12 February 2017

Memahami Seni Memahami (catatan ringkas atas Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman)

Saya merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami-nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat yang mendesak di kehidupan saat ini. 

Pertimbanganya tentu buku ini memberikan peluang bagi pembaca untuk mendapatkan pemahaman bagaimana "memahami" bukan sekadar urusan sederhana belaka. Apalagi, ketika beragam perbedaan yang kerap muncul, "seni memahami" dirasa perlu dibaca siapa saja terutama yang kritis melihat situasi sosial sebagai medan yang mudah retak. 

Seni memahami, walaupun itu buku filsafat, bisa diterapkan di dalam cara pandang kita terhadap interaksi antar umat manusia sehari-hari.  

Hal ini juga seperti yang disampaikan Budiman, buku ini berusaha memberikan suatu pengertian baru tentang relasi antara manusia yang mengalami disorientasi di alam demokrasi abad 21. 

Begitu pula fenomena fundamentalisme dan kasus-kasus kekerasan atas agama dan ras, yang  mengalami mispengertian imbas penafsiran atas teks yang terlalu literer, melalui pemikiran tentang seni memahami, menjadi salah satu motivasi mengapa buku ini harus menjadi bacaan wajib bagi siapa pun. 

Seni memahami yang diandaikan Hardiman senantiasa bertolak dari teks sebagai basis materialnya. Artinya, melalui konteks pemikiran tokoh-tokoh filsafat yang diulas di dalamnya, teks menjadi sasaran utama bagaimana “memahami” dapat dimungkinkan.

Teks ataupun bahasa, di era seperti yang didakukan Alvin Toffler menjadi indikator utama dalam milenium ke tiga sebagai kebutuhan mendasar masyarakat. Dengan  dan melalui teks ataupun bahasa, informasi menjadi perantara kesalingpengertian antara manusia. Dengan kata lain, kesalingpengertian atau sebaliknya, sangat ditentukan oleh informasi yang menghubungkan interaksi masyarakat.

Bahasa ataupun teks sebagai medium makna, tidak selamanya mampu memberikan pengertian yang sama di antara beragam latar belakang masyarakat. Sekalipun teks ataupun bahasa itu menunjukkan makna yang terang, perbedaan mungkin saja muncul akibat cara merespon dan menghayati informasi yang bersangkutan.

Lantas, sampai di sini apakah yang dimaksud “memahami”? Apakah itu sama dengan arti memahami dalam kehidupan sehari-hari? Jika bukan, apa perbedaannya?

Memahami, berbeda dari mengetahui. Begitu ungkap Hardiman di bagian pendahuluan bukunya. Memahami disebutkan Hardiman sebagai kemampuan manusia untuk menjangkau sesuatu yang dialami orang lain. Itu berarti tidak semua pengetahuan yang ditujukan kepada orang lain, identik dengan memahami. Orang bisa saja memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum tentu banyak memahami.

Memahami dengan begitu “keterlibatan pribadi dan tidak bisa diraih semata-mata dengan sikap berjarak”. Secara epistemologis, memahami bukan ditujukan untuk memperoleh “data”, melainkan “makna”. Di sini akhirnya jelas. Pengetahuan senantiasa menangkap “data”, sementara memahami lebih jauh dari itu berusama menangkap “makna”.

Akibat kedalamannya, memahami juga senantiasa melibatkan dimensi personal maupun interpersonal. Sementara melibatkan dimensi personal, sama artinya memungkinkan keterbukaan di dalamnya. Maka tiada teks yang secara monolit menutup diri dari pemaknaan. Begitu pula secara sosial, pemahaman berarti harus mengandaikan dua pihak yang saling terbuka.

Di dalam keterbukaan itulah aktivitas saling membaca dapat direalisasi. Bertukartangkap dari “kedalaman” masing-masing, kemudian membangun pengertian yang sama-sama lahir dari aktivitas dialog yang dilakukan dua pihak.

Akivitas membaca dengan sendirinya merupakan aktivitas pertama untuk saling memahami. Tanpa itu mustahil kegiatan ini dapat diberlangsungkan.

