25 February 2017

Menulis Pahlawan

Mesti dipahami menulis itu bukan tindakan heroik. Atau suatu usaha untuk menunjukan sikap kepahlawanan.

Pahlawan atau hero, memang penokohan yang dicitrakan tanpa cela, atau kesalahan. Dengan begitu pahlawan adalah sosok ideal yang mengatasi segala kecacatan. Dalam segala kisah heroik, pahlawan kadang merumuskan dirinya sebagai sosok yang mengatasi masalah dengan cara "sekali pukul", sebab itulah hero selalu dielu-elukan. Selalu dibangga-banggakan.

Menulis, akibat bukan tindakan heroik, maka dia juga bukan tindakan "sekali pukul". Menulis itu berbeda, dia berproses, dilatih, dan dilatih. Karena itulah wajar jika tidak ada tulisan yang "lengkap", "utuh", dan "universal". Menulis dengan itu adalah tindakan merevisi ide, dan menyusun gagasan. Lagi, lagi, dan lagi.

Atas semua itu, selalu ada tulisan pertama, tulisan kedua, tulisan ketiga, dan begitu seterusnya, hingga sedikit demi sedikit otot kepenulisan terbentuk secara alamiah dan menyempurna. Sampai akhirnya seseorang mahir menyusun gagasan dalam seluruh karya tulis selanjutnya.

Mengapa banyak yang susah menciptakan gagasannya dalam bentuk karya tulis? Itu karena sebagian besar orang-orang selalu mengangap menulis adalah tindakan kepahlawanan. Padahal, menulis itu sederhana, yakni mau berlatih diri, terus dan terus. Menciptakan tulisan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Akhirnya, menulis sebagai suatu aktivitas hanya soal komitmen dan kemauan yang keras. Selama kita masih memiliki gagasan, sesederhana apa pun itu, yakin dan percaya, menulis bukan pekerjaan yang susah dan rumit.


24 February 2017

Literasi Kenangan Melawan Pusara Waktu

---terinspirasi dari gagasan Alwy Rachman dalam Anging Mammiri karya Abdul Rasyid Idris.

Bagi penyair, kenangan memudahkan “pekerjaan” kesusastraannya menjadi lebih dinamik. Bahkan kenangan menjadi senyawa aktif untuk menghidupkan bahasa.

Penyair, dan pekerjaan sejenisnya adalah orang-orang yang teguh meriwayatkan kenangan sebagai bagian dari kehidupan eksistensialnya. Masa sekarang kenangan mesti direbut dari “memori buatan” alat-alat canggih, semisal gadget.

Agar kenangan dapat terus mengabadi, maka tiada jalan lain dengan mengangkatnya sebagai literasi kenangan.

Juga, musuh abadi kenangan kadang muncul menjadi berupa sosok-sosok iliterasi. Sosok-sosok iliterasi adalah siapa pun yang hari ini selalu antipati terhadap segala upaya literasi agar dapat terus bergerak dan bekerja sebagaimana fitrahnya.

Sosok iliterasi yang paling nyata di era sekarang, selain teknologi memori buatan adalah negara. Kadang negara menjadi tokoh antagonis untuk memberangus aktivitas anak-anak bangsa demi mengabadikan kenangannya.

Kenangan yang tak lain adalah saudara kembar sejarah, dianggap berbahaya jika itu diparaskan dalam bentuk literasi. Sejarah barangkali memang medan yang selalu dapat dikontrol negara, tapi literasi yang bersifat spontan dan otentik adalah geliat yang sulit diringkus negara demi penertiban ingatan.

Negara yang memusuhi kenangan bisa melakukan apa saja. Apabila dikembalikan kepada perangkat kerja negara berupa aparatus ideologi, maka negara dalam wujudnya yang paling terang adalah totalitarianisme.

Pengalaman Indonesia setengah abad merupakan ilustrasi kongkrit bagaimana kenangan diberangus dan diberlakukan secara diametrial dengan sejarah (ingat sejarah 65). Sejarah yang bersifat derivatif dan analitik, membuat dirinya menjadi kisah yang mudah ditekuk berdasarkan suatu sistem pemikiran tertentu.

Sementara kenangan yang diliterasikan, akibat sifatnya yang spontanik dan otentik memudahkan dirinya bebas bergeliat di antara tenunan sejarah yang dibuat negara.

Itulah sebabnya, sejarah versi negara dan kenangan versi penyair (sastrawan dlsb) merupakan dua ekstrim yang sulit dipertemukan dalam meja dialog. Imbas totalitarianisme negara, meja dialog disingkirkan demi memusuhi kenangan yang transparan menjadi cermin pengingat peristiwa masa lalu.

Literasi kenangan bagi saya pribadi adalah suatu upaya sederhana untuk menyandingkan partikularitas-subjektif berhadap-hadapan dengan segala sistem yang berusaha mengkerangkeng ingatan, negara misalnya. Itu artinya, literasi kenangan yang memerdekakan ingatan mesti mengetahui satu-satunya cara untuk melawan hanya dengan meriwayatkan ingatan menjadi periwayat kenangan.

Akhirnya ini akan kembali kepada suatu kalimat dahsyat: ikatlah ilmu hanya dengan cara menulisnya. Hanya denga menulis, seseorang bakal mengabadi, ucap Pramoedya Ananta Toer.

Literasi kenangan apabila diacu berdasarkan garis waktu, merupakan kerja literatif yang menengahi tegangan masa lalu dengan masa depan. Dengan kenangan, seseorang dapat menghidupi kembali masa lalu dan menerangi masa depan di waktu kekiniannya. Itulah sebabnya mengapa kenangan sangat mudah membuat seseorang mengalami “perasaan mengabadi”, suatu perasaan yang sulit ditampik.

Kenangan memang urusan masa lalu, tapi secara eksistensial dia sulit diantisipasi. Apalagi jika itu kemudian ditangkap menjadi literasi kenangan. Maka dengan sendirinya itu merupakan cara seseorang menghidupi diri dan membesarkan masa depannya.

23 February 2017

Literasi Kenangan

Barangkali memang ingatan manusia itu terbatas. Sebab itulah teknologi datang.

Bagi yang menjadikan media sosial sebagai kehidupan keduanya pasti mengalami; suatu pagi di suatu tempat tiba-tiba sebait penggalan "status" datang kembali, atau sebuah gambar yang benar-benar sudah kita lupakan, tiba-tiba menyeruak mengintrogasi ingatan.

Atas itu seketika suatu peristiwa dikenang kembali. Mungkin juga dirayakan kembali. Atau bahkan sudah tidak berarti apa-apa.

Tapi, manusia memang mahluk yang selalu merindukan masa silam. Bahkan, dalam perspektif tertentu "sejarah" yang memiliki tiga bilah waktu, senantiasa memproyeksikan masa depan tanpa bisa menghapus sepenuhnya masa lalu.

Itulah sebabnya, kenangan sangat penting. Di waktu sekarang, ketika masa depan begitu dipuja, kenangan adalah satu-satunya jalan agar manusia tidak lupa: siapa dirinya.

Bagi penyair, kenangan bukan sebatas gejala memori yang menghubungkan ingatan dengan masa lalu, melainkan suatu cara untuk menghadirkan bahasa yang puitik. Di situ kenangan alih-alih bukan ikhwal yang statik, tapi menjadi api dinamis yang menghidupi kehidupan kesastraan sang penyair.

Dalam novel The Sea, John Banville mendenotasikan: masa lalu berdetak di dalam diri saya, berirama bagai jantung kedua (Alwy Rachman dalam Anging Mammiri).

Masa lalu sebagai jantung kedualah yang seyognanya juga harus dialami orang-orang yang setiap detik dikepung gadget. Imbas memori yang dicabut dari diri dan direkam melalui memori buatan, membuat jantung berdetak tanpa "sejarah".

Ibarat penyair, orang-orang yang dikepung gadget harus dihidupi masa lalu sebagai jantung yang benar-benar berdetak dalam diri. Membuatnya menjadi mahluk yang benar-benar hidup "di dalam" kenangannya.

Karena itulah kenangan harus diperjuangkan. Tanpa itu kita akan tenggelam dalam pusara waktu. Era kiwari perjuangan atas kenangan ialah dengan cara melawan musuh tercanggih manusia: teknologi.

