12 Oktober 2013

Antara Jurnalisme dan Filsafat

| |
Konon sikap seorang jurnalis dan filsuf sungguh jauh berbeda, terutama di hadapan kebenaran. Seorang jurnalis menjadikan kebenaran sebagai ihwal yang aktraktif, sedangkan seorang filsuf lebih reflektif. Jurnalis, lebih cenderung sigap dan cekatan terhadap kenyataan, sementara seorang filsuf justru jauh lebih tenang di hadapan kenyataan. Seorang jurnalis, maklum, menjauhi dunia teoritik-abstrak, sementara bagi seorang filsuf, dunia praksis adalah dunia yang bisa saja ditampik begitu saja.

Sikap sigap dan cekatan wartawan menerima kenyataan luar (fakta) sebagai sumber berita. Sedangkan dunia dalam (makna) merupakan medan “kabar” bagi mata reflektif seorang filsuf.

Tetapi apa sesungguhnya hubungan di antara keduanya? Apa sebenarnya sumbangsih keduanya terhadap kehidupan manusia di saatsaat seperti ini?

Etika filsuf dan seorang jurnalis bisa jadi dua hal yang berbeda, terutama sikap keduanya di hadapan kebenaran. Namun ada kenyataan yang tiada bisa disanksikan begitu saja, dari apa yang menjadi hasrat bawaan dari seorang filsuf dan jurnalis; hasrat terhadap kebenaran.

Sang filsuf dan sang jurnalis boleh saja berbeda memberlakukan kebenaran, namun tidak dalam gelora mereka untuk menemukan kebenaran. Keduanya samasama bekerja dalam perkara yang sama. Seorang filsuf sudah tentu mendedah dan mendaur kebenaran, maka seorang jurnalis, seperti kata Bill Kovach, seorang veteran jurnalis Amerika Serikat, bertugas melayani kepentingan publik dengan melaporkan kebenaran.

Imbas tuntutan yang berbeda, sangat sedikit namanama, taruhlah seorang filsuf atau sebaliknya, seorang jurnalis, yang bergerak di antara dunia irisan filsafat dan jurnalisme. Filsafat kadang menilai realitas sebagai medan kompleks yang di baliknya memiliki kenyataan yang sederhana. Sedangkan di mata seorang  jurnalis, justru di balik yang sederhana itu tersimpan perkara kompleks untuk dikabarkan.

Barangkali hanya namanama semisal Jean Paul Sartre atau Albert Camus, yang berani mengabdi di dalam dunia yang berbeda itu. Keduanya di masa pasca perang dunia ke dua, kerap kali menulis di media massa Perancis. Atau, Hannah Arendt yang melaporkan hasil reportasenya di hadapan dunia menyangkut kekejaman Nazi yang dipetik dari wawancaranya terhadap seorang  petinggi SS Nazi, Adolf Eichmann, sekitar 1960-an. Selebihnya tak banyak nama filsuf yang mau melibatkan diri pada kegiatan jurnalisme, atau sebaliknya.

Tetapi apakah keduanya tak bisa didamaikan dalam satu keadaan, di mana keduanya justru bisa saling memberikan arti satu dengan lainnya? Mengingat praktik jurnalisme sudah dicontohkan Plato dari 2500 tahun yang lalu?

Kita tahu dalam karangan Plato, Dialog¸ adalah hasil reportase yang merekam detikdetik terakhir Socrates menjelang kematiannya. Dan kita bisa mafhum, dari reportase Plato itu, dari karya yang mewakili suara Sokrates, dunia bisa paham tentang maksud dari sebuah kebenaran dan resiko yang dihadapinya: kematian.

Tetapi, apa sesungguhnya resiko bagi jurnalisme dan filsafat, yang lain? Apa maksud dari kejujuran yang hanif bagi orangorang dalam dunia tulis-menulis dan pemikiran. Apa kesan yang bisa kita peroleh dari kematian seorang Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang tewas, misalnya, setelah nyawanya direnggut orangorang tidak dikenal? Apakah kita harus bersedih hati dari kematian seorang jurnalis ataukah seorang filsuf? Ketika kebenaran dari kenyataan yang begitu destruktif tak pernah sampai kepada khalayak ramai? Di mana di saatsaat seperti ini, dalam ekspresi dunia yang karut marut,  filsafat dan jurnalisme menjadi pekerjaan yang penuh onak dan resiko.

***

Jurnalisme sebagai dunia yang memperjuangkan kebenaran, kita tahu adalah dunia yang mengedepankan akurasi yang tinggi terhadap fakta-fakta temuan. Nilai sebuah warta harus objektif seperti yang terjadi di lapangan. Demikan karena jurnalisme memperlakukan opini sebagai barang haram yang merusak nilai sebuah berita. Maka dari itu seorang jurnalis harus mengerti tentang batas antara kepentingan pribadi dengan fakta yang  akan diberitakan. 

Sementara filsafat tidak berhenti sampai batasbatas yang dimiliki dunia jurnalisme. Sang filsuf tidak ingin begitu saja menerima kenyataan apa adanya seperti di mata seorang jurnalis, melainkan justru jauh masuk di balik fenomena yang tampak di hadapannya. Maka, seorang filsuf akan menimbang nilai dari nilai yang dinilainya. Memasukkan kategori dari kenyataan yang ditangkapnya untuk memberikan penilaian sebagaimana yang seharusnya terjadi. Dan dari sanalah barangkali Marx berangkat; tugas seorang filsuf bukan sekedar menangkap kenyataan, melainkan turut mengubahnya.

***

Awalnya dalam tulisan ini saya hendak menulis sesuatu yang berkaitan dengan media massa. Tentang posisi yang memungkinkan bagi media massa ketika mengerjakan tugastugasnya tanpa harus absen dari independensinya. Apalagi begitu besarnya arus kekuatan modal yang kerap kali mencangkok di belakang media massa.

Namun, apalah dikata, saya bukanlah seorang penulis, dan terkadang kita sulit mengapresiasi ideide kita dalam lembaran bahasa yang layak dibaca. Maka dari itu saya sebenarnya takut dan khawatir terhadap kekuatan kata. Kata bagi seorang jurnalis adalah bahan baku bagi pekerjaannya. Begitu juga bagi seorang Filsuf, kata bisa saja dipermasalahkan oleh sifatnya yang tak tepat dalam mengapresiasi makna yang dipikirkannya. 

Namun bagi saya -yang bukan seorang jurnalis apalagi seorang filsuf, kata punya hukumnya sendiri. Dia bisa bebas bergerak melintasi di antara pemikiranpemikiran, bahkan berbalik kepada orang yang memikirkannya. Maka saya akhiri saja tulisan ini dengan maksud yang barangkali belum sampai di tangan pembaca. Saya khawatir, sebab kata bisa saja berbalik menohok si pemakainya. Kita boleh saja bersikap sebagai seorang yang bergelut dengan segala tetekbengek kesucian kebenaran, namun terkadang katakata kita, yang kita anggap benar itu, bisa saja berbalik menjadi boomerang bagi kita suatu waktu.