13 September 2016

Review Kajian Fenomenologi Ontologi: Martin Heidegger (1889-1976)

| |
(Dosen pengampu: Muhammad Ashar, Pengasuh Lembaga Kajian Filsafat Lentera Makassar)

***

Filsafat di tangan Martin Heidegger, bukan sekadar produk pikiran yang licin dalam benak, dan tangkas ketika berargumentasi. Filsafat, sejauh yang ditunjukkan Heidegger, harus dinyatakan ulang dan dimulai dari pertanyaan, apa arti berfilsafat sesungguhnya?

Pertanyaan reflektif dengan tujuan membangun kembali pengertian filsafat itu, dibenahi Heidegger dengan pertamatama menunjukkan bahwa berpikir filosofis, tidak seperti yang selama ini diketahui sebagai upaya argumentatif atas dan dari kesadaran manusia. Yakni yang terpahami sebagai suatu proses yang berpusat dari dalam kesadaran. Berpikir fundamental menurutnya bukan berarti menganalisis, melainkan mengingat Ada agar Ada itu terwahyukan.

Melalui buku yang ditulisnya sekira tahun 1952, Was Heibt Denken? (Apakah Berpikir Itu?) Heidegger berusaha menunjukkan pengertian yang berbeda dari defenisi berpikir yang selama ini diliputi kesepakatan. Berpikir, dibilangkannya lebih daripada “roh” (geist) atau “otak” (gehirn). Berpikir itu “hati” (herz), sebab hati merupakan pusat ingatan dari seluruh tindakan manusia. Hati, menurut Heidegger, bekerja dengan cara aufnehmen, semacam proses merekam yang mengilhami pemikiran sejati. (1)

Perubahan mendasar dari konsep berpikir ini, sekaligus jalan pulang yang diupayakan Heidegger untuk menemukenali apa yang dianggapkannya sebagai gejala mendasar dan problematik di dalam tubuh filsafat. Dengan jalan memutar yang ditempuhnya, Heidegger kembali menggeledah konsep keberadaan yang terlanjur diabaikan semenjak temuan cogito Rene Descartes.

Filsafat Cartesian (modern) yang dibentangkan dari cogito sebagai pusatnya, malah membangun distingsi antara cogito (aku) dengan sum (ada) yang ditunjukkan manusia ketika berpikir. Pembelahan ini, di dalam tradisi filsafat Barat, lebih berorientasi kepada “sang aku” yang berpikir, tinimbang Ada  yang selama ini disisihkan dan terabaikan.

Perubahan radikal yang ditunjukkannya, akhirnya memutar orientasi filsafat agar lebih mengutamakan Ada (dunia yang dipikirkan) dibanding Aku (subjek yang berpikir). Pasca Rene Descartes hingga Immanuel Kant, “sang aku” menjadi tumpuan fondasional yang diterangkan dan didedah dalam mempersepsi Ada. Melalui cara berfilsafat demikian, Ada senantiasa hanya menjadi objek deskriptif yang direfleksikan melalui ruang sadar “sang aku”.

Akibatnya, Ada, hanyalah bentangan dunia yang mengikuti konstruksi ruang sadar “sang aku” untuk diketahui. Ada, akhirnya hanya mampu terpahami sejauh ia diberlakukan berdasarkan pikiran dan kesadaran “sang aku”.  Ada, dengan demikian, hanya mampu ada sejauh dipahami dan dibenakkan di dalam dunia sadar “sang aku”.

Sebaliknya, di dalam imajinasi filosofis Heidegger, Ada ditempatkan sebagi episentrum. Ada, di benak Heidegger adalah segalanya. Bahkan, Ada adalah keseluruhan totalitas yang meliputi manusia. Dengan kata lain, manusia hanyalah mahluk yang sedang mengalami Ada. Dari cara demikian, sesungguhnya yang harus diperhatikan di dalam seluruh refleksi filosofis bukanlah “sang aku” yang diliputi Ada, melainkan Ada itu sendiri sebagai totalitas.

