28 Oktober 2015

Dari Mana Mulai Mata Seorang Penulis?

| |
Kalimat dimulai dari mata seorang penulis yang takjub, dan bukubuku jari yang gelisah.

Mata, indera yang bisa menangkap bendabenda dengan jutaan partikel foton itu, adalah alat tangkap yang penting bagi seorang penulis. Mata bukan sekedar alat biologis, tapi sebuah alat epistem. Melalui mata, suatu peristiwa ditangkap sebagai datadata yang ditampung di dalam pikiran. Mata menjadi jangkar yang mengaitkan objek di luar dan pikiran manusia. Melalui mata, suatu peristiwa jadi kata.

Mata seorang penulis tidak sekedar memfoto kopi peristiwa. Ketika ia melihat suatu kejadian, tugasnya bukan saja menggambarkan secara deskriptif, melainkan bergerak di sekitar setiap sudut pandang. Mata bagi penulis harus punya berjuta lensa untuk melihat lebih detail peristiwa yang dihadapinya. 

Dengan mata, suatu peristiwa jadi lebih transparan, suatu peristiwa disusunbangun kembali. Melalui mata suatu fenomena jadi istimewa.

Mengapa istimewa? Karena mata penulis ibarat mata kecil seorang anakanak. Mata kecil seorang anakanak ibarat keadaan asal di saat pertama kali berhadapan dengan suatu segala. Di dalam keadaan asal, suatu segala menjadi asing dan baru sehingga semuanya menjadi hal yang patut dipersoalkan. 

Keadaan asal adalah perspektif yang memungkinkan seorang anakanak untuk mau mengenal keadaan di hadapannya. Mau masuk di dalamnya dan terlibat di dalamnya.

Mata seorang penulis selalu terdorong untuk bertolak dari yang ada. Fenomena menjadi hal yang penting, karena penulis tidak berusaha menulis dari kekosongan. Tidak ada penulis yang bemula dari kekosongan. Semuanya bergerak dari dari faktafakta. Ia menyaksikan apa yang terjadi, menelusuri yang sudah berlangsung, dan memperkirakan yang bakal terjadi.

Fenomena dibedakan dari apa yang tampak dengan dari yang samarsamar. Suatu fenomena terjadi karena dua hal; ruang dan waktu. Ruang sebagai media fenomena terjadi, dan waktu sebagai ukuran keberlangsungannya. Dengan ruang "yang tampak" menjadi mungkin, dan melalui waktu "yang tampak" ditelusuri. Dengan dua dimensi inilah, seorang penulis terlibat di dalamnya. Ia mengalami waktu dan ruang sekaligus.

Keadaan yang samarsamar adalah fenomena yang belum terang. Pantang dari keadaan yang samar tulisan datang atasnya. Segegala yang samar bukanlah titik tolak dari suatu karya, melainkan tugas seorang penulislah untuk membuatnya terang. 

Di titik ini, seorang penulis adalah orang yang bekerja di perbatasan, antara yang samar dan yang terang, membuka gerbang segegala yang belum tersingkap. Seorang penulis karena itu memulai pekerjaannya dari yang tampak terdahulu sebelum memasuki ruang  yang semula masih kabur.

Itulah sebabnya tak ada penulis yang menulis di atas kertas yang kosong. Ia selalu menulis dari ruang dan waktu yang ada. Fenomena masyarakatnya; nasib masyarakatnya; sejarah masyarakatnya; kebiasaan masyarakatnya; dan kebudayaan masyarakatnya. Di atas semua itulah seorang penulis bekerja menyusun katakatanya. Memasang matanya tajamtajam ke segala penjuru. Mencatat dan menyimpan, kemudian menuliskannya.

Artinya, seorang penulis selalu menyusun karyanya di atas lapislapis kebudayaan sebelumnya. Mengulangnya dan memperbaikinya. Atas kebudayaan sebelumnya, seorang penulis mempunyai tanggung jawab untuk melestarikannya dengan cara menutup kekurangan yang ada dari kebudayaan sebelumnya. Di titik inilah, seorang penulis bertanggung jawab langsung  terhadap jatuh bangunnya kebudayaan yang menghidupi dan dihidupinya.

