31 August 2016

Membangun Pemberitaan Berperspektif*

Kekerasan bisa menjelma di mana saja, termasuk dalam pemberitaan. Dan bisa jadi, pelakupelakunya tiada lain adalah orangorang yang berprofesi sebagai penulis, terutama para pewarta berita.

Bila menggeledah bagaimana suatu kabar diproduksi, maka seperti yang dipahami selama ini, media memang menjadi kaki tangan anarki.

Noam Chomsky nyatanya tidak mainmain ketika mendenotasikan media sebagai sumber anarki. Bila menilik kasus "kopi bersianida" sulit rasanya bisa dibedakan yang mana disebut kasus publik dan televisi itu sendiri sebagai intrumen penting dalam menyebarluaskan berita. Begitulah apa yang dibilangkan Alwy Rachman, scholar ilmu budaya, di dalam suatu pertemuan diskusi yang diselenggarakan kerjasama LBH Apik Makassar dan OXFAM.

Seperti yang diungkapkan Alwy Rachman saat mempercakapkan bagaimana akar kekerasan bisa begitu sulit diretas, kekerasan bisa dimotori berbagai motif. Mulai dari sifat khas manusia yang agresif hingga bahasa sebagai medan simbolik yang menjadi sumbersumber terang dalam konstelasi tatanan masyarakat.

Bahasa sebagai elemen dasar informasi, sadar tidak sadar menjadi medan yang licin saat digunakan. Bahasa, termasuk unitnya yang paling kecil, yakni kata, menjadi wadah pengertian yang mendua.

Pertama, bahasa -dalam konteks media, bukan sekadar penyampai faktafakta atas suatu peristiwa, melainkan mampu menyelundupkan pengertian lain yang berkembang diskriminatif.

Kedua, akibat berjaraknya pengalaman penulis berita dengan pengalaman pembaca berita, membuat maksud awal dari penggunaan bahasa melenceng dari pengertian yang sebenarnya.

Misalnya dalam pemberitaan kasuskasus korban kekerasan, terkadang penggunaan bahasa hingga sampai membentuk frame pemberitaan, malah berperan serta dalam memproduksi kekerasan di level simbolik.

Pada tahap selanjutnya, kekerasan simbolik bisa menjerumuskan masyarakat dalam istilah yang sering digunakan Alwy Rachman sebagai cultural bleeding. Pengandaian ini --sejauh daya mengingat, merujuk kepada situasi sosial yang dilingkupi tatatan budaya yang secara tidak langsung menjadi sumbersumber anomali sosial.

Malangnya, korbankorban kekerasan yang acapkali terjadi adalah perempuan dan anakanak. Perempuan dan anakanak yang menjadi korban, selain menjadi korban langsung dari peristiwa kekerasan itu sendiri, di lapisan yang lain, juga mengalaminya di tahap simbolik.

Di poin inilah, media yang tak memiliki perspektif keperempuanan dan anakanak, malah menjadi pelaku kedua dari tindak kekerasan yang terjadi.

Hal ini dalam tahapantahapan produksi berita hingga penggunaan bahasa, secara tidak sadar malah melanggengkan kekerasan atau bahkan justru mempertebal intensitas kekekerasan itu sendiri.
  
Apabila ditilik dari teori kekerasan pembelajaran sosial, beritaberita yang menyuguhkan bahasa, gambar, simbol, maupun gesture yang tampak dipemberitaan, sebagai bagian langsung dari dunia simbolik, seperti yang diutarakan sebelumnya, turut membangun dunia simbolik sebagai akar kekerasan.

Itu sebabnya, penting membangun pemberitaan yang berperspektif perempuan dan anakanak. Pemberitaan yang berperspektif perempuan maupun anakanak, harus bisa dimulai dari pemahaman pewarta berita ataupun orangorang yang menjadi wakil publik dalam mentransmisikan informasi.

Penulisan yang berperspektif setidaknya adalah suatu mekanisme kerja penulisan yang ditulis dari standarstandar best practice, termasuk bagaimana mengambil stand of view di saat memulai kerja penulisan berita.

Hal lain yang mesti diperhatikan, pemberitaan yang berperpspektif selain harus memerhatikan pilihan atas penggunaan bahasa, juga harus dibangun atas niatniat humanis di dalamnya. Termasuk di antaranya pemberitaan yang dibuat mesti informatif, edukatif, dan akurat.

