12 November 2016

Jorge Luis Borges dan Sepasang Mata Buta dan Sebuah Cerita

“I have always imagined that paradise will be a kind of Library”

-Jorge Luis Borges-

Jorge Luis Borges pada akhirnya buta. Sastrawan berkebangsaan Argentina itu kehilangan penglihatan di tahun 30an di usia menjelang 60.  Konon, ketika buta, Borges tak sekalipun berhenti membaca. Dari toko buku di suatu sudut Buenos Aires, seorang pemuda senantiasa menemani membacakannya buku-buku. Dengan mata pemuda itu, Borges bisa tahu banyak hal.

Alberto Manguel datang tiga kali seminggu di rumah Borges. Sering kali dengan suara lantang, pemuda yang kelak menjadi sastrawan ini membacakan segala hal kepada Borges. Pemuda ini sangat beruntung menjadi bagian sejarah dengan menjadi “mata” bagi penulis besar yang menjadi tonggak fiksi realisme magis.

Borges sudah buta, tapi dari kegelapan matanya ia telah banyak membangun cerita. Menyusun dan mengeditnya selekas mungkin tanpa menuliskannya di atas secarik kertas. Borges barangkali tengah membangun kertas imajinatif di dalam benaknya ketika mengisahkan cerita-ceritanya. Itu juga sebabnya, magis adalah sebilah kata yang sudah dia susun sedari awal di dalam imajinasi kreatif benaknya.

Alberto Manguel boleh saja menyusupkan cerita melalui suaranya ketika membacakan buku-buku untuk Borges. Tapi, tetap saja Borges-lah yang memiliki kekuatan membangun kembali imajinasi di balik matanya yang buta. Saat itulah, imajinasinya mengambil alih kebutaan yang dialaminya. Membentuknya sesuka hati seperti yang tak bisa dilakukan mata penglihatan manusia pada umumnya.

Itu sebabnya mata hanyalah jembatan warna-warni, namun di dalam benaklah tempat peristiwa imajinatif sesungguhnya terjadi. Mata hanyalah jangkar bentuk-bentuk, tapi di dalam imajinasilah simbolisme berkembang.

Karena itu sesungguhnya Borges tidak benar-benar buta. Ia memang kehilangan penglihatannya, tapi ia –sekali lagi, tidak buta. Bahkan ia sendiri pernah menulis esai berjudul “Blindes” yang berbicara tentang kebutaan yang dialaminya. “Saya tak memperkenankan kebutaan mengintimidasi saya,” ungkap Borges sebagai ikhtiar agar terus dapat menulis.

Kebutaan, bahkan, bagi Borges disebutnya sebagai anugerah, sebagaimana ia juga menyebut bahwa Homer, penyair Yunani purba juga buta. Tapi dari kebutaan itu, justru ia memiliki sensibilitas melihat sesuatu dengan cara berbeda. Dengan kebutaan, suatu instrumen lain tercipta, dan kesempatan membangun dunia yang lain dari yang tidak banyak dipahami khalayak.

Dari sensibilitas yang peka, Borges punya visi, perspektif tempat “matanya” memandang dan membangun cerita. Dan, dengan buku-buku jemarinya yang tangkas mengalir aliran sungai cerita yang membuat banyak orang terhanyut. Sampai akhirnya siapa bisa menolak dari dua hal inilah Borges menjadi penulis dengan nama yang fenomenal.

***

Kebutaan boleh saja mencuri dan menghilangkan satu wilayah sensibilitas yang dimiliki manusia. Tapi, kebutaan juga sebaliknya mendorong indera lainnya menjadi lebih maksimal.

Konon, otak manusia akan mengkondisikan pekerjaannya jika ada satu alat inderanya yang mengalami hambatan atau gagal berfungsi. Otak akan mendukung dan memaksimalkan indera yang lain agar dapat lebih bekerja. Itu sebabnya, orang-orang yang buta, sebenarnya tidak benar-benar buta. Dia hanya berganti dan memaksimalkan alat indera yang lain.

Borges memang pada akhirnya buta, tapi seluruh indera sensibilitasnya memiliki cara yang lain dalam mencandra realitas. Juga, tentu dengan imajinasinya, realitas menjadi lebih kaya dan kompleks untuk dipahami dan dimaknai. Bagi Borges, barangkali cerita tanpa imajinasi yang kuat hanyalah istana khayangan di atas pasir.