Teknologi (facebook dlsb) mungkin saja punya daya menyulut ingatan, tapi itu hanya sebatas citra bahasa, gambar, atau "status". Dengan kata lain itu bukan kenangan.

Kenangan bukan apa yang ditampakkan bahasa dan gambar teknologi. Kenangan tiada lain adalah peristiwa di balik bahasa yang tampak. Segala ikhwal yang "hidup" di balik ingatan.

Karena itulah selain diperjuangkan, kenangan mesti dirayakan, dibesarkan, dan dimerdekakan.

Kala kenangan banyak ditimbun segala macam ingatan, ketika yang "permukaan" lebih banyak mendapat sorotan tinimbang "kedalaman", maka hanya ada satu usaha untuk memerdekakan kenangan: literasi.

Literasi kenangan, sama seperti bahasa Pierre Nora yang mengungkapkan bahwa ingatan adalah saudara kembar sejarah. Ingatan sebagai sejarah juga menemukan legitimasinya dari literasi (Alwy Rachman dalam Anging Mammiri). Itu artinya, literasi adalah jalan kenangan agar terus dapat berjuang melawan lupa (permukaan).


22 February 2017

Nabi Orang-Orang Difabel

Madah tak percaya setelah apa yang diceritakan Sadrak. Mengingat Sadrak beberapa tahun lalu hanyalah seorang satpam di sebuah kompleks perumahan. Tapi, kini Sadrak berubah seratus delapan puluh derajat. Setelah Sadrak menutup ceritanya, Madah masih sulit menerima orang di depannya adalah seorang nabi suatu kaum. Suatu golongan tepatnya.

Cerita itu dimulai dari Sadrak yang sehari-hari menjaga kawasan perumahan. Sebagai seorang satpam, Sadrak tidak banyak bicara. Justru matanya yang lebih banyak bekerja. Mulutnya jarang digunakan. Barangkali hanya makan dan minum saja mulut Sadrak beraktifitas. Bahkan akibat irit bicara, sadar tidak sadar Sadrak seperti orang yang sedang menjalani puasa bicara. Karena itu banyak orang mengiranya bisu.

“Sadrak, saya titip kunci, ya?”

Sadrak menganggukkan kepala.

“Seperti biasa, digantung di atas meja.”

Sekali lagi dia mengangguk.

Begitulah sehari-hari Sadrak berkomunikasi. Cukup mengangguk. Sekali-kali geleng-geleng kepala. Tanda tidak sepakat.

Orang-orang yang tinggal di kompleks perumahan tak ambil pusing. Satpam mereka irit bicara atau sudah bisu, bukan urusan mereka. Yang penting lingkungan mereka aman. Satpam yang baik penjaga yang jarang bicara. Begitu kira-kira keyakinan mereka.

Hingga suatu hari yang tak diduga-duga, Sadrak dimintai seorang warga menjaga hajatan pengajian di rumahnya. Sadrak menggangguk tanda sepakat. Pasca itu, dengan satu syarat, Sadrak harus berjaga-jaga dengan menggunakan baju seragam putih-putih. Lengkap dengan baret, seharian penuh Sadrak mengawasi keamanan pengajian itu. Seragam yang diberikan si tuan rumah gagah dikenakannya. Tanpa bersuara Sadrak bekerja. Mata dan telinganya tepatnya.

Hari-hari setelah pengajian, Sadrak semakin rajin ke masjid. Shalat lima waktu tanpa putus. Dia juga semakin rajin menjaga pengajian. Kali ini tanpa diminta, ia bersedia berjaga-jaga tanpa dibayar.

Lama kelamaan, Sadrak pergi dan mencari dan kemudian mengumpulkan anak-anak yatim piatu. Tindakan ini dilakukannya setelah mendengar cerita di pengajian tentang seorang nabi yang berpuasa bicara agar diberikan anak. Pasca mengumpulkan dan melatih sekumpulan anak-anak yatim piatu, Sadrak mengangkat seorang ajudan untuk memudahkan pekerjaannya. Mulai saat itu, Sadrak semakin irit bicara. Lama kelamaan mulut Sadrak mulai mengkerut. Dia semakin kuat puasa berbicara.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Pengajian yang dijaga Sadrak semakin ramai. Bahkan seringkali pengajian itu dilakukan sampai berhari-hari. Akibatnya, peran Sadrak semakin penting. Dia merekrut lagi anak-anak yatim piatu. Sesekali anak-anak yang putus sekolah.

Semakin lama ajudan sadrak mulai bertambah. Tugasnya pun lebih banyak diberikan kepada ajudannya. Kali ini ajudannya diberikan seragam yang sama seperti pertama kali dipakainya. Sementara Sadrak semakin sering masuk ke masjid. Menyendiri mencari terjemahan kisah dalam alquran orang-orang sakti yang lama berpuasa bicara. Begitu seterusnya. Semakin taat Sadrak masuk masjid. Semakin Sadrak banyak berpuasa bicara.

Sampai akhirnya di tahun 1997, banyak mahasiswa-mahasiwa turun ke jalan. Pengajian yang dikawal Sadrak tambah membludak. Kali ini banyak aktivis kampus semakin rajin masuk kompleks. Mereka juga sering mengikuti pengajian. Bahkan banyak di antara mereka nginap berhari-hari di dalam masjid.

Tepat ketika masjid ramai dipakai mahasiswa berdiskusi, saat itulah mulut Sadrak semakin mengecil dan mengkerut dan tak bisa lagi dibuka. Imbasnya, jika ada orang-orang yang berkeperluan dengan Sadrak, maka semuanya dilimpahkan ke para ajudannya. Menandai mulutnya yang tidak lagi berfungsi, Sadrak mengganti seragamnya dengan jubah berwarna putih. Tak lama beredar kabar di pengajian dan sekitar kompleks perumahan, ada seorang wali yang sehari-hari bertugas sebagai satpam.

Tiga tahun setelah reformasi, Sadrak sudah memiliki bala pasukan yang dilatihnya sendiri. Anak-anak yatim yang dipeliharanya tumbuh dengan tubuh kekar. Anak-anak yang dulu putus sekolah kini sudah menjadi sarjana-sarjana setelah dibiayai Sadrak. Banyak yang tak tahu, gaji Sadrak selama menjadi satpam diperuntukkannya bagi anak-anak putus sekolah yang dipungutnya. Kini mereka membangun organisasi kepemudaan dan mengangkat Sadrak sebagai penasehat dan guru spiritualnya.

Tentu sebagai penasehat, yang menjadi juru bicara Sadrak adalah para ajudannya yang sudah paham cara mereka berkomunikasi. Cukup dengan menggerak-gerakkan tangannya mereka paham apa maksud Sadrak. Bahkan ketika Sadrak keluar dari pertapaannya di dalam masjid, dengan melambaikan tangan, membuat ajudan-ajudannya menunduk-nunduk berusaha menciumi tangannya. Itu tanda diberikan berkah.

Dan berhari-hari setelah itu, terjadilah suatu mukjizat. Ketika seorang presiden lengser dan dipapah keluar menggunakan celana pendek, saat isya usai, beredar cerita yang menyebar luas seorang wali bisu mengimami shalat ratusan orang-orang bisu dan tunanetra di sebuah masjid perumahan, dan kemudian mengangkat dirinya sebagai nabi orang-orang difabel.

Berita tersebut mendadak menjadi perbincangan nasional. Termasuk presiden yang baru lengser ikut berkomentar: “Saya mendapat wangsit dari seorang wali untuk segera mundur,” ucap sang mantan presiden enteng ketika ditanya puluhan wartawan. “Ini bukan karena kemauan parlemen sehingga saya mundur menjadi presiden. Ini kemauan langit!” Pungkas mantan presiden menepis anggapan yang beredar seputar isu kemundurannya.

Hingga akhirnya berita ini sampai di tangan Madah, seorang wartawan magang. Dia ditugaskan membuat berita yang mengangkat kembali profil Sadrak si nabi bisu. Sambil menulis berita di hadapan Sadrak, Madah hanya mengangguk-angguk sambil menggerak-gerakkan tangannya. Madah bisu sejak lahir. Sekarang dia menjadi wartawan sekaligus pengikut setia Sadrak, nabi orang-orang difabel.

21 February 2017

Makassar Kota Dunia, Kota Literasi?

Mengimajinasikan Makassar sebagai kota dunia tidak akan cukup jika tanpa melibatkan warisan sejarah yang dimilikinya: literasi.