Tentu pengalaman penulisan semacam ini, harus bertumpu kepada kode etik jurnalisme yang menjadi ramburambunya. Jika hal ini diabaikan, maka barang tentu apa yang diungkapkan di atas, termasuk media sebagai pelaku kedua kekerasan, menjadi makanan seharihari pembaca berita.

Terakhir, mesti diketahui, kekuatan modal yang banyak mendeterminasi keberpihakan penulisan berita, adalah persoalan klasik yang masih terus menyusupi praktikpratik pemberitaan selama ini. Akibatnya, banyak ditemukan pemberitaanpemberitaan yang tidak peka terhadap isuisu kekerasan perempuan dan anak yang lebih banyak disebabkan kebijakan redaksi yang terus dibayangbayangi kebijakan yang jauh lebih besar di atasnya.

Itu sebab, ketika kejadian di atas masih menjadi persoalan internal antara pekerja berita dengan pengambil kebijakan di dalam industri media, mesti ada suatu model penulisan berita independen baik secara institusional maupun pribadi yang leluasa mengabdikan diri kepada isuisu yang mendeskreditkan perempuan dan anakanak.
  
Dalam konteks kasus inilah, model pemberitaan citizen journalism harus mengambil peran, termasuk model penulisan blogger yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber daya baru dalam mengantisipasi persoalan di atas.

*Saduran dari diskusi hari pertama Pelatihan Jurnalistik LBH Apik Makassar dan OXFAM, "Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan"

sendal

Putus sendal dimakan aspal
di atas jalan sampai pelangi
Tapi aku tetap pakai buat bekal
dari bertahun lalu sampai nanti

Di persimpang jalan sudah melekat banyak
Debu, beterbangan tiada duka tanpa lewat sudah
Membikin kaki genap sejauhjauhnya

Mentari menggelantung di atas sana
Kau berpijak masih di atas tanah
Bintang kecil nanti datang
Tetap kau berawal dari depan pintu


Sekarang sudah putus temali kulit sapi
bagi kau masih berduadua


28 August 2016

generasi digital native dan kemampuan literasi

Manusia, selain mahluk sosial, dia juga disebut homo faber. Homo faber merupakan identitas  yang menandai suatu ciri kemanusiaan bahwa manusia adalah mahluk yang mampu berkarya. Banyak para filsuf mengidentifikasi homo faber sebagai cara manusia mengekspresikan dirinya. Secara umum, manusia punya dua kemampuan bawaan, yakni berpikir dan bekerja. Kualitas yang pertama, sudah berabadabad lamanya disebut Aristoteles sebagai homo thinker. Yang kedua, sebagai kualitas intristik adalah homo faber itu sendiri.

Abad dua satu adalah abad kerja. Hampir semua medan kehidupan merupakan realisasi dari kemampuan manusia melalui proses kerja. Teknologi informasi, yang juga hasil dari kerja manusia, adalah salah satu pencapaian peradaban mutakhir penanda manusia sebagai mahluk pekerja.

Manfaat dari teknologi informasi, manusia semakin mempertajam kemampuan penginderaannya dalam mempersepsi kenyataan. Lewat, gadget misalnya, manusia mampu menjebol batas ruang dan waktu, di saat ingin mengetahui peristiwa, misalnya, perang Suriah. Lewat gadget pula, manusia bisa memperpanjang indera pendengarannya di saat asyik berbicara dengan sang kinasih.

Menulis, sebagai aktifitas, juga adalah jenis pekerjaan. Cuman, berbeda dari pekerjaan otot, menulis lebih banyak menggunakan otak. Kerja menulis memiliki dimensi yang berbeda dari kerja pada umumnya, sebab di saat menulis, yang lebih banyak dijadikan bahan baku adalah ilmu pengetahuan. Informasi yang merupakan bahan dari ilmu pengetahuan, di saat kerja menulis, memiliki proses yang berbeda dari pengelolahan barangbarang material yang umumnya ditemukan dalam pekerjaan otot. Kalau kerja material hanya melibatkan waktu “kekinian” dalam berproses, tidak pada menulis.

Saat menulis, waktu menjadi demikian abstrak dalam imajinasi yang memapatkan sekaligus waktu masa lalu, masa kini, dan masa akan datang secara bersaamaan.  Lewat proses mengingat, membayangkan, dan berpikir ilmu pengetahuan dikelola. Merangkai satu demi satu informasi yang berasal dari masa lalu, masa kini, maupun bayangan masa depan.

