08 October 2016

Catatan KLPI Pekan 31 (sekaligus Pekan 29 dan 30)

Dua pekan belakangan, catatan KLPI absen dari yang selama ini dilakukan. Sesungguhnya banyak yang bisa diceritakan, tapi apa daya jika dua pekan sebelumnya, saya sebagai penyuguh catatan ini berhalangan terlibat. Padahal, jika ketua kelas punya lain kesibukan, harapannya peran ini bisa digantikan oleh kawankawan. Namun itu tidak terjadi, walaupun pernah sekali Muhajir mengambil peran yang sama di pekan 24.

Begitu pula di dalam teknis mekanisme forum. Sudah semenjak lama jika ketua kelas tak dapat ikut terlibat, maka harus ada kesadaran dari kawankawan mau mengambil peran kepemimpinan saat menyelenggarakan kelas. Aturan ini dibuat agar tidak ada patronase di dalam KLPI. Semua berjalan karena sistem yang bekerja berdasarkan fungsi, bukan status.

Di pertemuan terakhir kemarin (pekan 31), kelas banyak belajar dari karya kawankawan yang bergenre nonfiksi. Memang belakangan, banyak di antara kawankawan yang sering menyetor tulisan bergenre cerpen. Termasuk dua kawan baru, Arni dan adiknya, Riska.

Walaupun begitu, dari tulisan Arni dan Riska, kembali memantik perbincangan soal unsurunsur intrinsik dalam karya cerpen. Seperti sudah dijelaskan dalam catatancatan sebelumnya, suatu karya cerpen disebut cerpen jika memuat setidaknya tiga unsur intrinsik di dalamnya, yakni tokoh, plot, dan konflik. Pengetahuan ini penting, setidaknya memberikan kepada kawankawan pemahaman dasar untuk mengenali jenisjenis genre di dalam karya sastra.

Hal lain turut jadi omongan adalah soal tindak verbal yang kadang masuk menyusupi tindak menulis. Banyak ditemukan dari karya kawankawan, sulit memisahkan kebiasaan ucapan verbal dengan tindak berbahasa di dalam menulis. Mesti dipahami, aturan main berbahasa baik verbal atawa tulisan punya hukumnya masingmasing. Contoh kasus bunyi bahasa “bank” untuk menyebut tempat penyimpanan uang, berbeda dengan “Bang” kalau merujuk panggilan kepada orang yang lebih tua. Walaupun bunyinya sama, tapi itu tidak berlaku ketika dituliskan.

Hal demikian juga berlaku di dalam tindak verbal masyarakat Bugis-Makassar yang memiliki ciri khas dialek tertentu. Kadang kata yang berakhiran “n”, ditambahkan “g” sebagai penekanannya. Begitu pula katakata yang tidak seharusnya ditambahkan “h” di belakangnya, justru digenapi sebagai aturan berbahasanya. Aturan main ucapan verbal semacam ini yang tanpa disengaja dan disadari, mengambil kesadaran penulis di saat menulis karyanya.

Kelas kali ini juga turut membahas karya Ilyas. Ilyas di kesempatan kemarin membawa cerpen yang sudah lama di tulisnya di medio bulan Juli. Bahkan, dari pernyataannya, cerpen bersangkutan sempat dikirim ke salah satu media cetak di Makassar, namun gagal diterbitkan. Akibatnya, Ilyas penasaran apa yang membuat karya tulisnya itu tidak dimuat dan selanjutnya membawanya ke kelas untuk didiskusikan.

Dari penelusuran bersama, ditemukan ada beberapa poin yang luput dari perhatian Ilyas. Pertama adalah ada ejaan yang kurang memerhatikan EBI. Kedua, --dan ini sifatnya subjektif, menurut saya— gaya penulisan yang dibuat Ilyas tidak seperti cerpencerpen yang sering dimuat di koran yang dimaksud. Sementara, cara membangun cerita Ilyas sering memakai tehnik memenggal yang memotong adegan demi adegan penceritaan. Konsekuensi dari gaya bercerita demikian membuat pembaca sering tidak utuh menangkap keseluruhan peristiwa yang berada di balik penceritaan narator.

Dan, yang paling utama, barangkali tema cerpen Ilyas yang kurang menyentuh aspekaspek aktual yang sering kali menjadi bagian hidup manusia. Apa yang diceritakan Ilyas adalah seorang anak kecil yang berjualan jalangkote akibat kehidupan ekonomi orang tuanya yang di bawah ratarata, memang adalah kasus yang bisa dialami banyak orang, tapi dari waktu tulisan itu hendak diterbitkan bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang sedang menjadi perhatian redaktur koran terkait. Kalau yang ini, kita mesti paham, kadang suatu karya bisa bagus, tapi redaktur desktop tempat kita tuju memiliki cara pandang yang lain.