Kota Dunia harus juga diekspresikan sebagai kota yang ramah literasi. Dengan cara membudayakan baca tulis sebagai etika kewargaan, pembangunan perpustakaan di pusat keramaian, atau kalau perlu ada juga pete-pete smart literasi, merupakah sedikit langkah untuk merealisasikan peristiwa itu.

Tapi, semua itu hanya menjadi pepesan kosong jikalau pemerintah kota bukan menjadi agen terdepan dalam mewujudkan targetan semacam itu.

Artinya, jika mengacu kepada geliat literasi yang mengemuka dan kian masif di kalangan anak muda di lima tahun belakangan ini, dan juga semakin banyaknya komunitas kreatif-literasi di kalangan pemuda, menjadi tanda bagi pemerintah bahwa di tengah masyarakat kota sedang terjadi transformasi sunyi menuju masyarakat yang bercorak literatif.

Kepekaan terhadap masyarakat yang bercorak literatif, harus ditunjukkan pemerintah kota dengan menyandingkan literasi sebagai bagian dari slogan yang selama ini menjadi kampanye Makassar Kota Dunia. Sehingga selain soal “lihat sampah ambil (LISA)”, “smart people, smart city”, dan industri lorong, wacana Kota Dunia Kota Literasi juga menjadi satu wacana yang menggenapi kekosongan variabel sebagai impian kota yang maju.

Akan jauh lebih dahsyat, jika selain menjadi wacana, Makassar kota dunia kota literasi menjadi program kongkrit di dalam kebijakan kota pemerintah Kota Makassar. Semisal, jika ada program penghijauan lorong-lorong, maka akan ada juga program lorong smart berupa didirikannya perpustakaan mini. Jika ada smart pete-pete, maka akan ada juga pete-pete smart literasi. Atau program-program strategis semacamnnya yang mengintegrasikan literasi sebagai bagian dari programnya.

Kembali ke soal I Lagaligo sebagai warisan literasi, bukan saja teks sejarah yang berbicara atas makna di dalam teksnya itu sendiri, melainkan suatu teks terbuka agar masyarakat Kota Makassar dapat menyerap semangat literasi yang dikandungnya bagi kehidupan ini.

I lagaligo juga bukan sekadar epos sejarah yang berbicara masa lalu, tapi –mengacu kepada pernyataan sebelumnya, merupakan teks yang mengacu pula kepada kehidupan saat ini. Dengan cara begitu, makna yang dikandungnya dapat berlaku universal dan mampu menjangkau lapisan generasi dari waktu ke waktu.

Itu sebabnya, I lagaligo sekaligus juga teks sejarah yang menjangkau masa depan dengan kekuatan simboliknya. Karena itu I lagaligo berisikan ajaran dan cerita rakyat yang dapat menjadi modal kuat bagi generasi sekarang untuk memahami makna kehidupannya saat ini.

Era kiwari, tanpa literasi, makna hidup bagi generasi sekarang hanya akan menjadi generasi pemamah informasi tanpa bisa mereproduksi kembali segala informasi yang ditemukannya.

Tanpa literasi yang baik, generasi sekarang akan lebih banyak mengecap informasi tanpa sedikit pun mampu menemukan makna. Artinya, dari massifnya informasi, di era kiwari, generasi muda tidak mampu membangun hubungan kebermaknaan dengan seluruh informasi yang ditemuinya.

Meminjam analisis Jean Baudrillard, hilangnya hubungan kebermaknaan antara informasi dengan kesadaran manusia, hanya menciptakan kebimbangan realitas akibat tidak kompatibelnya informasi yang dikelola berdasarkan kebutuhan manusia itu sendiri. Lebih jauh, hilangnya hubungan kebermaknaan akan berdampak jauh terhadap krisis eksistensi manusia.

Generasi tanpa literasi akan hilang dalam sejarah dunia. Apalagi kota tanpa topangan literasi tidak akan dikenal dunia sebagai pusat kemajuan yang memang menempatkan literasi sebagai salah satu faktor utama kesejahteraan kota. Dalam hal ini, kesejahteraan bukan saja sekadar variabel dalam konteks ekonomi dan sosial belaka, tapi juga bagian inheren di dalam “pencerahan” masyarakat kota.


Sejarah sudah menjadi bukti, kebudayaan tanpa topangan literasi yang kuat akan gampang diombang-ambing situasi zaman. Apalagi Kota Makassar, akan sangat teledor jika mengabaikan warisan literasi sejarahnya yang membuatnya menjadi raja di masa lalu ketika ingin memproyeksikan diri sebagai Kota Dunia.

Seperti dikatakan sebelumnya, sosok-sosok anak muda yang belakangan bermunculan dengan kiprahnya di dalam dunia literasi menjadi modal berharga bagi perealisasian Kota Makassar sebagai kota literasi. Sebagai bagian dari warga kota, sosok dengan kiprah di dunia literasi, menjadi variabel yang juga sangat menentukan dalam membuka peluang literasi sebagai wacana perkotaan selain dari pemerintah itu sendiri.

Seperti dikatakan sejarawan Hilmar Farid, keberadaan sosok yang bergelut di dunia literasi akan sangat berpengaruh di dalam membangun suatu kebudayaan.

Di masa lalu, salah satu topangan literasi digalakkan orang semacam Karaeng Pattingaloang yang melakukan kontak kebudayaan dengan media tulis menulis.

Karaeng Pattingaloang dalam melakukan kerja literasinya,  memiliki kamar khusus sebagaimana intelektual Eropa yang dilengkapi perpustakaan buku, atlas, dan peta dunia. Melalui tiga “benda” yang masih langka digunakan di zamannya ini, Karaeng Pattingaloang membangun hubungan diplomasi serta surat menyurat dengan perwakilan raja-raja semisal raja Spanyol di Manila, Raja Portugis di Goa, dan Raja Inggris serta penguasa-penguasa di Mekkah.

Tidak sekadar membangun interaksi dengan negeri-negeri luar, Karaeng Pattingaloang juga membangun hubungan diplomatik untuk bekerja sama dalam bidang-bidang strategis tertentu. Sebagai kota dunia saat itu, Makassar sudah menjadi kota dagang dengan memiliki kantor perwakilan Portugis, Belanda, Inggris, Spanyol, Denmark dan Tiongkok.

Komunikasi antara beragam negeri ini juga berarti terjadi relasi kultural dengan model kebudayaan lain.  Hal ini terbukti dengan sosok Karaeng Pattingaloang yang seorang polyglot dengan menguasai bahasa Latin, Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, Arab, Melayu, dan juga bahasa lokal Makassar yang dijadikan bahasa komunikasi saat itu.

Dengan kemampuan bahasa demikian, Karaeng Pattingaloang menjadi sosok yang memiliki keanekaraman dan kekayaan pengetahuan yang tersebar berdasarkan purna bahasa yang menjadi modal utamanya dalam mengafirmasi ilmu pengetahuan.

Sampai di sini Karaeng Pattingaloang merupakan prototype bagaimana literasi dan kerja-kerja intelektualnya adalah faktor fundamental yang mengkofigurasikan kebudayaan jadi lebih maju. Tanpa literasi, kebudayaan hanyalah paras manusia yang akan banyak mengalami krisis kemanusiaan.

Melalui ketokohan Karaeng Pattingaloang, setidaknya ada tiga hal yang menjadi indikator penting untuk memproyeksikan sosok yang berkiprah dalam dunia literasi. Pertama, adalah kemampuan dan kesadarannya terhadap bahasa. Selain digunakan dalam tulis menulis, beragam bahasa yang dikuasai Karaeng Pattingaloang merupakan pintu pertukaran menuju beragam kebudayaan selain dari kebudayaannya sendiri.

Kedua, perpustakaan. Telah disebutkan sebelumnya, Karaeng Pattingaloang memiliki kamar kerja yang dilengkapi buku-buku serta atlas dan peta dunia. Tiga benda ini menandai aspek kemodernan yang sudah dikenal Karaeng Pattingaloang. Bahkan, menurut catatan sejarah, ketika pertama kali pasca teleskop ditemukan Galieo Galilei, Karaeng Pattingaloang juga memesan dan memiliki benda yang menginspirasi perubahan di Eropa ini langsung dari asalnya.

