09 June 2014

dialog imajiner bersama Machiavelli

Suatu ketika di malam awal Juni saatsaat lembayung makin padat. Juni yang mengawali kemarau Juni yang biasanya panas, saya berusaha membangun imajinasi. Tentang sebuah perbincangan dengan seorang realis, orang yang pernah hidup sekitar akhir abad pertengahan. Seorang dari Florence Itali; Niccolo Machiavelli.

Saya membayangkan malam awal Juni itu dua bulan setelah hari kelahirannya, duduk bersama orang yang kerap dikutuk berkat gagasannya yang tanpa moral itu. Di mana saya dengannya bertemu di saatsaat karirnya sebagai penasihat politik mendekati anti klimaks. Pada pinggiran selatan kota Florence saya dengannya bersua. Ketika Itali sedang dalam invasi Spanyol.

Saya: Kenapa anda tampak murung? Apakah ini karena Itali sedang dalam masa-masa kritis?

Niccolo: (Sambil tersenyum) Saya memang murung? Lebih mudah bagi saya kematian seorang ayah daripada kehilangan warisan..Mari anak muda..(sambil memberikan segelas anggur) bagaimana anda bisa sampai kesini? Ini masa kritis..

Saya: terima kasih (sambil mengambil anggur darinya), ini memang masa kritis, tetapi bertemu dengan anda saat seperti ini adalah hal yang mengagumkan.

Niccolo: Apakah anda bercanda? Lantas apa yang membuatmu kemari?

Saya: Diri anda. (Dia tampak terkejut, raut mukanya sungguh jauh dari ekspresi pikirannya yang konon berbahaya, saat itu dia kelihatan gagah) Diri andalah tujuan saya..

Niccolo: Saya berharap kau mengerti maksud tujuanmu berbicara denganku. Saat seperti ini semua orang menjadi bodoh saat mengutarakan pikirannya.

Saya: Maksud anda?

Niccolo: Coba kau bayangkan, untuk sejenak, diantara orangorang itu, adakah yang tampak jujur berucap? (Niccolo menunjuk dengan pandangan matanya) Hampir semuanya tampak berbohong..

Saya: Ada apa dengan mereka. Maksudmu mereka ini adalah orang yang sedang berbohong?

Niccolo: Tidak ada yang salah dengan orangorang ini. Kecuali mereka tahu maksud pembicaraan mereka.

Saya: Sebenarnya ada apa dengan mereka? Barangkali saya telah melewatkan sesuatu?

Niccolo: Sudah saya katakan tadi, ini masa kritis, masa yang guyah. Seharusnya mereka tahu apa yang harus dibicarakan. Bukan dengan hanya bicara tentang masalah intim mereka, pujapuji mereka terhadap gereja, anakanak, ladangladang..

Saya: Lantas apa yang layak saat seperti sekarang menurutmu?

Niccolo: Manusia yang baik adalah warga yang membincang keutamaankeutamaan ibu pertiwinya, bukan sebaliknya.

Saya: Maksud anda negeri ini? Itali maksud anda?

Niccolo: Artinya kau pahami maksudku. Negara ini sedang di ambang kehancuran. Mereka lebih sudi selain dari apa yang mereka wariskan.

Saya: Bisakah anda menerangkan maksudmu? Jujur, saya tidak paham..

Niccolo: Kematian, saat orang mati, saat mereka ditinggal pergi, mereka berpurapura murung, berputus harapan dengan rasa sakit yang amat. Lantas sebenarnya pikiran mereka tidak demikian. Justru akan kembali seperti biasanya, memikirkan dengan apa hidup harus berjalan. Memikirkan apa isi perut mereka.

Saya: Bukankah itu tampak normal, menurutku itu cara agar mengobati kepedihan dengan maksud menyambung hidup.

Niccolo: Di situlah letak kebohongan mereka, saat hidup harus dipertahankan, kepedihan lantas tak harus menjadi pilihan untuk dipilih, kepedihan hanya kepunyaan jelata. Justru kita diharuskan jujur terhadap sikap kita.