Karya tulis terakhir yang digeledah adalah buah tangan Hasyim, seorang kawan baru. Hasyim merupakan kawan Ishak Boufakar, juga kuliah mengambil konsentrasi ilmu komunikasi. Mungkin sebab itulah, karya pertama yang dibawanya tidak jauh dari tema ilmu komunikasi. Unsur entristik inilah yang kuat mendominasi karya esai yang dibuatnya.

Seperti kawankawan sering kali mendaku ketika baru pertama kali menulis, tulisan Hasyim tidak nampak seorang yang baru pertama kali menulis. Struktur kalimatnya terukur, pun argumentasinya dibuat logis. Begitu juga tatanan bahasanya normal sebagaimana karangan esai dibuat, tidak banyak mendayudayu juga tidak nampak ilmiah. Santai menggunakan bahasa populer. Namun, seperti sering kali terjadi, juga sebagaimana kawankawan lainnya, Hasyim masih sulit menghindari kesalahan ejaan yang selayaknya dipahami sebagai kaidah berbahasa selama ini.

Pasca karya tulis Hasyim digeledah, kelas akhirnya membubarkan diri.

***

Kelas sebelumnya juga kedatangan Muhary Wahyu Nurba, sastrawan yang belakangan sedang mempersiapkan diri memerankan satu karakter di Silariang, film yang mengambil latar belakang masyarakat Bugis-Makassar.

Hasil informasi yang berhasil dikumpulkan, banyak hal yang disampaikan pengasuh kolom sastra di harian Lombok Pos ini. Termasuk bagaimana mempersiapkan karya cerpen yang baik dan mampu menembus meja redaksi media cetak. Juga, seperti apa sikap yang harus dimiliki seorang ketika mengambil kepenulisan sebagai pilihan berkarya.

Di kesempatan itu Muhary mengingatkan dua hal yang kadang diabaikan kawankawan di kelas. Pertama soal ejaan yang harus mengikuti aturan main. Apalagi, jika ada kawankawan yang ingin mengirimkan tulisan di media cetak ataupun online, hal pertama yang diperhatikan redaktur adalah ejaan. Jika satu dua paragraf ditemukan ejaan yang kacau balau, maka besar kemungkin tidak dibaca apalagi diterbitkan.

Kedua berkaitan dengan mentalitas kerja. Ini kesannya sepele tapi sesungguhnya esensil. Muhary menyebut rewriting, yang artinya menulis ulang. Maksudnya, jika kawankawan telah selesai menuliskan karya tulisnya maka jangan segansegan membaca kembali. Hal ini berfungsi sebagai mekanisme agar tulisan yang dibuat terhindar dari segala kesalahan. Dengan sendirinya, jika ini dilakukan maka mau tidak mau sang penulis akan membaca kembali tulisan yang dubuatnya dan kemudian menyusun kembali tulisan yang terdapat kesalahan di dalamnya.
Yang terakhir ini membutuhkan kesabaran di dalamnya. Artinya ini menyangkut mental kerja. Siapa yang menerapkan cara ini, setidaknya mentalitas kerjanya sudah mulai terbangun.

***

KLPI dua minggu belakangan sedang merintis website resminya. Website ini berfungsi sebagai media kolekif kawankawan yang terlibat di KLPI. Artinya, kawankawan tidak perlu ragu lagi akan ke mana karya tulis yang dibuat, Kalaliterasi siap menampungnya, dengan catatan sesuai dengan standar kurasi yang dipakai. Walaupun masih tahap perbaikan, website ini sudah beroperasi beberapa hari yang lalu.

Kalaliterasi punya desktop Catatan KLPI, tujuannya menampung tulisan yang merekam halhal penting selama kelas literasi. Catatan KLPI menjadi esai rutin tiap akhir pekan ketika kelas mulai membuka sesi ke-2 beberapa bulan yang lalu. Selama ini, pasca catatan KLPI dibuat, hanya diterbitkan via status facebook. Namun, karena website sudah mulai beroperasi, maka catatan KLPI hanya dikirimkan melalui kolom yang memang disediakan untuknya. Itu artinya Catatan KLPI tidak akan diupload dalam format status seperti sebelumnya.

Kemudian ada kolom Unjuk Rasa. Unjuk Rasa adalah ruang yang dikhususkan bagi karya tulis Sulhan Yusuf. Awalnya Unjuk Rasa hanya ditemui via cetak yang diterbitkan kelas dalam format seleberan. Tapi, semenjak website didirikan, kolom Unjuk Rasa juga menjadi salah satu dekstop khusus yang menjadi salah satu menu terdepan website kami.

Selebihnya ada kolom sastra untuk karya tulis bergenre puisi dan cerpen. Utira Literasi yang bertujuan merekam aktifitas kawankawan yang berkaitan dengan literasi, baik tulisan ataupun visual. Dan terakhir, Blog Kawangkawang yang ditautkan langsung kepada blog pribadi kawankawan.

Terakhir, perlu juga rasa terima kasih diberikan kepada Aisyah Widya Satya Ningsi (Icha), orang di belakang panggung yang membuat Kalaliterasi.com dapat dirasakan khalayak, terutama kawankawan KLPI Makassar.