Ketiga adalah etos kerja selayaknya seorang intelektual modern saat ini. Akibat pandangan dunianya yang kosmopolit, etos keilmuan yang dimilikinya menjadi sikap paling mendasar yang mempelopori seluruh kegiatan intelektualnya. Tanpa sikap ini Karaeng Pattingaloang tidak akan mampu menyandingkan dirinya sebagai orang yang berhadapan dengan raja-raja dunia saat itu.

Sekarang,  Makassar adalah kota yang berada di antara tegangan sejarah tradisi literasinya dengan kemodernan sebagai alam kemajuan dunia saat ini. Yang paling memungkinkan saat ini, Makassar harus mendamaikan dua tegangan yang dimilikinya sebagai modal kebudayaan agar mampu diidentifikasi sebagai kota dunia. Tentu dengan mengambil tradisi literasi sebagai modal sejarah yang menjadi warisan tradisinya.

Namun akan sangat miris jika slogan Makassar Kota Dunia tidak melihat literasi sebagai wacana strategis dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan warganya. Sebagai misal, belum berkembangnya pusat-pusat informasi dan pengetahuan berupa jaringan kuat komunitas literasi, jaringan informasi berbasis website dan jaringan perpustakaan dengan perpustakaan komunitas, jaringan toko buku, dan kampung-kampung buku yang sedikit banyak akan membangun atmosfer Makassar sebagai kota ramah literasi.

Hatta, Makassar kota dunia kota literasi, berarti ikut mewarisi sejarah panjang peradaban literasi Bugis-Makassar yang menjadi modal utama menuju Makassar sebagai kota dunia.

---

Telah terbit di kalaliterasi.com

19 February 2017

Mukjizat di hari Minggu dan Puisi Lainnya

---untuk Oma dan Lola

Mukjizat di hari Minggu

Hari Minggu Bapak berkebun
Mencangkul tanah harapan sampai
mentari terbang jauh ke angkasa
tidak ada mukjizat turun di tanah
tandus, tapi tidak bagi tangan
yang tak pupus mengangkat cangkul 

Pukul sepuluh usai sudah 
setelah sampah di tubuh dibakar api cinta 
Pasca kaki-kaki di cuci air suci
untuk segera berangkat menjemput panggilan putra tuhan
Minggu ini Bapak juga mesti ke gereja 
Menatap tanah di kebun akhirat

Tiba di bilik kamar setelah berganti baju, bapak berangkat
berjalan kaki dengan sepatu satu-satunya
ketika tangan menggenggam buku kecil
saat melewati kebun di atas bukit
tiba Bapak di depan pintu
dinaikinya tangga menuju mimbar
dibicarakannya air berubah anggur
dari mukjizat di tanah tandus

---

Tiada Surga di Perbatasan

Tuhan murung di hari minggu 
ketika burung-burung pergi meninggalkan sangkarnya
Juga dua mukim di perbatasan
yang ditinggal pergi anak-anak
ketika sekolah Minggu kemudian dipaksa libur
setelah di hari jumat di atas mimbar
Tuhan yang lain murka
Tiada lagi burung-burung ababil
yang melempar batu di hari Minggu 

---

Oma dan Pohon Natal

Di hari Minggu Oma tidak berangkat ke gereja
“ketong su tua,” ucap Oma
Tapi, Oma suka plesiran ke rumah kawan lama
mencari pohon natal tempat Tuhan turun dari
bukit menuju kendi-kendi anggur untuk
perjamuan di meja makan.   

“Oma suka jalan, naik becak,” bertemu kawan semasa muda
di sekolah dulu, mengajar murid-murid seperti
putra tuhan yang lahir dengan berbicara
laiknya orang tua, “saya adalah bukti…”

Sekarang, Oma menjadi bukti bakti di dalam hati
Tuhan yang memberi cawan tanpa pamrih
“Ingat pesan Oma, jujur dan sembahyang”
Sampai tua Tuhan pasti memberi berkat
Seperti kawan lama, selalu setia di rumah dengan
Pohon natal dari setahun lalu…

17 February 2017

Histrionic Personality Disorder dan Cuitan Sang Mantan dan Demokrasi

Sebenarnya banyak hal yang bisa dituliskan. Bisa saja salah satunya soal pilkada di beberapa daerah di tanah air. Termasuk pilkada Jakarta yang banyak menyedot perhatian. Yang menarik dari pilkada Jakarta, sebenarnya selain karena Jakarta adalah ibu kota Indonesia, sehingga apa pun yang terjadi di Jakarta bisa menjadi “meriam” atas peristiwa yang bakal terjadi di Indonesia, juga karena Jakarta menyuguhkan calon kontroversial yang sudah membuat gempar hampir semua umat muslim di tanah air. Selain itu, dua kandidat lainnya juga tidak kalah penting sehingga mengapa pilkada Jakarta selalu mengisi ruang wacana masyarakat Indonesia, yakni keduanya adalah tokoh nasional dan atau bakal menjadi tokoh nasional. Perlu dicatat, kata tokoh di sini mengandung arti yang relatif. Tergantung dari sudut pandang apa orang melihatnya.

Pasca hari pencoblosan semua tegang. Jakarta menunggu hasil siapa yang bakal terpilih. Bahkan hampir semua orang tidak berani mengambil kesimpulan siapa bakal peroleh suara terbanyak. Beberapa lama setelahnya, hasil mulai terlihat. Lembaga-lembaga survei merilis hasil quick count. Ahok-Djarot memimpin, dan Anis-Sandi menyusul setelahnya. Sementara Agus-Sylvi, siapa yang menduga, perolehan suaranya paling buncit. Bahkan perolehan suaranya tidak sampai 20 persen.

Tidak lama setelah hari belum berganti, sudah dapat dipastikan. Ahok-Djarot dan Anis-Sandi bakal melanjutkan pertarungannya di putaran kedua. Sekarang, warga Jakarta betul-betul dibuat sabar menanti pemimpin baru mereka. Sampai April nanti.

Poin penting dari pilkada Jakarta memberikan dua hal. Pertama, semakin menjelang hari pencoblosan, mantan presiden ke-6 Indonesia semakin sering ngetwit lewat akun Twitternya. Dan yang lucu adalah motif mendasar dari cuitan mantan presiden bertubuh gempal itu: seakan-akan SBY menjadi korban dari pihak yang menghalang-halangi langkah anaknya menjadi Gubernur baru Jakarta!

Dalam psikologi, gejala yang ditampakkan SBY menjelang hari pencoblosan dikenal dengan istilah histrionic personality disorder. Ini  sejenis penyakit mental. Tentu saya tidak akan menyatakan SBY mengalami gangguan mental. Ini akan menjadi pernyataan kontraproduktif mengingat beliau sudah dua periode  memimpin pemerintahan Indonesia. Mustahil seorang pemimpin negara mengidap penyakit mental dan mampu memimpin selama lima tahun berturut-turut. Apa kata dunia!

Tapi, mungkin saja SBY mengidap penyakit mental yang akrab di kalangan psikolog dengan sebutan post power syndrom. Penyakit ini sering kali dialami orang-orang yang pernah menjadi seorang pemimpin. Atau tepatnya pasca tidak lagi menjadi seorang penguasa. “Kehilangan” kekuasaan menjadi variabel sindrom ini yang mengandaikan keponya seseorang terhadap hampir segala hal seakan-akan memiliki kekuasaan seperti di masa sebelumnya.

Saya punya teman yang bisa diindikasikan mengidap post power syndrom. Gejala yang dialami teman saya itu ketika mengidap penyakit ini sering kali ditunjukkan dengan semakin seringnya dia mengatur segala macam tetek bengek internal keorganisasian seperti kala dia menjadi ketua sebelumnya. Bahkan, dalam hal mengeluarkan pendapat, seakan-akan dia menjadi wakil organisasi yang pernah dipimpinnya. Omong sana-omong sini.  

Selain teman saya itu, saya juga mantan ketua lembaga kemahasiswaan di kampus dulu. Tapi, waktu itu saya belum tahu ada yang disebut penyakit “pasca kekuasaan”. Entah saya mengidapnya saat selesai "melaporkan"LPJ atau tidak. What ever-lah.

Kembali ke SBY. Post power syndrom ditanggalkan dulu. Anda sendiri saja yang menilai apakah SBY mengidap penyakit ini. Yang ingin saya ulas di sini soal histrionic personality disorder. Penyakit yang sering dialami orang-orang bergangguan mental dengan tujuan mencari-cari perhatian dengan seakan-akan menjadi korban dari perilaku tertentu.

