21 December 2016

Ketika Natal Tiba

Ketika hujan masih lebat, kami tidak menyangka, bermain air dapat membuat lupa segalanya. Berlari di jalan lenggang, bergumul di genangan air, sambil bermain lumpur.

Saat rumah-rumah menutup pintunya, kami memilih keluar mandi hujan. Hujan bagi kami anak-anak lanang, memang harus dirayakan.

Bahkan, hujan waktu itu membuat tubuh kecil kami bebas kencing tanpa harus bersembunyi di sela-sela pohon pisang. Sering kami melakukannya saat berlari. Atau ketika menggigil di bawah pohon kapuk.

Yang paling aneh kami rasakan ketika air hujan bercampur air seni yang mengucur di belahan paha. Rasanya tidak bisa dibilang hangat. Tapi, kami tahu itu juga tidak bisa disebut dingin.

Dari semua itu, bermain sepak bola adalah permainan yang paling menyenangkan. Di depan rumah, lapangan sepak bola menjadi licin kalau hujan. Akibatnya, sleding yang tidak mungkin kami lakukan ketika lapangan kering, malah begitu mengasyikkan dilakukan.

Tapi hampir mustahil menggiring bola di genangan air. Satu-satunya cara membuat bola bisa bergerak ketika itu hanya harus menggunakan teknik cungkil.

Waktu itu berarti kami harus menendang bola seperti cara cangkul digunakan. Kaki kami harus menendang sedalam seperti cangkul menghujam tanah. Semakin dalam semakin bagus.

Lapangan sepak bola merupakan tanda bagaimana kami sering bergotong royong melakukan sesuatu. Jika musim penghujan tiba, rumput ilalang yang panjang harus segera dicabut dan dibakar.

Karena itu kami memotong rumput bersama-sama. Mengumpulnya bersama-sama, dan menunggunya kering bersama-sama pula. Jika suatu sore tanpa hujan, rumput yang kering segera kami bakar.

Sesekali dua kali kami sering bertanding melawan anak-anak dari kompleks perumnas. Kadang pula pertandingan kami dimaksudkan untuk berjudi. Kala itu satu gol lima ratus rupiah. Uang hasil kemenangan dipakai membeli es lilin.

Saya masih ingat pemimpin anak-anak perumnas ketika itu bernama Roy. Saya mengenal Roy karena kami satu sekolah tingkat menengah pertama. Saya kala itu kelas satu empat, Roy kelas satu tiga. Kelas kami bersebelahan.

Sering kali kesepakatan bertanding antara kami sudah disusun kala di sekolah. Roy biasanya menyatakan niatnya itu ketika kelas sedang istirahat. Jam empat sore waktu yang kami sepakati. Lapangan tempat pertandingan tentu sepetak tanah di depan rumah saya.

Ketika Roy sering membesar-besarkan Inter Milan, saya sering menyebut-nyebut Zvonimir Boban sebagai pemain ideal kala itu. Boban pemain tengah AC Milan asal Kroasia. Pemenang ketiga piala dunia 1998.

Kebiasan saat harus bermain bola, kami sering menggunakan nama pemain-pemain kesukaan sebagai nama samaran. Tentu Boban menjadi nama samaran saya. Semenjak saat itu saya sering dipanggil Boban.

Yang menarik dari kami semua adalah pertemanan kami tanpa memandang suku dan agama. Roy seorang kristiani. Begitu juga Carlos, Hendri, dan teman-teman saya yang lain.

Barangkali di mata kami agama bukan soal penting. Kami lebih senang memikirkan di mana harus mencari kalong di malam hari. Atau bagaimana cara membuat layang-layang. Atau di mana harus berkeliling berjualan es lilin. Atau dahan pohon apa yang baik digunakan menjadi gagang ketapel. Atau, di hutan bagian mana kami harus membangun markas jika ingin bersembunyi merokok.

Semua obrolan itu kadang kami lakukan ketika memanjati pohon kapuk, atau di saat sore hari dijatuhi mega dengan warna merah saga di belakangnya. Atau di saat kami mengotori baju dengan gambar-gambar sablon klub liga Italia dari cat berwarna merah atau biru.

Orang tua kami juga tidak pernah dipusingkan hanya karena kami berbeda agama. Sering kali malah orang tua saya hanya marah-marah jika buah mangga yang hampir matang hilang dicuri teman-teman saya. Atau bola kaki yang sering kali menyosor masuk rumah membuat suara mirip ledakan ketika mengenai penutup jendela yang terbuat dari seng.

Pernah suatu kali, saya diberitahu jika bermain di rumah teman yang beragama Nasrani agar memerhatikan makanan yang diberikan. Kadang karena rasa khawatir orang tua saya hanya menyarankan makanlah kue-kue yang memang tidak dimasak langsung. Makanlah makanan yang terbungkus plastik, itu lebih baik.

