16 Juni 2014

filsafat

| |
Konon filsafat adalah ilmu yang punya dampak praktis. Dahulu maksud yang praksis itu ditemukan dalam theorea. Theorea dikenal dengan sikap pikiran yang terbuka terhadap kebajikan, sebuah sikap pikir yang tertib untuk mencandrai nous, untuk melihat cosmos yang akbar, atau dengan kata lain, theorea adalah sebuah jalan untuk menjadi bajik, menjadi hanif dihadapan macrocosmos.

Dengan theorea, manusia diajak untuk menghindari doxa, dalam pengertian Plato adalah kebenaran yang tak sahih, kenyataan yang cenderung berubah, pernyataan yang kerap kali tak bisa diyakini. Dengan theorea, manusia diajarkan jalan bios theoritikos, sebuah sikap hidup yang mengolah jiwa pada keabadian, pada yang stabil, sesuatu yang tetap. Sehingga dengannya manusia diarahkan untuk hidup bijaksana, untuk mencapai otonomi. Dengannya, otomatis bermaksud praxis.

Juga theorea ada dalam agama-agama kuno. Yunani misalnya, ada theoros, seorang wakil, atau bisa jadi seorang utusan polis, untuk dikirim pada acara agama, untuk mengalami peristiwa transendental,  di mana dengan maksud "memandang" peristiwa yang jauh melampaui fisik, untuk dibaca, untuk diterjemahkan. Di saat demikian, saat theoros memandang nous yang sakral, ia mengalami theorea, proses pengalaman membebaskan nafsu yang fana, situasi emansipasi atas bagian diri yang berubah-ubah. Orang Yunani kala itu, menyebut laku itu khatarsis: pembebasan diri dari dorongan yang fana.

Artinya filsafat juga punya maksud khatarsis. Dengan pengertian ini filsafat berkehendak membebaskan manusia dari dorongan-dorongan fana dengan mengajak pada kenyataan yang tetap, kepada peristiwa yang stabil. Sehingga saat demikian ada batas antara ada dan waktu, antara yang tetap dan yang berubah-ubah, antara kepastian dan keraguan. Pasalnya, sesuatu yang kerap berubah sering kali cenderung pupus dimakan usia, juga yang berubah adalah berarti belum lengkap, tidak utuh. Sementara ada itu sendiri adalah kenyataan yang selalu tampak, sesuatu yang melingkupi segalanya, hal yang stabil, lengkap, sesuatu yang pasti.

Namun biasanya filsafat punya maksud berbeda, tidak saja bermaksud praktis. Setidaknya dalam doktrin Marx. Marx, dengan pemikirannya yang radikal itu, hendak meluluhlantahkan yang diyakini stabil, bangunan yang cenderung menghindari perubahan. Dalam benak Marx, filsafat yang meneguhkan sesuatu itu stabil berarti ia salah kaprah. Justru kenyataan di mata filsafat adalah inti yang saling bertentangan, keadaan yang mengalami tegangan tiada henti.

Filsafat dengan maksud mengokohkan realitas yang tetap, berarti anti perubahan, bahkan anti kemanusiaan. Baginya filsafat adalah kewajiban untuk mengubah kenyataan dengan cara mengkoreksinya melalui sikap, buan pikiran. Filsafat tidak hanya menafsirkan dunia, melainkan turut membentuknya, ujarnya di suatu waktu. Marx memiliki keteguhan dalam pandangannya ini, yakni filsafat harus juga punya tanggung jawab terhadap kemanusiaan.

Di sini, barangkali Marx berkeinginan untuk memupuskan harapan filsafat yang hanya milik segelintir orang. Sebab, filsafat, dalam bentang peristiwa sejarah adalah pekerjaan orang-orang kaya. Aktivitas yang hanya dimiliki bangsawan atas waktu luang yang dimiliki. Sebut saja Des Cartes, dari atas tempat tidurnya, di saat ia bergumul dengan waktu luangnya, ia mendapatkan titik terang dari kebingungannya: cogito ergo sum. Juga Kant, yang ketat soal waktu, banyak merumuskan pikirannya dari pondok sunyi yang ia tinggali.

Dalam masamasa seperti ini, kita membutuhkan filsafat yang hidup dijantung kehidupan masyarakat. Setidaknya filsafat yang lahir dari keluh kesah dan optimisme, antara rasa emoh dan keinginan untuk merombak. Sebab jaman sekarang, adalah masa yang sulit ditaklukkan dengan hanya mengandalkan asumsiasumsi yang spekulatif. Filsafat harus tahu dan mengerti inti kenyataan yang kita hadapi, kenyataan yang kerap berubah dan bersitegang terus menerus. Filsafat jenis inilah yang kita harapkan, bukan jenis fisafat yang lahir dari hujan yang ritmis, melainkan filsafat yang tumbuh di tengah badai yang amuk.

Tulisan ini sudah lama saya endapkan, entah sudah seminggu. Saya juga sudah kehilangan hasrat untuk menulis, saya sudah tak kuat untuk menyusun karangan yang panjangpanjang. Maka saya akhiri saja.