Yang ajaib dari Borges, dia menjadi direktur perpustakaan nasional di Argentina saat mulai mengalami kebutaan. Bagaimana mungkin ini didamaikan? Ketika kegelapan menghingapi di balik sepasang matanya, sementara Borges berada di tengah-tengah buku-buku sebagai jendela persada. “Aku berbicara tentang ironi yang mempesona dari Tuhan yang memberikan aku sekaligus 800.000 buku beserta kegelapan.”

Bukankah ini suatu ironi yang mencengangkan? Dari sepasang mata yang buta, asal dari segala kegelapan bersarang, justru menjadi pangkal cerita imajinasi yang berlapis-lapis? Sungguh dari sepasang mata yang buta, Borges tak benar-benar buta.

Sungguh itu adalah berkah.

***

Aku dan Borges.*
Oleh Jorge Luis Borges
Ada orang lain dalam diri Borges. Aku berjalan-jalan sepanjang jalan-jalan Buenos Aires, kadang-kadang berhenti, — mungkin di luar kebiasaan – memperhatikan tapak sebuah jalan masuk yang tua atau sebuah gerbang berjeruji besi; tentang Borges akan mendapatkan berita-beritanya melalui surat dan sekilas melihat namanya diantara suatu dewan profesor atau di sebuah kamus biografi. Aku mempunyai citarasa terhadap gelas pengukur waktu, peta-peta, tipografi abad kedelapan belas, akar-akar kata, aroma kopi, dan prosa Stevenson; orang-orang lain itupun seperti halnya aku menyukai hal-hal tersebut, tetapi dengan cara yang menyolok yang mengubah mereka menjadi manerisme yang pura-pura. Akan menjadi suatu yang dibesar-besarkan untuk menyatakan bahwa kami berada pada batasan-batasan yang buruk; aku hidup, aku biarkan diriku hidup, sehingga Borges dapat menyusun cerita-cerita dan puisi-puisinya, dan cerita-cerita serta ouisi-puisi tersebut merupakan pembenaranku. Sulit bagiku untuk mengakui bahwa dia telah mengatur penulisan beberapa halaman yang berguna, karena halaman-halaman tersebut tidaklah menyelamatkan aku, mungkin karena apa yang baik tak lagi menjadi milik siapapun – juga tidak pada orang yang lain itu – walaupun juga agak mengarah pada adat bicara atau tradisi. Bagaimanapun juga, aku ditakdirkan untuk kehilangan pada suatu waktu atau untuk selamanya, dan hanya beberapa saat-saat milikku yang bertahan dalam diri orang lain itu. Sedikit demi sedikit, aku sedang menyerahkan segalanya kepadanya, walaupun aku mempunyai bukti tentang kebiasaan keras kepalanya pada pemalsuan dan pada suatu yang berlebih-lebihan, Spinoza berpendapat bahwa semua hal mencoba untuk mempertahankan keadaan dirinya sendiri; sebuah batu ingin tetap menjadi sebuah batu dan harimau menjadi seekor harimau. Aku akan tetap tinggal dalam Borges, tidak pada diriku sendiri (jika itupun menjadikan aku seseorang), walaupun aku mengenal diriku sendiri lebih sedikit dari yang dialami Borges atau dibandingkan dengan penyetelan gitar yang melelahkan, seiring tahun-tahun yang berdebu, aku mencoba membebaskan diri darinya dan aku pergi meninggalkan mitos-motos daerah kumuh kota yang terpencil untuk bermain-main dengan waktu dan keabadian, tetapi permainan-permainan tersebut sekarang adalah bagian dari Borges dan aku harus beralih ke sesuatu yang lain itu. Begitulah, kehidupanku adalah sebuah pelarian, dan aku telah kehilangan segalanya dan segalanya itu segera akan dilupakan atau menuju ke orang lain itu. 
Siapa diantara kami yang menulis halaman ini, aku tidak tahu. 

*Diterjemahkan oleh Ahmad Muhaimin dari Borges and Myself. Cerita pendek ini berasal dari Aleph and Other Stories. Jorge Luis Borges dan Thomas di Giovanni. E.P. Dutton. New York. 1978.-- amuhaimin.wordpress.com