Ciri kerja imajinasi demikian juga berlaku di dalam dunia teknologi informasi, komputer misalnya. Bisa dibilang, ketika suatu informasi telah masuk dalam jaringan data base CPU, maka tiada batas waktu berlaku di sana. Itu sebab, informasi yang bertahuntahun lamanya mampu dipresentasekan kembali di waktu kekinian. Atau bahkan, informasi yang diperuntukkan buat masa depan dapat dibuat seolaholah dihadirkan di masa sekarang. Kerja demikian tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa pelibatan prosesor canggih yang bekerja dalam bentuk IC (integrated circuit) sebagai otaknya.

Yang malang, kemajuan teknologi informasi tidak paralel dengan kemajuan daya kerja otak manusia. Terutama generasi digital native yang sedari kecil tumbuh dewasa dididik langung oleh teknologi canggih. Generasi digital native, akibat terlalu sering bersentuhan dengan teknologi komputerisasi maupun virtual digital, secara mental mengalami hambatan.

Penurunan kualitas kognitif anakanak digital natives, disebabkan kemampuan otak yang dikerjakan langsung kepada “otak digital” yang ada dalam teknologi komputer dan virtual digital. Akibatnya, daya pikiran menjadi terhambat dikarenakan sudah dikerjakan otakotak digital melalui proses penggunaan alat teknologi canggih.

Proses berhitung misalnya, anakanak digital native lebih suka menyerahkan langsung kepada kalkulator yang tertanam di dalam gawainya sebagai otak utamanya. Alhasil, proses berpikir yang seharusnya dialami langsung, malah tercerabut dari pekerjaan alaminya.

Contoh lainnya adalah proses tulis menulis. Karena begitu mudahnya efektifitas teknologi canggih, anakanak muda sekarang malah lebih sering melakukan proses literasi dengan hanya mengandalkan kemampuan copy paste. Padahal, dalam tindakan itu tiada proses kreatif yang mampu mengaktifkan seluruh jaringan otak agar bekerja. Akibatnya, proses copy paste hanya menghasilkan robotrobot pencetak informasi imitasi.

27 August 2016

Flow di Era Socmed

Buku ini baru saja saya membelinya. Belum cukup dua tiga halaman membacanya, saya merasa buku ini cocok untuk sesiapa saja yang ingin belajar menulis. Rekomended buat penulis pemula. 

Di bab pertama, sudah ada kalimat dari Jalaluddin Rakhmat, seorang scholar ilmu komunikasi, yang mengatakan tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Maksudnya tiada lain, menulis --sebagai media komunikasi, juga bermanfaat sebagai sejenis terapi melatih diri agar tertib berbahasa.

Menulis tanpa bermaksud menyampaikan dan membentuk pengertian, dimaksudkan agar orang mampu menulis dengan suasana yang riang. Menulis dengan model seperti ini berbeda dengan suasana menulis yang dibatasi deadline, atau demi tugas profesional akademik, yang kadang menuntut intensi konsentrasi yang tinggi. Akibatnya, dengan tekanan sedemikian rupa, membuat orang gagal menyalurkan idenya ketika menulis.

Menulis dengan riang, saya menduga adalah suasana menulis tanpa tekanan. Dalam keadaan gembira. Atau dengan kata lain, keadaan menulis tanpa ramburambu, tiada aturan sama sekali.

Pengalaman demikian sering saya lakukan, menulis ala kadarnya, tanpa tujuan. Pengalaman ini sering saya bandingkan kala menjadi wartawan, di saat menulis karena diburu deadline penulisan berita. Menulis karena tekanan deadline waktu seperti ada beban berat di pundak setiap harinya.

Menulis dengan riang, atau dengan istilah Hernowo adalah menulis
 flow (mengalir) saya kira bukan penemuan tanpa berbasis pengalaman. Seperti penuturan si penulis sendiri, menulis mengalir adalah hasil riset pribadi yang telah dijalani selama bertahuntahun. Artinya, apa yang dimaksud menulis flow bukan sekadar pepesan kosong belaka.

Satu hal penting yang dituliskan dalam buku ini adalah dengan melatih menulis dengan cara flow, seperti yang ditulis Hernowo sendiri, kita dengan sendirinya akan melatih juga kemampuan berbicara dengan teratur. Suatu kemampuan yang belakangan ini hanya dimiliki sedikit orang.

Syahdan, buku ini begitu bermanfaat bagi siapa saja, bukan saja orangorang yang telah terbiasa dengan aktifitas tulis menulis, melainkan orangorang yang ingin berikrar menjadi penulis.