Ada, di dalam sejarah pemikiran manusia, dinyatakan Heidegger telah tersisihkan dari ruang sadar manusia. Itu sebabnya, Heidegger diingat dalam setiap benak pelajar filsafat, sebagai filsuf yang memawaskan manusia agar kembali mengingat Ada. Bahkan, Heidegger memantik kesadaran dengan mengajukan:  apa artinya berada?

***

Martin Heidegger merupakan murid cemerlang Edmund Husserl. Kecemerlangan Heidegger, dikatakan Muhammad Ashar, ditandai dari penguasaannya terhadap fenomenologi yang dijarkan Husserl. Bahkan, di dalam penguasaan Heidegger, fenomenologi lebih fenomenologi dari apa yang selama Husserl ajarkan. Walaupun demikian, Heidegger harus mengambil jalan berbeda dari mentornya.

Seperti yang disampaikan Ashar, ada dua sebab mengapa Heidegger mengambil jalan berbeda dengan Edmund Husserl. Pertama, didasari akibat pemahaman teoritik yang berbeda berkenaan dengan fenomenologi itu sendiri, dan yang kedua adalah praktik Heidegger di dalam kancah politik Jerman. Dari perbedaaan yang pertama melahirkan konsepsi fenomenologi yang dikenal berasal dari Heidegger sebagai fenomenologi ontologis, sementara yang kedua, Heidegger dipersangkakan turut menyepakati konsepsi politik Nazi dengan keterlibatannya di dalamnya.

Keterlibatan Heidegger dengan Nazi, menurut F. Budi Hardiman dalam suatu rekaman kuliahnya, ditandai dengan uraian pidato pertama Heidegger di saat menjabat sebagai rektor di Universitas Freiburg Jerman. Menurut Hardiman, di dalam pidatonya, terungkap pandangan Heidegger secara implisit berkenaan dengan “ego” kebesaran Bangsa Jerman sebagai pribadi yang besar di dalam kancah dunia. Walaupun demikian, keikutesertaan Heidegger di dalam politik Nazi Jerman, sampai saat ini masih bersifat debatable, apakah keikutsertaannya di dalam Nazi dengan sendirinya menandai kesepakatannya terhadap konsepsi tindakan politik Nazi saat itu.

Telah disinggung sebelumnya, fenomenologi Heidegger dinyatakan sebagai fenomenologi ontologis. Pergeseran secara radikal yang ditunjukkannya, mengalihkan pemahaman fenomenologi Husserl  yang ditasbihnya masih termuati unsurunsur idealisme, tinimbang dunia sebagai pusat yang sebenarnya harus diperhatikan. Penolakkan ini, akibat Husserl begitu kuat membangun filsafat fenomenologinya yang tetap bertumpu kepada kesadaran “sang aku” sebagai elemen penting dalam membangun pemahaman terhadap dunia. Pengabaian terhadap dunia inilah yang di tangan Heidegger, dikembalikan kepada posisi sentral sebagai titik tolak filsafat fenomenologi ontologisnya.

Fenomenologi ontologis Heidegger salah satunya dapat dipahami melalui radikalisasinya terhadap konsep intensionalitas yang pernah diperkenalkan Edmund Husserl. Menurut Heidegger, intensionalitas bukan sekadar kesadaran yang terarah akan sesuatu, melainkan kesadaran dalam/sebagai sesuatu. Radikalisasi ini bermakna kesadaran tidak saja berisi “pahaman atau tema sesuatu”, tapi jauh lebih dalam dari itu, yakni manusia tidak saja serta merta menyadari sesuatu, melainkan “sesuatu” dalam kesadaran itu turut membentuk dunia manusia.

Ada empat kritikan mendasar Heidegger terhadap Edmund Husserl. Menurut Ashar, pertama, Edmund Husserl dinyatakan Heidegger masih terjebak di dalam pemahaman idealisme. Pemahaman idealisme Husserl walaupun diungkapkan dengan cara fenomenologi, dinilai karena membangun pembedaan antara subjek pengetahu dengan objek diketahui. Relasi yang diandaikan dengan cara demikian, tidak disadari Husserl akibat membelah pemahamannya berdasarkan logika Cartesian.