Histrionic personality disorder (HPD) dijelaskan America Psychiatric Association adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola emosionalitas yang berlebihan dan suka mencari perhatian, termasuk keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Selain itu juga disertai dengan kebiasaan menggoda, suka mendramatisir keadaan/masalah, antusias yang berlebihan dan kelihatan agak genit.

Sekarang Anda sudah mulai paham apa yang dimaksud HPD, kemudian mengkorelasikannya dengan tindakan SBY yang keseringan ngetwit di media sosial. Saya sendiri menilai hampir semua gejala yang disebutkan America Psychiatric Associaton dialami mantan presiden kita itu. Termasuk pada bagian “termasuk keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain”, apalagi di kalimat “suka mendramatisir keadaan/masalah, antusias yang berlebihan dan kelihatan agak genit”. Baiklah, “kelihatan agak genit” kita hapus saja jika Anda kurang setuju. Saya juga sulit membayangkan jika SBY berperilaku genit.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, saya enggan menyebut SBY mengidap penyakit ini, terutama dalam konteks kepemimpinannya saat menjadi presiden. Tapi, siapa bisa menduga pasca menjadi presiden, SBY malah terjangkiti gangguan emosional sehingga mempengaruhi mentalnya. Atau dengan kata lain, siapa tahu memang semakin kesini SBY mengidap HPD. Bisa saja kan!?

Di antara kesangsian itu, boleh saja disebutkan perilaku keseringan ngetwit SBY belakangan ini adalah tindakan curahan hati semata. Melalui konteks ini SBY tidak jauh berbeda dengan seorang lelaki yang baru saja ditinggal nikah kekasihnya secara mendadak. Sehingga, tiada tempat senyaman media sosial untuk menyalurkan kesedihannya. Kalau yang ini lain persoalannya. Ini bisa saja sama halnya yang dibahas Hizkia Yosie Polimpung dan Priska Sabrina Luvita dalam salah satu rubrik di Indoprogress. Persoalan narsisme!

15 February 2017

Merumuskan 8 Jalan Literasi KLPI 2017

Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa KLPI di tahun 2017 mengalami perubahan format kelas. Pertama, jika mengembalikan kepada sistem keterlibatan anggota KLPI selama ini, tidak ada aturan mengikat sama sekali yang membuat kawan-kawan harus wajib mengikuti KLPI. Kebebasan ini awalnya memang menjadi kebiasaan yang sedari awal diberlakukan dalam kelas. Semenjak KLPI dimulai dari Agustus 2015 lalu, hingga KLPI jilid dua yang mulai bergerak awal Januari 2016, tidak ada aturan-aturan wajib yang berhak mengikat siapa pun agar dapat ikut di dalam kelas menulis ini. Jadi bisa dibilang KLPI hanya digerakkan atas kebebasan mandiri. Itu artinya, kesadaran kawan-kawan sendirilah yang mendorong kawan-kawan terlibat selama ini di KLPI.

Tapi, jika ada yang disebut aturan, maka hanya ada satu aturan wajib yang harus ditaati di KLPI, dan ini abadi. Yakni setiap kawan-kawan yang ingin terlibat di KLPI, wajib membawa satu karya tulis pribadi agar dapat ikut serta di setiap pertemuan yang diadakan di setiap hari Minggu. Kadang banyak kawan-kawan yang baru pertama kali ingin bergabung menanyakan jenis tulisan seperti apa yang diterima sebagai syarat utamanya. Untuk soal yang kerap ditujukan kepada “pengurus” KLPI ini, maka jawabannya tidak ada batasan genre tulisan apa yang harus dibawa ke dalam kelas. Selama itu merupakan karya tulis, yang genrenya terbentang dari fiksi ataupun nonfiksi, maka itu sah-sah saja bagi kawan-kawan.

Imbas tidak ada aturan wajib yang mengikat keterlibatan kawan-kawan bergabung selama KLPI berlangsung, maka menjelang akhir tahun 2016 intensitas kawan-kawan mulai melempem. Salah satu indikator dari problem ini adalah beberawa kawan-kawan yang datang di kelas dengan tangan kosong. Tanpa membawa tulisan. Kedua, banyak di antara kawan-kawan yang mulai jarang mengikuti kegiatan kelas akibat memiliki kesibukkan di tempat yang lain.

Dua problem ini sebenarnya merupakan cermin memudarnya penghayatan dan totalitas keterlibatan kawan-kawan terhadap “aturan main” dan keberlangsungan kelas selama ini. Kehadiran dengan tidak membawa tulisan berarti dengan sendirinya telah mengabaikan syarat wajib yang selama ini diterapkan. Berkurangnya totalitas berarti juga berkurangnya keterarahan visi kawan-kawan terhadap kelas yang selama ini dirintis bersama-sama.

Tidak perlu diperpanjang apa sisi negatif dan dampak lanjutan bagi KLPI dari dua problem di atas. Sudah banyak catatan kelas sebelumnya yang mengulas hal itu.

Kedua, format baru bagi KLPI di tahun 2017 didorong akibat perlunya generasi lanjutan demi memperbaharui suasana dan keberlangsunga KLPI ke depannya. Alasan di balik ini tidak jauh berbeda dari beragam organisasi-organisasi yang sering kali melakukan perkaderan. Selain menambah kuantitas kawan-kawan yang akan meminati literasi sebagai kebutuhannya, juga menambah kualitas pengetahuan seiring semakin berkembangnya wacana literasi di permukaan.

Hubungan dengan alasan yang ke dua, maka alasan yang ketiga mengapa perlu ada format baru bagi KLPI, yakni jika ibarat literasi adalah agama, maka siapa pun yang meyakininya perlu mendakwahkannya. Itu sebabnya perlu ada keterlibatan sebanyak-banyaknya terhadap “agama literasi” ini. Sebagaimana dorongan ideologis mana pun, literasi harus menjadi “hantu” yang menggentayangi kesadaran siapa pun.

Itulah tiga alasan yang harus dikemukakan mengapa perlu ada perubahan format dan penyelenggaraan KLPI di tahun 2017 ini. Atas dasar ini, setelah menjalani beberapa perbincangan dan pendiskusian di hari Minggu kemarin, akhirnya diputuskan beberapa butir pokok yang harus dikerjakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pertama, berbeda dari format sebelumnya, pertemuan KLPI jilid 3 kelak hanya akan dilaksanakan selama dua pekan sekali. Pertimbanganya, di minggu pertama, bagi kawan-kawan yang hendak menuliskan karya tulisnya dapat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menyiapkan seluruh persiapan menulisnya mulai dari ide, sudut pandang, referensi, pendiskusian gagasan, dlsb agar dapat di tuliskan di minggu kedua.

Perubahan jadwal pertemuan ini sekaligus meredam intensitas pertemuan yang selama ini dirasa mendesak. Pertemuan sekali seminggu sudah tidak adaptabel dengan rotasi waktu yang dialami kawan-kawan akibat bertambahnya agenda lain kawan-kawan di luar KLPI.

Kedua, tempat kegiatan akan dilangsungkan di pelbagai tempat di Makassar yang dirasa sesuai dengan kesepakatan kawan-kawan. Artinya, jika selama ini pertemuan KLPI hanya dilakukan di sekretariat KLPI di Pabbentengan, maka ke depannya akan ada perubahan suasana akibat tempat pelaksanaannya yang akan berganti seiring waktu pelaksanaannya.

Ketiga, di KLPI jilid 3 hanya akan diselenggarakan selama 6 bulan belaka. Perubahan targetan ini imbas persedian “oksigen” kawan-kawan yang terbatas selama pertemuan satu tahun seperti yang telah direncakan sebelumnya. Sisi positif perubahan durasi ini akan memudahkan kawan-kawan mengevaluasi baik kemajuan maupun mundurnya targetan-targetan KLPI selama satu semester kelak.

Keempat, pokok yang paling mencolok dari format baru ini yaitu dirumuskannya delapan jalan bagi kawan-kawan untuk menempuh hidup literasi dengan “keringat dan air mata” selama di KLPI ke depannya. Delapan jalan ini kemudian diturunkan menjadi delapan materi yang akan diturunkan selama empat bulan berturut-turut dari enam bulan yang ditargetkan.

