20 January 2015

madah dua

Dalam arti apa Muhammad kita katakan sebagai nabi, dan dengan maksud seperti apa Muhammad, orang yang hidup di Mekkah beberapa abad yang lalu, layak disebut manusia yang biasa? Persoalan ini penting, dan juga genting. Penting sebab ia seorang nabi, genting oleh karena ia manusia. 

Berarti sampai di sini ada yang mesti kita jernihkan, sebab Muhammad yang teologis dan Muhammad yang antropologis adalah dua maksud yang berbeda. Walaupun kita menyadari, dia, Muhammad, sebagai yang ilahi dan manusiawi adalah Muhammad yang sama.

Belakangan ini adalah harihari yang genting. Bahkan kita sudah dihinggapi masa yang perlu diinterupsi. Zaman, seperti yang ditampakkan oleh semangat modernisme, atau bahkan pascamodernisme, sudah membuang yang ilahi jauh di belakang sejarah. Saat ini, genting untuk membuat gaung yang berkelanjutan di antara tegangan zaman yang kehilangan sakralitas, untuk mengguncang, mengingatkan, bahwa yang ilahi nampaknya masih punya denyut dan detak. Bahwa yang ilahi, yang transenden, ada bersamaan di tengahtengah perubahan yang kita alami.

Tetapi tidak selamanya yang dianggap modern itu selalu sanksi terhadap yang ilahi. Bahkan di dalam agama, yang oleh Will Durant tak sanggup matimati, juga punya iman yang sama dengan modernisme; menampik yang sakral.  

Di dalam agama, iman yang menolak sakralitas itu, punya kepercayaan yang lain, keyakinan yang lain. Yakni, agama seharusnya harus ditafsirkan dengan maksud yang sudah tersurat. Jika itu tak bisa membangun pengertian yang gamblang, maka menafsir adalah perbuatan yang bisa bid’ah. Teks sudah siap, tak usah ditafsirtafsir, teks sudah taken for granted. Dan iman yang dibangun dengan cara itu, adalah keyakinan yang menghalau dialog dan logos.


Tetapi apa sebenarnya yang ilahi dan yang sakral? Ini juga masalah, sebab itu berarti berusaha menengok apa yang di balik yang tampak. Ini berarti mencari maksud di balik teks, ini sebuah penafsiran, maka ini sebuah pencemaran iman. Atau dengan kata lain, ini artinya tak ada yang berada di balik teks. Tak ada yang disebut metafisika, juga yang sakral. Apalagi yang ilahi.

Dari itulah nabi tanpa sakralitas dibangun, yang sesungguhnya merupakan personifikasi dari manusia yang biasa. Tak ada yang istimewa dari nabi selain orang yang menerima wahyu, menyampaikan Islam, membina umat dan menegakkan peradaban baru. Atau nabi yang dipercaya dalam teks, yakni orang yang seperti nabinabi sebelumnya, yang memiliki mukjizat. Inikah nabi yang antropologis? Bisa iya, bisa tidak.

Yang antropologis berarti personifikasi seperti yang dimaksudkan dalam Quran. Yakni dimensi al basyar dan al nas. Nabi yang antropologis adalah orang yang biologis dan sosiologis, ia hidup dan berkembang dan juga bermasyarakat. Orang yang dibentuk oleh alam dan kebudayaan, yang menangis dan tertawa, juga tentu bekerja seperi orang sekitarnya. 

Nabi yang antropogis adalah nabi yang jatuh bangun dalam sejarah, hidup dalam kebudayaan dan mati sebagai mahluk biologis.

Lantas di mana gentingnya? Agama yang kehilangan sakralitas, barangkali tak ingin memahami Nabi sebagai al insan. Nabi yang melampaui sejarah, kebudayaan atau bahkan hukumhukum biologis. Dalam arti inilah mengapa nabi kita sebut mahluk yang sempurna, ketika al insan kita padankan dengan al kamil. Di saat ketika yang antropologis itu menjadi yang ilahi. Di saat nabi yang sukses melakukan revolusi itu, layak kita sebut manusia yang melampaui.

Dalam arti itulah, nabi yang antropologis menjadi nabi yang teologis. Inilah nabi sebagai orang yang tanpa kehilangan ciri manusianya, menjadi orang yang ilahi. Apakah itu mungkin? Apakah itu bid’ah, jika menganggap nabi sudah persis tanpa cela, tanpa salah, atau dengan kata lain sempurna? 

Bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pastinya, wahyu yang ilahi itu, yang dari Tuhan, mustahil mampu diterima oleh mahluk yang tak siap, yang tercela. Bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pastinya nabi yang kita anggap ummi itu adalah orang yang di luar kebiasaan umum. Kenapa? Sebab jika ia seperti yang umum, persis seperti yang jahil di masyarakatnya, maka mustahil dia bisa berdialog dengan jibril.

Ini penting dan juga genting.


Popular Posts