Saya: Jika saya harus jujur, maka saya tak memahami arti ucapanmu. Saya bingung dengan arah yang kau inginkan..

Niccolo: Saya tak memaksamu untuk mengerti, tetapi orangorang ini harus tahu, pemerintahan di manapun itu memang kewajibannya untuk menekan, menekan kepedihan. Negara adalah biospolitikon yang punya wewenang mengendalikan tingkah laku. Bahkan agama harus difungsikan negara demi tujuantujuannya. Mengenai ini, saya sudah memikirkan untuk menulisnya dalam satu karangan.

Saya: Bagaimana tentang politik, anda adalah penasihat politik Cesare Borgia?

Niccolo: Politik itu bermaksud mengatur nafsu rendah rakyat. Dia berencana memaksimalkan nafsu rendah untuk dikuasai, karena ini artinya seorang raja harus tahu apa opini banyak orang, tentu juga ia harus paham nafsu rendah banyak orang. Dan Borgia mengerti akan itu.

Saya : Apakah ini berarti seorang raja harus menyisihkan keinginan pribadinya, dia harus tahu dan mengerti orang banyak? Demikiankah Borgia?

Niccolo: Borgia seorang raja yang independen. Dia berani mengambil segala jenis resiko. Memang seorang raja sebenarnya tidak mementingkan pikiran rakyatnya. Yang utama adalah nafsu rendah mereka, dengan memobilisasikan berdasarkan kekuasaannya. Jika raja berkuasa ia harus mahir di antara pikiran orang yang dikuasainya dengan hati orang yang di bawahnya. Dengan begitu politik adalah manuver yang setiap saat berubah.

Saya: Berarti kekuasaan Raja adalah titah yang dimiliki untuk menguasai dengan melakukan manuver apapun?

Niccolo: Kekuasaan seorang raja itulah politik. Apalagi saat seperti ini, negara harus mengenyampingkan moral. Dalam perang yang kuatlah yang berpeluang untuk memerintah. Dalam perang kepentinganlah yang menjadi acuan, sebab manusia sungguh irasional, tingkah lakunya diombang ambingkan dari emosiemosinya. Dalam keadaan inilah Raja harus pandai memainkan tujuantujuannya.

Saya: Mendengar pikiran anda barusan, sepertinya saya mulai paham maksud anda. Kau seorang yang realistis, bagaimana menurutmu dengan pandir agama, tentang totalitas gereja, bukankah gerejalah yang paling banyak memainkan perannya?

Niccolo: Maksudmu lembaga rohania gereja. (Ia kembali tersenyum, raut wajahnya, dengan rambutnya yang diikat membuat rahangnya tampak sempurna. Machiavelli memang kelihatan flamboyan) Sekarang bukan masa yang harus disesalkan. Masa sekarang adalah kebudayaan yang sedang mekar, agama harusnya tunduk pada itu. Negara harus mampu mengatur agama, bukan sebaliknya.

Saya: Lantas seperti demikiankah agama di mata anda?

Niccolo: Agama terlalu jauh mengatur peran manusia. Totalitas yang dimilikinya tidak sepadan dengan keadaan negara. Sangat sulit jika ada dua institusi beriringan berjalan. Agama hanya bisa sejauh ia difungsikan dari segi pragmatis. Di situlah maksudku agama harus mengabdi dari negara. Untuk mengatur dan mempererat kedaulatan negara.

Saya: Dengan pandangan seperti itu, apakah anda ingin mengatakan agama sebenarnya tidaklah sakral seperti keyakinan gereja?

Niccolo: Saya tidak memiliki keyakinan demikian, keutamaan yang paling bisa diberikan harga tinggi hanyalah pemerintahan kerajaan.

Saya: Tetapi menurut pendapatku agama adalah jalan keselamatan. Bukankah demikian? Sebab seperti itulah keyakinan hari ini.

Niccolo: Agama menurutku bukan milik pandai gereja. Terlalu jauh jika prasangkamu seperti itu. Agama tidak realistis, agama tidak punya pandangan yang mampu mengatur orang banyak, sebab keselamatan adalah pertautan iman dengan gereja. Masalah iman itu yang tak ada seorang pun berhak menyelidikinya.