Ditilik dari keagenan subjek, Husserl justru mengabaikan objek diketahui sebagai bagian integral dalam kesadaran subjek pengetahu. Ashar membilangkan bahwa Husserl dengan sendirinya mengabaikan objek luar sebagai satuan yang terlepas dari kesadaran. Pengabaian yang demikian membuat kesadaran dari subjek pengetahu menjadi terlepas dari objek diketahui. Artinya, dengan sendirinya Edmund Husserl mengulang tradisi idealisme yang menempatkan ide sebagai satusatunya realitas yang diakui.

Pendakuan Husserl yang menempatkan ide sebagai satusatunya fenomena yang bisa teramati, ditampik Heidegger dengan menyatakan Husserl dengan sendirinya menolak objek faktual. Asumsi ide sebagai satusatunya realitas, akan sangat problematik ketika ide sesuatu di dalam pemahaman  ingin dibuktikan nilai kebenarannya. Penolakkan objek faktual Husserl, akhirnya terjebak kepada solipisme dengan pendakuan terhadap ide itu sendiri sebagai satusatunya ukuran kebenaran.  

Kritik mendasar kedua ditujukan Heidegger kepada konsep epoche  yang menjadi konsep kunci Husserl dalam membayangkan fenomena murni tanpa prasangka. Epoche di dalam imajinasi Husserl adalah mekanisme penundaan praanggapan, prasangka, dan praasumsi, terhadap objek teramati di dalam kesadaran. Sementara kritikan Heidegger berusaha mengembalikan sifat khas manusia yang tak mungkin terlepas dari praanggapanpraanggapan terhadap sesuatu ketika memulai aktifitasnya.

Di mata Heidegger, manusia bukanlah mahluk di balik sejarah yang tanpa tersentuh denyut kehidupan. Itu artinya, tiada manusia yang mampu membersihkan dugaandugaannya terhadap sesuatu ketika menangkap objekobjek di kehidupannya.

Ashar menjelaskan bagaimana pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang mengalami persitegangan antara dirinya sebagai subjek, dan manusia itu sendiri sebagai objek dunianya. Dengan kata lain, manusia merupakan mahluk yang dibentuk dunianya dan sekaligus membentuk dunianya. Melalui proses dialektis ini, manusia tidak bisa dinyatakan bersih dari pengaruh lingkungan dan juga sebaliknya, manusia dapat memungkinkan dirinya menjadi subjek aktif pembentuk dunia kehidupannya.

Melalui proses dialektis, epoche  sebagai mekanisme penundaan pengetahuan berupa prasangka, praanggapan, dan praasumsi, dengan sendirinya tidak dapat dimungkinkan karena sifatnya yang terlampau mengabaikan watak khas manusia sebagai mahluk yang bersejarah.

Pengandaian di atas, juga seperti yang dibilangkan F.Budi Hardiman, bahwa tidak ada kesadaran yang perawan, sebab kesadaran senantiasa di situasikan oleh apa kesadaran itu dibentuk. Dengan demikian, bukan kesadaran yang penting, tetapi situasi yang meliputi kesadaran itu sendiri yang utama. Dari kaidah ini, maka kesadaran, seperti yang menjadi poin penting fenomenologi ontologi Heidegger, adalah episentrum tempat Ada menampakkan dirinya.(2)

Kritik ketiga, yakni Husserl dianggapkan mengabaikan dunia kehidupan manusia sebagai faktor mendasar yang mempengaruhi kesadaran manusia. Penolakkannya terhadap realitas faktual dan penekanan berlebihan terhadap kesadaran manusia, sebagaimana idealisme, adalah pernyataan yang tak mendasar sama sekali, karena seperti yang disampaikan sebelumnya, manusia adalah mahluk yang terlibat dan dilibat dunia kehidupannya.

Yang keempat, seperti yang disampaikan Ashar, kesadaran sebagai konsep yang dipahami Husserl, masih mengiandung pengertian klasik dengan menyatakan manusia mampu membangun kesadarannya tanpa keterlibatan maupun keterarahan kepada objekobjek pemahaman. Konsep itensionalitas yang diperkenalkan Husserl justru memberikan pengertian lanjutan bahwa manusia dengan kesadaran yang idealistik, akhirnya akan menolak keterlibatannya secara langsung di dalam sejarah. Dengan kata lain, kesadaran dalam imajinasi Husserl, adalah kesadaran yang ahistorik.