Tidak berlebihan jika seorang penulis dengan demikian disebut sebagai pekerja kebudayaan. Seorang penulis bekerja dengan katakata. Penyair, sastrawan, wartawan, esais, penulis drama, pujangga atau apapun namanya, selalu bergelut dengan katakata. Katakata bagi mereka semua adalah bahan dasar dalam membentuk kebudayaan. Melalui kata mereka membangun pengertianpengertian baru yang sesuai dengan zamannya, menafsirkan, dan memberikan nuansa baru. Dengan pengertianpengertian inilah, orangorang bergerak, berinteraksi dan membentuk kebiasaankebiasaan, dan tentu kebudayaannya.

Demikian juga, pekerja kebudayaan, seperti yang disebutkan Ignas Kleden adalah juga sekaligus public intelectual. Intelektual publik dinyatakan Kleden berbeda dengan akademisi dan pekerja profesional. Seorang akademisi memang bergelut dengan tugastugas intelektual, tapi ia tidak memiliki semangat “menerobos” lingkungan intelektual yang dimilikinya. Di sini berdasarkan kecenderungannya, akademisi hanya dituntun dan dituntut bekerja atas minat dan intelektual spherenya. Ia hanya berbicara sebatas ilmu yang menjadi basis pengetahuannya. Dengan demikian, seorang akademisi atau pekerja profesional dibatasi oleh batasbatas ilmu yang dipunyainya.

Sementara intelektual publik adalah golongan dengan visi yang melampaui batasbatas lingkungan intelektual tertentu.  Kecenderungannya mampu menerobos sekatsekat keilmuan yang dipahami secara konvensional. Seperti yang dicontohkan Ignas Kleden yakni Einstein yang tidak saja berbicara tentang ilmu matematika maupun fisika, melainkan perhatiannya ditunjukan juga kepada masalahmasalah yang lebih ultim semisal kemajuan peradaban, perang antar bangsa, isuisu rasial, dan masalahmasalah kebudayaan.

Tapi, intelektual publik bukan intelektual yang tidak memiliki kecenderungan yang tetap. Bukan berarti seorang intelektual publik yang berbicara segala hal lantas mengaburkan kecenderungan keilmuan yang digelutinya. Einstein misalnya, ketika berbicara tanggung jawab moral seorang ilmuan, tidak meninggalkan dasar ilmunya untuk melihat persoalan. Justru dengan itu, ia dapat meneropong segala hal melalui rumah pengetahuan yang dibangunnya selama pengembaraan intelektualnya.

Lantas apakah seorang penulis juga memiliki rumah pengetahuan? Tentu.  Seorang penulis punya alamat yang dapat ditunjuk. Dari sana ia berasal, dengan pertamatama lahir dan berkembang. Di sana, di mana ia memulai dari rumahnya, ia dibangun atas kebudayaan yang melingkupinya. 

Sebelum ia memperbaiki kebudayaan di luarnya, seorang penulis terbentuk dari kebudayaan yang melatarbelakangi perasaannya, pemikirannya. Di rumah itu ia beralamat, ia menemukan matanya, visinya. Visi yang ditemukannya melalui proses kebudayaannya, akhirnya menjadi mata bagaimana ia melihat sesuatu. Melalui mata itulah ia melihat, mendengar, dan merasakan kebudayannya; seluruh denyut kehidupan di sekitarnya.

Seorang intelektual publik dengan begitu seperti kurakura yang melintasi segala penjuru dengan membawa rumahnya kemana pun ia pergi. Seekor kurakura berbeda dengan binatang bercangkang lainnya yang kerap mengganti rumahnya, seekor kurakura justru setia dengan rumahnya. Melalui rumahnya itulah kurakura mengarungi segala hal, dan tidak pernah menginggalkannya  sedetik pun. Artinya seperti kurakura, seorang intelektual publik harus memiliki rumah di mana ia berpijak atas perasaan dan pemikiran yang dibawanya selalu, di mana ia mewakili tanggung jawabnya.

Syahdan, dari mana mata seorang penulis memulai? Maka ada dua hal; dirinya yang takjub dan dari beranda rumahnya ia berdiri. Diri yang takjub melihat suatu segegala yang asing, sementara dimulai dari rumahnya ia menyadari suatu pijakan visinya bermula. Dengan dua hal itu, seorang penulis bekerja dan tentu, dengan bukubuku jari yang gelisah.

Dari yang gelisah datang asa
dengan segegala yang terbilang asing
di mulai dari mata yang pisah yang takjub
semuanya tiada redup