Ibu Jum dan Ibu Mince

22 Januari 2016 Comments Off

Ketika masih duduk di sekolah dasar, saya sangat menyukai pelajaran olah raga. Kesenangan terhadap pelajaran olah raga sebenarnya adalah hal yang lumrah untuk anak kecil seusia saya. Maklum bisa lari kesana kemari. Karena itu perlu diingat, kata olah raga sebenarnya tidak tepat, karena di kepala saya waktu itu olah raga hanyalah jenis bermain yang dijadikan mata pelajaran. Paling pas kalau menyebut hal itu sebagai bermainmain belaka.

Bedanya saat bermain olah raga, saya mengenakan seragam berwarna merah muda dengan bis garisgaris di pundak. Di bagian lengan dan celana berwarna merah hati. Jadi tidak femininfeminin amat. Buktinya masih ada warna merah yang mendominasi seragam saya.

Namun saya tidak bisa berkelit kalau mengatakan baju olahraga saya kepunyaan lakilaki. Soalnya kerah lehernya berbentuk V. Itu loh kerah khusus perempuan. Ceritanya karena saya anak kedua, sering kali saya harus rela menerima bekas baju kepunyaan Ima, kakak saya. Sebenarnya ini hanya berlaku bagi kaos oblong dan seragam sekolah. Jadi sabar dulu, tidak semuanya saya pakai. Masak saya harus pakai rok atau baju dress perempuan!? Gila apa!

Akhirnya setiap pelajaran olahraga, saya harus menahan malu berjamjam lantaran pakaian yang saya kenakan. Untung saja setelan celana trainingnya tidak berbeda antara lakilaki dan perempuan. Bisa dobel rasa malu saya. Untuk mengurangi rasa malu saya ini, saya menggunakan baju lapis berupa kaos oblong untuk menutupi celah kerah yang sudah melar itu. Dengan begitu, jadilah saya murid yang paling seringkali berkeringat pertama kali. Panas, Bung!

Selain kerah model V yang bikin malu, warna baju yang sudah lumayan pudar juga bikin masalah tersendiri. Bayangkan kalau di antara gerombolan teman sekelas, hanya saya yang memiliki baju berwarna lusuh. Saya seperti anak tahun lalu yang dipaksa mengulang kelas akibat nilainya anjlok, lantaran baju yang saya kenakan berwarna berbeda. Yang lain bajunya berwarna kinclong, sementara hanya saya seorang seperti siswa tua.

Ibu Mince, dialah pengampu pelajaran olahraga. Kalau tidak salah ingat itulah nama guru yang memiliki gaya rambut lakilaki. Yang saya ingat pasti adalah karakternya yang keras dan lumayan galak. Bayangkan dia seorang guru dengan gaya tomboy plus memiliki gaya mengajar dengan suara lantang. Saya pikir itu adalah karakter yang dipilihnya lantaran olahraga memang pelajaran yang membutuhkan gaya belajar outdoor. Selain digerakkan oleh abaaba, suara lantang adalah faktor dominan tersampaikannya ilmu keolahragaan. Makanya, dengan cara begitu Ibu Mince nampak seperti marahmarah kalau mengajar kami.

Di bawah tatapan matanya yang lumayan membuat takut, Ibu Mince selalu menjadi motivator bagi kami. Saya saja, dengan gaya kerasnya yang khas tomboy, akhirnya menjadi murid yang tibatiba memiliki semangat berolahraga. Kalau ada pelajaran lari atau sepakbola, jangan dikira, saya bisa berubah tibatiba bak pemain profesional. Bagaimana tidak, jika loyo sedikit, siapsiap saja dapat teriakan lantang dari Ibu Mince.

Di sekolah, bisa dibilang Ibu Mince-lah yang paling jarang berpakaian formal layaknya guru. Itu hampir setiap hari saya lihat. Ibu Mince mudah dikenali sebagai guru olahraga dari pakaian trainingnya. Dia dengan setelan bak pelatih olahraga, dengan cepat jadi guru yang gampang dikenali. Dari jauh kalau kita menengok di kantor guru, maka Ibu Mince-lah yang paling pertama dikenali. Barangkali hanya hari Senin saja Ibu Mince berpakaian khas seorang guru, itu karena hanya untuk mengikuti upacara bendera.