26 August 2016

catatan kelas menulis PI pekan 26

Kali ini KLPI didominasi oleh mukamuka baru. Sebagian di antaranya sudah saling mengenal. Sebagiannya lagi malah baru pertama kali bertatap muka. Itu sebab, di dalam forum sebagian yang belum saling mengenal, agak canggung terlibat dalam obrolan yang menjadi percakapan.

Percakapan, seperti biasanya, sering kali malah dimulai dari karya kawankawan yang dipresentasekan. Dari situ, kadang obrolan menjadi serius akibat berkembangnya sudut pandang. Misalnya, satu obrolan yang berangkat dari karya Ma'sum, seorang pemuda dari Luwu.

Ma'sum baru pertama kali mengikuti kelas menulis di Paradigma. Menurut bocoran, info yang dia dapat soal KLPI diawali dari chatingan dengan seorang penulis buku yang kerap diundang KLPI. Isi chatingannya akhirnya menuntunya agar ikut di kelas yang sering digelar tiap akhir pekan ini. Ma'sum kemudian datang. Dia membawa dua tulisan sekaligus, puisi dan sejenis cerpen.

Tulisan yang "sejenis cerpen" itulah yang jadi awal percakapan kawankawan. Dari tulisannya, Ma'sum berkisah tentang perjalan seorang anak yang tumbuh besar dari persusuan bukan ibu kandungnya selama masa menyusui. Anak itu kemudian tumbuh dewasa, dan setelahnya, dengan harapan ingin menjadi orang yang berguna, dia melanjutkan fase hidupnya untuk menempuh pendidikan jauh dari desa kelahirannya yang dikisahkan belum memiliki sarana energi listrik.

Tulisan Ma'sum tidak lebih dari selembar kertas. Tapi, isinya sedikit banyak mampu merangkum sebagian besar perjalan seorang anak dari kecil hingga dewasa. Kalau mau dibilang, tulisan itu mirip dengan bahan dasar ketika orang ingin menulis cerita yang berkembang dengan beragam alur dan lebih panjang, novel misalnya.

Ketika Ma'sum berkesempatan memberikan pendakuannya, ia hanya mengatakan bahwa yang ia lakukan hanya ingin menulis kisah seorang anak yang hidup di pelosok desa, dan kemudian akhirnya mampu melanjutkan hidupnya dengan cara berpendidikan. Begitu kirakira yang berhasil disimpul dari ucapannya. Atau dengan kata lain, Ma'sum hanya mau menulis kisah seorang anak yang ada dalam kepalanya.

Pertanyaannya akhirnya menjurus kepada apakah tulisan Ma'sum bisa disebut cerpen? Atau barangkali bisa juga disebut miniautobiografi? Disebut cerpen karena, setidaknya tulisan itu memuat kisah seorang anak, memiliki latar peristiwa, dan anak itu sendiri sebagai tokohnya.

Disebut miniautobiografi, sebab Ma'sum mendaku, kisah yang ia tuliskan itu, tiada lain merupakan kisah hidupnya sendiri. Walaupun kemudian, mungkin Ma’sum menambahkan unsurunsur rekaan di dalamnya.

Wacana pun berkembang, dari pemahaman yang dibangun dan memang pada umumnya, indikator cerpen setidaknya memuat tiga unsur. Pertama adalah adanya tokoh. Tanpa tokoh, entah itu lewat sudut pandang orang pertama, kedua, atau malah ketiga, suatu cerpen mustahil dapat mengisahkan suatu peristiwa. Yang kedua, seorang tokoh, walaupun itu fiktif, adalah subjek hidup yang memiliki latar peristiwa tertentu. Latar peristiwa inilah yang menjadi elemen kedua di mana dari situ cerita digerakkan. Tanpa latar peristiwa, cerpen malah akan menjadi kisah yang susah dipahami konteksnya.

Elemen yang terakhir adalah konflik. Hidup tidaknya cerita, dinamis tidaknya kisah, lebih banyak ditentukkan oleh konflik di dalamnya. Cerpen yang tanpa konflik, bisa jadi bacaan yang membosankan. Bahkan tidak afdol suatu cerita tanpa dibumbui konflik. Melalui konflik, seorang tokoh cerita akan menjadi hidup karena memuati aspekaspek yang dimiliki manusia seperti cinta, nilai, pandangan hidup, atau pun prinsipprinsip yang diyakini. Melalui unsurunsur inilah, kadang konflik menjadi jalan masuk untuk membentangkan perselisihan antara tokoh maupun siapasiapa yang diceritakan di cerpen yang bersangkutan.

