17 September 2015

orangorang di persimpangan jalan

Di kotakota besar, terutama di jalan raya, kemacetan merupakan masalah yang bikin geram. Apa lagi jika kemacetan terjadi tepat di jamjam sibuk, sudah pasti banyak yang menggerutu kesal. Anakanak sekolah yang dituntut tepat waktu, bisa dibikin waswas. Para polisi jadi pusing mengurusi  ugalugalan pengendara. Sopir angkutan umum sudah pasti dibuat jengkel. Orangorang kantoran yang biasanya memulai kerja di pagi hari, bukannya tiba di kantor tepat waktu, malah bisa telat pasal kemacetan. Tapi bosbos yang punya kantor jika macet, tak ambil pusing. Toh bila telat, urusan bisa dijadwal ulang.

Di jalan raya kotakota besar, dengan maksud mengatasi macet, seringkali ditemui orangorang di persimpangan jalan. Orangorang ini biasanya masih berusia muda, adakalanya masih kanakkanak. Umumnya mereka anakanak yang besar di jalanan. Dan biasanya anakanak yang tak bersekolah. Pun jika bersekolah, mereka tak sampai khatam. Sementara orangorang muda adalah pengangguran dengan usia produktif. Orangorang semacam ini adalah orangorang yang datang dari pemukimanpemukiman kumuh. Besar di ganggang perkotaan, tumbuh tanpa orientasi kerja yang pasti. Karena tereliminasi dalam dunia kerja, akhirnya berhamburan di persimpangan jalan.

Kemunculan orangorang di persimpangan jalan adalah penanda jalan raya  yang simpang siur. Mereka yang tumbuh dari pemukiman kumuh akhirnya datang di tiap persimpangan dengan maksud yang tak mulukmuluk; membantu warga kota yang terjebak macet.  Di jamjam produktif, mereka berdiri dengan cara membawa sempritan untuk membantu tiap kendaraan di saat berganti arah.  Adakalanya cara yang mereka gunakan membutuhkan keberanian dengan masuk di tengah jalan untuk memperlambat laju kendaraan. Dengan cara begitu kendaraan yang ingin bertukar arah dipermudahkan.

Orangorang di persimpangan jalan suka atau tidak suka, sudah hampir seperti polisi lalu lintas. Mereka punya semacam wewenang untuk mengatur kapan berjalan dan berhentinya pengendara. Wewenang yang mereka miliki jika dipikirpikir punya juga manfaatnya, sebab tidak semua persimpangan dijaga bapakbapak polisi. Akibat peran mereka, polisi yang punya tugas mengawasi kemacetan punya sejenis asisten nonformal. Tapi sayang mereka tak berseragam. Dan karena tak berseragam mereka tak dibayar negara.

Maksud yang tak mulukmuluk membantu warga kota yang terjebak macet, sebenarnya juga tak  betulbetul ikhlas. Sebab tak dibayar negara, mereka memasang ongkos atas jasanya; dua ribu rupiah. Tapi toh tarif yang mereka berikan kalau dihitunghitung tak ada ruginya jika dibanding ongkos perbaikan apabila kendaraan mengalami kemacetan. Atau kendaraan tibatiba diserempet oleh ugalugalan pengendara lain. Maka dua ribu rupiah bagi dompet warga kelas menengah perkotaan, masih lebih rendah dengan resiko mereka bertahan di jalan raya padat kendaraan. Tidak mainmain, bisa jadi nyawa taruhannya.

Resiko itu mereka ambil karena banyak hal. Perkotaan adalah sarang pengangguran. Di kota persaingan kerja sangat tinggi. Bahkan tiap pekerjaan membutuhkan skill khusus untuk dikerjakan. Dan untuk memiliki skill khusus, di tiap profesi membutuhkan banyak kursus dan pelatihan. Sementara orangorang di persimpangan jalan, adalah masyarakat lapisan bawah yang minim akses. Sekolah, pekerjaan, rumah sakit, pusat perbelanjaan, perpustakaan adalah pusat kebudayaan yang jauh dari kehidupan mereka. Akhirnya dari keterbatasan akses, membuat mereka tumbuh tanpa asupan kebudayaan yang sehat. Syahdan, jadilah mereka pengangguran tanpa masa depan.

Kemiskinan juga salah satu ciri perkotaan. Hampir di semua kotakota besar bertebaran pemukiman masyarakat kota. Akibat pertukaran kapital yang timpang, maka menyebabkan kemiskinan secara struktural. Jika karena keterbatasan akses membuat orangorang persimpangan jalan mengalami kemiskinan kultural, maka kapital yang berputar timpang membuat mereka terjebak ke dalam kemiskinan struktural.  Akibat kemiskinan struktural yang mereka alami, persimpangan jalan adalah medan ekonomi yang mereka manfaatkan untuk mendulang “emas.”

Atau di luar dari dua sebab sebelumnya, bisa saja ada problem teknis yang membuat mereka berhamburan di persimpangan jalan. Misalnya adalah semakin bertambahnya pengendara dan kendaraan. Semakin tak memadainya jalan raya menampung populasi pengendara. Tak dilengkapinya jalanjalan utama dengan ramburambu jalan. Juga barangkali tidak adanya tranportasi pubik. Atau memang bapakbapak polisi yang tak banyak berperan di jalan raya.

Walaupun demikian, orangorang di persimpangan jalan kian hari semakin banyak di jumpai. Bukan saja di jalanjalan utama, tetapi di jalan alternatif juga mereka ditemui. Biasanya mereka datang bergerombol, tua ataupun muda, pria ataupun perempuan. Mereka setia berlamalama di tengahtengah bising kendaraan, di bawah terik matahari hingga rela menghirup gas karbon kendaraan.

Biasanya mereka membagi teritori tempat yang sudah dikapling berdasarkan kelompok, persimpangan per persimpangan, waktu per waktu. Singkatnya mereka juga punya manajemen, tapi tidak secanggih orangorang kantoran yang berkendara. Tak secerdas anakanak usia sekolah. Apalagi menyerupai cara berpikir bosbos yang boros. Orangorang persimpangan jalan membagi  keuntungannya atas dasar komunalisme. Orangorang persimpangan jalan demikian, barangkali hanya tak ingin dikatakan pengemis yang tak memiliki jasa untuk mereka pertukarkan.


Popular Posts