Kalau diingatingat, baru Ibu Mince saja yang saya ketahui perempuan yang mengampu pelajaran olahraga. Selama di SMP dan SMA, semua guru olahraga saya lakilaki. Makanya Ibu Mince gampang saya ingat dari sekian guruguru sewaktu saya SD. Selain ibu Mince saya masih mengingat Ibu Jum dan Ibu Bene. Ibu Jum adalah guru agama saya. Dan Ibu Bene adalah wali kelas saya ketika duduk di kelas enam. Selain mereka, saya hanya mampu mengingat sebagian wajahwajah guru yang pernah mengajari saya di waktu SD. Ibu Bene nanti akan saya tulis di waktu yang lain. Dia punya kesan tersendiri bagi saya.

Sementara Ibu Jum, yang saya ingat adalah guru yang murah senyum. Dia perempuan yang tidak terlalu tinggi. Badannya bisa dibilang pendek. Ibu Jum bagi saya guru yang luar biasa. Sebagai guru agama Islam, dia mampu menempatkan diri dengan baik diantara mayoritas guru yang berkeyakinan Nasrani. Saya tidak tahu bagaimana ia mengelola perbedaan, namun dari caranya bergaul, saya menilai dia guru yang memang tahu apa arti keyakinan yang berbeda.

Di kelas enam, pejaran agama Islam digabung menjadi satu kelas dari kelas 6A dan 6B. Karena saya kelas 6B maka saya harus pindah ke ruangan kelas 6A. Di situlah saya bersama muridmurid beragama Islam dikumpulkan untuk mengikuti pelajaran yang diampu Ibu Jum. Sementara di kelas 6B dipakai untuk pelajaran agama Kristen.

Di kelas 6A, Ibu Jum dengan tenaga terlatihnya, harus berhadapan dengan puluhan murid yang dikumpulkan jadi satu. Betapa sabarnya Ibu Jum berhadapan dengan kami muridmuridnya yang kebanyakan badung. Tapi Ibu Jum selalu tersenyum, disitulah kekuatannya. Sedangkan kami melalui senyumnya akhirnya luluh setelah diceritakan kisahkisah Nabi.

Kalau yang membuat senang dari pelajaran olahraga karena bisa bebas bergerak kemana saja, pelajaran agama justru kami harus berdesakdesakkan mencari tempat duduk. Bayangkan kalau kapasitas bangku hanya untuk murid sekelas harus menampung dua kelas sekaligus. Tapi, untung tidak semuanya pindah, sebab tidak semua beragama Islam. Hanya saja, tetap kami merasa harus berdesakdesakkan karena menginginkan duduk di tempattempat strategis. Kalau saya menyebut tempat strategis, berarti itu bangku yang berada di posisi belakang. Atau duduk di belakang siswa yang memiliki tubuh besar.

Tapi yang membuat senang di pelajaran agama adalah saya bisa bertemu dengan temanteman di kelas 6A. Kalau sudah begini, kami bisa kembali membicarakan pertandingan bola antara kelas 6A dan 6B. Biasanya yang mewakili kelas 6A adalah Gani, siswa yang memiliki kepala yang sedikit besar. Atau Zainuddin, siswa keturunan Bugis yang pintar mengocek bola. Kalau Ibu Jum melihat tingkah kami yang berkerumun pada satu meja di sudut ruangan, pasti dia kira kami sedang mendiskusikan pelajaran yang dibawanya. Padahal kami sedang merancang kapan pertandingan dilaksanakan. Dan, ujungujungnya kalau bukan pulang sekolah, pasti di saat pelajaran olahraga nanti.

