binte biluhuta di awal 2016

Tadi setelah dari warkop, saya tiba di rumah pukul duapuluhdua. Setiba di rumah, saya mengira orangorang di rumah sedang berkumpul menyambut pergantian tahun. Minimal bapak dan ibu sedang asyikasyiknya menonton televisi. Kebiasaan akhirakhir ini ketika mereka menonton acara dangdut sekelas Asia di salah satu stasiun tv itu. Tapi kebiasaan itu tidak berlanjut pasca acara itu dimenangkan Danang alamumni Dangdut Akademi dua beberapa hari lalu. Justru yang saya dapati adalah kakak ipar saya sendirian di depan televisi. Sementara kakak saya, asyik bermainmain bersama anaknya di kamarnya. Sial.

Ya, di rumah tak ada tandatanda menyambut tahun baru. Lurus saja. Seperti harihari biasa. Toh jika ada tandatanda acara menyambut tahun baru, barangkali hanya jagung yang direbus mamak sebakul penuh. Entah jagung dari mana. Yang jelas jagung itu sudah masak ketika saya tiba di dapur. Itupun hanya dibiarkan di atas kompor setelah masak. Begitu saja. Tak ada yang menyuguhkannya.

Tandatanda tak ada acara di rumah –sebenarnya, semenjak kapan ada acara tahun baru di rumah!- semakin jelas ketika saya melihat bapak dan mamak sudah tidur pulas di pembaringan. Bayangkan! Jam sepuluh malam sudah pulas melanglang terbang di alam tidur. Alamak, bukankah itu sinyalemen tak ada acara menyambut tahun baruan? Akhirnya saya harus ikhlas melewati malam tahun baru seperti tak terjadi apaapa.

Sebenarnya, jauh di lubuk hati paling dalam, saya juga tidak berharap jika orangorang di rumah menyiapkan acara pergantian tahun. Bagi orangorang di rumah, terutama panglima besar mamak saya, pergantian tahun tak lebih dari pergantian kalender saja. Sementara menurut bapak saya, ya tentu sudah pasti ikut dengan panglima besar kan!! Tak ada acara tahun baruan segala. Cukup. Hargai itu. Ini adalah penerapan ideologi Muhammadiyah yang dianut bertahuntahun sekaligus turun temurun. Melawan artinya bid'ah. Nanti kafir. Sekali lagi cukup!!

Selain itu, memang karena di rumah tidak seperti keluarga Indonesia umumnya. Keluarga saya bisa dibilang pada halhal tertentu kolotnya bukan main. Apalagi mau rela begadang sampai tengah malam hanya menunggu jarum jam bergeser. Percuma. Tidak tidur sampai jam sebelas saja sudah hebat, apalagi mau menunggu sampai jam duabelas malam. Haibatnya luar biasa kalau itu terjadi. (oh iya, waktu nonton dangdut juga begitu loh, bapak dan mamak cuman bisa tahan sampai jam sebelas belaka. Lebih dari itu sudah keok lari ke dalam kamar tidur)


Makanya tak ada acara keluarga untuk pergantian tahun. Cukup lalui dengan tidur nyenyak, kemudian esok pagi bisa bangun subuhsubuh memasak dan menyapu halaman sebagai aktifitas rutin biasanya. Itu yang mamak lakukan. Kalau bapak, biasanya rajin menyiram bungabunga di halaman. Sementara saya, tentu masih bergelut intim dengan bantal tidur.

Tapi sebagai anak muda tanggung yang lagi mekarmekarnya, saya ingin di malam ini dapat berkumpul bersama keluarga untuk menyambut awal tahun. Minimal pada saat saya pulang, di depan televisi lagi ramairamainya; bapak, mamak, kakak bersama suaminya plus Athaya, keponakanku yang lagi nakalnakalnya (dia sering tibatiba menarik hidung saya ketika saya tertidur di sofa) sedang berkumpul ketawaketiwi tentang suatu hal. Minimal omongomong kasus terompet tahun baru berbahan sampul al quran. Lumayankan bisa ada pencerahan malammalam.Tapi sayang beribu sayang, seperti yang saya bilang, setiba di rumah, orangorang seperti tidak terpengaruh suasana kemeriahan pergantian tahun.

Namun tunggu dulu. Nampaknya ada yang menggembirakan. Jagung. Ya, jagung!! Selain ada beberapa tongkol yang saya bilang sudah direbus, juga sudah ada hampir penuh satu baskom jagung yang sudah dipipil dari tongkolnya. Kata Ima, kakak saya, itu mau dibuat jagung siram besok harinya. Mendengar itu saya senang bukan main. Soalnya, syaraf indera perasa saya langsung terkenang kepada jagung siram yang sering dibuat tante Yaya, tante satu atap ketika saya pernah tinggal di Kupang, NTT, dulu. 