***

Ada adalah seluruh totalitas yang meliputi suatu segala. Filsafat fenomenologi Heidegger, dengan begitu adalah refleksi radikal dan menyeluruh terhadap Ada. Namun, bagaimanakah Ada itu dapat terpahami sementara manusia merupakan adaan yang mengalami Ada. Berdasarkan penjelasan F. Budi Hardiman, Ada hanya mampu dipersoalkan oleh adaan yang mengalami Ada. Tapi, tidak semua adaan mampu memproblematisir dan menghayati Ada selain daripada manusia itu sendiri. Dengan jalan pikir demikian, Ada hanya mampu terjelaskan hanya dengan jalan manusia yang mempertanyakan Ada. (3)

Sebab itulah, menurut penjelasan Ashar, Heidegger mengambil jalan berbeda ketika memulai memproblematisir Ada sebagai proyek filosofisnya. Ada yang sekaligus manusia yang mempertanyakan Ada, di dalam perkataan Ashar, dinyatakan sebagai proses radikal dalam mengantropologikan Ada. Maksudnya, Ada yang selama ini terpahami di dalam metafisika, terutama metafisika Islam, melalui permenungan Heidegger, ditarik lebih operasional dengan mengubah arah teropong sudut pandang dalam menyoal Ada dari pertanyaan “apa itu Ada?” menjadi “apa artinya berada?”

Peralihan titik tolak ini, akhirnya menandai poin penting dalam mengungkap manusia sebagai satusatunya mahluk yang mengalami Ada. Poin penting ini berarti jika hanya manusia satusatunya adaan yang paling mungkin memproblematisir Ada, maka Heidegger mengawali refleksi filosofisnya dari manusia sebagai jalan masuk mengungkap Ada.

Pertamatama, manusia sebagai subjek berpikir, diubah dan diradikalkan Heidegger dengan terma Dasein. Manusia dalam pengertian Dasein, bukanlah kategori yang bernaung di bawah pengertian filsafat Barat pada umumnya, yang mengandaikan manusia sebagai subjek berpikir. Manusia sebagai subjek berpikir, di alam pikiran filsafat Barat, adalah subjek yang telah tertetapkan dari awal secara primary sebelum dia mencandrai dunianya.

Artinya, dalam relasi keberadaan manusia dengan dunianya, manusia lebih dahulu diandaikan ada dibanding dunia tempat dia berpikir. Sementara, Dasein, menurut Heidegger, adalah mahluk  yang telah menerima keberadaan dunia sebelum keberadaan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, dunia telah dinyatakan lebih dahulu tertetapkan keberadaannya tinimbang manusia itu sendiri.

Berdasarkan pemahaman di atas, Dasein akhirnya dimaknai sebagai mahluk yang dalam pengertian Heideggerian “Ada di sana”.

Mengapa manusia disebut Dasein (Da: Ada, Sein: di sana)? Maksudnya, manusia telah “di sana”, di dalam dunia yang ia tempati. Dalam makna inilah Heidegger mengonseptualisasi manusia sebagai mahluk yang terlempar di dalam Ada. Dengan kata lain, manusia dengan segala apa yang dimilikinya hanyalah mahluk yang tanpa disadari sudah terliputi Ada sebelum ia memahaminya.

Berdasarkan yang disampaikan Ashar, Dasein dikarenakan telah ada pasca dunia keberadaanya, mau tidak mau merupakan adaan yang tidak bisa terlepas dari dunia yang membentuknya. Ini berarti dunia sebagai representasi totalitas Ada, turut melekat di dalam proses keberadan manusia. Dengan demikian, Ada sesungguhnya bukan keberadaan yang berada “di luar” manusia, melainkan turut hadir di dalam keberadaan manusia. Pemahaman ini sebangun dengan apa yang sebelumnya dikatakan, yakni untuk mengungkap Ada, maka manusialah yang menjadi dasar pengungkapan Ada itu sendiri.

