak  seorang pendeta tentara di Silesia Utara. Kedua orang kakeknya juga pendeta. Ayahnya yang memiliki kecenderungan pietis (gerakan yang menekankan doktrin alkitabiah, kesalehan pribadi, dan kehidupan Kristen yang berkobar-kobar) yang kuat, mengirimnya ke seminar Moravian di Barby dengan harapan supaya segala kecenderungan ini akan bertambah berkembang di dalam diri anaknya.

Schleiermacher disebutkan tidak pernah menulis suatu traktat sistematik tentang hermeneutika. Tapi melalui dua ceramah di depan Akademi Prussia dan catatan-catatan pinggirnya, Schleiermacher telah meletakkan dasar-dasar hermeneutika modern.

Perlu digarisbawahi, sampai saat ini belum ada teks terjemahan Jerman tentang karya Platon sebaik hasil terjemahan Schleiermacher. Melalui aktifitas penerjemahan ini, Schleiermacher banyak terinspirasi pemikiran-pemikiran Platon. Melalui konteks ini pula, hermeneutika yang dikembangkannya sedikit banyak dipengaruhi cara berpikir Platonian. Di satu sisi, idealisme Jerman terutama melalui pikiran-pikiran Schelling, Fitche, dan Hegel, juga memberikan warna tertentu dalam pemikiran Schleiermacher.

Schleiermacher mengambil studi teologi, filsafat, dan filologi di Halle (kemudian menjadi pusat pemikiran radikal di Jerman) dan pertama kalinya membaca filsafat kritis Kant. Schleiermacher juga bergabung di perkumpulan para penulis dan pujangga Romantik ketika sekembalinya dari Berlin. Disinyalir melalui kelompok ini, pandangan romantik Schleiermacher semakin tajam dan banyak menolak ide-ide pencerahan yang menekankan rasio jauh lebih utama dari misteri, imajinasi, serta intuisi.

Melalui gerakan romantik, minat Schleiermacher mulai memperhatikan hermeneutika sebagai suatu kajian. Di bawah kerinduan atas ajaran kebijaksanaan kuno dalam tradisi mitos dan agama, hermeneutika Schleiermacher di satu sisi adalah suatu kegiatan penafsiran teks untuk menemukan “isi” atau “inti sari” yang bersifat nonrasional/psikologistis.

Hermeneutika: seni memahami

Situasi mendasar hermeneutika Schleiermacher bukan pemahaman, melainkan kesalahpahaman. Artinya, dalam situasi yang majemuk dan beragam kebudayaan, tradisi, cara hidup, pandangan dunia, sistem moral dlsb., adalah medan hermeneutika Schleiermacher. Bahkan, kesalahpamahan yang lumrah terjadi bukan saja ditengarai akibat perbedaan konteks waktu dan tempat, melainkan prasangka yang lebih mementingkan perspektif pribadi dibanding memahami kawan bicara.

Di situasi itu dibutuhkan seni memahami. Seni di sini diandaikan sebagai suatu keahlian khusus, kemahiran, atau kepiawaian sebagaimana orang-orang yang memiliki kualitas dan “kelincahan” tertentu dalam satu bidang.

F. Budi Hardiman menuliskan dua hal mengapa hermeneutika disebut seni memahami. Pertama, karena dasar situasi yang mengalami kesenjangan kepahaman sehingga membutuhkan kecakapan khusus untuk memahami.  Kedua, di situasi itu, keadaan membangun pemahaman tidak dialami secara spontan, melainkan perlu menerapakan kaidah-kaidah tertentu.

Rekonsepsi: hermeneutika universal

Schleiermacher meyakini prinsip-prinsip penafsiran dapat diperluas di luar dari teks-teks yang disakralkan. Sejauh bahasa memiliki tata aturan gramatik yang memungkinkan penarikan makna atasnya, pembedaan teks suci dan tidak suci tidak lagi relevan bagi Schleiermacher.

