12 Oktober 2016

7 hal kamu rasakan saat kembali membaca tulisan lawasmu

| |
Jika kamu sedang belajar menjadi penulis, bisa jadi banyak kertas kerja dari karya pikiranmu yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Jika itu sudah berjubel di deskstop laptopmu, kamu mungkin saja mengalami perasaan bermacammacam seperti di bawah ini ketika membaca kembali tulisan lamamu.

Pertama, merasa asing. Ini seperti saat kamu mengalami tidur panjang dan tibatiba terbangun di suatu pulau antah berantah. Yang kamu temui adalah tempat yang sama sekali baru. Perbendaharaan ingatanmu tidak pernah membayangkan dan menemukan tempat seperti yang tibatiba kamu tempati. Di pulau itulah kamu merasakan semuanya jadi berbeda. Dan, kamu seketika sama sekali tidak mengenal siapa dirimu sebenarnya.

Ya, seperti itulah pertamatama jika kamu memiliki karya tulis yang ditinggalkan berlamalama dan membacanya kembali. Segalanya nampak berbeda. Tibatiba tulisanmu jadi seperti pulau yang asing. Kamu tidak mengenalinya, dan sebaliknya, kamu tidak mengenal “dirimu” yang pernah menulisnya.

Bagi orang kasmaran, yang pernah surat menyurat dengan kekasihnya, dan mendapati suratsurat cintanya di saat hari tuanya, pasti mengalami perasaan yang sama seperti di atas. Dan kemudian pasti berbeda. Dia bakal terkagumkagum dengan surat yang pernah ditulisnya bertahuntahun lampau saat masih muda, kala menggebugebu disulut api cinta. Pasti, di hatinya yang paling pencil, merasakan perasaan yang tak mungkin digambarkan. Kenangannya membuat ia menjadi orang yang sama sekali baru.

Kedua, kamu akan merasakan halhal yang tidak pernah kamu sangkakan bahwa kamu pernah menulis karya yang luar biasa. Kalau yang satu ini akibat betapa dahsyatnya dirimu berkembang dari penulis pemula menjadi orang yang betulbetul ingin menulis.  Dari kondisimu sekarang, tulisan lama yang kamu baca kembali menjadi penanda betapa dirimu telah banyak berubah. Dari tulisanmu itu, kamu bisa mengetahui dirimu tengah menjadi orang yang hebat.

Tulisan lama yang kamu baca kembali, seperti orang tua yang membaca kembali suratsurat cintanya, dapat menghidupkan kembali suasana yang terekam di dalam tulisanmu. Di saat demikianlah kamu bakal kembali menjumpai ingatanmu yang mungkin samarsamar mulai terhapus dalam ingatan. Bahkan, dari tulisan yang kamu baca, juga membawamu mengenang peristiwa apa saja yang terjadi di sekitar tulisanmu, dalam kondisi apa kamu menulis, dan di saat kapan kamu menulisnya. Tulisanmu jadi “mesin” lorong waktu.

Ketiga, kamu bakal tersenyum diamdiam. Keadaan ini dialami jika kamu sebelumnya sudah melewati tahap di atas. Kamu bakal tersenyum diamdiam ketika mengingat kembali salah satu tulisanmu ternyata dibuat saat kamu bermaksud mengejek kawankawanmu. Atau, kamu tibatiba tersenyum akibat tulisanmu pernah dibuat di saat menunggu istri kawan kamu melahirkan di tengah malam buta. Juga mungkin di antara tulisanmu, ada di antaranya ditulis karena merasa benci kepada seseorang. Ya, begitulah. Tulisanmu bisa menjadi “kawan baik” di saat kamu membacanya, dan dia mampu membuatmu tersenyum kecil saat beberapa lelucon terasa garing.

Keempat, tulisanmu bisa saja membuatmu menjadi orang yang bodoh. Ini akibat kamu pernah menulis tulisan yang canggih, ketika membacanya kembali kamu dibuat seperti orang yang seketika seperti tak tahu apaapa. Apalagi jika tulisan yang pernah kamu susun menyertakan berbagai macam kutipan dari berbagai literatur. Di saat itulah membaca kembali tulisanmu seperti membaca buku karangan pemikir terkenal. Kamu dibuat menjadi bukan siapasiapa. Kamu seperti orang yang baru pertama kali belajar mencari tahu apa yang kamu tidak ketahui sebelumnya.

Kelima adalah kamu bisa saja merasakan kekonyolan dari tulisanmu yang amburadul. Suasana ini ibarat kamu seperti seorang pangeran yang diwarisi  kerajaan yang hampir bubar dan kehilangan semua penasehatpenasehatmu. Kamu memiliki kebesaran diwarisi gen pemimpin dari leluhur nenek moyang, tapi tak tahu harus berbuat apa akibat kerajaan yang diterpa krisis. Perasaan macam itulah yang kamu rasakan jika menemukan kembali tulisanmu yang masih kacau balau, mulai dari ejaannya, tanda bacanya, dan juga kalimatkalimat yang menyusun argumentasimu.

Tulisan lamamu yang amburadul, juga akan membuatmu menyadari bahwa kamu awalnya adalah seorang yang susah payah menulis hanya demi membuat satu kalimat yang enak dibaca. Tulisanmu yang amburadul, juga akan membuatmu tahu bahwa menulis itu ternyata membutuhkan proses panjang dari waktu ke waktu.

Keenam, dari tulisan lamamu kamu mungkin akan merasakan dari tulisanmu waktu ternyata tidak mainmain mendera ingatanmu. Kamu bakal dibuat terkagetkaget, ternyata tulisanmu telah menjadi dirimu yang bermacammacam. Waktu akhirnya membuat dirimu pernah “menjadi ini”, “menjadi itu”, atau mungkin “menjadi macammacam”. Tulisanmu ternyata diamdiam menjadi salah satu nyawamu yang tak pernah ajeg. Kamu ternyata bisa berubah menjadi siapa saja, apa saja.

Terakhir, tulisanmu bakal membuatmu sedih. Ya, karena nanti kamu akan mulai berpikir di sudut malam, kelak jika kamu tiada, apa yang akan terjadi dengan tulisantulisanmu. Jika kamu telah mangkir, siapa yang bakal merawat tulisantulisanmu. Bagaimanakah nasib karya pikirmu? Akankah dia bernasib sama denganmu?

Tapi, berbahagialah. Halhal yang kamu rasakan ketika membaca kembali tulisan lamamu akan membuatmu belajar mencintai apa yang telah kamu lakukan. Tulisantulisanmu. Karya pikirmu. Tersenyumlah, karena tulisan lamamu bisa saja seperti yang dikatakan Marx: “cintalah yang pertama mengajarkan manusia untuk percaya pada dunia di luar dirinya.”