Saya: Kalau boleh saya bertanya, apakah anda menyetujui jalan keselamatan yang diberikan gereja?

Niccolo: Bukankah pertanyaanmu ini berusaha masuk pada bilik pribadiku? Menurutku ini pertanyaan retoris, dalam kondisi sekarang kita bukan tak harus menghindari pertanyaan seperti itu, ini perang, agama bukanlah perang.

Saya: Maksud anda dalam perang agama tak selayaknya ada? Sebaiknya anda harus menjelaskan ini.

Niccolo: Agama dan perang sebenarnya dua sisi yang ambivalen. Agama selalu berpusat kepada kematian, sedangkan perang adalah vitalitas untuk mempertahankan hidup. Dalam perang negaralah yang memainkan perannya. Rajalah yang berhak menentukan.

Saya: Dapatkah anda menyederhanakan maksudmu? Terutama sifat agama dan perang yang anda sampaikan.

Niccolo: (Kali ini dia lebih serius menerangkan)  Agama sudah saya katakan tadi, yakni berpusat kepada kematian. Tonggak Iman gereja adalah peristiwa penyaliban Jesus. Dari sanalah inti segalanya. Proyeksi gereja adalah alam pasca kehidupan yang mesti dituju, sedang perang adalah kekuatan yang diorganisir untuk memadukan apa yang ada dengan tujuan hidup itu sendiri. Mampukah kau melihat perbedaan antara keduanya?

Saya: Iya. Dalam agama tujuanlah pusat proyeksi kita, pasca kehidupan. Sedangkan perang adalah olahan apa yang kita punyai untuk melanjutkan hidup. Mudahmudahan saya tidak salah menangkap.

Niccolo: Maka dari itu kekuasaan raja bisa saja berubah dari satu kubu kepada kubu lainnya. Ia harus pandai memainkan perannya. Raja sejauh ingin melangsungkan wewenangnya sebagai penguasa, boleh saja melanggar perjanjianperjanjian dengan pihak manapun. Ini tidak salah, justru bukan salah ataupun benar dalam hal ini yang menjadi pertimbangannya.

Saya: Inikah yang anda katakan kemahiran seorang raja?

Niccolo: Kemahiran seorang raja terletak pada kemampuannya berbagi peran di antara dua peran utama. Dia mesti tahu kodrat manusia maupun kodrat binatang buas. Inilah pengetahuan utama yang harus dimiliki seorang raja. Dengan menggunakan dua keutamaan inilah kekuasaan raja bisa langgeng. Ketika ia harus jujur maka jadilah ia sebagai arif yang bijaksana, bertindak manusiawi dan baik hati. Tetapi ia juga harus pandai kapan menjadi seekor singa untuk mengetahui perangkapperangkap yang dipasang disekitarnya.

Saya: Apakah pandanganmu ini mewakili dalih dari keadaan yang saat ini sedang berlangsung?

Niccolo: Dalam kondisi seperti sekarang, yang mampu merangkul kelompokkelompok kepentinganlah, yang memungkinkan ia bisa keluar sebagai seorang pemimpin.

Saya: Bagaimana dengan orangorang ini? Orangorang yang juga punya hak untuk mendapat tempat di hati seorang pemimpin?

Niccolo: Selama seorang pemimpin tidak mengganggu harta warisan yang dimiliki rakyatnya, maka pandanganku tidak ada kendala sama sekali.

Saya: Artinya pandanganmu ini hanyalah cara untuk keberlangsungan pemerintahan dapat dipertahankan? Bukan tentang nasib banyak orang ini?

Niccolo: Kurang lebih demikian. Patutnya kau camkan satu hal, bahwa kematian seorang ayah lebih mudah dilewatkan daripada kehilangan warisan yang dimilikinya. Inilah kunci dari segala yang mesti diperhitungkan oleh setiap pemimpin. Kunci yang kiranya bilah pintu pun pasti memiliki, begitupun seni dalam kepemimpinan.

Juni yang kemarau, di kota Florence, saat semua pintu ditutup rapat.