08 November 2016

Jika Mini Market Tak Diduga-duga Menjual Buku

Seminggu lalu, saya baru saja membeli buku. Di sebuah toko sebelah rumah. Kenyataannya saya tidak benar-benar ingin membeli buku. Awalnya hanya ingin membeli keperluan mandi sehari-hari. Kemudian satu buah map buat menaruh surat-surat penting.

Tapi tiba-tiba mata saya tertuju pada satu etalase khusus yang menyediakan buku. Tanpa pikir panjang saya bergegas. Melihat-lihat. Dari rak atas sampai rak bawah, juga sebaliknya.

Saat itu hal aneh terlintas di dalam benak. Rasa-rasanya, toko yang hampir mirip mini market ini kok bisa menjual buku-buku. Setahu saya, di manapun mini market atau sejenisnya, tak ada yang menjual buku-buku.

Sepintas banyak buku-buku agama dijual. Beberapa novel, juga buku motivasi. Sampai akhirnya ada satu buku membuat saya tertarik. Tanpa diduga-duga mata saya mengeja satu nama akbar di dunia sufisme: Nasruddin Khodja.

Nama Nasruddin Khodja membuat saya lebih serius menyisir deretan bermacam-macam judul buku. Mungkin saja ada nama-nama besar sekaliber tokoh yang dikenal “bahlul” itu.

Sembari meniatkan bakal membelinya, saya tersentak sebuah buku lain bersampul cokelat.

Tak disangka, di situ tertera nama-nama seperti Leon Tolstoy, Oscar Wilde, O. Henri, Guy de Maupassant, Saki (H.H. Munro), dan dua nama lagi; Charles Perrault, H.C. Andersen. Harapan saya benar.

Dan, tak memerlukan waktu lama. Sekali menghitung jumlah uang di kantung, cukup membeli dua buku yang dahsyat itu. Tentu dengan resiko bakal lebih banyak pengeluaran. Namun, apa boleh dibilang, buku ditukar dengan uang yang setimpal tak jadi soal. Malah banyak manfaatnya.

Saya mulai menduga-duga, jika mini market seperti ini banyak berdiri, bisa jadi tak pernah lagi kita mendengar  statistik minat baca rendah di negara ini. Saya percaya, minat baca yang rendah bukan karena malasnya orang-orang membaca buku, tapi karena minimnya akses mendapatkan buku.

Coba bayangkan jika kios-kios di pinggir jalan menyediakan buku-buku buat dibaca. Bengkel motor, penjual gorengan, atau warung kopi yang dijaga nenek-nenek. Dan semuanya disediakan dibaca cuma-cuma, yakin dan percaya pasti ada yang bakal membacanya.

Ketika menyadari “keanehan” di toko sebelah rumah (walaupun mungkin di kota-kota maju tidak demikian) saya berkeyakinan kalau pemilik mini market yang saya tak tahu siapa orangnya, memiliki kepedulian terhadap ilmu pengetahuan. Walaupun buku bukan item utama di mini market itu.

Kepedulian terhadap ilmu pengetahuan berarti peduli dengan peradaban. Alangkah menariknya kalau kesadaran ini diyakini semua orang. Seperti termasuk pemilik mini market di atas.

Selain mini market, di kabupaten saya hanya baru ada --kalau tidak salah ingat—dua toko buku. Selain perpustakaan daerah yang tidak menarik, juga ada satu perpustakaan komunitas. Bila dipikir-pikir, sarana yang macam demikian belum bisa berbuat apa-apa terhadap kemajuan manusia di sini.

Jika saya berkunjung ke warkop, sangat jarang saya temui koran. Ini berbanding terbalik dengan minat anak muda dengan dunia maya. Koran sudah jarang dibaca. Toh kalau ada hanya orang-orang tertentu saja. Sementara dunia maya lebih banyak jadi perhatian.

Namun sayang, segala yang dilihat di dalam dunia maya belum bisa jadi apa-apa. Barangkali ada kategori yang dimaksud dengan pembaca pasiv, yakni pembaca berita yang tidak punya kemampuan menilai baik buruknya informasi. Atau pembaca negatif, yakni pembaca yang hanya melihat judul tanpa mau tahu isi beritanya. Atau mungkin saja ada pembaca bodoh yang selalu menyebar berita-berita hoax membikin bingung masyarakat.

Memang di zaman sekarang kemampuan literasi bukan saja soal seberapa jauh menyerap informasi, melainkan bagaimana seorang pembaca bisa juga menerapkan kaidah-kaidah kebenaran di dalam apa yang dibacanya. Juga akan lebih baik jika itu dilanjutkan dengan menuliskannya kembali.

Hanya dengan cara itu kemampuan literasi seseorang (masyarakat) bakal berkembang. Seperti juga, jika di samping rumahmu berdiri mini market yang menyediakan buku buat dibaca. Akan lebih menarik bukan?