Delapan jalan yang dimaksud itu adalah: Pertama, kuliah umum Apa, Mengapa dan Apa Pentingnya Literasi bagi Kehidupan Saat Ini? Kedua, 10 Dosa Penulis Pemula. Ketiga, Klasifikasi dan Genre Tulisan. Keempat, Cara dan Pengorganisasian Ide ke Dalam Tulisan. Kelima, Teknik Kepenulisan Esai. Keenam, Teknik Kepenulisan Opini. Ketujuh, Teknik Kepenulisan Cerpen. Kedelapan, Teknik Kepenulisan Puisi.

Di samping delapan jalan wajib penempuh suluk literasi di KLPI selama enam bulan, akan ada jalan tarikat yang menjadi materi-materi khusus agar dapat menggenapi capaian makam kepenulisan siapa pun yang menempuhnya. Sebagaimana jalan tarikat di manapun, ini hanya dapat ditempuh bagi siapa pun yang serius dan ikhlas menjalani suluk literasi selama ber-KLPI.

Terakhir, delapan jalan suluk literasi akan diprogramkan selama empat bulan pertama dengan mengundang guru-guru yang telah melanglang bumi persada literasi berdasarkan spesialisasi dan tema yang sudah ditentukan. Dua bulan terakhir akan diisi dengan praktik menulis itu sendiri dengan tetap melibatkan kawan-kawan yang telah dahulu ikut di KLPI selama ini.

Hatta, mari bersyukur KLPI sudah sampai di sini. Sehormat-hormatnya bagi siapa pun yang sudah menyediakan nafasnya bagi keberlangsungan KLPI selama ini. 


Tulisan merupakan suara pribadi seorang penulis yang sifatnya subjektif, unik. Tulisan adalah ruang di mana 'penulis secara jelas menunjukkan diri sebagai individu karena di sinilah dia peduli dengan dirinya sendiri'. Rolland Barthes 

12 February 2017

Memahami Seni Memahami (catatan ringkas atas Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman)

Saya merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami-nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat yang mendesak di kehidupan saat ini. 

Pertimbanganya tentu buku ini memberikan peluang bagi pembaca untuk mendapatkan pemahaman bagaimana "memahami" bukan sekadar urusan sederhana belaka. Apalagi, ketika beragam perbedaan yang kerap muncul, "seni memahami" dirasa perlu dibaca siapa saja terutama yang kritis melihat situasi sosial sebagai medan yang mudah retak. 

Seni memahami, walaupun itu buku filsafat, bisa diterapkan di dalam cara pandang kita terhadap interaksi antar umat manusia sehari-hari.  

Hal ini juga seperti yang disampaikan Budiman, buku ini berusaha memberikan suatu pengertian baru tentang relasi antara manusia yang mengalami disorientasi di alam demokrasi abad 21. 

Begitu pula fenomena fundamentalisme dan kasus-kasus kekerasan atas agama dan ras, yang  mengalami mispengertian imbas penafsiran atas teks yang terlalu literer, melalui pemikiran tentang seni memahami, menjadi salah satu motivasi mengapa buku ini harus menjadi bacaan wajib bagi siapa pun. 

Seni memahami yang diandaikan Hardiman senantiasa bertolak dari teks sebagai basis materialnya. Artinya, melalui konteks pemikiran tokoh-tokoh filsafat yang diulas di dalamnya, teks menjadi sasaran utama bagaimana “memahami” dapat dimungkinkan.

Teks ataupun bahasa, di era seperti yang didakukan Alvin Toffler menjadi indikator utama dalam milenium ke tiga sebagai kebutuhan mendasar masyarakat. Dengan  dan melalui teks ataupun bahasa, informasi menjadi perantara kesalingpengertian antara manusia. Dengan kata lain, kesalingpengertian atau sebaliknya, sangat ditentukan oleh informasi yang menghubungkan interaksi masyarakat.

Bahasa ataupun teks sebagai medium makna, tidak selamanya mampu memberikan pengertian yang sama di antara beragam latar belakang masyarakat. Sekalipun teks ataupun bahasa itu menunjukkan makna yang terang, perbedaan mungkin saja muncul akibat cara merespon dan menghayati informasi yang bersangkutan.

Lantas, sampai di sini apakah yang dimaksud “memahami”? Apakah itu sama dengan arti memahami dalam kehidupan sehari-hari? Jika bukan, apa perbedaannya?

Memahami, berbeda dari mengetahui. Begitu ungkap Hardiman di bagian pendahuluan bukunya. Memahami disebutkan Hardiman sebagai kemampuan manusia untuk menjangkau sesuatu yang dialami orang lain. Itu berarti tidak semua pengetahuan yang ditujukan kepada orang lain, identik dengan memahami. Orang bisa saja memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum tentu banyak memahami.

Memahami dengan begitu “keterlibatan pribadi dan tidak bisa diraih semata-mata dengan sikap berjarak”. Secara epistemologis, memahami bukan ditujukan untuk memperoleh “data”, melainkan “makna”. Di sini akhirnya jelas. Pengetahuan senantiasa menangkap “data”, sementara memahami lebih jauh dari itu berusama menangkap “makna”.

Akibat kedalamannya, memahami juga senantiasa melibatkan dimensi personal maupun interpersonal. Sementara melibatkan dimensi personal, sama artinya memungkinkan keterbukaan di dalamnya. Maka tiada teks yang secara monolit menutup diri dari pemaknaan. Begitu pula secara sosial, pemahaman berarti harus mengandaikan dua pihak yang saling terbuka.

Di dalam keterbukaan itulah aktivitas saling membaca dapat direalisasi. Bertukartangkap dari “kedalaman” masing-masing, kemudian membangun pengertian yang sama-sama lahir dari aktivitas dialog yang dilakukan dua pihak.

Akivitas membaca dengan sendirinya merupakan aktivitas pertama untuk saling memahami. Tanpa itu mustahil kegiatan ini dapat diberlangsungkan.

10 February 2017

Merindukan Kota Dunia Ramah Literasi

Kota dunia, yang menjadi impian warga Makassar, bukan semata-mata ruang yang dibentuk dan dibangun hanya berdasarkan kekuatan ekonomi belaka. Apalagi, industrialisasi sebagai ciri utama kota, bukan satu-satunya ideal type agar kota disebut sebagai kawasan yang maju. Juga, apabila kota dunia hanya ditentukan dengan penataan ruang publik baru dengan indikator potensi kepariwisataan dan kawasan bisnis, dengan begitu akan membuat beragam variabel potensi yang dimiliki kota Makassar menjadi tidak termanfaatkan.

Itulah sebabnya, berkali-kali slogan Makassar Kota Dunia bukan saja diorientasikan seperti yang diekspresikan dalam visi kota industrialisasi, yang kerap mengenyampingkan aspek kemanusiaan di dalamnya. Melainkan lebih banyak mengarah kepada usaha membangun suasana kota yang aman dan nyaman bagi warganya. Begitu pula wacana membangun karakter warga kota yang dinarasikan melalui slogan manusia berkarakter sombere, adalah upaya nonekonomistik untuk memajukan Makassar dari aspek-aspek kemanusiaannya.

Saat ini, perkembangan kota-kota maju tidak hanya berfokus pada pembangunan di sektor ekonomi dan pariwisata, melainkan juga peningkatan di sektor sumber daya manusia dengan mengampanyekan literasi sebagai salah satu pendekatannya. Di tanah air, baru Surabaya yang mendeklarasikan dirinya sebagai kota literasi, dan turut serta mengikutsertakan budaya baca tulis ke dalam program-program pembangunan kotanya. Bagaimana dengan kota Makassar?

Warisan sejarah

Apabila menelisik kembali sejarah masa lampau, literasi menjadi faktor kebudayaan utama di samping kemampuan kemaritiman yang menjadi modal berkembangnya Makassar sebagai kota penting di zamannya. Keberadaan teks I lagaligo yang menjadi penanda kemajuan peradaban masyarakat Sulawesi Selatan, adalah bukti historis betapa literasi bukan lagi kecakapan asing saat itu.

Makassar sebagai kota dunia dalam konteks global, sudah seharusnya ikut memasukkan wacana literasi sebagai bagian pembangunan kotanya. Bukan saja program-program berorientasi lingkungan yang diekspresikan melalui penghijauan lorong-lorong dan pengelolahan sampah, melainkan ikut mengampanyekan cinta baca tulis bagi seluruh warganya.

