28 February 2015

madah tigapuluhsembilan

“Kehidupan adalah yang mestinya bukan suatu kemalangan dan jalan menuju ketiadaan adalah satusatunya yang baik dalam kehidupan”  Schopenhauer

Jika ada anak dalam usia muda yang sudah berhenti berdoa, maka Leo Tolstoy-lah orangnya. Di usia 16, doktrin religius telah mengecewakannya. Maka doa ia tinggalkan, puasa tak dilakukannya, juga gereja tak lagi ia kunjungi. Sampai akhirnya di usia 18, keyakinan kristen ortodoks jadi sesuatu  yang ia sebut "doktrin religius yang tak berperan dalam kehidupan." Di usia 18, Tolstoy praktis jadi, dalam arti tertentu, orang yang atheis. "Pada usia 18 tahun, aku tak lagi mempercayai apapun yang pernah diajarkan."

Tolstoy, barangkali sedang dalam suasana yang gamang. Di usia mudanya, ia membaca filsafat Yunani, pemikiran Voltaire, Schopenhauer, dan juga Kant. Untuk nama terakhir ini, bisa kita katakan adalah filsuf yang memang tak menolak dan tak mengimani tuhan: agnostik. Dan Tolstoy sepertinya juga demikian, "apa yang bisa kupercayai tak bisa kukatakan sama sekali, aku percaya tuhan atau aku mengingkari tuhan, tapi tak bisa kukatakan apa itu tuhan." Sampai di sini sepertinya ada kesamaan Kant dan Tolstoy: orang yang membiarkan tuhan pada sesuatu titik taksa.

Sebuah imankah yang dialami Tolstoy? Nampaknya dari pengakuannya yang ia tulis dalam A Confession, memang bukan iman yang sekali ringkas dalam batas pengertian ketat. Iman, seperti yang ia ungkapkan dalam A Confession adalah sebuah suluk yang tak tergesagesa menemukan jawaban. Iman yang sabar berjalan di pinggir tubir antara tabir dan bibir yang tak kuasa mengucap.

Memang dalam buku yang ditulis itu kita akan terkejut bahwa di masa mudanya Tolstoy adalah anak muda yang menjadikan ritualritual agama sebagai bahan olokan. Masa mudanya adalah masa yang bisa diringkas dengan kosakata foyafoya. Di sana ia menulis pernah menjadi seorang penjudi, pemabuk, pencuri, pemalak, berzina atau segala kejahatan yang terjadi di zamannya. Di tahuntahun itu, adalah masa yang penuh “kengerian, perasaan muak sekaligus kepiluan.” Di tahuntahun ini, di mana ia pernah menjadi tentara yang bertempur dalam Perang Krim adalah tahun yang penuh depresi. Suatu masa di mana ia hampir bunuh diri.

Tapi itu tak pernah terjadi.  Tapi juga depresi yang ia alami tak hilang begitu saja. 10 tahun lamanya ia hidup dalam kegamangan.

Tolstoy gamang dan merasakan perlu ada yang mesti diperbaiki.  Hidup yang ia alami nampak hanya sebagai apa yang ia sebut tiruan dari hidup yang sebenarnya. Kegamangannya terhadap arti hidup sebenarnya adalah suatu yang sering kali menelusup dalam kesehariannya.  Ia menulis: “aku tak tahu apa yang harus dilakukan atau bagaimana menjalaninya. Aku merasa tersesat dan menjadi patah semangat…kondisi itu selalu terekspresikan dalam pertanyaan untuk apa? Akan kemana?”

Dan hidup yang tak terperiksa adalah hidup yang tak layak dijalani.

Hidup Tolstoy sebenarnya adalah hidup yang sejahtera; rumah yang megah, tanah ladang yang luas, pekerjapekerja yang banyak, juga tulisantulisan yang cemerlang. Tapi di kehidupannya yang mencukupi itu, selalu saja ada masgul terhadap apa yang telah dicapainya. Suatu ekses dari masa mudanya yang menghendaki apa sebenarnya arti dari kehidupan.

Tolstoy pasti banyak mencari jawaban di bukubukunya, atau bisa saja mengajak diskusi siapa pun tentang apa maksud sebenarnya hidup. Tapi suatu yang sulit ia duga, jawaban yang selama ini dicarinya justru ada pada kehidupan petanipetani di sekitarnya. Yakni kumpulan orangorang yang tak pernah mempersoalkan hidup dengan serius dan gamblang.

Sebab pertanyaan adalah pintu masuk keraguan yang tak bisa ditangkap rasio. Sementara dalam petanipetani yang ia saksikan tak pernah mengawali suatu hari dengan mempertanyakan apa sebenarnya arti hidup. Justru dalam kehidupan yang sahaja dari petani yang tak pernah repot atas kegamangan filsafat, merasakan ketentraman hidup yang sentosa. Petanipetani yang ia lihat adalah orangorang yang legowo tanpa harus mempersoalkan hidup yang memang untuk dijalani dengan iman yang tak mulukmuluk. Iman yang tak muluk itulah sepertinya adalah iman yang menentramkan dan menenangkan. Tanpa pertanyaan. Tanpa kebimbangan.

Itulah mengapa dalam pengakuannya, Tolstoy menyimpulkan bahwa pengetahuan rasional tak mampu memberikan jawaban apaapa. Ia menyebutnya “di wajah eksistensi tanpa tujuan, pilihan rasional hanya bunuh diri.” Barangkali inilah suatu transformasi iman yang rasional menuju iman yang nirrasional. Yakni iman yang membuatnya hidup bukan iman yang membuatnya bertanyatanya.

Sebenarnya tranformasi yang dialaminya bukanlah suatu guncangan yang tidak melibatkan rasionalitas, tapi justru, seperti juga Kant,  menganggap rasio adalah jalan yang tak memberikan ujung yang pasti, sebuah jalan buntu. Namun tidak seperti Kant yang agnostik, di akhir perjalanan pencariannya yang panjang, Tolstoy yakin bahwa iman bukanlah perkara yang sematamata hanya melibatkan pekerjaan rasionalitas, melainkna justru suatu yang melampaui; keterlibatan batin.

Di sanalah ia menemukan jawaban. Pada tempat yang memang seharusnya ia kunjungi. Dan seperti juga Gautama yang disebutkannya mengalami hal yang gundah atas eksitensi hidup yang penuh penderitaan. Tolstoy akhirnya menjadi orang yang di tahuntahun terakhir hidupnya menjadi seorang pengelana dan petapa.

Dan dari ajaran spiritual yang dirumuskan para petapa; cinta kasih, Tolstoy banyak mempengaruhi filosofi nonkekerasan yang dianut dari Gandhi hingga anarkisme.

“'Hiduplah mencari Tuhan, maka kau tak kan hidup tanpa Tuhan,’ Dan lebih dari sebelumnya, semua di dalam diriku dan di sekitarku menyala, dan cahaya itu tak lagi meninggalkanku”