Namun kebersamaan manusia di dalam Ada, bukan berarti tanpa masalah. Ashar mengungkapkan, Dasein memiliki problem utama dalam menyadari Ada akibat dunia pengalaman manusia  itu sendiri. Disebabkan Dasein yang terlampau “dekat” di dalam Ada, juga rutinitas kehidupan di dalam Ada, membuat manusia termekanisasi sehingga lupa makna berada sesungguhnya. Kehidupan yang begitu kompleks dengan seluruh rutinitasnya, membuat Ada yang sesungguhnya dekat, akhirnya tak mampu dicandrai di dalam ruang penghayatan manusia.

Berkat kelupaan terhadap Ada, berdasarkan yang disampaikan Ashar, Dasein membawa karakteristik bawaan yang turut meliputinya sebagai bagian tak terpisahkan di dalam keberadaannya.

Pertama, Kejatuhan akan Ada. Karakteristik ini bisa dikatakan semacam takdir bawaan yang dikandung Dasein itu sendiri. Kejatuhan akan Ada, diartikan sebagai hilangnya penghayatan terhadap pengalaman seharihari yang dialami manusia. Pengalaman yang terjadi dengan pola yang identik di kehidupan seharihari, lambat laun turut membuat suatu model pengalaman kehidupan yang serba linear. Linearitas kehidupan ini diartikan sebagai lingkaran kehidupan yang tak memiliki ujung sebagai titik akhirnya. Dengan bahasa yang lain, pengalaman yang demikian membuat  manusia mengalami jalan buntu untuk mengakhiri lingkaran rutinitas yang menjebak kehidupannya.

Akibat pengalaman manusia yang terjebak itulah, manusia tidak mampu membangun jarak dari rutinitasnya agar bisa masuk di dalam ruang permenungan. Model kehidupan yang serba cepat, dan tangkas, tidak sedikit pun memberikan cela bagi manusia agar bisa memasuki ruang subtil di dalam jantung pengalamannya. Hilangnya ruang subtil permenungan itulah, yang dikatakan Heidegger sebagai kejatuhan akan Ada.

Kedua adalah faktisitas. Makna faktisitas mengartikan Dasein, mau tidak mau, tidak bisa mengelak dari situasi yang dihadapinya. Dengan kata lain, faktisitas adalah keterbatasan manusia terhadap seluruh situasi yang  dihadapinya di dalam menjalani keberadaannya.

Ashar menjelaskan, faktisitas adalah dunia yang sudah sebelumnya ada ketika keberadaan manusia itu sendiri. Dikatakan demikian, karena dunia yang sudah ada, jauh sebelumnya memiliki identitas yang melekat di dalamnya. Seluruh objekobjek yang dihadapi manusia, telah tertetapkan identitasnya dengan mengikuti karakteristik dan ciriciri benda itu sendiri.

Faktisitas, karena mengandaikan keberadaan manusia yang sudah sebelumnya mengalami kejatuhan akan Ada, dan mau tidak mau harus menghadapi situasi yang tak mampu dielakkan, maka dengan sendirinya memungkinkan Dasein untuk mengerahkan seluruh kemampuan kebebasannya dalam menanggung resiko dan tanggung jawab yang dimilikinya.

Faktisitas yang paling mendasar dan yang tak dapat Dasein elakkan adalah kematian. Kematian dalam benak Heidegger bukan sekadar terputusnya hubungan biologis badaniah dengan kehidupannya, bukan pula hanya berarti tercerabutnya jiwa dari tubuh dan kemudian hilang begitu saja, melainkan suatu limit ketika Dasein menemukan keseluruhan totalitas Ada-nya. Dengan begitu kematian adalah suatu titik pasti yang harus segera dituntaskan dalam rangka menemukan keseluruhan totalitas Dasein atas Ada.

Dalam rangka mencapai totalitas Ada-nya, maka karakter yang ketiga yang sudah menubuh di dalam keberadaan Dasein, membutuhkan modalitas yang inheren di dalam dirinya. Karakteristik yang ketiga ini, di sebut Ashar sebagai pemahaman (fore strukture). Pemahaman sebagai karakteristik bawaan secara relasional berhubungan langsung dengan kemewaktuan yang dialami Dasein itu sendiri.