Memahami dalam kajian filosofis merupakan tema sentral dalam hermeneutika. Bahkan memahami itu sendiri merupakan tindakan hermeneutik. Hermeneutika dalam pengertian yang diberikan Hardiman merupakan kancah yang luas. Hal ini akibat betapa hermeneutika bukan ilmu yang defenitif sebagaimana paras keilmuan yang lain. Setidaknya, sejauh berdasarkan delapan pemikir hermeneutika modern, ilmu ini memiliki beragam pengertian berdasarkan tokoh-tokohnya.

Saya enggan memberikan penjelasan dari kedelapan pemikir hermeneutika yang diajukan Seni Memahami-nya Budiman. Selain tidak tersedianya waktu yang cukup, biarlah itu urusan pembaca untuk mencari tahunya lebih langsung.

Tapi, saya ingin menyoroti dua tema sentral dari dua pemikir hermeneutika yang diulas di bagian terakhir buku ini.  Atas pertimbangan dua pemikir ini memiliki dua kunci pemikiran yang berharga bagi arus balik gejala fundamentalisme dan radikalisme kebenaran yang tak memberikan peluang bagi lahirnya tafsir pengertian yang lebih humanis.

Yang pertama adalah Paul Ricoeur. Pemikir Perancis ini mengandaikan kegiatan hermeneutika sebagai cara menafsirkan teks sekaligus cara kenyataan dipahami di luar dari teks itu sendiri. Bagi Ricoeur, memahami teks tidak semata-mata merujuk di dalam teks, melainkan dunia di luar teks.

Dalam memahami teks, Ricoeur menyatakan refleksi sebagai hal yang penting dalam kegiatan hermeneutis. Melalui kegiatan refleksi, teks bukan satu-satunya sumber pemaknaan, melainkan dari teks itu sendiri juga mencerminkan makna hidup manusia. Dengan memahami teks, itu berarti jalan untuk memahami kehidupan.

Ricoeur juga menyatakan tanpa peran logos yang diperantai refleksi, kegiatan hermeneutis akan gagal menemukan makna baru yang bermanfaat bagi kehidupan.

Peran hermeneutis yang didasarkan atas peran logos melalui refleksi ini, merupakan bentuk “kesangsian” terhadap teks-teks sakral maupun simbol-simbol. Menurut Ricoeur, kesangsian ini dilakukan sebelum “memercayai” teks-teks sakral secara kritis yang akan dimediasi oleh logos. Ini berarti, memahami merupakan tindakan paling awal sebelum kepercayaan itu sendiri.

Konsep kunci dari Ricoeur adalah korelasi antara “memahami dan menjelaskan”. Memahami dan menjelaskan dalam pemahaman Ricoeur hanya bisa dibedakan melalui  “penjarakan” sebagai konsep yang ditemui dalam hermeneutikanya. Distansiasi atau pengambilan jarak terjadi ketika seseorang menjelaskan teks yang sebelumnya mengambil bagian di dalamnya dengan sikap memahami. Di sini memahami berarti keterlibatan di dalam teks dengan menafsirkan, sementara menjelaskan merupakan kegiatan yang merefleksikan dan menganalis teks.

Di dalam kegiatan pemaknaan, distansi dianggap perlu bagi Ricoeur agar penafsir memiliki peluang memberikan makna baru yang tidak harus disesuaikan dan berkewajiban dengan maksud penulis teks. Ini sekaligus perbedaannya dengan Gadamer yang tidak mengindahkan distansiasi karena membuat penafsir berjarak dan sekaligus terasing dengan maksud penulis teks itu sebenarnya. 

Dengan sikap demikian, teks bagi Ricoeur adalah otonom. Penjarakan yang mengakibatkan teks dan penulis teks adalah sebab mengapa teks akhirnya mampu otonom dari “maksud” penulis teks. Ini juga merupakan upaya Ricoeur mengobyektifkan teks dari kegiatan pemaknaan yang bersumber dari penulis teks.  Implikasinya, makna dengan sendirinya bukan berada “di belakang” teks yang harus disesuaikan dengan maksud penulis teks, melainkan seperti yang diungkapkan Budiman, berada terang “di depan” teks yang kemudian menyingkap diri dihadapan pembaca.

