Jumat, 23 Desember 2016

Kala Mamak di Bulan Desember dan Remah-Remah Ingatan

Baru saja mamak menelepon. Belakangan dia memang sering ke Makassar. Sudah kebiasaannya jika di Makassar mamak pasti memberi kabar. Kali ini seperti yang mamak bilang, bersama sepupu-sepupunya berkunjung dari rumah keluarga satu ke keluarga lainnya untuk mappaisseng. 

Mappaisseng merupakan tradisi Bugis-Makassar saling mengabarkan sanak keluarga jika ingin melangsungkan pernikahan.

Belakangan ini saya ingin menulis sesuatu tentang mamak. Sering kali jika berkendara di atas motor, pikiran saya berkelabat berusaha menembus masa silam mengenang beragam kejadian bersama mamak.

Mulai dari saat mamak mengantar saya ke sekolah untuk pertama kalinya, saat saya dimandikan di kala pagi hari yang dingin. Ketika mamak membuat bubur kacang hijau, atau ketika saya mengingat suatu malam kemarahan mamak yang meledak-ledak sembari menangis akibat seringnya saya keluyuran hingga dini hari.

Kala itu saya hanya ikut menangis akibat kemarahan mamak yang tak biasa. Sembari memukul-mukul dada merasakan kekhawatiran sambil memendam rasa amarah, raut mukanya justru meneteskan air mata.  Malam itu, kala semua orang tengah tertidur pulas, saya malah membuat mamak tak mampu menutup mata akibat menunggu anaknya yang tak kunjung pulang.

Saya sudah tak ingat seperti saya sulit menghitung jumlah uang yang sering kali saya curi diam-diam dari dompet mamak,  berapa kali membuat mamak harus marah-marah dan membuat tidurnya tidak tenang.

Di saat berkendara belakangan ini niat menulis sesuatu tentang mamak lebih sering menghinggapi benak saya akibat Desember bulan mamak berulang tahun.

Kadang saya berpikir kado apa yang paling pantas untuk diberikan selain doa yang hanya bisa saya panjatkan diam-diam. Apalagi, saya ingat persis selama ini tak pernah memberikan ucapan kepada mamak secara langsung ketika dia berulang tahun.

Saling memberikan ucapan perayaan ulang tahun memang tidak lazim kami lakukan. Jika tiba hari ulang tahun satu di antara kami, maka yang sering kali dilakukan hanyalah saling mengingat bahwa hari ini fulan bin fulan berulang tahun.

Kami memang sedikit kikuk jika harus melakukan hal-hal yang tidak biasa diperbuat. Bagi kami ucapan hanyalah ucapan. Di luar dari itu, yang terpenting semua berjalan sebagaiamana biasanya.

Desember bagi mamak berarti juga Desember yang sama bagi kedua saudara saya. Selain dirinya, kakak dan adik saya lahir di bulan yang sama dengan mamak. Secara berturut-turut selama dua minggu, mamak dan kedua saudara saya bergantian merayakan hari ulang tahunnya.

Sementara jika Maret dan Desember kami merayakan ulang tahun, saya tidak pernah tahu kapan tanggal bapak berulang tahun. Bapak sudah tidak mengingat bulan dan tanggal pasti kapan ia dilahirkan. Jika harus mengingat, bapak hanya bisa menyebut tahun untuk menandai hitungan usianya.

Saya menduga, bapak seperti orang-orang tua lainnya lahir di dalam situasi ketika suatu keluarga tidak menganggap penting catatan kelahiran. Saya tidak tahu apakah di masa itu akte kelahiran sudah mulai digunakan. Atau, apakah pencatatan macam demikian memang dianggap penting di masa itu. Toh apabila penting, lantas untuk apa?

Sekarang, memori seseorang sangat tergantung kepada angka-angka yang dijadikan tanda peristiwa penting. Bagi orang yang dulu mengabadikan kejadian-kejadian penting  dengan menggunakan kamera rol film, di balik foto yang telah dicuci diterakan tanggal kapan kejadian itu dibuatkan fotonya. Cara seperti ini masih saya temukan saat orang-orang mengoleksi buku-buku album foto yang disimpan rapi-rapi di almari mereka.

Di rumah mamak juga melakukan hal yang sama. Ketika saya masih di sekolah dasar, saya sering membongkar-bongkar album foto keluarga. Bahkan, seringkali satu tas berwarna abu-abu yang berisi tumpukan foto. Di situ saya sering mencari gambar-gambar yang tidak pernah saya alami.  Atau, ketika penasaran ingin melihat diri saya yang masih bayi.


