11 September 2015

Orang-Orang Berparas Ganda

| |
Mitos di alaf kebudayaan, selalu difungsikan dengan maksud perayaan. Di dalamnya pujapuji dipanjatkan melalui ritual untuk menceritakan kebesaran dewadewa. Mitos, di sejarah awal peradaban, biasa diolah menjadi drama untuk mewantiwanti sang manusia. 

Mitos melalui drama, juga ingin membangun satu hirarki antara dunia dewata dengan dunia ata. Melalui drama, mitos ingin meletakkan manusia dalam horison superioritas dewadewa. Dengan demikian, di dalam drama, manusia selalu disimbolkan sebagai mahluk yang mungil.

Manusia di dalam drama, selain mungil, juga sering digambarkan dengan paras yang kejam. Niat dasarnya adalah bahwa manusia secara diametris berlawanan dengan idealitas dewadewa. Di atas cara demikian, manusia dibulatkan dengan defenisi yang buruk.

Drama juga sebenarnya adalah tempat tragedi dipertunjukkan. Tragedi di dalam drama, barangkali adalah cara untuk menyadarkan bahwa manusia sungguh rentan dari nasib yang sial. Sebab kehidupan yang ideal hanya dimiliki oleh dewadewa di atas khayangan. Itulah mengapa, hampir semua ceritacerita di masa Yunani purba, drama menceritakan kisahkisah sang manusia yang tak utuh untuk meraih harapan.

Di Yunani, mitos yang didramakan menjadi mekanisme publik untuk mempertontonkan pelbagai macam watak manusia. Mulai dari watak yang humanistik sampai narsistik. Dari dua kutub paras ini, entah baik dan jahat, keji atau bajik, manusiawi atau hewani, manusia selalu berpulang kepada tragedi.

Itulah sebab di dalam kebudayaan, manusia selalu ditempatkan di dalam koordinat yang jauh dari purnawatak. Mitos dalam drama, telah mengintrodusir kesadaran manusia menjadi orangorang yang inferior. Lugwig Feurbach, seorang filsuf cum antropolog  agama, dengan melihat keadaan itu, akhirnya menangkap satu pengertian dari optik yang lain; manusia memang selalu mengasingkan dirinya dalam kebudayaan yang dibuatnya. Maksudnya, kenapa manusia selalu berparas lemah dan tragis, sebab manusia hanya melihat idealitas jauh di atas khayangankhayangan, sementara dirinya selalu diartikan sebagai mahluk yang penuh kelemahan.

Di dalam maksud sebenarnya, khayangankhayangan itu disebut Feurbach berasal dari agama. Di dalam agama manusia mengasingkan dirinya dengan membangun satu dunia imajinasi kebaikan; tuhan, malaikat, surga, maupun alam kebahagiaan, dan kehidupan manusia sejatinya hanyalah tragedi.

Orangorang yang anti agama sering menyebut agama adalah sumber tragedi. Barang siapa beragama, berarti dia adalah agen aktif yang bisa memulai tragedi. Orangorang beragama adalah orangorang yang memikul beban spiritual hingga bebal. Dan tragedi yang datangnya dari agama adalah tragedi yang paling purba; peperangan.

Agama sebagai perang nampaknya menjadi kode penting tentang kebudayaan religi sang manusia. Banyak orangorang yang kerap mengucapkan agama dengan intonasi yang antagonistik. Agama dengan cara yang demikian, adalah dunia imajinasi yang mengasingkan sang manusia dari dirinya sebab yang ideal telah dilukiskan ke dalam khayangan dewadewa. Sementara yang tersisa pada manusia adalah kekejian yang berkebalikan dari apa yang dilukiskannya.

Orangorang beragama sudah seperti yang dipercakapkan Erving Goffman --sosiolog Amerika, yakni orangorang yang sering bermain peran. Goffman mengandaikan dua sisi peran manusia dalam melakoni kehidupannya. Permainan peran manusia di atas panggung kehidupan disebutnya sebagai dramaturgi.

Di dalam dramaturgi, peran kebaikan selalu diperlihatkan di atas panggung depan dengan adegan yang disorot cahaya panggung, sementara peran kejahatan, selalu disembunyikan di belakang panggung gelap yang jauh dari sorotan. Baik di atas dan di belakang panggung itulah manusia senantiasa bermain peran, entah di bawah sorot cahaya panggung dengan menampakkan kebaikan dan sebaliknya, menjadi kejam di belakang panggung.

Orangorang beragama adalah orang yang bermain lakon. Jika berperilaku baik, itu hanyalah lakon yang diperagakan di atas panggung. Apabila ia bersikap manusiawi, itu hanya karena disoroti cahaya lampu orangorang. Tapi jika lampu tak lagi menyorotnya, maka dia akan menunjukkan watak dasarnya di balik panggung. Jadi bisa jadi, orangorang beragama adalah orangorang yang pandai bermain peran, dia baik hanya di atas panggung, tetapi tidak di belakangnya.

Feurbach dan deretan orangorang anti agama bisa bersuara dengan pesimistik atas perilaku orangorang beragama. Tapi kenyataan juga punya jawabannya. Feurbach dan orangorang anti agama tidak selamanya salah. Belakangan ini banyak orangorang beragama berperan dengan paras antagonistik. Fenomena dengan terang menunjukkan betapa berbahayanya agama jika diajukan sebagai problem solving dari kehidupan yang timpang. Agama, ketika dipercakapkan dengan paras yang berbeda dari sekelilingnya, justru dengan niat sebagai pemecah masalah, malah menjadi sumber masalah baru.

Kiwari, betapa banyaknya kelompok orangorang beragama berhimpun diri, mengorganisir, dan menggunakan agama sebagai suatu kesadaran kolektif. Dari itu, agama menjadi optik untuk mempersepsi dan merasai kenyataan, dan bahkan dengan agama sebagai satusatunya jalan keluar atas segala soal. Tapi anehnya, orangorang beragama, seperti kita sering saksikan, adalah orangorang yang pandai bermain lakon. Di atas panggung seolaholah menjadi the good man, tapi tidak sebaliknya di belakang panggung.