Pertamatama yang mesti dipamahi, waktu dan kemewaktuan dibelah Heidegger dari bagaimana cara Dasein menghayati dirinya di dalam waktu. Di dalam karyanya Sein und Zeit  (Ada dan Waktu), Heidegger menyatakan waktu bukanlah realitas yang ditunjukkan dengan alataalat penunjuk waktu berupa jam dsb., melainkan keadaan yang terjadi di luar dan di dalam Dasein itu sendiri. Waktu yang di alami Dasein di luar struktur keberadaannya adalah waktu objektif, sementara yang di alami di dalam Dasein itu sendiri disebut durasi, yang dikatakannya, bisa menciut maupun berkembang. (4)

Cara memahami waktu sebagai durasi, dimulai dengan cara mengikuti pembedaan waktu oleh Heidegger itu sendiri. Pembedaan yang pertama adalah innerzeitigkeit, kata yang tak ada dalam kamus bahasa Jerman ini adalah pembendaan dari in der zeit (di dalam waktu). Jadi innerzeitigkeit dapat diterjemahkan sebagai “ke-ada-di-dalam-waktu-an”. Innerzeitigkeit  sebenarnya merujuk kepada waktu objektif yang dibayangkan sebagai titiktitik sekuel yang muncul akibat yang lain. Misalnya, waktu malam hanya dapat diandaikan karena relasinya dengan waktu siang sebagai titik sekuel yang mendahuluinya, atau sebaliknya, dapat dipahami sebelum waktu pagi yang menjadi titik hubungnya yang akan datang.

Menurut Heidegger, konsep waktu sebagai innerzeitigkeit tidak cocok dengan Dasein diakibatkan struktur keberadaannya yang berbeda dari adaan yang lain. Asumsi ini didasarkan karena waktu objektif hanyalah realitas faktual yang tidak sertamerta menyentuh Dasein yang memiliki struktur keberadaan yang berbeda, sehingga tidak sekadar terletak di begitu saja “di dalam” ruang, melainkan turut aktif di dalam waktu kemewaktuannya.

Proses kemewaktuan Dasein di dalam waktu melibatkan keagenan yang aktif. Artinya, Dasein, seperti diungkapkan, bukanlah keberadaan yang “tergeletak” begitu saja di dalam dunia, melainkan Dasein ikut menghayati setiap sekuel waktu di dalam kemewaktuannya.

Penjelasan di atas tampak terang ketika seseorang  pemuda yang sedang menunggu kinasihnya di saat merasakan waktu yang lebih lama dari ukuran jam yang dipakainya. Di saat pengalaman sang pemuda yang merasakan waktu yang lama inilah disebut  kemewaktuan, sementara lamanya waktu yang dirujuk dari perhitungan pengukur waktu, yang misalnya hanya baru menunjukkan lima menit, disebut waktu objektif.

Bahkan, menurut Heidegger, waktu objektif yang disepakati berdasarkan ukuran detik, menit, jam, hari dst., diambil dari kemewaktuan yang dinyatakan lebih otentik dan primordial. Waktu otentik dan bersifat primordial inilah yang dalam terma Heidegger disebut  sebagai zeitlichkeit.  

Dalam hubungannya dengan kemewaktuan ini, Dasein “menduniakan” waktu dengan membayangkan dirinya yang tidak terlepas dari karakteristik pemahaman (fore strukture) sebagai karakteristik ketiga di dalam keberadaannya.

Pemahaman, dijelaskan Ashar, mengandaikan tiga pembelahan yang di antaranya, pertama adalah for having. Pemahaman for having dituturkan berkaitan dengan pengetahuanpengetahuan yang sudah tersusun dan terbentuk sebelum Dasein itu ada. Pemahaman for having berkaitan langsung dengan waktu kesekarangan yang dialami Dasein, sehingga dalam pengalaman keberadaannya, Dasein tidak dapat mengelak dari pengetahuanpengetahuan yang sudah disepakati. Keberadaan pengetahuan for having ini, di dalam tindakan praktisnya, tinggal dikelola Dasein  dalam rangka memberlangsungkan kehidupannya.