Dari struktur penceritaan, cerpen dibangun atas tiga atau empat tahapan. Pertama, adalah tahapan pembukaan. Kedua adalah awal terjadinya konflik, ketiga puncak konflik, dan terakhir adalah penyelesaian konflik. Struktur ini dikembangkan dari plot yang menjadi aliran penceritaan, yang di dalamnya perwatakan suatu tokoh dapat ditemukan biasanya dari dialog antara tokoh atau diceritakan langsung si pembuat cerpen.

Nah, dari beberapa pengertian sebelumnya, apakah karya tulis yang dibuat Ma’sum adalah cerpen? Atau malah merupakan semacam riwayat hidup?

Sebagaimana Ma’sum, dua kawan lain juga membawa cerpen. Ilyas bahkan membawa tiga cerpen sekaligus, walaupun cuman satu yang diberikan kesempatan agar dibacakan. Cerita yang dikisahkan Ilyas, salah salah satunya adalah cerita tentang suasana pemilihan ketua organisasi di suatu kampus. Dari latar suasana yang dibangunnya, jelas sekali Ilyas mengambilnya dari tempat dia aktif berorganisasi.

Demi menjaga kerahasiaan dari yang dikisahkan, maka Ilyas menggunakan tokoh rekaan demi menyembunyikan motif yang mendasari cerpennya ditulis. Walaupun begitu, jika orangorang yang dikisahkan membaca karangan Ilyas, dapat dipastikan mampu menangkap unsur ekstrinsik yang melarbelakangi unsurunsur intrinsik (salah satunya adalah konflik yang dikisahkan) yang termuat dalam cerpennya. Judul tulisan Ilyas kalau tidak salah mengingat adalah Intrik di Volksraad.

18 August 2016

catatan kelas menulis PI pekan 25

Sudah tiga pekan kelas literasi dimulai kembali semenjak libur panjang. Dari pantauan selama ini, banyak bermunculan mukamuka baru. Bertambahnya orangorang yang terlibat, menandakan selama ini KLPI berhasil menarik minat kawankawan untuk bergabung. Dari segi kuantitas, hal ini dianggap wajar. Ciri berkembangnya suatu komunitas memang salah satunya adalah bertambahnya orangorang yang ikut bergabung. Ini perkembangan yang positif.

Namun, seperti yang sudahsudah, bertambahnya orangorang di KLPI tidak menjamin dinamika komunitas juga terjadi di dalamnya. Apalagi berbicara konsistensi, selama ini perlu memakan waktu cukup lama agar orangorang mau betah belajar bersama.

Terjadinya dinamika komunitas tidak berbeda dengan perkembangan dinamika masyarakat. Walaupun ini masih asumsi, setidaknya faktor bertambahnya jumlah anggota komunitas turut mempengaruhi perkembangan komunitas itu sendiri. Dari kemunculan orangorang baru berarti ada pengalaman yang dipertukarkan. Dari pertukaran pengalaman inilah yang membentuk dinamis tidaknya suatu komunitas.

Faktor yang lain adalah pengaruh kekuatan pemikiran. Akan sulit rasanya jika suatu komunitas dapat tumbuh baik jika tidak mereproduksi atau memproduksi pemikiranpemikiran tertentu sebagai wacana yang dihidupkan di dalam komunitas. Hal ini sudah banyak terbukti di setiap komunitaskomunitas, juga masyarakat.

Hal di atas hanya bisa terpenuhi jika komunitas menerapkan strategi kehidupan yang terbuka. Sifat keterbukaan terhadap segala sesuatu akan membantu ditemukannya produkproduk baru untuk dipercakapkan.

Sikap terbuka juga memungkinkan komunitas mengenali gejalagejala baru yang tidak dimiliki di dalam komunitas. Mengetahui gejalagejala baru yang belum pernah dialami, setidaknya akan membuat komunitas "sadar diri" agar mau turut mengubah atau mempelajari apaapa yang belum pernah diujicobakan dalam perkembangannya.

Akibatnya, penemuanpenemuan baru inilah yang akan memberikan gambaran perbandingan sudah sejauh mana kemajuan yang dialami komunitas selama ini. Sudah seperti apa capaiancapaian yang belum sempat dan akan direalisasikan. Dan langkah apa yang mesti diambil agar dinamika komunitas dapat terus terjadi.