Jika mengacu kepada indikator kota dunia yang berorientasi masa depan, literasi menjadi salah satu ukuran maju tidaknya perkembangan kota. Hal ini akibat semakin terbukanya segala medan interaksi masyarakat yang ditopang kemajuan bentuk dan model ilmu pengetahuan. Begitu pula pesatnya pertukaran informasi, mengharuskan perlunya peningkatan pemahaman antara warga kota dunia yang ditunjang dengan praktik baca tulis yang memadai.

Mengingat kebesaran sejarah literasi kebudayaan Bugis-Makassar, dan pesatnya perkembangan zaman saat ini, sudah sepatutnya visi pembangunan kota Makassar menempatkan literasi sebagai episentrum utama dalam memperkenalkan Makassar sebagai kota dunia.

Ramah literasi

Kota ramah literasi setidaknya mengedepankan sarana dan prasarana publik agar warga kota memiliki akses yang maksimal terhadap sumber-sumber pengetahuan. Dari segi infrastruktur, penting untuk menyediakan pelbagai perpustakaan kota yang nyaman dan tenang untuk menunjang aktifitas baca tulis bagi warganya.

Begitu pula kota perlu menyediakan ruang terbuka bagi warga agar dapat menemukan tempat semacam taman baca untuk merealisasikan minat baca tulisnya.

Dari aspek pendidikan, minat baca tulis seharusnya sudah menjadi narasi utama yang disokong peraturan daerah dalam membangun kepribadian siswa menghadapi kemajuan situasi hari ini. Sombere, misalnya, yang menjadi prototiype warga smart city, hanya bisa ditunjang dengan penggalian sumber-sumber utama tentang kearifan manusia Bugis-Makassar melalui budaya baca dan budaya tulis agar terus dapat tersosialisasi.

Jika membandingkan dengan negara tetangga semisal Malaysia dan Singapura, siswa setara SMA diwajibkan membaca minimal 5-6 buku pertahun. Brunei sampai 7 judul buku, Jepang 15 buku, atau bahkan di Amerika Serikat 32 judul buku dalam setahun. Kegiatan kongkrit macam ini jika diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan akan sangat bermanfaat dalam jangka waktu ke depan.

Akan menjadi fenomena yang dahsyat, jika setiap sekolah dianjurkan atau diharuskan memiliki perpustakaan yang terstandarnisasi. Atau digalakkan juga kantin buku di luar dari keberadaan perpustakaan sekolah. Begitu juga akan jauh lebih dahsyat bila atmosfer budaya membaca tidak saja diciptakan dalam lingkungan sekolah, melainkan disokong dengan menghadirkan satu perpustakaan setiap satu kelurahan.

Merebaknya komunitas kepemudaan warga kota yang mendedikasikan kiprahnya dalam dunia literasi, menjadi modal lainnya agar dapat ikut menciptakan Makassar sebagai kota ramah literasi. Tentu hal yang paling penting adalah perhatian pemerintah itu sendiri yang diharapkan menjadi penggerak utama dalam mengkampanyekan budaya baca tulis. 

07 February 2017

Sadrak dan Secarik Stiker

Madah kemudian mati digilas truk bermuatan pasir ketika Sadrak menatap stiker berisikan tulisan arab setelah ditawari seorang remaja yang memelas dan memasang muka seperti bayi di waktu dia membawa istrinya di sebuah klinik kandungan. Tak ada yang menyangka, Madah, si penjual koran itu tiba-tiba berteriak dan tubuhnya akhirnya putus diseret bamper truk. Darahnya masih segar mengucur dari pahanya yang sobek. Sementara kepalanya nyaris putus dari lehernya. Yang membuat orang ngeri karena dari perut Madah keluar meliuk-liuk usus seperti lipatan naga yang sedang tidur. Isi lambungnya pecah, membuat sisa nasi goreng dan ampas kopi berhamburan di pinggir jalan.

Sadrak tak ikut lari berkerumun menjulurkan kepalanya di antara orang-orang yang penasaran. Dia hanya duduk menatap stiker berwarna hitam yang baru dibelinya. Dibolak baliknya stiker itu. Membaca tulisannya yang berwarna keemasan.

Sadrak seorang mualaf. Tulisan arab masih asing baginya. Baru dua pekan dia menjadi muslim. Istrinya, sekarang sedang hamil muda. Baru sepekan mereka menikah. Sekarang dia di klinik persalinan. Wati ingin menggugurkan kandungannya yang baru berusia dua bulan.

Orang-orang masih penasaran. Keramaian terbagi dua mengikuti tubuh Madah yang terpisah. Di bagian utara, kerumunan tidak kalah ramai. Sementara di bagian selatan, orang-orang hanya melongo kehabisan kata-kata. Walaupun kepalanya nyaris putus, masih terdengar suara Madah minta tolong.

"Tolong..tolong." Suaranya serak.

"Tolong.."

Di bagian utara, pahanya yang sobek dan kakinya yang sudah tidak berbentuk hanya tergeletak begitu saja. Orang-orang sibuk mengambil gambar. Yang lain membuat video.

Wati akhirnya lega. Kandungannya selesai diaborsi. Sementara Sadrak, hanya terdiam sambil melihat-lihat ayat di stiker yang baru dibelinya.

Setelah membayar uang jasa gelap dokter, Sadrak masih terus memegang stiker hitam itu. Ayat-ayat itu ingin sekali dibacanya. Tapi, lidahnya kelu. Bahkan dia tak tahu cara membacanya.

"Kamu tak harus membacanya, sudah tidak ada lagi jabang bayimu." Wati tiba-tiba menyadari sikap Sadrak.

"Saya lega, kamu tidak harus repot-repot mengajarinya mengaji, apalagi shalat segala, kamu baru dua minggu pindah agama. Tidak bakalan." Wati mengingatkan Sadrak.

Sadrak masih mempelototi stiker berisikan ayat alquran di tangannya. Belum sempat dia ajarkan anaknya agama barunya, istrinya malah ngotot berkeinginan menggugurkan kandungannya. Tapi, bagaimana cara ia membacanya. Sadrak tak tahu harus menyebut kata apa.

Wati sontak heran di depan klinik tiba-tiba banyak orang berkerumun. Dia melihat banyak orang seperti diperlihatkan mukjizat. Muka mereka seperti kehilangan darah. Sebagian lainnya menjulur-julurkan kepalanya. Berusaha menembus kerumunan. Berkeinginan melihat Madah yang tinggal setengah dan masih meringis kesakitan.

Sadrak tidak berminat ingin melihat peristiwa yang baru saja terjadi. Bayi yang baru saja digugurkan sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kehabisan kata-kata. Walaupun anak hasil dari luar nikah, mengajarkannya mengaji salah satu cara menebus dosa yang dibuatnya bersama Wati.

Tapi, Wati bekeyakinan lain. Mengaborsi adalah cara menebus dosa yang paling baik. Tidak ada anak yang baik dapat tumbuh dari hubungan di luar nikah. Walaupun akhirnya mereka menikah akibat paksaan orang tua Wati.

Sadrak ingin bertanggung jawab. Namun, sebelum mereka berdua menuju ke parkiran, dia ingin mengetahui bagaimana cara membaca tulisan di stiker itu. Dia menoleh dari kanan ke kiri mencari seorang remaja yang tadi menyodorkannya stiker. Barangkali anak itu bisa mengajarkan kepadanya cara mengeja tulisan Arab yang ternyata adalah surah al-fatiha. Tapi, karena didorong penasaran, Sadrak melangkahkan kakinya di kerumunan. Dia berpikir mungkin saja si anak yang menjual stiker itu ikut di dalam orang-orang yang sementara berkumpul berdesak-desakkan.

Sekonyong-konyong Sadrak terperanjat, orang yang dicarinya hanya tinggal setengah. Madah tergeletak mirip tikus yang ditabrak lari. Dia sudah tidak lagi berkata-kata. Dia mati lima menit setelah tubuhnya digilas truk pasca tergesa-gesa menyeberang ingin membuang hajat. Selain darah, di mulutnya keluar tahi yang sebentar lagi mengering.

“Ayo, kita pulang.” Terdengar suara Wati dari kejauhan. Muka Sadrak pias dan belum tahu bagaimana cara membaca tulisan di stikernya yang mulai basah.