Berbeda dari prinsip hermeneutika filologi yang concern terhadap teks-teks kuno, dan eksegesis biblikal yang mendasari penafsiran hanya berlaku di dalam teks-teks sakral, Schleiermacher meradikalkan kegiatan penafsiran ke dalam teks-teks yang jauh lebih umum.

Imbas prinsip hermeneutika yang melihat adanya hukum gramatikal yang tidak banyak berbeda dari semua teks, Schleiermacher menekankan arah baru kegiatan penafsiran jauh lebih luas dari para pendahulunya. F. Budi Hardiman menyebutnya hermeneutika universal.

Sebelumnya kegiatan hermeneutis dalam teks-teks kuno maupun dalam kegiatan eksegesis hanya bertujuan untuk menemukan makna mendasar yang menjadi latar belakang suatu kebudayaan (kesadaran kolektif, roh, volksgeits, seitgeits). Dilatari semangat idealistik demikian, kegiatan hermeneutik juga berusaha menjangkau relasi pikiran subjektif yang ditunjukkan dari ungkapan, pikiran, minat, pandangan dunia dengan akal budi bersama yang dipadatkan dalam akal universal. Kelak Schleiermacher mengembangkan model ini melalui prinsip “lingkaran hermeneutis”.

Cara di atas juga dilengkapi dengan menempatkan kegiatan mengintrepetasi sebagai tindakan dialogis antara penafsir dengan penulis teks. Bentuk komunikasi yang diandaikan melalui kegiatan membaca teks dan dengan “membayangkan” alam pikiran penulisnya, disebutkan sebagai proses kreatif yang tidak sekadar menganalisis kata. 

Empati

Salah satu konsep inti dari hermeneutika Schleiermacher adalah divinatory, yakni kemampuan subjektif seseorang untuk menyeberangi dan masuk ke dalam alam pemikir si penulis teks. Konsep yang dibilangkan bercorak psikologistik ini mengandaikan kegiatan menafsirkan berarti masuk ke dimensi pikiran, batin, dan kejiwaan untuk sekaligus menemukan latar belakang apa yang mendasari si penulis teks menuliskan isi pikirannya.

Dalam situasi ini, berempati adalah model pengoperasian divinatory untuk mau masuk ke dalam cakrawala pikiran dan batin si penulis teks. Kegiatan mengintrepetasi teks melalui alam berpikir penulisnya ini lebih menekankan aspek-aspek di luar teks akibat lebih banyak menyorot sisi subjektif penulisnya.

Divinatory ini sepadan dengan pengertian intuisi yang terinspirasi dari Platon. Dengan kata lain, ketika aktifitas ini diterapkan dalam hermeneutika Schleiermacher, itu berarti menafsirkan adalah mengabstraksi (meramal, membayangkan) kembali latar belakang penulis teks entah itu situasi apa, pemikiran apa, dalam momen apa, melalui cara apa, dlsb., ketika penulis menurunkan isi pikirannya menjadi suatu teks. Hermeneutika Schleiermacher menyebut cara ini sebagai empati psikologis.

Tapi, empati psikologis juga harus dijalankan bersamaan dengan interpretasi gramatikal sebagai satu kesatuan kegiatan hermeneutis. Tanpa itu, maka kegiatan menafsirkan hanya akan bertolak belaka kepada “dunia pikiran penulisnya” tanpa memerhatikan teks penulis yang bagi Schleiermacher adalah dua hal yang setara. Artinya, tanpa interpretasi gramatikal (objektif), intrepetasi psikologis tidak akan memberikan pandangan yang bisa dibilang utuh. 

Dengan dua model ini, maka pemahaman bagi Schleiermacher adalah menghadirkan kembali dunia mental penulis teks. F. Budi Hardiman menyebutnya sebagai suatu usaha merekonstruksi kembali pegalaman mental pengarang. Dengan kata lain ada transposisi, yakni penafsir demi pemahaman, mesti menempatkan dirinya seolah-olah menjadi sang pengarang dalam melihat dan menuliskan teksnya dalam pengalaman tertentu yang khas.