Dinamika komunitas juga sangat dipengaruhi dengan ketersediaan sumber daya. Di KLPI, ketersediaan sumber daya, terutama bacaan, begitu melimpah dengan keberadaan perpustakaan yang sering dijadikan tempat pertemuan selama ini. Bukubuku, jurnal, koran, buletin, begitu tersedia jika mau dikelola demi peningkatan kapasitas orangorang di dalamnya.

Yang terakhir tentu adalah sikap anggota komunitas itu sendiri. Biar bagaimanapun peran anggota komunitas sangat signifikan dalam menentukan arah perkembangan yang ingin dikehendaki. Dalam konteks ini, komunitas sebagai supra kesadaran sangat ditentukan sejauh mana pergerakan yang diambil anggotaanggota di dalamnya.

Anggota komunitas dengan begitu akan menjadi agen aktif yang akan mewarnai maju mundurnya suatu dinamika. Keaktifan anggota tentu akan sangat ditentukan oleh sebesar apa daya berkembang yang dimiliki pribadi masingmasing. Mentalitas di sini penting, terutama mentalitas mau maju.

Setidaknya bila semua itu berjalan, sudah pasti akan menambah kapasitas orangorang KLPI dan KLPI itu sendiri. Secara timbal balik, maka akan terjadi hukum perkembangan yang menguatkan dua sisi; individu dan komunitasnya. Di situlah titik yang akan membuat kualitas pribadi maupun komunitas semakin meningkat.

***

Kala tidak perlu lagi dibahas berkalikali. Sudah banyak catatan sebelumnya yang menulis soal itu. Yang urgen adalah bagaimana Kala dapat terus terbit, walau hanya selembar perminggu.

Kali ini, Kala butuh perhatian kawankawan. Keberlangsungan Kala bukan di manamana, melainkan di tangan semua kawankawan. Karena itu, agar tidak seperti pekanpekan sebelumnya, bagi kawankawan yang punya, entah itu tulisan fiksi atau nonfiksi, dimohon untuk turut terlibat di dalam penerbitan Kala.


13 August 2016

di atas genteng

Di bawah mentari kau jemur rindu
Memanjati genteng merentang
Sembari menghitung hari seperti dadu
dari satu sampai enam, berulangulang

Awan berarak
Burungburung gereja di udara beriak
Waktu sebentar lagi dipenuhi panas
Belum keringkah dikau pilu

Matahari sudah mulai tinggi di atas biru
Masih dikau menunggu
berbilang hitungan belum khatam
menanti sinarnya sampai kekuningan

Kumbangkumbang terbang
Meniti satu bunga ke daun, membentang
membelah udara di kelopak memburu, waktu

dari atas atap mari menatap
rindu semua sejauhjauhnya

11 August 2016

Nasionalisme Harga Mati?

Nasionalisme harga mati. Frasa ini tidak selamanya mendenotasikan suatu ikhtiar yang baik. Setidaknya ada ciri utama yang dikemukakan Prof. M. Dawam Rahardjo bahwa nasionalisme itu justru menandai suatu gejala yang mengerikan.

Nasionalisme di arti yang lain adalah justru suatu usaha penyeragaman. Manusia Indonesia dengan slogan "nasionalisme harga mati" akan dibuat sama mulai dari cara berpikir, kebudayaan, tradisi, kehidupan ekonomi maupun aktifitas politik. Yang parah selama ini "nasionalisme harga mati" bukanlah suatu pernyataan yang tumbuh dari aktifitas kebudayaan-politik masyarakat Indonesia, melainkan suatu pernyataan yang dimaknai berulangulang melalui aktifitas politik elit-jenderaljenderal.

Dalam konteks pemahaman warga negara, nasionalisme sebagai suatu konsep sudah selalu merupakan barang jadi yang diproduksi negara. Melalui aktifitas edukatif, jejaring kekuasaan negara mengerahkan sejauhjauhnya pemahaman nasionalisme tanpa mempertimbangkan betapa pemahaman nasionalisme adalah suatu konsep yang terus berkembang.

Karena itulah mengapa nasionalisme selama ini juga berarti kekuasaan yang terpusat di satu poros tunggal negara-jenderaljenderal. Dengan negara sebagai pusat pemahaman, warga negara dilarang memberikan arti lain dalam merekontruksi kembali pemahaman nasionalisme yang bisa saja memiliki arti lain dari apa yang sudah diartikan negara.