05 February 2017

Sidang

Barangkali tidak ada sidang yang paling tragis selain dari pada sidang Pengadilan Heliasts (Court of the Heliasts). Sidang itu pengadilan dengan seorang terdakwa, seorang filsuf: Socrates.

Sidang itu bukan seperti sidang modern yang diketuai seorang hakim tunggal dengan beberapa hakim anggota, atau disertai jaksa penuntut dan juga seorang pengacara dengan retorika yang tangguh. Bahkan, sidang Heliasts, adalah pengadilan tanpa hakim atau pengacara. Dengan kata lain di sidang itu, Socrates seorang diri. 

Artinya, di sidang itu tanpa siapa-siapa, Socrates harus berdiri di hadapan 501 warga Athena yang bertindak sebagai hakim sekaligus jaksa penuntut. Seorang diri yang menyusun sendiri pembelaannya, dengan kata-kata, di hadapan suatu yang kelak akan dikenal sebagai sistem demokrasi. 

Dengan kata lain, siapa pun di sidang itu yang punya kaitan dengan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan Socrates, bisa mengajukan protes, juga tentu tuntutan.

Lantas, apakah kejahatan Socrates?

Di Athena, Socrates memiliki kebiasan berdialog. Aghora adalah tempat terbaik Socrates menemukan siapa saja untuk bertukar pikiran. Dari kebiasaan itu Socrates disenangi pemuda-pemuda Athena, termasuk Platon, muridnya yang cemerlang. Imbas banyak membuka wawasan kaum muda, elit Yunani merasa Socrates seorang yang mengancam.

Socrates membuat dewa-dewa yang dipuja Yunani kehilangan kewibawaan. Tidak ada yang disebut dewa-dewa yang secara resmi mesti disembah selain dengan pembuktian rasional. Imbasnya, Socrates dituduh meracuni keyakinan anak-anak muda. Mengancam agama resmi Yunani.

Itulah sebabnya Socrates dituduh sebagai atheis, merusak keimanan warga Yunani. Dan yang kedua, dari caranya berdialog, pikiran kaum muda menjadi kritis, sesuatu yang tidak disenangi rezim mana pun.

Dengan dua tuduhan itu Socrates dilaporkan. Anytus, Meletus, dan Lycin maju di hadapan sidang dan membacakan kedua tuduhan itu. Dan kita sudah tahu, Socrates kalah suara. Dia akhirnya menjalani hukumannya meneguk hemlock, rebusan air daun cemara.

Sebenarnya, adilkah sidang Heliasts?

Tapi sesungguhnya, pertanyaannya yang lain, adakah keadilan yang lahir dari persidangan yang direkayasa?

Di situlah rumitnya keadilan, jika prasyarat yang menyertainya tidak ditopang dengan asas-asas hukum yang mencerminkan nilai kebaikan, kemanfaatan, dan kebahagiaan.

Adakah kebaikan jika suatu sidang sudah sebelumnya disuap? Apa manfaat di dalamnya? Berbahagiakah segala pihak di dalamnya?

Socrates sudah tahu, sidang yang diprakarsai atas sentimentalisme tidak akan pernah melahirkan keadilan. Dengan kata lain, proses hukum yang cacat, bukan tempat keadilan ditemukan.

Walaupun demikian Socrates tetap menolak ketika murid sekaligus sahabatnya Critos, ingin melarikan Socrates dari penjara dengan cara menyuap pula. Bagi Socrates, ada yang mesti ditegakkan: ketaatan terhadap hukum negara. Biarpun itu dia tahu, sidang itu sudah direkayasa.

01 February 2017

madah lima puluh enam

Yang menarik dari seorang Nietzsche adalah pandangannya tentang kebenaran. Di mata Nietzsche, paras kebenaran tidak lebih dari atas kekuasaan moral tertentu. Artinya, genetika kebenaran di mana pun itu dilahirkan bukan semata-mata berasal dari rahim epistemologi manusia, melainkan sudah dikukuhkan oleh pandangan moral tertentu. Dalam konteks ini, kebenaran tidak diverifikasi dari benar atau salahnya suatu proposisi, tapi etis (boleh) tidakkah pernyataan itu diberlakukan.

Bahkan lebih subtil dari itu, Nietzsche bukan sekadar memproblemkan hakikat kebenaran itu sendiri, namun mengapa kebenaran itu dinyatakan sebagai kebenaran? Apa dasar terdalam di balik benar salahnya suatu proposisi? Apa yang mendasari kebenaran itu mesti ditegakkan?

Di balik ungkapan proposisi yang mengandung kebenaran, pada hakikatnya hanyalah dorongan atas absolutisme. Deskripsi ini dinyatakan Nietzsche akibat dari sifat dasar manusia untuk merasakan keutuhan, suatu kebutuhan untuk “percaya” atas sesuatu yang mutlak.

Yang naif dari itu, jika “yang mutlak” itu mendapat tantangan dari luar dirinya, maka akan bekerja dengan sendirinya suatu mekanisme untuk membela diri dengan cara mengecam dan menyingkirkan yang lain. Bahkan sampai melenyapkan.

Itu artinya, jika ada yang mati-matian mempertahankan suatu kebenaran tanpa memerhatikan asas-asas yang menyertainya, pada konteks ini hanyalah suatu usaha agar tampak absolut. Absolutisme, di mana pun itu pasti dan selamanya akan mempertahankan dirinya. Karena itu, kesalahan tidak dapat diterima. Karena itu juga agar kebenaran enggan dikatakan salah.

Perasaan atas “yang mutlak” inilah yang banyak memecah kohesi sosial belakangan ini. Kebenaran bukan bahasa universal yang menembus sekat-sekat pemikiran dan kebiasaan. Bahkan, sebaliknya, setiap segmentasi dan stratifikasi kelas masyarakat memiliki nalar negasi dengan memproduksi kebenarannya masing-masing.

Itulah sebabnya, tidak ada kode sosial yang bisa sertamerta adaptabel dengan purnaragam paras masyarakat. Agama, yang dalam kaca mata Durkheim sebagai kunci pengikat masyarakat, kehilangan fungsinya dan lebih tampak sebagai faktor pemisah. Akibatnya, masyarakat tersegregasi oleh agama itu sendiri. Dan bahkan agama kehilangan nalar universalnya.

Yang tampak lebih berbahaya, perasaan atas “yang mutlak” ikut dibesarkan dengan semangat religiusitas keagamaan. Bahkan sumber kemutlakan yang didasarkan atas teks-teks, dimodifikasi, dan dicomot dari konteks historis, demi menunjang otoritas kekuasaan tertentu.

Belakangan agama lebih tampak seperti legitimator dari keadaan yang timpang. Meminjam analisis Marx, agama menjadi kekuatan yang mengekalkan “pembodohan”, bahkan memalsukan pertentangan yang sesungguhnya sedang terjadi. Di saat demikianlah agama berfungsi ibarat metamphetamine yang memberikan efek ilusif berupa rasa percaya diri yang berlebihan, dan agresifitas yang meningkat.

Di dalam situasi yang ilusif itulah, kecanduan yang berlebihan atas perasaan “yang mutlak”, agama menjadi alat mengaburkan relasi-relasi problematis, misalnya, berupa perseteruan dinasti politik, peperangan geo-politik, perebutan sumber-sumber daya ekonomi, pembodohan dan pengerusan tradisi kebudayaan, peperangan atas batas-batas teritori, perebutan otoritas suku dan klan, perebutan supremasi etnik, penggusuran, dlsb.

Persoalan di atas akan terus diabaikan dengan sengaja ataupun tidak akibat perangkat membaca fenomena yang dibatasi dengan cara membaca yang esensialis. Sementara fenomena dan relasi problematis yang mengemuka saat ini merupakan peristiwa historik yang mesti ditelisik lebih jauh.

Krisis epistemologi juga merupakan faktor penting yang minim mengapa keadaan sekarang begitu tampak menjemukkan. Untuk mempresentasekan, misalnya, kebenaran, senantiasa dilalui dengan cara agresif dan massal. Dua cara ini menjadi penanda bahwa tiada diskursus yang menopang kebenaran sebagai produk yang lahir dari toleransi atas keberagaman dan dialog. Bahkan hilangnya dua modal ini, kebenaran selalu tampil dengan cara yang brutalistik dan histerik.

Popular Posts