Lingkaran hermeneutis

“Kita memahami bahasa lewat pemakainya, tetapi pemakai bahasa dapat dipahami lewat bahasa yang dipakainya”. Pendakuan ini dipakai Hardiman untuk memutuskan lingkaran setan yang mengakui isi pikiran pengarang jauh lebih utama daripada teksnya, atau sebaliknya, teks jauh lebih penting dari isi pikiran pengarang ketika menuliskan karyanya.

Schleiermacher menekankan dua model interpretasi (gramatikal dan psikologis) dalam keadaan yang saling mengandaikan dan mengisi. Maksudnya, tidak ada hubungan kausalistik yang saling menegasi, dua-duanya setara dan utama. Kesetaraan antara dua model inilah yang disebut lingkaran hermeneutis (hermeneutischer zirkel).

Dalam konteks interpretasi teks, lingkaran hermeneutika bekerja dengan pemahaman atas pengarang melalui teksnya (gramatikal), dan sekaligus memahami teks melalui kepribadian pengarangnya (psikologis).   Inilah yang sebelumnya disebut hubungan cafĂ© dialektika, yakni untuk memahami sebagian melalui keseluruhan, dan juga mengetahui keseluruhan dari bagian-bagiannya.

Melawan literalisme

Literalisme adalah pemahaman terhadap teks yang hanya didasarkan atas makna harfiah belaka. Dalam keyakinan agama-agama, selain sebab lainnya, literalisme banyak bersinggungan langsung dengan aksi-aksi kekerasan. Bahkan aksi kekerasan yang diistilahkan dengan ekstremisme agama, disebabkan akibat cara pandang literalis yang hanya mengakui penafsiran dari “permukaan” teks belaka.

Imbas cara memahami teks dari “permukaan”, literalisme dengan sendirinya menolak berbagai penafsiran. Secara pemaknaan, literalisme hanya mengakui satu pengertian tunggal dari apa yang sudah dikatakan teks secara harfiah. Maka, konsekuensinya terhadap kebenaran, literalisme hanya mengakui satu penafsiran tunggal selain dari kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lainnya.

F. Budi Hardiman melalui Seni Memahaminya menyatakan model hermeneutika Schleiermacher adalah cara memahami teks yang “melawan” literalisme. Membaca teks apa adanya seperti ditemukan dalam literalisme bukanlah metode hermeneutika Schleiermacher yang menawarkan cara membaca teks (kalimat) di antara teks (kalimat). Strategi pemahaman di antara teks ini memungkinkan untuk masuk ke dalam dunia penulis dan konteks kehidupannya yang secara tersembunyi tidak dinyatakan langsung di dalam teks yang ada.

Itu artinya sebuah teks tidak dapat dengan sendirinya menjelaskan dirinya. Di sana pemahaman mesti menangkap “sesuatu” yang lain di luar teks, yakni bangunan mental pengarang (serta konteks kehidupannya) dan juga teks-teks berkaitan, yang membentuk pengertian jauh lebih luas.

Dengan pendekatan interpretasi psikologis dan interpretasi gramatikal, memungkinkan pemahaman menangkap keluasan konteks dari bagaimana teks dibaca sebagai suatu anyaman yang saling berkaitan. Juga, melalui prinsip “keseluruhan dan sebagian” teks akhirnya menjadi dialektis yang berarti membuka pengertian-pengertian jauh lebih variatif daripada makna teks apa adanya

---

Sebagian besar ide tulisan ini diambil dari buku Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman, termasuk kutipan di dalamnya. Juga pada bagian yang menjelaskan biografi, penulis mengambilnya dari www.biokristi.sabda.org

---

Disampaikan pada program diskusi Membaca Cafe Dialektika 21 Maret 2017

Literasi populer