Di kelas 6B ada Nur Oktavia. Dia tetangga saya ketika tinggal di jalan Lalamentik. Nur murid yang cerdas di kelas kami. Saya bersama Taufik, teman yang juga tinggal tak jauh dari rumah, sering berjalan kaki ke rumahnya untuk belajar bersama. Padahal yang saya maksud adalah menyalin tugastugas PR. Tapi kalau urusan sepakbola, bukan Nur andalannya. Randi-lah jagoan kami, teman yang memiliki warna rambut hampir menyerupai warna rambut jagung. Atau Ake, sapaan Imran, yang memiliki kecepatan berlari. Dan sesekali dilengkapi Amir, yang sering asal menendang saja. Sedangkan saya, yang penting bisa mencetak gol itu sudah luar biasa.

Nah, setelah menyepakati di kelas saat pelajaran agama, maka pelaksanaannya kami sepakati saat pelajaran olahraga tiba. Di saat itulah kami bertaruh kelas siapa yang paling hebat. Di bangsal, sebuah lapangan semen yang beratap seng, tempat yang kami pilih. Kebetulan di situlah Ibu Mince sering mengumpulkan kami. Berhubung sepakbola adalah ujian yang diberikan, maka pertandingan adalah ajang untuk mengumpulkan nilai sebanyakbanyaknya. Maka jadilah pertandingan sengit lantaran ingin mendapatkan nilai bagus, siapa kelas terhebat, dan suara lantang Ibu Mince yang berteriakteriak.

Di saat itulah saya akan menjadi olahragawan profesional. Dengan baju yang sudah lusuh, tak ada alasan takut kotor. Malah baju yang sudah kusam itu memberikan aura positif kepada saya, bahwa karena lamanya dipakai, dia seperti jimat yang dituruntemurunkan. Ditambah suara lantang Ibu Mince, apa daya seluruh kemampuan harus dikerahkan. Sepakbola jadi ajang pembuktian diri. Biarpun baju sudah terlanjur kepunyaan perempuan, tetap saya seorang lakilaki. Tepatnya pesepakbola lakilaki.

Saya lupa kelas siapa yang memenangkan pertandingan saat itu. Kalau dihitunghitung, kelas 6A yang sering kali keluar sebagai pemenangnya. Tapi yang terpenting kalau kalah masih ada pertandingan lainnya. Kami bisa kembali bertemu di permainan kasti. Juga bisa kembali dibicarakan di kelas Ibu Jum. Kapan waktu yang tepat melakukan pertandingan lainnya. Selama pelajaran agama masih tetap digabung, kami selalu membuat kesepakatan tentang pertandinganpertandingan lainnya. Ibu Jum pasti juga senang, kami akan terlihat semakin alot berdiskusi. Pasti nilai kami bakalan bagus. Insyaallah.

Dari kabar yang saya dapat dari Nur, Ibu Jum sudah pensiun mengajar. Alhamdulillah dia sehat. Yang saya tahu, rumah Ibu Jum tidak jauh dari sekolah. Rumahnya terletak pas di depan pagar sekolah. Sedangkan Ibu Mince masih aktif mengajar walaupun pasti sudah tidak semuda dulu. Oh iya, Nur ternyata masih tinggal di Kupang, dan dia sudah berkeluarga. Dari dialah saya memastikan kalau namanama Ibu Jum dan Ibu Mince tidak salah ingat. Ternyata saya benar. Ingatan saya kadang buruk. Tapi tidak dengan Ibu Mince dan Ibu Jum. Semoga mereka sehat selalu.


Sementara baju olahraga yang menyerupai warna pink itu, sudah lama tak saya temukan. Bisa jadi dia berakhir jadi kain lap semaktu saya tamat SD. Fajar, adik saya sudah pasti tak mau memakainya. Warnanya sudah pasti lebih kusam. Apalagi karet di bagian kerahnya sudah pasti rombeng. Namun, saya ingat betul nama sekolah yang disablon di belakang baju kaos olahraga yang hampir empat tahun saya pakai. Kali ini saya tak perlu memastikannya kepad Nur, yang punya ingatan bagus. Kalau kamu sempat melihat tulisan SD N 1 BONIPOI KUPANG tertera di baju sekolah anakanak di NTT, maka dipastikan saya orang yang pertama bilang kalau itu nama sekolah tempat Ibu Jum dan Ibu Mince mengajari saya, dua guru yang susah saya lupakan.

Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca Ibu Jum dan Ibu Mince di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel