Thursday, November 17, 2016 in ,

Barangsiapa Yang Kehilangan Cermin?

Cermin benda yang bermanfaat dalam kehidupan praktis manusia. Cermin bagi dunia mode, misalnya, merupakan salah satu perkakas yang paling elementer. Tanpanya, sang pesolek tak mampu melihat bayangan dirinya. Apakah sempurna atau tidak, semuanya bergantung kepada cermin.

Seperti sang pesolek, masyarakat umum juga membutuhkan cermin agar bisa menunjang penampilannya. Tak bisa dipungkiri, mulai dari anak sekolahan sampai orang dewasa menjadikan cermin sebagai wadah menilai dirinya. Apa yang nampak indah di dalam cermin, maka akan nampak indah pula ketika bergaul di tengah masyarakat.

Itu sebabnya dalam melihat dirinya, orang-orang sangat membutuhkan cermin. Tanpa cermin tak ada bayangan tubuh yang mampu ditangkap kembali. Dengan cermin, orang-orang membangun replika dirinya di atas pantulan layar kaca, untuk menilai dirinya, juga memahami dirinya. Artinya, melalui cermin, kita membutuhkan “diri” yang lain agar mampu melihat diri kita sendiri. Ini yang disebut sifat reflektif cermin, yakni sifat yang mampu memantulkan apapun ketika tampak di hadapannya.

Zaman sekarang, ketika tubuh begitu dominan dipertontankan, fungsi cermin semakin tinggi nilainya. Bahkan tubuh dan cermin merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Tanpa cermin, tubuh tak mampu menilai dirinya. Sebaliknya, tanpa tubuh, cermin hanya benda yang teronggok begitu saja.

Itu sebabnya, cermin dan tubuh ibarat kesatuan yang saling mengisi. Cermin sebagai layar kaca berfungsi menjadi wadah bayangan bagi tubuh, juga tubuh menjadi objek cermin agar cermin bernilai guna.

Kisah Cermin Rumi

Alkisah di dunia mistisisme, cermin bukan saja berfungsi secara material-biologis bagi tubuh. Cermin, secara fungsional di dalam dunia mistisme, dipakai secara metaforik-spiritual untuk menjelaskan tubuh manusia dalam keadaannya yang paling transparan. Cermin bagi dunia mistisisme adalah benda metafor untuk melihat paras manusia dalam wujud tubuh-spiritual. Bahkan di dunia mistisisme, cermin juga merupakan bagian integral bagi tubuh-spiritual sebagai wadah eksistensinya.

Jalaluddin Rumi, sufi berpengaruh dari abad 13 memiliki kisah bagaimana cermin menjadi analog dengan tubuh. Dikisahkan, dua pelukis ulung bertemu dengan maksud melukis jagad raya di atas kanvas dalam suatu perhelatan. Perhelatan bertujuan mencari pelukis yang mampu melukis dunia semirip mungkin di atas kanvas sampai akhir acara. Dengan cara berhadap-hadapan satu sama lain dan dipisahkan tirai di tengahnya, kedua pelukis dengan cekatan mulai melukis jagad raya. Namun aneh, salah satu pelukis bukannya melukis, justru malah membersihkan permukaan kanvas dengan cara mengelapnya. Begitu seterusnya hingga mengkilap.

Sampai tiba waktunya dinilai, alangkah terkejutnya pelukis yang telah bersusah payah menggambar jagad raya semirip seperti yang ia saksikan. Pasalnya, setelah tirai diangkat, pelukis yang hanya membersihkan pemukaan kanvas sedari awal sampai akhir lomba, tak disangka dari kanvasnya yang mengkilap, memantulkan kembali gambar dunia dari pelukis yang berada di hadapannya mirip tanpa ada perbedaan sedikitpun.

Kata Rumi, jiwa manusia ibarat cermin yang mampu memantulkan keindahan dan keluasan jagad persada, jika seandainya dia membersihkannya dari ikatan-ikatan dunia. Seperti pelukis yang membersihkan permukaan kanvasnya, tubuh-spiritual manusia yang bersih, dengan sendirinya akan mampu memancarkan keindahan semesta yang  ada di hadapannya. Dengan kata lain, tubuh-spiritual atau jiwa, melalui yang dikisahkan Rumi adalah cermin tempat paras manusia dipancarkan.

Jiwa yang bagai cermin tidak dengan sendirinya terbentuk. Manusia adalah mahluk yang diliputi segala macam persoalan. Pikirannya seluas masalah yang dihadapinya. Jiwanya sesempit apa yang dirasakannya. Itulah sebabnya manusia butuh refleksi, suatu usaha penjarakan terhadap problem yang dihadapi. Atau dengan kata lain, manusia harus bisa menengok ke dalam cermin dirinya, melihat tepat di hadapannya, tiada lain untuk membersihkan tubuh-spiritualnya. Tiada lain kalau bukan dengan cara permenungan.

Minus Permenungan

Kisah cermin Rumi adalah kisah agar manusia menjadikan cermin-jiwa sebagai pantulan refleksi kehidupannya. Bukan cermin-material yang hanya mampu memancarkan tubuh-material yang selama ini diutamakan sebagai poros perhatian. Namun malang, kebanyakan manusia lebih banyak memerhatikan tubuh-materialnya dengan cara memoles, menyuntik, mempermak, dan memotong agar nampak lebih estetik di hadapan cermin-cermin-material di sekitarnya.

Cermin-material, pada akhirnya menjadi benda kosmetik paling berharga demi menunjang eksistensi tubuh-material dibandingkan tubuh-spiritual. Di atas cermin-material, tubuh-material menemukan keseluruhan eksistensinya. Melalui cermin-material, tubuh-material menjadi organ tontonan yang dipresentasikan agar sempurna ketika tampil di tengah masyarakat. Juga dengan cermin-material, tubuh-material diharapkan mampu menggandakan kepercayaan dirinya.

Akibatnya, tubuh-spiritual ditinggalkan begitu saja sebagaimana cermin-jiwa diabaikan. Tubuh-spiritual yang hanya bisa ditemukenali dari cermin-jiwa, kini dipinggirkan seiring rakusnya tubuh-material dengan cara meraih kekuasaan, jabatan, dan harta berlebihan. Melalui kekuasaan tubuh-material tak tanggung-tanggung menilap tubuh-tubuh ringkih di bawahnya. Dengan jabatan dan harta pula, tubuh-material menipu sesama tubuh-tubuh yang hidup di antaranya.

Tubuh-material malangnya, bukan saja mencari pantulan refleksinya di atas cermin-material yang beterbaran di sekelilingnya. Melalui kekuasaan, nama besar, kepatuhan, bahkan jabatan, juga menjadi cermin bagi tubuh-material untuk mencari harga diri di dalam kehidupan sosialnya. Semakin besar kekuasaan, semakin tinggi kepatuhan orang-orang, dan semakin berlipatganda harta dan jabatan, maka semakin besar pula harga dirinya ketika menjadikan semua itu sebagai tempat bercermin diri.

Pada akhirnya, sebagian kita mirip sang pesolek atau pelukis yang sibuk menduplikasi semesta jagad untuk menumbuhkan tubuh-material dari cermin dunia di luarnya. Kita lupa seperti dikisahkan Jalaluddin Rumi, manusia pada hakikatnya memiliki cermin-jiwa jauh di dalam lubuk hatinya, yang  mampu mengembangkan tubuh-spiritualnya jika kita mau bercermin di hadapannya. Sungguh, barangsiapa yang telah kehilangan cermin?
    
Terbit juga di Kalaliterasi.com

Literasi populer