Apabila mengacu ke dalam pemikiran Ricoeur, terutama bagaimana dia menempatkan hermeneutika bukan saja semata-mata kegiatan menafsirkan teks, melainkan juga kehidupan itu sendiri, maka kegiatan itu juga dapat ditarik kedalam problem merebaknya metode penafsiran atas teks yang selama ini cenderung memandirikan teks bagi konteks saat ini. Terutama penafsiran-penafsiran teks-teks keagamaan yang seringkali melahirkan penafsiran telanjang tanpa mempertimbangkan maknanya bagi konteks kehidupan itu sendiri.

Konsep refleksi yang ditawarkan Ricoeur juga menjadi penting bagi kegiatan menafsirkan karena dengan cara itu memungkinkan pemaknaan atas teks tidak serta merta dilahirkan atas keyakinan yang buta. Refleksi dalam hermeneutika Ricoeur adalah konsep yang penting karena melalui itu teks dapat dijadikan media untuk memahami makna kehidupan itu sendiri.

Refleksi juga memberikan peluang bagi perang logos agar mampu memberikan input kritis bagi kegiatan pemaknaan terhadap teks. Jika pengertian ini diterapkan ke dalam teks-teks kitab suci, terutama yang bercerita tentang iman, refleksi dapat menjadi cara untuk meningkatkan iman itu sendiri dengan cara “menaifkan” secara kritis. Sebagaimana iman yang baik selalu lahir dari kritisisme, maka “menaifkan” secara kritis teks-teks suci juga cara Ricoeur menawarkan cara mengimani teks dengan cara yang lebih kritis.

Konsep relasi “memahami dan menjelaskan” apabila digunakan sebagai pendekatan dalam memahami teks-teks sakral akan memberikan suatu cara memahami yang sebelumnya menempatkan peran logos di dalamnya. Melalui cara itu, penafsiran yang lahir dari memahami teks akan jauh lebih berkembang akibat tidak selalu mengikuti makna literlet yang dikandung teks itu sendiri. Hal ini tentu berkesesuaian dengan “distansiasi” yang bagi Ricoeur memberikan “keleluasan” bagi penafsir untuk menemukan makna baru tinimbang “di situasikan” sebagaimana makna yang sudah dimaksudkan penulis teks di belakangnya.

Pemikir yang kedua adalah Derrida. Walaupun dikatakan Hardiman ada kesan pemaksaan memasukkan Derrida sebagai bagian dari pemikiran tokoh yang mendaras hermeneutika, namun setidaknya ada satu alasan yang dikemukakan Hardiman mengapa pemikiran Derrida terutama melalui dekonstruksinya dikategorikan sebagai hermeneutika.

Disebutkan Hardiman, dekonstruksi yang merupakan salah satu konsep kunci Derrida, mengandaikan suatu tindakan interpretasi yang dilakukan secara radikal. Hardiman menyebut hermeneutika Derrida dengan sebutan “hermeneutika radikal”. Bagaimana itu mungkin?

Pertama, seperti yang sudah dijelaskan (hal278-282) dekonstruksi berbeda dari konsep-konsep yang dikemukakan pemikir hermeneutika sebelumnya. Jika dari Schleiermacher sampai Gadamer, hermeneutika bertujuan untuk membangun kembali makna asli atau memproduksi makna baru sesuai dengan horizon yang baru, maka dekonstruksi Derrida justru bukan dalam rangka memproduksi atau merekonstruksi kembali makna yang sudah ada. Dengan kata lain, dekonstruksi bukan untuk memahami susunan makna yang ditemukan di dalam atau di balik teks, melainkan menunda makna apa pun yang dapat diputuskan dalam suatu teks.