Yang kedua adalah pengetahuan Dasein berkenaan dengan kemungkinan masa depan yang dibayangkannya. Pengertian ini dijelaskan Ashar sebagai pemahaman for sight. Ketika Dasein menyatakan keberadaannya, di dalam benaknya terlibat pemahaman for sight atas sesuatu terhadap kemungkinankemungkinan yang bisa menjadi pilihanpilihan ke depannya.

Misalnya, seorang penulis yang menyiapkan karya tulisnya di antara kemungkinankemungkinan yang akan terjadi di masa akan datang. Dari situasi yang dihadapinya, sang penulis memiliki pertimbangan dari pemahamannya berkenaan karya tulis atau profesinya akan dijadikan apa dan mau bagaimana dengan seluruh keberadaan karya tulis dan profesinya. Pertimbangan atas masa depan inilah, di saat menghadapi seluruh kemungkinannya, Dasein digerakkan oleh pemahaman for sightnya.

Yang ketiga, seperti yang dikatakan Ashar, adalah pemahaman Dasein atas sesuatu di dalam benaknya. Pemahaman ini berkaitan langsung dengan objekobjek pengetahuan yang tergambar di dalam kesadaran Dasein. Di dalam terma Heideggerian, pemahaman ini disebut  sebagai pemahaman fore conseption.

Fore conceptoin, sejauh yang diutarakan Ashar bisa berbeda antara satu subjek dengan subjek lainnya atas sesuatu. Artinya, di dalam keseharian Dasein, pemahaman yang berbeda dari satu dengan lainnya sangat ditentukan oleh pemahaman fore conception yang ada di dalam kesadarannya.

Description: https://2.bp.blogspot.com/-o3HrhlACKV4/V9fQ0GP-qHI/AAAAAAAAA7g/7mS1e-T1JB8Yf3pTDN2FzamqmFyn6MKAACLcB/s400/Matriks%2Bmomen%2BKemewaktuan%2BDasein.png


***

Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, kematian adalah conditio humana Dasein yang khas bagi dirinya. Begitu pula kemewaktuan merupakan bagian dari struktur Dasein itu sendiri. Namun, Dasein tidak begitu saja menerima kematian sebagai akhir dari segalanya. Justru, menurut Heidegger, di jantung keberadaannya, Dasein memiliki strukutur purba yang begitu fundamen mendasari seluruh tindakannya. Bahkan Heidegger mengatakannya sebagai “struktur total Ada Dasein”: Sorge. Dengan sorge inilah, Dasein di dalam dunia, harus menghayati keseluruhan totalitasnya berdasarkan pemahamnnya terhadap kematian (tod).

Sorge dalam bahasa Jerman berarti kekhawatiran, perhatian, kepedulian, maupun pemeliharaan. Manusia tanpa sorge, dinyatakan berdasarkan pendirian Heidegger, adalah keberadaan yang terasingkan di dalam kolam keberadaannya. Manusia yang asing di dalam dirinya sendiri, manusia yang tidak otentik, yang bukan asli.

Heidegger merumuskan sorge dengan sich-vorweg-chon-sein-in-(der-Welt-) als Sein-bei (innerweltlich begegnendem Seienden). Dalam pemahaman Heideggerian, istilah ini diucapkan sebagai satu kata. Berdasarkan pemahaman fenomenologi ontologisnya, kata ini dapat ditilik dengan cara (1) sich vorweg yang bermakna “mendahului,” dan ini eksistensialitas Dasein, (2) schon sein in der Welt berarti “sudah ada di dalam dunia,” yang menandai faktisitas Dasein, dan (3) Sein-bei innerweltlich begegnendem Seienden, berarti “bermukim pada entitas yang dijumpai di dunia ini”, dan ini merujuk kepada makna kejatuhan Dasein. Artinya, sorge adalah struktur dasar yang merangkum keseluruhan Dasein dengan tiga karakteristiknya yakni, mengantisipasi masa depan (fore strukture), terlempar di dunia (faktisitas), dan larut dalam rutunitas keseharian (kejatuhan Ada). (5)