Waktu kecil ketika tinggal bersama, tante Yaya sering membuat jagung siram lengkap dengan bumbunya. Rasanya nikmat sekali. Rasarasanya kala itu tak ada makanan senikmat yang ia buat. (menulis bagian ini saya langsung rindu alm. tante dan om Yaya. Apalagi kalau melihat artis Bolot di televisi, saya langsung terkenang dengan Om Yaya. Mukanya hampir mirip)

Kelak ketika beranjak besar, saya baru tahu ternyata jagung siram, begitu kami menyebutnya dulu, merupakan makanan khas orang Gorontalo. Memang tante dan om Yaya adalah orang Gorontalo. Mereka berdua ketika keluarga saya masih tinggal di Kupang, hidup dalam satu rumah (mereka dan kedua orang tua waktu itu samasama perantau. Mungkin karena itulah sampai tinggal seatap). Maksud saya, rumah kami terbagi dua dengan ruang tamu bersama yang menghubungkan dua kamar yang berada di tiap ujungnya. Di ujung sebelah rumah itulah mereka tinggal. Dulu saya sering bermainmain ke kamar mereka. Bahkan sering makan masakan tante Yaya. Masakannya memang nikmat. Apalagi ulegkan sambal khas tante Yaya yang pedaspedis nikmat. Dari masakannyalah saya menyadari, kelak bahwa saya menyukai makanan pedas karena dulu sering mencicipi sambal buatan tante Yaya.

Tapi sabar , sebentar! Sampai di sini kalian tahu jagung siram yang pedaspedis nikmat itu kan? Oke bagian ini akan saya paparkan sedikit seperti apa jagung siram itu sebenarnya. Ini penting. Oke dari namanya saja kita sudah bisa tahu kalau makanan ini bahan utamanya jagung. Bagi orang Gorontalo, jagung siram selalu dicampur dengan irisan kasar ikan tuna atau cakalang. Dicampur setelah pipilan jagung direbus dengan air mendidih. Urusan rasa, bumbu kuliner ini terdiri dari cabai merah, cabai rawit, daun bawang, irisan bawang merah, irisan bawang putih, daun kemangi, garam secukupnya dan sedikit belimbing atau air lemon. Dan yang membuat khas, dicampur dengan parutan kelapa. Baiklah, saya kira ini cukup sebagai pengantar perkenalan singkat. Jangan sampai ini jadi tulisan resep masakan. Kalau masih penasaran, silahkan googling!

Sampai di mana tadi. Oh iya, makanya karena itu makanan khas orang Gorontalo, praktis saya tak pernah lagi menemukannya karena waktu itu harus berpisah dengan tante Yaya ketika pindah ke rumah baru. Saya menduga, selain jarang dibuat mamak, itu karena pelbagai resepnya memang tak diketahui mamak saya. Semenjak itu, saya tak pernah lagi mencicipi masakan yang bernama asli binte biluhuta itu. Itu terjadi sampai sekarang. Padahal makanan itu salah satu kuliner daerah yang saya sukai.

Hingga akhirnya besok, makanan itu akan dapat kembali saya cicipi. Setelah sekian tahun tak pernah lagi dapat saya rasakan. Ada rasa penasaran antara kenangan rasa jagung siram buatan tante Yaya dengan? Ah ini dia yang belum jelas sejelasjelasnnya. Saya belum tahu siapa yang bakal meracik sebaskom jagung itu menjadi jagung siram senikmat yang pernah dibuat tante Yaya. Kalau mamak, kuat dugaan saya bisa menyerupai masakan yang saya rasakan bertahuntahun silam itu. Apalagi memang mamak saya sungguh selain panglima, adalah jenderal lapangan yang bisa meracik masakan yang nikmanikmat. Di dapur ia seperti Zvonimir Boban atau Rui Costa di kala membela AC Milan. Meliukliuk menggocek bumbubumbu yang ada di dapur.

Hanya saja kalau Ima, saya mulai ragu karena minggu lalu ia sempat membuat barobbo’ yang juga berbahan dasar jagung gagal memancing nafsu makan. Saya tak tahu dari mana ia mengambil resepnya, tapi yang pasti belum habis sepiring saya langsung berhenti mengunyah. Hambar. Ini seperti menonton AC Milan yang datardatar saja. Dasar sial.

Untuk itu, dipergantian tahun ini (oh iya, ketika menulis bagian ini, tak terasa waktu sudah memasuki penanggalan 2016 dari tigabelas menit yang lalu) saya ingin berdoa. Satu doa yang tulus, dari hamba Allah yang jarang berdoa, bahwa mudahmudahan besok yang meracik jagung siram bukanlah kakak saya. Kalau sampai dia, maka itu kesialan pertama saya di tahun 2016. Mudahmudahan bukan dia ya Allah. Pliss.

Baiklah, besok kalender lama di rumah bakal di lengserkan berganti kalender baru pemberian Aisyiyah, saya sudahi dulu tulisan awal tahun ini. Selamat tahun baru. Selamat menunggu jagung siram. Hidup jagung siram.

Popular Posts