Kedua, sebagai kegiatan menafsirkan, dekonstruksi memberikan peluang yang besar kepada penafsir kepada “the other meaning” agar dapat dipertimbangkan sebagai makna yang baru dari makna yang ditunda. Artinya, kegiatan menunda dan “memagari” makna yang dimungkinkan dalam dekonstruksi bukan dalam rangkan memahami teks lewat “ketunggalan” makna, melainkan lebih kepada pengelolahan makna-makna yang beragam.

Saya kutipkan langsung apa yang dikatakan Hardiman tentang hermeneutika radikal Derrida: “dekonstruksi merupakan sebuah hermeneutik radikal karena mengandaikan bukan hanya tiadanya makna primordial yang dicari dalam interpretasi, melainkan juga menunjukkan tidak mungkinnya koherensi makna suatu teks, sehingga interpretasi bergerak sampai tak terhingga”.

Makna hermeneutika radikal Derrida menjadi jelas melalui konsep kunci Derrida lainnya yaitu differance. Kata ini tidak ada dalam kamus bahasa Perancis. Itulah sebabnya disebutkan Budiman, kata ini tidak dapat disebut konsep akibat tidak tersedianya pengertian harfiah yang diberikan kamus bahasa Perancis. Budiman menyebut differance sebagai nir-kata.

Differance disebutkan Budiman mengandung dua hal; pembedaan (spasialisasi) dan penangguhan (temporalisasi). Ini disebabkan menurut Derrida, differance tidak dapat dituturkan dengan mehilangkan pembedaan tulisan yang ditemukan dalam dan antara kata differance dan difference.  Derrida menyatakan: “differance harus dipahami mendahului pemisahan antara “deffering” sebagai penangguhan dan “differing” sebagai karya aktif pembedaan. Artinya ketika differance  harus dimaknai sebagai suatu konsep, maka dia semata-mata mengandung dua arti sekaligus, yakni membedakan dan menangguhkan.

Dengan begitu kegiatan hermeneutika melalui konsep differance merupakan suatu cara memahami teks melalui aktifitas menunda datangnya makna dengan cara membedakan namun sekaligus tanpa memutuskan atau menilainya. 

Apabila mengacu kepada kebudayaan dan tradisi yang dibentuk gagasan-gagasan yang bersifat oposisi biner semisal rasio-irasional, akal-jiwa, pria-wanita, barat-timur, kultur-nature, dlsb, maka differance dimaksudkan untuk menangguhkan oposisi biner yang membentuk makna di dalamnya, sekaligus tanpa mengambil keputusan untuk menilainya. Ini juga sekaligus kritik Derrida terhadap sistem nilai seluruh kebudayaan yang dibangun atas dasar prinsip opisisi biner.

Singkat kata, hermeneutika radikal Derrida bukan bertujuan untuk menghimpun makna dan menstabilkannya, melainkan suatu cara menafsirkan dengan mendestabilisasi makna yang telah diperkuat otoritas tradisi maupun kebudayaan dengan membebaskannya dari otoritas makna itu sendiri.

Sebagai suatu tujuan untuk menemukan makna, jelas hermeneutika radikal tidak bisa dipakai sebagai suatu pendekatan, tetapi dia justru memberikan suatu jalan lain untuk kembali merenungkan keanekaragaman makna yang mungkin saja hadir dan ikut memperkaya makna itu sendiri. Menurut Madison dalam buku Hardiman, tujuan dekonstruksi “nyatanya adalah menunjukkan bahwa teks-teks filosofis tidak berarti apa yang tampak mereka artikan, tidak berarti apa yang para penulis mereka ingin mengartikan mereka (apa yang mereka ‘maksudkan’), nyatanya tidak memiliki arti ‘yang dapat diputuskan’ sama sekali”.

Hatta, saya kira ketika membaca Seni Memahami-nya F. B. Hardiman, memberikan peluang untuk menangkal cara pemahaman atas teks dengan model literalisme. “Keharfiaan” yang menjadi modus pemaknaan dinyatakan Budiman menjadi biang mengapa marak terjadi kekerasan agama belakangan ini. Dan, juga membaca buku ini, setidaknya “memahami” menjadi tindakan penting yang jarang ditemukan di sekitar kita.