Thursday, February 23, 2017 in ,

Literasi Kenangan

Barangkali memang ingatan manusia itu terbatas. Sebab itulah teknologi datang.

Bagi yang menjadikan media sosial sebagai kehidupan keduanya pasti mengalami; suatu pagi di suatu tempat tiba-tiba sebait penggalan "status" datang kembali, atau sebuah gambar yang benar-benar sudah kita lupakan, tiba-tiba menyeruak mengintrogasi ingatan.

Atas itu seketika suatu peristiwa dikenang kembali. Mungkin juga dirayakan kembali. Atau bahkan sudah tidak berarti apa-apa.

Tapi, manusia memang mahluk yang selalu merindukan masa silam. Bahkan, dalam perspektif tertentu "sejarah" yang memiliki tiga bilah waktu, senantiasa memproyeksikan masa depan tanpa bisa menghapus sepenuhnya masa lalu.

Itulah sebabnya, kenangan sangat penting. Di waktu sekarang, ketika masa depan begitu dipuja, kenangan adalah satu-satunya jalan agar manusia tidak lupa: siapa dirinya.

Bagi penyair, kenangan bukan sebatas gejala memori yang menghubungkan ingatan dengan masa lalu, melainkan suatu cara untuk menghadirkan bahasa yang puitik. Di situ kenangan alih-alih bukan ikhwal yang statik, tapi menjadi api dinamis yang menghidupi kehidupan kesastraan sang penyair.

Dalam novel The Sea, John Banville mendenotasikan: masa lalu berdetak di dalam diri saya, berirama bagai jantung kedua (Alwy Rachman dalam Anging Mammiri).

Masa lalu sebagai jantung kedualah yang seyognanya juga harus dialami orang-orang yang setiap detik dikepung gadget. Imbas memori yang dicabut dari diri dan direkam melalui memori buatan, membuat jantung berdetak tanpa "sejarah".

Ibarat penyair, orang-orang yang dikepung gadget harus dihidupi masa lalu sebagai jantung yang benar-benar berdetak dalam diri. Membuatnya menjadi mahluk yang benar-benar hidup "di dalam" kenangannya.

Karena itulah kenangan harus diperjuangkan. Tanpa itu kita akan tenggelam dalam pusara waktu. Era kiwari perjuangan atas kenangan ialah dengan cara melawan musuh tercanggih manusia: teknologi.

Teknologi (facebook dlsb) mungkin saja punya daya menyulut ingatan, tapi itu hanya sebatas citra bahasa, gambar, atau "status". Dengan kata lain itu bukan kenangan.

Kenangan bukan apa yang ditampakkan bahasa dan gambar teknologi. Kenangan tiada lain adalah peristiwa di balik bahasa yang tampak. Segala ikhwal yang "hidup" di balik ingatan.

Karena itulah selain diperjuangkan, kenangan mesti dirayakan, dibesarkan, dan dimerdekakan.

Kala kenangan banyak ditimbun segala macam ingatan, ketika yang "permukaan" lebih banyak mendapat sorotan tinimbang "kedalaman", maka hanya ada satu usaha untuk memerdekakan kenangan: literasi.

Literasi kenangan, sama seperti bahasa Pierre Nora yang mengungkapkan bahwa ingatan adalah saudara kembar sejarah. Ingatan sebagai sejarah juga menemukan legitimasinya dari literasi (Alwy Rachman dalam Anging Mammiri). Itu artinya, literasi adalah jalan kenangan agar terus dapat berjuang melawan lupa (permukaan).


Itulah sebabnya, tiada siapa pun paling menghormati kenangan selain periwayat ingatan. Periwayat ingatan, bukan sekadar menorehkan kembali ingatan, tapi lebih dalam dari itu, meliterasikan kenangan.

Hatta, kala kiwari, kita perlu banyak orang-orang yang mau meriwayatkan kenangannya. Membentuk "monumen kenangannya" di hadapan artefak teknologi yang memangkas kenangan dengan memori buatannya.

Sehingga kita tidak pernah akan benar-benar lupa; dari mana kita berasal, yang semuanya direkam bulat dalam kenangan.

Tapi, mungkin saja banyak orang yang memusuhi pekerjaan meriwayatkan kenangan. Dengan kata lain mereka menolak dengan sendirinya literasi kenangan. Memusuhi segala upaya ketika kenangan diabadikan dalam karya literasi.

Mungkin, di sana banyak cacat, atau luka yang belum sembuh total. Dan, mungkin juga di dalam kenangan orang banyak mengalami kesakitan yang sangat, sebab di situ banyak peristiwa yang kelam dan dendam.

Orang-orang macam inilah yang biasanya di suatu pagi sontak kaget ketika ingatan di masa lalu dimunculkan kembali di hadapannya. Akibat memori buatan teknologi, akibat mereka tidak mampu memerdekakan kenangannya dengan cara literasi kenangan.

Syahdan, orang-orang memang mudah lupa, bahkan dengan dirinya sendiri. Kenangan, akibatnya bagi orang-orang demikian hanya sebatas citra penampakan, bukan peristiwa yang mengundang air mata dan kemerdekaan.

Literasi populer