Seharusnya seperti yang dibilang Alwy Rachman, seorang budayawan Sulsel, nasionalisme itu bukan frase yang mesti diakhiri dengan terma "mati", nasionalisme itu kata kerja, suatu yang dinamis. Sebab itulah “nasionalisme”  seyognya merupakan pemahaman yang datang dari sumbersumber pengetahuan masyarakat. Bagaimana dia dibentuk, ditransformasikan, dan dilestarikan di tengah tumbuhkembangnya masyarakat itu sendiri. Dengan itu, maka ke depan akan kita temukan suatu rasa cinta tanah air yang keluar dari kerangka tafsiran yang sudah diberikan negara selama ini. 

08 August 2016

catatan kelas menulis PI pekan 24

Sesuatu yang mengejutkan. Di pekan ke-24, kelas menulis PI sedang kedatangan enam peserta baru. Lima orang yang, entahlah, belum diketahui apakah mereka memang ingin menggeliati tulis-menulis, ataukah hanya sekadar nongkrong sambil kongkow bersama teman-teman di kelas literasi PI, ataukah coba-coba lihat situasi dulu. Soalnya, dari enam orang itu, hanya satu orang yang membawa tulisan— suatu petanda niatannya untuk mengikuti pembelajaran di kelas.

Tapi kelas literasi Pi sudah selalu kedatangan tamu semacam itu. Ada yang akhirnya bertahan, dan ada yang akhirnya hanya menampakkan batang hidungnya sekali-dua kali belaka. Itu tak masalah. Kelas literasi PI memang bukan ruang di mana orang-orang dipaksa belajar. Bukan seperti itu. Kelas literasi PI hanya membuka ruang belajar mendalami perihal tulis menulis. Selebihnya, pilihan masing-masing. Sukur-sukur mereka mau nimbrung belajar di tempat ini. Artinya ada suatu semangat yang mereka bawa. Suatu gairah belajar yang jarang dimiliki oleh orang banyak.

Ya, kelas menulis PI memang dibuka untuk siapa saja yang mau belajar. Apakah mau belajar menulis, atau hanya mau mendengarkan diskursus yang muncrat di mulut para peserta kelas. Bahkan jin kapere’, genderuwo, parakang, atau babi ngepet sekalipun bisa ikut di kelas menulis PI, sejauh niatannya mau bertobat dan belajar menulis.

Dari enam orang itu, lima di antaranya mahasiswa, dan satu di antaranya tukang bentor (untuk sementara bahasa yang kugunakan seperti itu). Eitss...,tapi, jangan asal ngomong dulu! Ini orang bukan tukang bentor biasa. Dia pembaca buku yang giat. Rajin membeli buku. Dan, Kecerdasannya memang sangat terlihat saat dia mulai berbicara banyak hal di kelas PI. Mulai dari agama, sampai perdebatan klasik antara pendukung teori heliosentris dan geosentris.Jago toh? dan, untuk enam orang itu, selamat datang di kelas PI.

***

Seperti biasa, Muhajir M.A, sosok yang cerdas dan ganteng yang kata orang mirip Ariel itu, membuka kelas menulis PI dengan ucapan pembuka yang bertele-tele. Ishak Boufakar memulai membahas tulisannya. Ia yang ditunjuk pertama. Sebab, cuma ia saja yang baru datang lagi saat sudah begitu lamanya bersemedi dikampungnya.

Ishak membawa tulisan berupa cerita bersambung. Berupa kisah antara ayah dan sang anak. Di mana sang anak memiliki rutinitas yang tak disenangi ayahnya. Sementara Ari membawa dua tulisan. Satunya berupa opini, atau, bisa juga dibilangkan sebagai suatu diskursus, yang satunya berupa esai. Seperti kecenderungan Ari yang biasanya, muatan tulisannya berupa kritik-kritik sosial yang cenderung provokatif. Dan satunya lagi, tulisan berupa cerpen dari peserta baru, Ilyas Ibrahim Husain.

01 August 2016

luka

Tubuhku separuh dicabikcabik duka
jika kaki berjalan tak sanggup sampai
di ujung rumah
langkahku berubah lupa, bahwa pintu masih terbuka

Pulang aku dipanggil kenangan
Sudah tiba asap dari dupa
di dalam kamar tubuhku menganga
masih segar di situ luka


catatan kelas menulis PI, pekan 23

Kelas literasi PI sudah mulai dibuka. Kemarin, 31 Juli menjadi hari pertama setelah libur panjang pasca ramadan. Pekan kemarin adalah pekan 23 setelah kelas menulis PI babak 2 dimulai awal 2016. Tak dirasa sudah setengah tahun kelas PI berjalan. Alhamdulillah.