Yang menjadi keutamaan dari rumusan di atas,  sebenarnya dapat dilihat dari proses Dasein mengalami kemewaktuannya. Pertamatama, manusia terlempar ke dunia ini, kemudian, yang kedua,  manusia menjalani rutinitasnya dan terbenam di dalamnya, dan yang ketiga pada akhirnya, manusia mengalami kematiannya. Di dalam keadaan demikian, Dasein dikatakan mampu bangkit dari kejatuhan Ada-nya dengan menyertakan sorge sebagai alarm penhayatannya. Melalui itu pula, kematian yang niscaya di masa akan datang, yang tanpa mampu diketahui, akan bermakna dengan keterlibatan sorge bagi Dasein itu sendiri. Artinya, dengan sorge-lah, ketidakmungkinan yang dihadapi Dasein di dalam keterlemparannya menjadi bermakna dan bernilai.

Maka, dapat dikatakan, melalui sorge, Dasein sebenarnya adalah mahluk mungil yang menjalani kemewaktuannya dalam mengahadapi kematiannya.

Dikatakan Ashar, kematian yang dimaksudkan –seperti yang diungkap sebelumnya--  dari fenomenologi ontologis Heidegger bukan kematian biologis semata, melainkan kematian yang sudah sebelumnya diantisipasi dengan penghayatan di dalam Ada. Kematian yang dihayati di dalam Ada, disebutkan Ashar sebagai perbincangan eksistensial dengan dirinya sebagai bentuk luar Dasein yang mendalami keberadaannya. Dengan kata lain, kematian yang paling ideal menurut Heidegger adalah kematian yang disambut antsipatif oleh Dasein dengan keterlibatan sorge di dalamnya.

Description: https://3.bp.blogspot.com/-S_gtOtBXo1o/V9fRCl8w53I/AAAAAAAAA7k/zBhizQj9fI0KMcCa4MAHC2LtJ27w9EzbQCLcB/s400/Sorge%2BStruktur.png

Penghayatan terhadap kematian bagi Dasein, sekaligus menjadi antitesa terhadap Das man. Berdasarkan pemahaman Heidegger, Das man adalah orangorang yang tenggelam di dalam rutinitasnya tanpa mampu memasuki bilik permenungan atas sorge yang dipunyainya. Das man juga diartikan sebagai orangorang yang termekanisasi melalui rutinitas keseharian, yang tanpa perlibatan dirinya terhadap ada di dalam dunia.

Dengan begitu, Das man sebenarnya adalah orangorang yang tidak otentik, orangorang yang ikut di dalam pengetahuan umum tanpa bisa mengambil keutamaan di balik kesepakatannya dengan semua pilihannya. Dengan kata lain, Das man, adalalah manusia massal yang tercerabut dari medan permenungannya. Orangorang yang tanpa tahu berbuat apa, orangorang yang kehilangan dirinya sendiri.

Dengan begitu sebenarnya, fenomenologi ontologis di tangan Heidegger adalah suatu ajakan dari Dasein untuk membuka seluruh kemungkinannya terhadap kematian yang tanpa diketahuinya. Walaupun kematian itu pasti dan tanpa diketahi kedatangannya, dengan sorge, atau dengan istilah lainnya angst (kecemasan), Dasein dimaksudkan sebagai keberadaan yang cemas tanpa harus keluar dari lingkaran kehidupannya, melainkan harus masuk menyelami jauh di jantung keberadaannya, dengan cemas, dengan sorge, di antara seluruh kemungkinan yang menghadangnya, termasuk kematian itu sendiri. Hanya dengan begitulah, Dasein menjadi pribadi yang otentik, yakni pribadi yang ada di dalam dunia, pribadi yang mewaktu menuju keseluruhan totatiltasnya. 



Jika demikian, apa artinya berfilsafat ketika tanpa penghayatan terhadap Ada? Apa artinya mengada di-dalam-dunia, ketika tanpa kecemasan? Bukankah, seperti yang dibilangkan F. Budi Hardiman, fenomenologi Ontologis Heidegger adalah jalan lain mistisisme di tengah perigi nihilisme? Suatu kaidah membuat keseharian menjadi “transparan,” dengan sorge, Dasein yang membuka diri terhadap Sang Ada.

---


(1),(2),(3),(4),(5) dirujuk di dalam buku F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian, Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Cetakan KPG 2003.

Almanak