24 November 2015

madah limapuluhempat

| |
Kejadian itu tidak lebih dari sepuluh menit. Tapi luka yang belum sembuh betul, dipaksa dikenang untuk waktu yang tak tentu ujung.

Belum silam kejadian Charlie Hebdo, Jumat, 13 November, Paris jadi gempar. Dua orang mengacung senjata ke manamana. Masyarakat dibuat kalut. Dan akhirnya korban berjatuhan.

Yang unik, peristiwa yang terjadi dua ratus meter dari bekas kantor Charlie Hebdo itu, adalah agama jadi motor. Dua orang yang berpakaian hitamhitam itu menyosor tanpa ampun. Mereka berteriak, mereka menyatakan sikap: “apa yang kalian lakukan kepada rakyat Suriah, sekarang kalian akan membayarnya.” Sebuah balas dendamkah ini? Yang pasti, di peristiwa itu, banyak pihak yang dibuat bertanyatanya.

Di hari itu, nampaknya Paris jadi horor. Enam lokasi jadi titik yang menyulut luka. Akhir pekan yang dilalui dengan pesta harus berakhir kecam. Pertanyaan semakin mendesak. Politikkah ini?

Akhirakhir ini teroris jadi kata yang politis. Sebab terma yang mulai akrab di tahun 2000an itu, selalu dibaca dengan cara yang tidak adil. Atau kata itu jadi kata yang didominasi oleh tindak baca yang terlanjur timpang. Sebab nun jauh dari Paris ada negeri yang bertahuntahun digedorgedor bom tiada henti. Dari sana, negeri yang poranda, tak pernah lahir kata teror untuk merujuk kepada perilaku bangsabangsa yang jadi momok. Politikkah ini?

Di Palestine, atau negerinegeri yang berkecamuk perang, kata teror adalah kata yang sudah sedari awal dibentuk. Media nampaknya banyak bertanggung jawab tentang ini. Terorisme sebagai suatu kata predikat, secara timpang hanya dilekatkan kepada embelembel agama. Ketika agama menjadi motivasi melakukan kekerasan, maka itu disebut teror. Tapi ketika zionis israel menyobek tubuhtubuh orangorang palestine, misalnya, itu disebut perjuangan hak asasi.

Kejadiann di Paris bisa menjadi satu penanda penting bagaiman politik lua negeri negaranegara Eropa bekerja. Apalagi berkenaan dengan dunia Islam. Dengan kejadian di Paris, Islam menjadi kedok untuk pemerintah Perancis  mengambil sikap terhadap terorisme yang terjadi di Timur Tengah. Dengan dalih penyerangan yang konon dilakukan oleh militan agama, Perancis punya klaim untuk menyerang organisasi ISIS yang berada di Suriah.

Yang aneh adalah bagaimana simpati yang terbangun pasca kejadian. Banyak orangorang yang menaruh simpati kepada korban Paris, tapi hal yang sama tidak dilakukan kepada masyarakat yang seharihari rasa amannya dilucuti dengan mercunmercun peluru. Di Palestin, atau bahkan di Suriah, justru hanya dipandang sebelah mata tanpa terkecuali.

Rasarasanya, dari cara merasai yang berbeda inilah, kita dituntut untuk bisa menyikapi dua konteks dengan cara yang lebih adil.

Dan rasa adillah, yang barangkali hilang dari kita selama ini, apalagi pemberitaanpemberitaan yang lalulalang tidak jelas ujugujugnya. Keadilan menilai harus kita miliki ketika kita berada di antara perang antar bangsabangsa seperti saat ini.

Di Paris, beberapa titik jadi luluh lantah. Sedang di negerinegeri yang juga hal yang sama terjadi, seluruh titik bukan lagi manikmanik yang indah untuk dipercakapkan. Mereka seringkali jadi titik hitam yang tak terpindai oleh penilaian kita.