Tapi kadang saya tidak memerhatikan anjuran ibu saya. Itu saat saya sering kali bermain di rumah Putut yang beragama Hindu. Di rumahnya itu kadang saya bebas menghabiskan makanan rumah masakan ibu Putut. Pikir saya orang Hindu tidak suka mengkonsumsi daging babi.

Saya pernah diceritakan ketika tetangga di sebelah rumah ingin membagikan makanan yang berlebih, mereka lebih memilih memberikan seekor ayam hidup. Mereka tahu, kalau kami memakan daging ayam , maka itu harus dipotong berdasarkan cara Islam. Mereka tidak ingin membuat kami khawatir jika yang diberikan tidak terjamin kehalalannya. Itu sebab ayam hidup yang mereka berikan.

Jika bulan Desember tiba, itu berarti sering kali ada dua perayaan di bulan yang sama. Kami seringkali bergantian saling mengunjungi jika Lebaran dan hari Natal datang menjelang. Jika sepulang berkunjung perut kami kekenyangan akibat kue-kue yang dimakan dan disembunyikan di dalam saku baju dan celana kami.

Saya masih ingat minuman kaleng bernama Fanta menjadi incaran kami jika saling berkunjung. Memperlihatkan bibir yang merah kala itu adalah suatu kebanggaan. Maklum, minuman bersoda itu hanya dapat kami lihat jika di perayaan hari lebaran ataupun natal.

Apabila menjelang puncak hari Natal, saya sering mendengar nyanyi-nyanyian yang dikidungkan gereja yang tak jauh dari rumah. Semakin mendekati hari Natal, semakin intens teman-teman saya ke gereja. Saya sering berpikir, pasti mereka ikut bernyanyi jika lagu-lagu pujian didendangkan.

Saya senang mendengar lagu-lagu mereka. Hal seperti itu tidak pernah saya temukan jika di dalam masjid. Suara mereka ketika bernyanyi nampak membuat saya berpikir betapa khusyuknya mereka menjalani ibadah.

Sampai hari ini saya menyadari jika banyak penyanyi-penyanyi terkenal yang bersuara emas karena mereka sebelumnya adalah penyanyi-penyanyi di gereja. Saya takjub cara mereka memuja Tuhan.

Sampai akhirnya tiba di hari yang tidak pernah saya lupakan. Ketika Kota Kupang mengalami kerusuhan berdarah sebagaimana yang di alami dari Timor Timur. Saya mendengar di hari-hari penuh ketegangan itu, banyak orang saling serang menyerang. Beberapa hari kemudian saya tahu kerusuhan itu membawa-bawa isu agama.

Ketika di tempat umum banyak penduduk muslim diserang, banyak pula rumah-rumah mereka yang jadi sasaran amukan massa. Banyak saya mendengar kala itu siapa pun penduduk beragama Islam harus berhati-hati. Apapun yang hendak dilakukan sebisa mungkin agar bersembunyi di dalam rumah.

Dan tiba di suatu malam kerusuhan hampir memasuki perkampungan kami, banyak kasak-kusuk kalau rumah-rumah penduduk muslim di perumnas banyak yang dirusak massa. Banyak tiang listrik dipukul-pukul memberi peringatan. Dan semua itu terjadi di malam buta akibat listrik yang diputus tiba-tiba.

Saat itu yang bisa dilakukan hanya bersembunyi di rumah tetangga kami yang beragama Nasrani. Kami berkumpul di ruang tamu dihinggapi rasa was-was. Mendengar tiang listrik yang bertalu-talu mengeluarkan bunyi yang mengerikan sambil berdoa di malam tanpa lampu penerangan.

Jika saat itu tetangga kami melihat kami dari simbol-simbol agama, bukan mustahil mereka rela membantu kami. Tapi, di hari yang menegangkan itu, tiada rumah yang bersedia memberikan bantuannya selain rumah tetangga kami yang berbeda keyakinan.

Itulah sebabnya jika akhir-akhir ini banyak simbol-simbol umat kristiani yang dianggap mengganggu akidah umat muslim, saya langsung mengingat kebaikan keluarga tetangga kami yang berbeda keyakinan. Dulu mereka tidak pernah menyoal perbedaan yang terang di antara kami.

Sekarang atribut-atribut malah menjadi kekhawatiran yang berlebihan. Apalagi jika harus melakukan razia untuk memastikan tidak ada penggunaan atribut-atribut Natal bagi penduduk muslim yang bekerja di tempat umat kristiani. Itu sungguh keterlaluan.

Saya juga merasa sedih jika di hari umat kristiani menjalankan hari-hari peribadatan Natalnya, di hati mereka berkecamuk rasa tidak aman. Merasa tidak nyaman dengan perlakuan sekelompok orang yang mati-matian mempersoalkan simbol-simbol.

Sungguh simbol bukanlah suatu soal, yang sesungguhnya soal adalah bagaimana sikap kita saling memahami dan bertindak toleran di antara beragam keyakinan. Memberikan semua orang rasa nyaman ketika menjalankan ibadahnya.

Selamat menjelang hari Natal saudara-saudaraku.