10 June 2015

Hikayat Jalan Raya


Di kotakota besar, jalan raya adalah tempat perebutan dan penaklukan. Di jalan raya, orangorang dari beragam profesi berjibaku; polisi, pengendara kendaraan, anak jalanan, penjual koran, pengamen, supir angkutan, pedagang asongan, pengedar brosur, para demonstran, pejalan kaki dsb., menggunakan jalan raya dengan beragam kepentingan. 

Polisi misalnya, sebagai representasi hukum harus hadir di jalan raya dengan maksud mengatur ketertiban umum. Para pengamen memanfaatkan setiap perempatan trafic light untuk mendulang  untung. Para pengendara apalagi, adalah orangorang yang paling berhasrat menguasai jalan dengan dalih efisiensi waktu.

Begitu juga mahasiswamahasiswa demonstran, memandang jalan raya sebagai ruang publik yang paling mungkin digunakan di dalam sistem demokrasi yang mandeg. Singkatnya, jalan raya adalah ruang publik tempat kontestasi dari beragam kepentingan dan perebutan berlangsung.


Sejarah jalan raya barangkali sepurba peradaban manusia. Semenjak dahulu manusia senantiasa mengkondisikan perkembangan hidupnya dengan alam. Di peradaban Mesir tua misalnya, jalan selalu dibangun seiring dengan keberadaan daerahdaerah subur semisal sungai, rawarawa dan ladangladang pertanian.  

Bahkan kehidupan kota akhirnya harus disesuaikan dengan keberadaan daerahdaerah subur sebagai tempat penghidupan. Dengan hidup yang demikian, jalan dibangun untuk mengakses sumbersumber alam yang menunjang kebutuhan dasar hidup manusia.


Tetapi ketika peradabanperadaban besar menemukan tempattempat baru untuk ditaklukkan, jalan akhirnya dirumuskan berdasarkan logika militer. 

Jika sebelumnya di peradabanperadaban yang subur tanahnya menyesuaikan jalan raya dengan hewanhewan pengangkut bahanbahan makanan, di peradaban yang memandang perang sebagai sarana penaklukkan, menandai jalan raya sebagai akses transportasi alatalat perang. Tujuannya tiada lain memudahkan sarana militer dengan efisien dapat dipindahkan dari pusatpusat pelatihan menuju medan perang.  

Seperti yang diperlihatkan memang, sejak dulu jalan raya selalu ditandai dengan dua hal; sumbersumber alam dan perang.

Di abad modern, sejarah transportasi adalah sejarah modernisasi itu sendiri, di mana perang dan pemanfaatan sumbersumber alam malangnya adalah cara modernisasi bekerja.

Di tanah air, bila kita ingin menandai permulaan modernisasi, justru ditandai dengan pembangunan jalan rel kereta api.  Dengan rel kereta api, modernisasi punya maksud kolonialisasi.

Dari pembangunan jalur rel kereta api  Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS) misalnya, dibangun untuk mengangkut hasilhasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang dikerjakan melalui sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel).

Kita juga mengenal jalan raya pos (de Groothe Postweg) yang merupakan proyek penaklukkan di Hindia-Belanda. Di mulai dari Anyer hingga ujung Jawa, Banyuwangi, adalah peninggalan bagaimana jalan raya yang dibangun selain alasan perdagangan, juga digunakan sebagai strategi militer Hindia-Belanda untuk mengontrol pergerakan pribumipribumi melalui patrolipatroli militer.

Selain itu melalui jalan raya pos, Hindia Belanda menjalankan strateginya untuk mengontrol ruang pergerakan pribumi dengan penggunaan akses informasi yang cepat.


Jalan raya sebagai ruang penaklukan memang ditandai dengan kekuasaan yang intim di dalamnya.

Sebagai ruang publik, kekuasaan atas jalan raya bisa muncul dengan beragam bentuk sesuai situasi yang menyertainya. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, sejarah jalan raya adalah medan penaklukan yang merupakan bagian dari modernisasi. 

Melalui jalan raya, modernisasi bekerja dengan cepat untuk mengakses tempattempat terpencil agar mudah ditaklukkan. Urbanisasi sebagai bagian dari modernisasi dalam hal, ini adalah nama lain yang kerap kali menjadi dalil untuk menundukkan suatu kawasan.


Sebab itulah jalan raya senantiasa diperebutkan. Seperti yang dimadahkan filsuf kiri Prancis, Henri Lefevbre, bahwa ruang selalu diperebutkan untuk memungkinkan suatu relasi sosial dapat diberlangsungkan. Dari analisisnya tentang ruang, jalan raya dapat kita pahami sebagai medan yang senantiasa direbut dan didominasi. Dengan dasar itu, di era yang didominasi kapital, jalan raya menjadi bagian integral untuk memberlangsungkan praktikpraktik pertukaran ekonomi.

Itulah mengapa, hampir disepanjang jalan raya, dengan urbanisasi selalu berdiri pusatpusat keramaian, perbelanjaan, hiburan, kebugaran dan diskotik sebagai arena transaksional.


Setua manusia, jalan raya juga adalah cermin sebuah kebudayaan. Hampir setiap waktu kita tak pernah lepas dari jalan raya. Sebab itulah banyak waktu kita habiskan di jalan raya. Di jalan raya hasrat kekuasaan tidak saja ditunjukkan dari sejarah yang berlangsung, melainkan juga adalah kita yang terlibat langsung di sana.

Di jalan raya, hasrat kekuasaan misalnya, ditampilkan dari betapa seringnya melanggar lampu merah. Para mahasiswa yang mentransformasikan kekuasaannya melalui aksi demonstrasi. Atau politisi yang tak tahu malu memasang baliho besarbesar di tengahtengah jalan. Dan yang paling memuakkan adalah betapa sesak dan semrawutnya jalan raya ketika macet; betulbetul cermin dari budaya kita.


Akhirnya di jalan raya, orangorang dari beragam kepentingan tumpah ruah. Dan memang barangkali di jalan raya hanya ada dua hal: perebutan dan kekuasaan.