Banyak saya melihat foto-foto ketika bapak merambah daerah-daerah terpencil di sudut-sudut Kota Kupang. Gambar bapak yang nampak muda dan ramping itu banyak berlatar daerah yang tertutupi karang dan rumput-rumput kering. Kelak saya tahu bahwa itu adalah daerah transmigran ketika Soeharto ingin penduduknya tersebar dan hidup bukan saja di Pulau Jawa.

Saya juga berusaha menerka-nerka seperti apa perasaan bapak dan mamak ketika melangsungkan pernikahan seperti yang saya lihat di dalam fotonya. Foto itu menampilkan bapak yang mengenakan jas berwarna abu-abu dan songkok hitam dan mamak yang mengenakan baju pengantin mirip kebaya berwarna putih. Saya baru menyadari di foto-foto yang lain tidak melihat bapak dan mamak mengenakan pakaian adat ketika menikah.

Suatu waktu saya melihat foto bapak menggendong Ima, saudara tertua saya ketika masih sekira berumur  3 sampai 4 bulan. Pernah juga bapak bertugas di Alor, suatu pulau di gugusan kepulauan NTT yang tidak saya ketahui di mana letaknya. Itu sebabnya saya melihat foto mamak dengan seorang nenek yang sedang memakan sirih pinang. Juga, foto Ima di dalam keranjang bayi yang terbuat dari bambu berwarna cokelat.

Di waktu muda, bapak dan mamak sudah memilih meninggalakan kampung halaman. Pernah saya mendengar ketika bapak pulang kampung untuk menikahi mamak, rasa haru dan sedih meliputi sanak keluarga ketika melepas kepergian mamak dan bapak berangkat ke tanah rantau. Sebagai pengantin baru, memilih pergi jauh dari sanak keluarga menurut saya adalah pilihan yang sulit dan berani.

Itulah mengapa banyak saya menemukan foto-foto bapak dan mamak ketika menggendong Ima di atas kapal laut. Pemandangan ini yang juga akan saya alami ketika sekali dua kali datang berkunjung ke kampung halaman ketika masih tinggal di Kota Kupang di saat liburan tiba. Kala mamak dan bapak nampak tersenyum duduk bersama Ima di atas matras tempat orang biasa tidur di atas kapal.

Foto yang membuat saya kaget ketika mamak menggunakan kebaya seperti warnabaju kopri berkerudung putih di hadapan seorang bapak bermuka Arab di saat seperti menjalani sidang. Orang itu di suatu waktu disebut mamak adalah Quraish Shihab. Foto itu dikatakan mamak diambil kala menjalani ujian akhir sebagai mahasiswa di IAIN Alauddin Ujung Pandang, dan Quraish Shihab sebagai salah satu pengujinya.

Foto itu saya taksir diambil di tahun 80-an. Ketika seperti yang mamak bilang waktu itu sudah beranak satu. Lewat foto itu pula saya mengetahui Quraish Shihab yang ceramah-ceramahnya banyak membuat orang tercerahkan, berasal dari Sulawesi Selatan. Ternyata ulama penulis buku jilid Tafsir Al Misbah itu berdarah Bugis-Rappang.

Bulan Desember ini mamak praktis lepas dari masa tugasnya sebagai pegawai negeri sipil. Mamak pensiun di bulan Desember. Seperti bapak yang sudah pensiun bertahun-tahun lalu. Saya berharap, di hari tuanya mamak bisa lebih banyak santai di rumah bersama bapak. Banyak bercerita, menonton, memasak, menyiram bunga, tanpa harus dibebani lagi tugas-tugasnya sebagai guru.

Seperti bapak yang lebih sering bekerja apa saja di dalam rumah, mamak juga orang yang tidak diam melihat rumah dalam keadaan kotor. Saya kira, di waktu pensiunnya, mamak hanya disibukkan dengan aktifitas sehari-hari seperti itu. Tanpa beban. Dengan suka cita.

Belakangan kalau melihat wajah tua mamak melalui foto di dalam gadget, hati saya dirundung kesedihan. Saya seperti ingin menangis, sampai sekarang belum bisa memberikan sesuatu yang bisa membuat mamak senang, juga apalagi bahagia. Sampai kapanpun saya tidak akan bisa memberikan balasan dari perhatian mamak selama ini kepada saya.

Begitu juga bapak, melihat wajahnya yang dipenuhi tahi lalat, rambutnya yang hampir semuanya putih, membuat saya merasa seperti menjadi anak yang tak tahu balas budi. Melihat wajah bapak, sama seperti melihat mamak, membuat hati ingin menangis.

Baiklah, tulisan ini sebenarnya diam-diam saya tulis sebagai satu ungkapan berterima kasih kepada bapak, terutama mamak. Beberapa hari yang lalu Hari Ibu. Sampai sekarang di pikiran saya belum tahu mau menulis apa tentang mamak. Yang ada hanya remah-remah ingatan atasnya.

Mungkin ini: i love you mamak, bapak...