01 Maret 2015

madah empatpuluh

| |
Siapa yang bakal menyangkai, bahwa bangsa ini sebenarnya lahir dari anakanak muda. Tapi, itulah sejarahnya.

Di masa perjuangan Indonesia, pemuda memang punya andil. Tanpa 28 Oktober, barangkali sejarah akan berbeda. Kita tak tahu pasti, apa yang bakal terjadi jika di saat itu tak ada inisiatif dari pemuda untuk berembuk mengadakan kongres dengan agenda yang besar. Juga sulit dibayangkan tanpa sumpah pemuda yang heroik itu, suatu niat begitu agung diperjuangkan. Barangkali tanpa itu, sejarah hanya kepunyaan bapakbapak pejuang militer dan tuantuan pemerintah. Juga sejarah perjuangan akan panjang  berlarutlarut dan kejadian sudah pasti akan  jauh berbeda. Atau bahkan Indonesia adalah negeri yang bisa saja tidak berbentuk kesatuan.

Tapi itu sudah terjadi, pemuda terlibat dan berjuang dengan gigih. Di masa silam mereka menjadi golongan yang sadar suatu negeri harus bersatu dan berpadu. Tak ada sekat untuk menyebut suatu negeri yang merdeka. Dan dari perjuangan mereka, ada momentum yang bergayung sambut setelahnya. Indonesia sebagai negeri yang diidamkan pelanpelan dibentuk.

Sebab itulah Pramoedya Ananta Toer meringkas sejarah negeri ini adalah sejarah kaum muda.

Tapi, tidak bisa juga kaum muda adalah satusatunya determinan dalam membentuk sejarah Indonesia. Karena sebagai sebuah peristiwa, sejarah dibentuk dari berbagai macam kemungkinan, dari beragam cara dan lintasan kejadian. Sementara banyak peran aktif orangorang saat itu, di luar kaum muda, juga turut terlibat dalam membentuk suatu kejadian sejarah. Singkatnya di masa itu, kaum muda beserta yang lainnya bersatu dalam satu peristiwa yang berproses dan menjadi.

Yang patut dihargai dari sejarah bangsa adalah keberanian kaum muda. Orangorang semacam Tabrani, Sanusi Pane, W.R Supratman, Muh. Yamin dll. yang terlibat aktif dalam kongres kepemudaan adalah orangorang yang sudah merelakan berbagai macam resiko dapat datang menghadang. Mereka sudah pasti mengetahui resiko yang akan mendatangi mereka, sebab di saat itu Hindia Belanda adalah negeri yang dikuasai oleh kumpenikumpeni berkulit putih. Sementara dalam hal hak untuk berkumpul bagi anakanak pribumi atau terpelajar harus memiliki ijin dari pemerintahan Hindia Belanda.

Namun beserta berbagai macam organisasi saat itu, suatu peristiwa nasional akhirnya dapat terselenggarakan. Suatu noktah sejarah akhirnya berhasil mempertemukan berbagai kaum muda dari penjuru nusantara. Dan agendanya jelas, bahwa perlu adanya satu persatuan yang menaungi seluruh negeri nusantara melalui satu gerakan nasional. Dari peristiwa itu ada kemauan dan tekad yang besar, dan juga keberanian.

Keberanian mereka adalah suatu sikap yang lahir dari kesadaran akan pentingnya suatu negeri yang bersatu dalam satu identitas. Yang mana suatu identitas saat itu adalah cara untuk keluar dari dominasi sekatsekat yang memisahkan tujuan Indonesia sebagai negeri yang satu. Itulah sebabnya, di bawah Hindia Belanda saat itu, suatu identitas yang mempersatukan akan menjadi kekuatan pembanding dari penjajahan yang selama itu terjadi. Dan itulah yang dirasa penting untuk dilakukan, yaitu keinginan untuk bersatu.

Namun sebenarnya apa yang dirasakan sebagai suatu tekad dan keberanian untuk bersatu, adalah rangkaian panjang yang berproses tanpa henti di bawah penjajahan pihak sekutu. Proses itu adalah suarasuara pembebasan yang tak padam sebab apa yang universal samasama dirasakan oleh semua masyarakat nusantara. Penjajahan yang banyak mengambil korban dan ketidakadilan yang menelan kesejahteraan masyarakat adalah keadaan yang tak bisa ditoleransi. Sebab itulah, pemerintahan manapun yang banyak berbuat tak adil dan sewenangwenang tak manusiawi memperlakukan masyarakat, maka di dalam keadaan itu selalu ada kesadaran yang muncul untuk menerobos keadaan yang menindas.

Dan dari keadaan yang berlarutlarut itu, dari pemerintahan yang sewenangwenang , apalagi berasal dari negeri nun jauh di seberang, tak ada hak sama sekali untuk melakukan perbuatan semenamena. Maka dari itulah, kaum muda bangkit dan berjuang. Menyusun suatu organisasi untuk memperbaiki keadaan yang telah lama dianiaya oleh pihak asing.

Dalam sejarah, pertemuan yang diprakarsai oleh pemudapemuda saat itu, adalah momentum yang memiliki gaung yang panjang. Setelah dua tahun dari kongres pertama, maka lahirlah ikrar janji untuk memiliki satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Satu, di sini adalah simbol yang ingin kukuh dan merdeka dari pecahpecah yang bisa mendatangkan kelemahan dalam berjuang. Satu, di sini berarti ikrar yang ingin solid atas kesamaan nasib yang dihadapi. Satu, di sini adalah satu untuk membangun suatu negeri yang tak gampang untuk dipreteli oleh pihak asing.

28 Oktober memang aksi yang heroik. Di sana, di waktu itu, adalah peristiwa “yang politik,” atau barangkali yang disebut Badiou sebagai “kejadian.” Dalam “kejadian” pasti ada subjek yang menggunakan situasi untuk keluar dari penyelenggaraan pemerintahan yang umum. Di sini berarti, subjek melihat ada yang mesti digugat dan diguncang; yakni keadaan yang diperkarakan dan dipertanyakan.  Dan kaum muda saat itu adalah subjek politik yang dalam bahasa Zizek adalah subjek yang mengubah kemungkinankemungkinan menjadi real.

Kaum muda, juga sebenarnya memang generasi yang tidak diperhitungkan dalam tatanan. Bahkan dalam ukuran tertentu, “muda” adalah masa transisi menuju masa dewasa. Tapi dalam politik, seperti peristiwa sejarah kita, kaum muda adalah kemungkinan yang tak diperhitungkan yang sebenarnya banyak memberikan peran dalam membangun tubuh negeri ini. Dan siapa yang bisa menyangka, negeri ini hampir seluruhnya adalah hasil dari kaum muda.

Almanak