Seperti biasanya, setiap pertemuan, kelas menulis PI merilis catatan kecil buat dijadikan semacam laporan kegiatan. Kali ini catatan ini hanya mau kembali mengingatkan, hanya mau kembali menyapa kawankawan yang terbiasa dengan catatan seperti ini.

Agak susah bagi rutinitas yang berulang dijalankan mau terus dipacu jika sempat terhenti beberapa waktu. Kelas menulis PI sempat libur hampir sebulan lebih. Artinya, bisa saja spirit yang sudah berada pada kecepatan penuh tak bisa kembali ke jalur normal jika sebelumnya kelas menulis PI sempat "terhenti". Butuh daya dorong besar untuk memulainya kembali.

Walaupun begitu komitmen yang semula sudah ditanam tidak mesti dibuat berhenti belaka. Kelas menulis PI punya niat bagi sesiapa pun yang terlibat bakal jadi penulis terlatih.

Dari awal kelas menulis PI menasbihkan dari rahimnya, akan lahir penulispenulis bertalenta. Penulis yang cakap dan mapan. Itu sebab gerbong KLPI harus terus didorong ke depan sejauhjauhnya.

Kabar baik selama ini dari rahim mungil KLPI sudah ada penulispenulis pemula yang berani bermunculan. Di catatan ini tak perlu dituliskan satusatu namanya. Biarlah karya mereka yang berbicara. Bukankah lewat tulisan suatu pernyataan dinyatakan. Prinsip ini hampir semua kawankawan KLPI tahu.

Visi sederhana KLPI di atas selama ini diterjemahkan dengan misi, bahwa setiap yang terlibat harus punya karya tulis tiap pekan. Ini sudah rutin jadi makanan kawankawan. Misi ini sejauhjauhnya berarti kawankawan nanti punya bundelan tulisan masingmasing. Kongkritnya, kalau mau itu bisa jadi buku di akhir tahun kelak.

Imajinasi semacam itulah yang terus dikembangkan KLPI. Setiap orang satu buku. Ini dilakukan hanya dengan cara setiap yang terlibat "wajib" menyetor satu karya tulis di tiap pertemuan. Tidak ada cara lain. Hanya itu.

Makanya, bagi pendatang baru, hal pertama yang harus diketahui adalah aturan main di atas. Jika tidak kawankawan diberikan kesempatan buat nimbrung selama tiga pekan untuk belajar bersama walaupun minus tulisan. Ini sudah seringkali dialami sebagian kawankawan. Dan, berhasil. Pekan keempat mereka sudah bisa bawa tulisan karya pribadi yang genuine.

Cara kerja KLPI hanya dua sesi. Pertama, setiap karya tulis berhak dipresentasekan penulisnya. Di momen ini dengan leluasa setiap penulis bisa dengan senang hati menceritakan seluk beluk tulisannya, mulai dari proses produksi sampai konten tulisan. Dari ide yang masih berkelabat sampai karya tulis yang menjadi rapi.

Kedua, sesi kritik. Di sesi ini yang bekerja dengan pendirian tiada tulisan yang bersih dari dosa. Tiada tulisan yang licin tanpa cela. Sesiapa pun tidak lolos dari prinsip ini. Aturan ini berlaku universal kepada siapa pun, baik yang amatir maupun yang sudah expert. Semuanya sama.

Kadang sesi kritik jadi tegang akibat aura mahkamah yang dibuatbuat serius. Tidak ada mainmain di sesi ini. Jika salah maka salahlah dia. Jika benar maka jadi contohlah dia. Tapi, semua samasama tahu, betapa pun seriusnya sesi ini, selalu ada halhal yang bakal membuat encer forum. Itu sebab, sesi ini tak berat dijalani, akhirnya.

Pekan 23 KLPI kemarin, kawankawan kedatangan Muhary Wahyu Nurba. Sosok yang sarat pengalaman dunia literasi. Di Paradigma Institute, kanda Muhary bukan sosok asing. Dia pernah lama bekerja sama dengan orangorang PI, bahkan menjadi bagian dari PI. Sekarang beliau berdomisili di NTB, mengasuh satu harian surat kabar di sana.

Popular Posts